Halo!

Pendekar Pemabuk Chapter 09

Memuat...

Tin Eng menghela napas panjang. “Kau mengecewakan hatiku, Gwat Kong. Dengan demikian maka aku tetap berhutang budi kepadamu dan entah kapan aku dapat membayarnya. Sekarang hal kedua, yaitu aku hendak minta tolong kepadamu.”

“Bagaimanakah aku yang bodoh ini dapat menolongmu, siocia?”

“Dengarlah. Kau tentu tahu sendiri betapa lihai ilmu silat Gan-ciangkun yang kita saksikan ketika ia diuji dulu itu.”

Kalau saja cahaya bulan bukannya memang sudah pucat, tentu Tin Eng akan dapat melihat betapa wajah pemuda itu menjadi pucat ketika mendengar kata-kata ini. “Kau maksudkan pemuda yang bernama Gan Bu Gi itu, siocia?”

Tin Eng mengangguk. “Ya, dialah, akan tetapi jangan sekali-kali kau menyebut namanya begitu saja, harus menyebut Gan-ciangkun karena ia telah menjadi perwira kelas satu, bahkan menjadi panglima dari ayah. Nah, aku ingin sekali mencoba kepandaiannya, kau harus menyampaikan kepadanya akan keinginan hatiku ini. Kalau mungkin, besok malam suruhlah dia datang ke tempat ini untuk mengadu kepandaian dengan aku. Kalau belum mengukur kepandaiannya dengan ilmu pedangku sendiri, aku masih belum puas.”

Untuk beberapa saat Gwat Kong tak dapat berkata-kata. Hatinya merasa perih sekali karena ia dapat menduga bahwa gadis ini tertarik oleh ketampanan wajah panglima muda itu, maka hendak mencoba kepandaiannya pula sebagai pembukaan isi hatinya!

“Bagaimana, Gwat Kong? Kau mau menolongku atau tidak?”

“Tentu saja, siocia. Besok pagi aku berusaha menyampaikan hal ini kepadanya. Akan tetapi, bagaimana kalau sampai ayahmu mendapat tahu?”

“Ah, hal itu tidak mengapa. Bukankah sudah lazim bagi orang-orang berkepandaian silat untuk mengadakan pibu (adu kepandaian)? Dan pibu inipun hanya untuk menguji kepandaian masing-masing saja. Kalau ayah marah, biarlah aku yang menghadapinya!” Anak manja ini memang tidak takut kepada ayahnya.

Sambil menekan hatinya yang perih, Gwat Kong mengangguk dan berkata, “Baiklah, siocia. Mudah-mudahan ia tidak akan mengecewakanmu.”

“Eh, eh, apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa, siocia. Maksudku mudah-mudahan dia mau menerima tantanganmu ini sehingga kau tidak akan menjadi kecewa.”

Tin Eng lalu meninggalkan Gwat Kong yang duduk termenung di tempat semula. Kini ia lebih berduka lagi dan makin tetap keputusannya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, betapapun juga ia harus memenuhi kehendak Tin Eng dulu dan iapun hendak menyaksikan sampai di mana kepandaian gadis itu, dan apakah ia akan dapat menandingi Gan Bu Gi yang lihai itu.

Pada keesokan harinya, Gwat Kong mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Gan Bu Gi. Dengan cepat ia menghampiri dan berkata,

“Gan-ciangkun, saya membawa pesan dari Liok-siocia untukmu.”

Panglima muda ini nampak tercengang dan memandang heran. Ia sudah kenal kepada pemuda pelayan ini yang pandai membawa diri maka ia lalu bertanya, “Gwat Kong, jangan kau main- main! Pesan apakah yang dapat disampaikan Liok-siocia kepadaku?”

Melihat di situ tidak ada orang lain, Gwat Kong lalu berkata, “Siocia minta agar supaya ciangkun suka datang di kebun bunga malam nanti untuk mengadu kepandaian pedang.” Gan Bu Gi merasa makin terkejut, “Apa maksudmu? Mengadu pedang bagaimana?” “Ah, benar-benarkah kau tidak tahu, ciangkun? Pendeknya siocia ingin mengajak pibu

kepadamu dan harap saja ciangkun suka menerima tantangan ini. Malam nanti siocia menanti di taman bunga.”

