Tiba-tiba Gan Bu Gi bangun berdiri dan dengan mata memandang tajam ia membentak. “Gwat Kong! Siapakah perempuan yang kaumaksudkan itu?”
Akan tetapi Gwat Kong sudah lupa betul-betul akan keadaan dirinya itu dan yang kini mendapat jalan untuk menumpahkan semua isi hati dan kesedihannya, tidak memperdulikan pertanyaan ini dan terus mengoceh sambil memukul-mukul, “ha ha, namanya juga perempuan! Mudah sekali terpikat oleh harta benda, kedudukan, wajah tampan! Sekali saja melihat ketiga hal itu menjadi satu dalam diri seorang pemuda, lupalah ia akan pemuda lain yang miskin dan hina. Padahal akulah yang memberinya kesempatan untuk mempelajari ilmu pedang ”
“Gwat Kong!” sambil membentak marah Gan Bu Gi mengulur tangan mendorong tubuh Gwat Kong sehingga pemuda itu terdorong ke belakang, akan tetapi Gwat Kong tidak roboh tertelentang, bahkan lalu berjumpalitan ke belakang, sampai empat kali dalam gerakan yang aneh dan indah sekali. Ia jatuh berdiri dan tertawa bergelak-gelak.
Bukan main terkejutnya Gan Bu Gi menyaksikan kehebatan ginkang ini, bahkan Seng Le Hosiang juga terperanjat. Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda ini memiliki kelihaian seperti itu.
“Anak muda, kau siapakah sebenarnya?” tanya Seng Le Hosiang dengan suara keras.
“Ha ha ha !” Gwat Kong tertawa terbahak-bahak. “Aku siapa? Aku adalah seorang pelayan hina-dina, mana dapat dibandingkan dengan Gan-ciangkun. Seorang wanita akan memilih dengan mudah. Ia tak mau memandang sebelah mata kepadaku walaupun aku yang telah mendpapatkan kitab pelajaran pedang .... memang dia sudah lupa akan budi !”
Tiba-tiba terdengar seruan halus dan tahu-tahu Tin Eng sudah melompat ke ruang tamu itu dengan pedangnya di tangan. Wajahnya merah padam karena marahnya.
“Gwat Kong! Tutup mulutmu, atau kau ingin kubunuh dengan pedang ini?” Sambil berkata demikian gadis itu mengancam dengan pedangnya dan menggigit bibirnya dengan gemas. “Ha ha ha!” Gwat Kong tertawa lagi. “Kau sudah lihai, dan mau bunuh aku? Silahkan, siocia, silahkan!”
Dengan marah sekali pedang di tangan Tin Eng bergerak dan menusuk ke arah dada Gwat Kong. Akan tetapi pemuda itu mengangkat dadanya dan menerima tusukan itu dengan kedua mata terbuka lebar sehingga Tin Eng tiba-tiba merobah arah tusukannya, akan tetapi masih saja mengenai lengan kanan Gwat Kong sehingga merahlah lengan bajunya karena darah yang mengalir keluar dari luka di lengannya. Akan tetapi sedikit pun pemuda itu tidak memperlihatkan rasa sakit maupun takut.
“Ilmu pedang itu ” kembali ia mengoceh.
“Gwat Kong, diam! Dan pergi dari sini!” Tin Eng membentak lagi sambil menodongkan pedangnya pada tenggorokan Gwat Kong. “Kau benar-benar mau menghinaku?”
Mendengar pertanyaan ini, Gwat Kong berseru keras dan mulai melangkah mundur perlahan- lahan. Pikirannya mulai terang dan ia dapat mengingat kembali keadaan. Bukan main menyesalnya bahwa ia telah menimbulkan kehebohan dan bahkan menghina nama gadis yang dicintainya. Ia mundur terus dan Tin Eng melangkah maju sambil terus mendorong lehernya. Akhirnya, Gwat Kong menubruk pilar besar di belakangnya dan ia berdiri mepet pada pilar itu dan berkata,
“Maaf, maaf .... siocia, maafkan aku ... ah, tidak, tidak! Aku tak dapat dimaafkan ....
bunuhlah! Teruskanlah pedangmu itu, tusukkanlah dan bunuh saja pelayan hina dina ini ”
Entah mengapa, melihat keadaan Gwat Kong sedemikian itu tiba-tiba saja meloncat keluar dua butir air mata dari kedua mata Tin Eng. Ia tadinya marah sekali karena sudah lama ia mengintai dan mendengarkan segala ocehan Gwat Kong dan baru ia melompat keluar ketika Gwat Kong menyebut tentang kitab pelajaran ilmu pedang.
