Pemuda yang bernama Gan Bu Gi itu amat tampan dan gagah dan agaknya Tin Eng tertarik hatinya kepada pemuda yang kini diangkat menjadi panglima dalam gedung keluarga Liok. Ia tidak tahu tentang percakapan kedua kakek itu dengan Liok Ong Gun tentang perjodohan.
Kalau ia tahu, tentu ia akan merasa makin gelisah lagi! Diam-diam dan di luar tahunya, pemuda yang kini menjadi pelayan ini telah terkena panah asmara yang menancap dalam- dalam di lubuk hatinya.
****
Kawan-kawan baik yang merupakan hiburan bagi Gwat Kong hanyalah kuda-kuda di dalam kandang dan juga sebuah suling bambunya. Setahun yang lalu ketika ia membabat bambu- bambu di dalam kebun kembang, ia merasa suka melihat bambu kecil yang hijau dengan bintik-bintik kuning, maka dalam waktu senggangnya ia lalu membuat sebatang suling. Ia tidak pandai menyuling, akan tetapi oleh karena tidak ada hiburan lain, ia mulai mempelajari dan dapat juga meniup beberapa lagu dari suling buatan sendiri itu.
Akan tetapi ia jarang sekali meniup sulingnya. Malam hari itu, bulan bersinar terang dan Gwat Kong membawa sulingnya menuju ke kebun kembang. Ia merasa sedih sekali malam itu karena banyak hal yang mengganggu hatinya. Pertama-tama hal Gan Bu Gi. Telah enam bulan lamanya pemuda tampan itu bekerja pada Kepala daerah Liok dan kini pemuda itu selalu mengenakan pakaian panglima yang menambah kegagahannya.
Ternyata pemuda gunung yang dulu amat sederhana itu, setelah mendapat kedudukan tinggi dan tinggal di kota besar, kini menjadi seorang pesolek. Hal ini bukan merugikan baginya, karena ia tampak makin tampan dan makin gagah saja sehingga tidak heranlah apabila Tin Eng merasa tertarik hatinya. Hal ini amat menggelisahkan dan menyusahkan hati Gwat Kong. Hal kedua yang membuatnya bersedih pada malam hari itu adalah kenangan tentang dendam hatinya terhadap Tan-wangwe.
Ia kini telah memiliki kepandaian dan seharusnya ia boleh mencoba kepandaiannya itu untuk membalas dendam orang tuanya. Akan tetapi bagaimana ia bisa meninggalkan pekerjaan? Ia tidak merasa berat untuk meninggalkan pekerjaan, karena iapun tidak terlalu suka menjadi pelayan seumur hidupnya, akan tetapi yang berat baginya ialah bahwa ia harus meninggalkan Tin Eng. Tak sanggup rasanya untuk pergi meninggalkan dara jelita yang telah merebut hatinya itu. Jangankan harus meninggalkan sampai lama dan jauh, sedangkan sehari saja tidak jumpa, rasa hidupnya menjadi sunyi dan kosong!
Gwat Kong duduk di bawah pohon kembang sambil memandangi bulan yang nampaknya meluncur maju, melayang-layang dan menari-nari di antara mega-mega putih. Bulan yang bundar itu tiba-tiba berubah bentuknya, bermata, berhidung dan bermulut lalu perlahan-lahan terbentuklah wajah Tin Eng yang tersenyum padanya. Ia menggosok-gosok matanya dan pemandangan itu menjadi buyar lagi. Ah, ... mengapa ia demikian tergila-gila? Ia sama sekali tidak mempunyai harapan dan mana bisa seorang pelayan rendah seperti dia menjadi jodoh puteri Kepala daerah yang kaya raya dan berkedudukan tinggi? Berpikir tentang keadaannya sebagai pelayan, tiba-tiba mengalir air mata dari kedua mata Gwat Kong. Teringatlah ia akan keadaannya di masa kecil dan kalau saja ia masih menjadi putera Bun-tihu dan tinggal di gedung besar berpakaian indah, tentu ia mempunyai banyak harapan dan tidak usah khawatir menghadapi seorang saingan seperti Gan Bu Gi!
