aku ingin menengok kuda di kandang. Malam ini dingin sekali, kuatir kalau-kalau mereka gelisah.” Dan Gwat Kong lalu lari ke kamarnya di dekat kandang kuda.
Gan Bu Gi tidak memperdulikan hal ini, lalu melangkah dengan senyum di bibir, kembali ke kamarnya yang berada di gedung sebelah timur. Hatinya puas dan lega sekali, harapannya makin membesar dan malam itu ia mendapat mimpi indah dalam tidurnya.
****
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gwat Kong sudah membuat persiapan untuk pergi dari situ. Ia membungkus pakaiannya yang tak seberapa banyak itu dalam sebuah buntalan kain kuning dan bersiap untuk menghadap Liok-taijin dan minta ijin serta menyatakan terima kasih. Wajahnya pucat sekali oleh karena selain berduka, ia juga tidak tidur semalam suntuk, mengenang nasibnya yang buruk.
Akan tetapi, ketika ia berjalan menuju ke ruang dalam ia bertemu dengan seorang penjaga yang berkata kepadanya, “Gwat Kong, kau beritahu taijin bahwa Seng Le Hosiang, hwesio yang dulu datang itu, kini datang minta bertemu.”
Gwat Kong terpaksa menunda maksudnya dan menyampaikan laporan itu kepada Liok Ong Gun yang baru saja bangun dari tidurnya. Pembesar ini lalu berdandan dan menyambut kedatangan susiok-couwnya dengan hormat sekali.
“Liok Ong Gun, pinceng datang untuk melanjutkan urusan perjodohan dulu itu. Bong Bi Sianjin tak dapat datang karena ia sedang menghadapi urusan penting, maka akulah yang mewakilinya. Bagaimana dengan keadaan Bu Gi?” Hwesio ini dengan suaranya yang besar datang-datang membicarakan urusan perjodohan dan tidak perduli sama sekali bahwa di situ terdapat Gwat Kong dan dua orang pelayan lain.
Liok Ong Gun menjawab sambil tersenyum. “Gan-ciangkun baik-baik saja dan sebentar lagi ia tentu akan datang ke sini. Adapun tentang perjodohan itu, susiok-couw, harus teecu tanyakan dulu kepada isteriku dan juga kepada anak itu sendiri!”
Gwat Kong menjadi pucat karena ia maklum bahwa yang dibicarakan ini tentulah perjodohan antara Gan Bu Gi dan Tin Eng!
“Ha ha ha! Liok Ong Gun, kau ternyata berhati lemah. Kalau kau sendiri sudah setuju, tentu saja anak isterimu juga setuju. Bagaimanakah pendapatmu sendiri?”
Dengan terus terang Kepala daerah itu menjawab, “Bagi teecu sendiri memang Gan-ciangkun merupakan seorang pemuda yang baik dan memenuhi syarat, akan tetapi teecu tidak mau memutuskan sebelum mendengar pendapat anak isteri teecu.”
Pada saat itu, Gan Bu Gi yang telah diberitahu akan kedatangan hwesio itu lalu datang dan berlutut di depan Seng Le Hosiang sebagai penghormatan.
“Bagus, Bu Gi, kau nampak makin gagah saja. Ketahuilah, kedatanganku ini mewakili suhumu untuk mematangkan urusan perjodohanmu dengan puteri Liok Ong Gun.” Merahlah wajah pemuda itu mendengar kata-kata yang terus terang ini. Ia merasa malu-malu dan juga bergirang hati. Kemudian ia duduk di dekat hwesio itu dan Liok Ong Gun lalu berkata kepada Seng Le Hosiang, “Apakah teecu harus memberi keputusan sekarang juga, susiok-couw?”
“Tentu, sekarang juga. Tak usah sungkan-sungkan, tinggal menyatakan setuju atau tidak, habis perkara. Pinceng tak dapat tinggal terlalu lama di sini.” Dari kata-katanya, dapat diketahui bahwa hwesio tua yang lihai ini mempunyai tabiat terus terang dan kasar.