Karena pada saat itu muncul pelayan lain, Gwat Kong lalu tinggalkan panglima muda yang masih berdiri dengan mata terbelalak itu. Gan Bu Gi masih terlampau muda dan kurang pengalaman untuk dapat mengetahui isi hati Tin Eng yang hendak mengukur sampai di mana tingkat ilmu silatnya itu. Namun ia merasa girang juga mendapat kesempatan untuk bertemu, bhakan mungkin bercakap-cakap dengan gadis yang cantik. Selama ia berada di situ sampai enam bulan, ia hanya mendapat kesempatan sedikit saja untuk bertemu muka dengan Tin Eng. Karena ia harus berlaku sopan dan menjaga diri agar jangan sampai tercela oleh Liok-taijin.

Pada malam hari itu, bulan masih bersinar terang, akan tetapi Gwat Kong tidak seperti biasanya, tidak keluar dari kamarnya, karena ia tidak mau mengganggu Tin Eng yang hendak mengadu kepandaian dengan Gan Bu Gi, sungguhpun ia ingin sekali menyaksikannya. Selagi ia duduk termenung di dalam kamarnya tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

Ketika ia membuka daun pintu, ternyata bahwa yang mengetuk itu adalah Tin Eng. Memang kamar Gwat Kong yang berada di dekat kandang kuda itu tidak jauh letaknya dari kebun kembang.

“Gwat Kong, kau harus ikut menyaksikan pibu ini hingga kalau sampai ketahuan oleh ayah aku mempunyai saksi bahwa aku tidak bermaksud buruk dalam hal ini.”

Gwat Kong menyembunyikan rasa girangnya. Ia bergirang oleh karena tidak saja ia mendapat kesempatan menyaksikan pertandingan, juga karena ternyata bahwa gadis itu benar-benar berhati bersih dan hanya ingin menguji kepandaian Gan Bu Gi belaka tanpa maksud-maksud lain.

Mereka lalu menuju ke tengah kebun kembang di mana memang terdapat lapangan berlatih silat yang dulu dipergunakan untuk menguji kepandaian Gan Bu Gi itu. Mereka tidak usah lama menanti, oleh karena Gan-ciangkun tak lama kemudian datang dengan sikapnya yang gagah. Ia menjura dengan hormat kepada Tin Eng yang dibalas dengan selayaknya. Jelas nampak kekecewaan membayang pada muka yang tampan itu ketika ia melihat Gwat Kong berada di situ pula.

“Saya mendengar dari Gwat Kong tentang pesanan siocia maka sekarang saya datang untuk memenuhi pesanan itu. Sebetulnya apakah kehendak siocia?” tanyanya.

“Tidak lain aku ingin mengadu kepandaian pedang denganmu, ciangkun. Marilah kita main pedang sebentar untuk menambah pengalaman,” jawab Tin Eng singkat dan ia agak malu- malu.

Gan Bu Gi tersenyum, senyum yang manis memikat dan yang membuat dada Gwat Kong terasa panas.

“Siocia, kepandaianmu telah kusaksikan dan aku masih berterima kasih atas pertolonganmu dulu itu. Baiklah, kalau kau masih penasaran dan hendak mengujiku, silahkan!” Biarpun Tin Eng merasa heran mendengar ucapan yang tidak dimengertinya ini, akan tetapi ia tidak mau membuang waktu lagi dan mencabut pedangnya. Juga Gan Bu Gi mencabut pedang dari pinggangnya sedangkan Gwat Kong yang mengerti bahwa panglima itu salah sangka ketika dulu ia membantunya terhadap serangan gelap dari perwira Lie Bong, lalu duduk di atas rumput dan menonton mereka mengadu kepandaian.

“Silahkan menyerang, siocia,” kata Gan Bu Gi dengan tenang dan ia memasang kuda-kuda dengan melintangkan pedang pada dadanya dan tangan kirinya diangkat ke atas dengan sikap yang amat menarik.

“Awas pedang!” seru Tin Eng yang segera maju menyerang dan menggunakan ilmu pedang Garuda Sakti yang baru dipelajarinya selama hampir tiga tahun itu.

Ketika pertama kali datang di tempat itu, Gan Bu Gi sudah menyaksikan gadis ini berlatih pedang, maka ia maklum bahwa ilmu pedang gadis ini tinggi dan lihai serta tak boleh dianggap ringan, maka ia lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri dan jangan sampai dikalahkan.