Akan tetapi Gwat Kong adalah seorang pemuda yang telah banyak menelan pengalaman pahit getir sehingga hatinya menjadi kuat dan tabah. Segera ia mengusap pipinya yang basah dan dipaksanya senyum keluar menghias bibirnya. Sambil menatap bulan di atas kepalanya, ia berkata dalam hati,
“Kau goblok! Kalau kau masih menjadi putera tihu di Lam-hoat, mana bisa kau bertemu dengan dia? Mungkin kau menjadi seorang pemuda pemabukan!”
Ia tersenyum lagi dan teringatlah ia akan segala pengalamannya ketika masih kanak-kanak dan bermain gila dengan kawan-kawannya di kota Ki-hong. Ia merasa menyesal sekali karena kesesatannya itulah yang membuat ibunya sampai meninggal dunia.
“Aku harus membalas sakit hati ayah ibuku. Harus dan secepat mungkin! Kalau mungkin besok pagi aku harus pergi.”
Akan tetapi kembali bulan di atasnya itu berubah menjadi wajah Tin Eng yang cantik jelita, membuat ia menjadi ragu-ragu dan keputusannya tadi menjadi goyah!
“Tin Eng ..... Tin Eng ” ia berbisik.
Tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya, “Gwat Kong, mengapa kau menyebut-nyebut namaku?”
Gwat Kong terkejut sekali dan menoleh. Ternyata di belakangnya telah berdiri Tin Eng yang nampak ayu sekali tertimpa cahaya bulan purnama.
“Kau .... siocia, eh ... tidak, aku tidak menyebut-nyebut nama siapapun juga ” jawabnya
gugup.
Tin Eng lalu duduk di atas rumput dekat Gwat Kong, membuat pemuda itu merasa berdebar- debar jantungnya. Memang Tin Eng tidak merasa sungkan atau malu-malu pada Gwat Kong karena biarpun mereka itu majikan dan pelayan namun karena telah empat tahun mereka tinggal bersama di satu tempat, dan hubungan mereka telah terjadi semenjak Tin Eng baru berusia sebelas tahun dan Gwat Kong tiga belas tahun, maka Tin Eng menganggap Gwat Kong sebagai seorang pelayan dan sahabat yang baik.
Gadis itu duduk sambil memandang bulan, wajahnya tertimpa cahaya bulan sepenuhnya, yang menimbulkan pemandangan yang membuat hati Gwat Kong berdenyut-denyut lebih cepat dari pada biasanya.
“Alangkah indahnya bulan itu,” kata Tin Eng dengan wajah berseri-seri.
“Nona, kau nampak gembira sekali,” kata Gwat Kong perlahan, mengagumi wajah cantik itu selagi pemiliknya memandang bulan dan tidak memperhatikannya.
“Mengapa tidak? Hidup ini memang penuh kegembiraan,” jawab Tin Eng sambil tersenyum manis, dan dara itu tetap memandang bulan.
Gwat Kong juga mengalihkan pandangannya kepada bulan lalu bertanya tanpa menoleh, “Kalau begitu kau tentu berbahagia, siocia?”
“Tentu saja!” jawab yang ditanya secara langsung. “Mengapa aku tidak bahagia?”
Gwat Kong memandang kepada gadis itu lagi dan mereka bertemu pandang karena ketika menjawab tadi, Tin Eng juga menatap wajahnya.
“Kau berhak menikmati kebahagiaan, siocia,” katanya perlahan.
“Setiap manusia berhak berbahagia,” jawab Tin Eng memandang tajam. “Gwat Kong, apakah kau hendak berkata bahwa kau tidak bahagia?”
“Gwat Kong memandang ke arah bulan lagi. “Bahagia ...? Apakah bahagia itu ...?” pertanyaan ini diucapkan dengan ragu-ragu dan perlahan, seakan-akan ia menggajukan pertanyaan itu kepada bulan dan sang bulan agaknya tidak dapat menjawab karena buktinya ia menyembunyikan dirinya di balik awan untuk menghindari pandang mata dan pertanyaan Gwat Kong yang sulit itu!