Liok Ong Gun lalu minta permisi untuk merundingkan hal itu dengan anak isterinya, lalu ia memerintahkan dua orang pelayan yang berada di situ bersama Gwat Kong untuk mengeluarkan arak wangi dan menjamu hwesio itu bersama Gan-ciangkun. Dua orang pelayan itu segera mengambil arak dan hidangan pagi, dan dengan hati tak keruan rasa, Gwat Kong lalu menuangkan arak pula pada cawan mereka.
Sambil minum arak dan makan buah kering, Gan Bu Gi menceritakan tentang pertandingan malam tadi dengan Tin Eng. Mendengar ini Seng Le Hosiang tertawa-tawa girang sehingga arak cawannya tumpah sedikit membasahi jubahnya. Akan tetapi ia tidak memperdulikan hal ini, bahkan lalu berkata kepada Gan Bu Gi sambil tertawa, “Ha ha ha, kalau begitu, sudah sepuluh bagian perjodohanmu akan berhasil. Nona itu ternyata menaruh perhatian kepadamu. Ha ha ha! Siapakah pelayan yang baik hati dan yang menjadi perantara mempertemukan kalian berdua itu?”
Gan Bu Gi tersenyum dan menunjuk ke arah Gwat Kong, “Dia inilah orangnya yang telah begitu baik hati, locianpwe.”
Seng Le Hosiang memandang kepada Gwat Kong dan kembali ia tertawa besar, “Ha ha ha ....
orang seperti kau ini tidak pantas menjadi pelayan, anak muda. Hayo kau duduk di sini dan menemani kami minum arak!”
Tentu saja Gwat Kong tidak berani melakukan hal itu dan dengan takut-takut ia menjawab, “Ah, losuhu, mana siauwte yang rendah ini berani berlaku kurang ajar?”
“Tidak ada yang rendah atau tinggi, semua orang sama saja! Mari kau minum arak dengan kami,“ kata hwesio itu.
Gan Bu Gi sudah maklum akan tabiat hwesio tua itu, maka ia lalu berdiri dari kursinya, memegang lengan Gwat Kong dan menariknya perlahan.
“Marilah, Gwat Kong, mari kau minum sedikit arak agar kegirangan kami bertambah.” Terpaksa Gwat Kong duduk di sebelah kursi Gan Bu Gi dan kedua orang pelayan kawannya memandang dengan terheran-heran, akan tetapi mereka tidak berani ikut mencampuri hal ini karena takut kepada Gan-ciangkun. Menghadapi secawan arak wangi dalam keadaan hati menderita sedih, timbullah kembali nafsunya terhadap minuman keras itu. Nafsu minum arak bermabuk-mabukan yang selama empat tahun dapat dipadamkan dan terpendam di dasar perutnya itu, kini tiba-tiba menyala kembali dan berkobar membakar dadanya. Hanya araklah yang akan menghilangkan rasa sedih yang menggerogoti hatinya, pikirnya sambil menghabiskan arak secawan itu dengan sekali teguk!
Bukan main herannya kedua pelayan itu melihat betapa cara Gwat Kong minum arak menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli minum kawakan! Juga Gan Bu Gi memandang heran, akan tetapi Seng Le Hosiang tertawa terbahak-bahak dan memenuhi cawan pemuda itu sampai penuh sekali.
“Ha ha ha! Betul dugaanku tadi, kau tidak pantas menjadi pelayan, dan ternyata kau seorang laki-laki sejati. Hayo minum lagi, anak muda!” Sambil berkata demikian, hwesio yang doyan arak ini mengangkat cawan araknya yang telah dipenuhinya dan mereka minum lagi.
Arak yang diminum oleh Gwat Kong itu adalah arak tua yang wangi dan sudah tersimpan lama maka kerasnya bukan main. Biarpun dulu, empat tahun yang lalu, Gwat Kong kuat sekali minum arak, akan tetapi karena dulu ia belum pernah minum arak sekeras ini dan juga telah lama sekali perutnya tidak berkenalan dengan minuman keras, pula karena malam tadi ia tidak tidur sama sekali dan perutnya tidak diisi, maka setelah minum enam cawan arak wangi, ia mulai terkena pengaruh minuman keras itu. Tubuhnya bergoyang-goyang dan ia mulai memandang kepada Gan Bu Gi dan Seng Le Hosiang dengan sinar mata berani dan tidak malu-malu seakan-akan mereka itu kawan-kawan baiknya sendiri, sedangkan ia kini mulai ikut tertawa-tawa senang.