Sementara itu, Seng Le Hosiang dan Gan Bu Gi berdiri sambil memandang peristiwa itu dengan terheran-heran. Juga dua orang pelayan memandang dengan heran dan takut kalau- kalau pedang itu akan benar-benar menusuk tenggorokan Gwat Kong.
“Kau ... kau berani menghina, berani kau mencemarkan namaku di depan orang lain ... kau ....
benar-benar kurang ajar !”
Dengan dada naik turun dan napas tersengal dara yang sedang marah itu berkata dengan suara hampir tak dapat terdengar. Gwat Kong tak berani menentang pandang mata Tin Eng, hanya memandang kepada pedang yang mengancamnya. “Memang, aku kurang ajar dan hina dina, kau teruskanlah seranganmu, nona.”
Pada saat yang menegangkan itu, Liok Ong Gun yang mendengar suara ribut-ribut masuk ke dalam ruangan tamu itu dan alangkah terkejutnya melihat betapa puterinya sedang menodong Gwat Kong dengan pedangnya dan agaknya hendak membunuh pemuda itu.
“Tin Eng!” teriaknya, “Apakah kau sudah gila?”
Mendengar teriakan ayahnya, Tin Eng sadar kembali dari marahnya dan dengan isak tertahan ia lalu menarik kembali pedangnya dan berlari ke kamarnya di mana ia banting tubuhnya di atas pembaringan sambil menangis.
Sementara itu, Gwat Kong yang setengah sadar setengah mabuk itu lalu berlutut di depan Liok Ong Gun dan berkata,
“Taijin, hamba telah melakukan dosa besar, mohon taijin suka memberi maaf sebanyaknya dan ijinkanlah hamba pergi.”
Liok Ong Gun merasa amat marah dan malu melihat betapa pelayannya yang tadinya dianggap baik ini ternyata mendatangkan keributan sehingga menimbulkan malu kepada keluarganya, maka tanpa banyak pikir lagi lalu berkata,
“Pergilah segera dan jangan kau muncul lagi di depanku!”
Gwat Kong bangkit berdiri lalu berjalan ke arah kamarnya dengan terhuyung-huyung, mengambil buntalannya dan segera meninggalkan gedung itu dengan hati perih. Luka di lengannya tak dirasakan lagi. Akan tetapi luka di hatinya terasa menyakitkan seluruh tubuhnya. Pikirannya tidak dapat digunakan dengan baik oleh karena terkacau oleh pengaruh minuman keras. Setelah keluar dari kota Kiangsui, ia lalu lari. Pengaruh arak membuat ia tak sadar betapa larinya itu cepat sekali, oleh karena tanpa disengaja ia telah mempergunakan ginkang yang selama ini dilatih dengan secara diam-diam di dalam kamarnya. Buku pelajaran silat yang tebal itu dibawanya di dalam buntalan pakaian yang kini berada di atas punggungnya, berikut juga sejumlah uang yang ia kumpulkan dari hasil upahnya.
Sementara itu, setelah Gwat Kong pergi, Liok Ong Gun menjura kepada susiok-couwnya menyatakan maafnya, sedangkan hwesio tua itu dengan masih terheran-heran bertanya, “Ong Gun, sebetulnya siapakah anak muda tadi? Ku lihat ginkangnya tidak rendah!”
Kepala daerah itu merasa heran mendengar ini. “Ginkang? Ah, pemuda itu semenjak berusia tiga belas tahun telah berada di tempat ini sebagai pelayan dan sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu silat, bagaimana bisa memiliki ginkang?” Kemudian dengan singkat ia menceritakan keadaan Gwat Kong yang rajin dan jujur.