Tin Eng merasa penasaran. “Setiap orang berhak berbahagia!” ia mengulangi. “Dan kau juga! Mengapa kau tidak harus berbahagia? Apakah bedanya kau dan aku? Setiap hari aku makan nasi dan kau pun juga. Aku boleh bergembira dan kau pun juga. Apakah perbedaan antara kita?” Tiba-tiba ia sadar dan segera disambungnya cepat-cepat, “Ah, barangkali karena kau merasa diri hanya sebagai seorang pelayan dan aku seorang puteri bangsawan. Di situkah letak perbedaannya? Akan tetapi Gwat Kong, hal itupun tidak menjadi penghalang bagimu untuk menikmati kebahagiaan hidup.” Memang gadis ini pandai sekali menghubungkan sesuatu dengan filsafat hidup yang banyak dibacanya ketika ia dipaksa mempelajari ilmu kesusasteraan oleh ayahnya.
Gwat Kong merasa tidak enak untuk melanjutkan percakapan ini, maka ia lalu berkata, “Entahlah, siocia, akan tetapi buktinya hingga sekarang aku masih belum tahu apakah artinya kebahagiaan, yang ada hanyalah penderitaan dan kekecewaan,” ia menghela napas.
“Kasihan kau, Gwat Kong,” kata Tin Eng dan untuk beberapa lama keduanya diam saja memandang bulan yang telah muncul kembali, terbenam dalam lamunan masing-masing. Tiba-tiba Gwat Kong insyaf betapa berbahagianya keadaan ini. Belum pernah ia mengadakan percakapan semesra ini dengan gadis impiannya itu dan ia maklum bahwa kalau sampai Liok- taijin melihat mereka duduk berdua di atas rumput menikmati cahaya bulan, akan berbahayalah jadinya. Teringat akan hal ini, ia merasa khawatir, bukan untuk diri sendiri, akan tetapi khawatir kalau-kalau gadis itu akan mendapat teguran dan marah dari ayahnya. “Sudahlah, siocia, mari kita bicarakan tentang lain hal. Bagaimanakah dengan dengan
kitab pelajaran silat itu?”
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini, Tin Eng agak terkejut dan ia sadar kembali dari lamunannya.
“Kitab itu? Ah, justru inilah maksud kedatanganku. Aku sengaja mencarimu dengan dua maksud, Gwat Kong. Pertama-tama untuk mengucapkan terima kasihku atas penemuan kitab pelajaran itu. Kalau bukan kau yang mendapatkan kitab itu dan menyerahkan kepadaku serta menjaga sehingga rahasia ini tertutup baik-baik, aku takkan mendapat kemajuan sehebat ini.” Gwat Kong pura-pura tidak mengerti dan bertanya, “Jadi kitab itu berguna bagimu, siocia?” “Berguna? Bukan main! Sepuluh orang guru silat yang mengajarku belum tentu sebesar itu gunanya! Setelah aku menangkap maling dulu itu, barulah aku merasa betapa hebatnya kemajuan silatku, bahkan kini kepandaianku sudah lebih tinggi dari pada kepandaian ayah sendiri!”
“Aduh, hebat sekali, siocia!” kata Gwat Kong dengan kagum dan girang.
“Karena itu, maka aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu dan sebagai pembalasan budi, kalau kiranya kau perlu akan sesuatu, aku bersedia membantumu, Gwat Kong. Kau ajukanlah permintaanmu dan aku akan memberikannya sebagai hadiah.”
Gwat Kong memandang dengan muka merah. “Apakah yang dapat kuminta, siocia? Aku ... aku tidak membutuhkan sesuatu.”
“Uang misalnya, atau pakaian? Aku akan memberi dengan suka hati.”
Gwat Kong menggelengkan kepalanya. Pada saat itu, hanya satu hal yang dikehendaki dari gadis itu, akan tetapi seribu ujung pedang takkan kuasa memaksanya membuka mulut, karena yang dibutuhkan itu adalah hati penuh cinta kasih dari gadis itu. “Tidak, siocia, aku tidak
membutuhkan sesuatu. Terima kasih atas kebaikanmu.”