Tangkisan pedang di tangan Gan Bu Gi membuat Tin Eng merasa terkejut sekali karena ternyata olehnya bahwa tenaga lweekang dari pemuda itu masih jauh melebihi tenaganya sendiri, sedangkan gerakan pemuda itu pun gesit sekali, menandakan bahwa ginkangnya sudah sempurna. Namun berkat ilmu pedangnya yang mempunyai gerakan-gerakan aneh dan sukar diduga perubahannya, ia dapat mendesak pemuda itu dengan serangan-serangan kilat. Sementara itu, begitu melihat mereka bertempur dan setelah memperhatikan jalannya pertempuran selama belasan jurus, tahulah Gwat Kong bahwa ilmu pedang Tin Eng masih jauh dari sempurna dan banyak sekali terdapat kesalahan-kesalahan. Ia maklum bahwa hal ini adalah kesalahan penyalinan kitab itu yang agaknya tidak begitu paham tentang isi tulisan kuno itu, akan tetapi harus diakui bahwa biarpun hanya salinan yang buruk, namun apa yang telah dipelajari oleh gadis itu merupakan ilmu pedang yang kalau sudah dilatih sempurna akan sukar menemukan tandingan! Dan ia maklum pula bahwa ternyata Gan Bu Gi mempunyai ilmu kepandaian yang berisi dan dalam hal lweekang dan ginkang, pemuda itu jauh lebih unggul dari pada Tin Eng.

Betapapun juga, kalau saja Tin Eng mempelajari ilmu pedang itu sedikitnya lima tahun saja, belum tentu Gan Bu Gi akan dapat dengan mudah mempertahankan diri terhadap serangan- serangan yang aneh itu. Pada saat itu Gan Bu Gi sendiri menjadi terkejut dan ia maklum bahwa kalau ia tidak segera mendahuluinya dan mempergunakan tenaga untuk merampas pedang Tin Eng, mungkin sekali ia akan terkena bencana di ujung pedang lawannya karena gerakan ilmu pedang ini benar-benar aneh dan belum pernah dihadapinya seumur hidupnya. “Maaf, siocia!” serunya keras setelah mereka bertanding tiga puluh jurus lebih dan dengan sekuat tenaga ia menyampok pedang Tin Eng dengan pedangnya, sedangkan tangan kirinya diulur untuk menangkap pergelangan lengan gadis itu! Tenaga sampok dan yang disertai tenaga lweekang, sepenuhnya ini tentu saja tak dapat tertahan oleh Tin Eng yang hanya mendapat latihan dari ayahnya dalam hal lweekang, maka sambil berteriak kaget ia terpaksa melepaskan pegangannya pada gagang pedangnya sehingga pedang itu mencelat ke atas sedangkan lengannya sudah terpegang oleh lengan Gan Bu Gi.

Tin Eng merasa malu sekali dan membetot lengannya. Gan Bu Gi juga melepaskan lengan yang halus sekali kulitnya itu dan ia menyambar pedang Tin Eng yang melayang turun, lalu memberikan pedang itu kepada Tin Eng sambil menjura,

“Ilmu pedangmu hebat sekali, nona, hingga terpaksa aku menggunakan tenaga untuk merampasnya. Maaf, maaf!” Dengan muka merah karena jengah Tin Eng menerima pedangnya dan berkata, “Kau lihai, ciangkun!” Lalu gadis ini berlari menuju ke dalam gedung.

Gan Bu Gi masukkan pedang dalam sarung pedangnya dan menoleh kepada Gwat Kong yang masih duduk di atas rumput, “Gwat Kong ...”

“Ya, Gan-ciangkun.” “Gadis itu ”

“Kau maksudkan, Liok-siocia? Ya, mengapa dia ?”

“Gadis itu sungguh manis sekali!”

“Memang manis dan lihai ilmu pedangnya.” “Kulihat dia itu ”

“Teruskanlah, ciangkun, jangan malu-malu.”

“Agaknya sudah pantas kalau ia menjadi isteriku yang tercinta. Bagaimana pendapatmu, Gwat Kong?”

Akan tetapi Gwat Kong membalikkan tubuhnya dan terdengar suaranya, “Hm entahlah,

Post a Comment