Seng Le Hosiang dan Gan Bu Gi merasa heran sekali karena tadi mereka benar-benar telah menyaksikan kepandaian Gwat Kong. Dorongan Gan Bu Gi tadi bukanlah sembarangan dorongan, akan tetapi adalah gerakan ilmu silat yang disebut Jeng-kin-jiu-pai-san atau Tangan Seribu Kati Menolak Gunung. Tenaga dorongan itu sedikitnya ada tiga ratus kati dan jangankan orang yang tidak mengerti ilmu silat bahkan orang yang ilmu silatnya tidak tinggi dan tidak memiliki lweekang sempurna, tentu akan terdorong roboh. Akan tetapi, Gwat Kong pelayan yang dianggap bodoh tadi tidak roboh, bahkan memperlihatkan ginkang yang mengagumkan karena dalam keadaan setengah mabuk dapat berjumpalitan empat kali ke belakang dan jatuh dalam keadaan berdiri.
Akan tetapi karena cerita Liok Ong Gun amat meyakinkan, mereka menganggap bahwa hal itu mungkin terjadi karena kebetulan saja dan hal itu tidak dibicarakan pula.
“Bagaimana, apakah sudah ada keputusanmu tentang perjodohan ini?” tanya Seng Le Hosiang secara langsung oleh karena setelah ia merasa kenyang dan telah cukup lama berada di situ, ia ingin segera pergi pula.
“Teecu berdua isteri telah setuju dan dapat menerima pinangan ini, akan tetapi sebelum teecu bertanya kepada Tin Eng sendiri, teecu tidak berani memberi keputusan.” Tiba-tiba Gan Bu Gi yang merasa amat kecewa setelah mendengar dan melihat sendiri peristiwa yang terjadi antara Tin Eng dan Gwat Kong, diam-diam menaruh hati curiga dan cemburu terhadap Tin Eng dan pelayan itu, maka lalu berkata cepat,
“Seng Le Locianpwe dan Liok-taijin saya harap hal ini ditunda dulu saja dan dengan perlahan-lahan diurus, karena baru saja siocia mengalami kekagetan. Mengapa harus amat tergesa-gesa?”
Akan tetapi Seng Le Hosiang mencelanya, “Bu Gi, kau harus tahu bahwa pinceng datang menguruskan soal perjodohan ini untuk mewakili suhumu, dan kau tentu tahu pula bahwa pinceng tidak biasa menunda-nunda urusan. Kau tak usah ikut-ikut membicarakan hal ini! Bagaimana Liok Ong Gun, apakah pinceng dapat menentukan urusan ini untuk memberi jawaban kepada Bong Bi Sianjin ?”
Didesak sedemikian rupa, terpaksa Liok Ong Gun yang sebenarnya sudah setuju untuk mengambil Bu Gi sebagai menantu, menjawab, “Baiklah, susiok-couw, pinangan ini boleh dianggap sudah diterima dan ikatan jodoh sudah disyahkan, hanya tentang pernikahan, baiknya diputuskan kemudian untuk menetapkan waktunya. Teecu tidak bisa mendesak terlalu keras terhadap anak tunggal sendiri, sungguhpun teecu dapat menduga bahwa anakku tentu takkan keberatan terhadap hal ini.”
Barulah hati hwesio tua itu merasa lega mendengar ini. Ia tertawa tergelak-gelak dan berkata, “Bagus, bagus! Nah, kalau begitu pinceng pergi sekarang juga dan penetapan hari pernikahan akan ditentukan kemudian!”
Baik Gan Bu Gi maupun Liok-taijin, tak dapat menahan hwesio yang mempunyai adat kasar dan aneh itu, hanya mengantarnya sampai di luar gedung.
Setelah itu, Liok-taijin lalu masuk ke dalam gedungnya kembali dengan maksud untuk menegur puterinya tentang peristiwa tadi dan sekalian menyampaikan hal pinangan itu kepadanya. Akan tetapi ketika ia tiba di luar kamar Tin Eng, ia mendengar suara isterinya membujuk-bujuk dan suara Tin Eng menangis.