Melihat hal ini, baik kedua orang pelayan yang melayani mereka maupun Gan-ciangkun dan Seng Le Hosiang, merasa geli dan gembira sekali.
“Tambah arak, tambah arak!” kata Seng Le Hosiang dengan girang dan kedua pelayan itu tidak berani membantahnya, karena mereka maklum bahwa hwesio tua ini adalah susiok- couw dari Liok-taijin dan memiliki ilmu yang hebat sekali.
Setelah minum lagi beberapa cawan, Gwat Kong menjadi mabuk betul-betul. Ia tersenyum- senyum dan kedukaan lenyap sama sekali dari wajahnya.
Ia mengangkat cawan dan memberi selamat kepada Gan-ciangkun, “Gan-ciangkun, kionghi, kionghi ”
“Nanti dulu,” kata Gan Bu Gi sambil tertawa, “Kau memberiku selamat untuk apakah?” “Bukankah kau telah berhasil memetik setangkai bunga indah di dalam taman keluarga Liok? Kiongho, sekali lagi kionghi (selamat) kau berbahagia sekali!” Dengan iringan suara
ketawa riang mereka bertiga minum kembali araknya.
“Memang perempuan itu seperti kembang ” Gwat Kong mulai mengoceh.
“Ha ha ha! Kau pandai membuat syair agaknya,” kata Seng Le Hosiang. “Belum pernah aku bertemu dengan pelayan sehebat kau. Teruskan, teruskan!”
Sambil tersenyum-senyum dan berdiri dari kursinya memandang ke kanan kiri seperti seorang pemain sandiwara sedang berlagak, Gwat Kong melanjutkan kata-katanya dengan suara merayu, “Perempuan itu bagaikan kembang ... kembang yang indah jelita ”
“Betul, betul!” kata Gan Bu Gi yang juga sudah kemasukan ‘setan’ arak.
“Kembang indah membuat setiap laki-laki ingin memetiknya akan tetapi kembangnya
yang indah selalu berduri ”
Gan-ciangkun dan Seng Le Hosiang tertawa lagi dengan girang.
“Perempuan itu bagaikan bintang di langit yang cemerlang ” kata pula Gwat Kong yang
makin ‘panas’ otaknya. “Setiap orang ingin sekali terbang ke sana. Akan tetapi, yang tidak bersayap jangan harap akan dapat mencapainya, dan sayap itu harus terbuat dari pada emas permata ”
“Eh, Gwat Kong, apakah kau tidak ingin pula memetik kembang indah juita dan terbang ke bintang gemilang?” tanya Seng Le Hosiang sambil tertawa-tawa lagi.
“Aku aku pelayan hina dina yang miskin, yatim piatu yang bernasib malang, mana dapat
dibandingkan dengan dia ? Perempuan itu akan memandang rendah kepadaku, paling
banyak hanya akan memerintah ini-itu, atau bermurah hati sedikit memberi senyum tak berarti
..... aku bagianku hanya di kandang kuda.”
“Ha ha ha! Jangan berkata demikian, anak muda. Kau cukup tampan dan baik, hati wanita akan tergerak melihat mukamu,” kata Seng Le Hosiang.
Gwat Kong menggeleng-geleng kepalanya. “Tak mungkin! Aku mencintainya semenjak pertama kali melihatnya, memujanya bagaikan dewi, akan tetapi bagaimana aku dapat menyatakan cintaku? Kalau dia menjadi bulan, aku hanyalah sebatang rumput kering yang hanya dapat mengharapkan cahayanya yang sejuk pada saat ia muncul. Kalau ia tidak muncul, aku hanya boleh mengeluh dan menderita atau makin mengering!”