Halo!

Pendekar Pemabuk Chapter 07

Memuat...

Dengan ingin tahu sekali Gwat Kong membuka-buka kitab itu satu demi satu. Kitab pertama adalah sebuah kitab kecil yang berisi tulisan kecil-kecil dan ternyata kitab ini adalah semacam kamus yang menerangkan arti tulisan-tulisan kuno. Kitab kedua adalah semacam kitab pelajaran ilmu silat tangan kosong dan ilmu silat pedang yang ditulis dengan huruf-huruf amat buruk, akan tetapi mudah dimengerti isinya. Adapun kitab ketiga yang tertua dan paling tebal itu, pada sampulnya terdapat lukisan Burung Garuda yang indah sekali dan ketika ia membukanya ternyata bahwa kitab ini penuh dengan tulisan-tulisan tangan yang bukan main bagusnya. Akan tetapi sayang sekali, tulisan-tulisan itu agaknya dilakukan oleh seseorang di jaman dahulu sehingga bahasanya adalah bahasa kuno yang sukar untuk dimengerti.

Gwat Kong merasa girang juga karena mendapatkan kitab pelajaran ilmu silat itu dan mengambil keputusan untuk mempelajari ilmu silat dari buku itu. Ia segera mengubur kembali peti kosong itu dan membawa ketiga kitab tadi ke dalam kamarnya. Kedua kitab yang besar itu ia bawa dan kitab kecil seperti kamus itu ia masukkan ke dalam saku bajunya.

Dan pada saat itu, datanglah Tin Eng dari dalam. Ketika itu, Tin Eng baru berusia tiga belas tahun dan Gwat Kong berusia lima belas tahun. Akan tetapi, gadis yang baru berusia tiga belas tahun itu telah nampak cantik sekali dan ilmu silatnya telah cukup baik karena ia mendapat didikan dan latihan dari ayahnya sendiri yang menjadi anak murid Gobi-san.

Melihat Gwat Kong membawa dua buah kitab tebal, Tin Eng segera menghampirinya dan bertanya,

“Eh, Gwat Kong! Apakah yang kau bawa itu?”

Kalau saja yang melihat bukan Tin Eng, pemuda itu tentu segan untuk memperlihatkan kitab- kitabnya, akan tetapi ia memang ingin sekali menyenangkan hati Tin Eng, maka jawabnya, “Siocia, tadi aku telah mendapatkan sebuah peti terpendam di dalam tanah yang berisi kitab- kitab pelajaran silat!” katanya dengan dengan wajah berseri.

Tin Eng merasa tertarik dan menghampiri lebih dekat.

“Coba kulihat kitab itu!” perintahnya dan tanpa disengaja Gwat Kong memberikan kitab yang tertua dan yang amat tebal itu. Tin Eng membuka-bukanya sebentar, akan tetapi ia sama sekali tidak mengerti, bahkan banyak huruf yang tak dikenalnya. Memang gadis ini kurang pandai tentang ilmu membaca, maka sebentar saja kepalanya yang bagus itu telah menjadi pening ketika ia membalik-balik beberapa helai kertas dalam kitab itu.

“Ah, ini adalah kitab kuno!” katanya dan perhatiannya menipis. “Apa isi kitab itu, siocia?” tanya Gwat Kong.

Tin Eng adalah seorang gadis cilik yang cerdik dan tinggi hati. Ia tidak mau kalau sampai pelayan ini mengetahui bahwa ia tidak mengerti atau tak dapat membaca kitab itu, maka dengan lagak gagah ia berkata sambil mengembalikan kitab itu,

“Ini adalah kitab berisi syair zaman kuno semacam kitab To Tik King hasil karya Lo cu!” Mendengar ini Gwat Kong menahan gelinya di dalam hati, karena biarpun ia hanya mengerti sedikit saja akan isi kitab kuno itu, namun ia tahu bahwa kitab ini bukanlah kitab syair!

Tin Eng lalu memeriksa kitab kedua dan makin lama wajahnya makin berseri-seri.

“Inilah kitab pelajaran silat yang hebat!” serunya dengan bisikan dan kedua pipinya menjadi merah. “Gwat Kong, kitab ini kau berikan kepadaku saja!”

“Boleh saja, siocia. Untuk apakah kitab seperti itu padaku?” jawab Gwat Kong, padahal kalau lain orang yang minta, belum tentu akan ia berikan begitu saja.

Akan tetapi, setelah membaca halaman pertama dari kitab itu, Tin Eng lalu berkata lagi, “Gwat Kong, kau harus merahasiakan hal ini dari siapa pun juga, bahkan kepada ayah sendiri kau tidak boleh menceritakan tentang kitab ini, mengerti? Kitab kuno itu boleh kau simpan, akan tetapi jangan sampai ketahuan orang lain!”

Gwat Kong mengangguk, akan tetapi ia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk mengetahui sebabnya, maka ia bertanya,

“Baik, siocia. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui sebabnya maka hal ini harus dirahasiakan?”

Tin Eng memandangnya dengan mata merah. “Kau tidak perlu tahu!” katanya, akan tetapi agaknya ia merasa bahwa ia berlaku keterlaluan, maka sambil membuka halaman pertama tadi ia berkata, “ Ini, kau baca sendiri!” Gwat Kong melihat betapa pada halaman pertama itu, di sebelah bawah, terdapat tulisan yang tadi ia tidak memperhatikannya dan tulisan itu berbunyi demikian,

“Yang mendapatkan kitab ini berarti ada jodoh dan boleh mempelajari ilmu silat ini, akan tetapi dengan syarat bahwa ia sama sekali tidak boleh memberitahukan kepada orang lain tentang pelajaran ini.”

Biarpun sepintas lalu saja, Gwat Kong sudah dapat membaca habis kalimat itu, akan tetapi ia berpura-pura tidak mengerti dan memandang dengan bodoh.

“Aku, tak dapat membacanya, siocia.”

“Ah, ya aku lupa,” kata Tin Eng sambil menarik napas panjang. “Seorang pelayan muda

seperti kau tentu saja tak pandai membaca.” Kemudian ia lalu membacakan kalimat itu kepada Gwat Kong dan berkata,

“Karena itu, kita harus merahasiakan hal ini dari siapapun juga, dan kitab syair kuno itu boleh kau simpan atau kau bakar saja karena tiada gunanya.”

“Kalau siocia sudah mempelajari ilmu silat ini tentu akan menjadi pandai sekali,” kata Gwat Kong dengan mata berseri.

“Sudahlah, jangan banyak mengobrol, lekas kau sembunyikan kitab tebal itu sebelum orang lain melihatnya,” kata Tin Eng tergesa-gesa dan ia menyembunyikan kitab pelajaran silat itu di dalam bajunya, lalu masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ke kamarnya sendiri. Gwat Kong juga segera masuk ke dalam kamarnya dan menyembunyikan kitab tebal itu. Dan barulah ia teringat akan kitab kamus kecil di dalam saku bajunya, maka iapun segera menyimpan pula kitab kecil itu. Setelah itu ia kembali ke kebun dan melanjutkan pekerjaannya, akan tetapi hatinya selalu memikirkan penemuan kitab-kitab itu. Giranglah hatinya memikirkan bahwa ia telah memberi kesempatan kepada Tin Eng untuk mempelajari kitab itu dan kalau kelak Tin Eng menjadi seorang yang pandai, maka jasanyalah itu.

Setelah malam hari tiba, Gwat Kong mulai mengeluarkan kedua kitab tadi dan membuka- bukanya. Alangkah girangnya bahwa kamus kecil itu adalah catatan-catatan yang menerangkan isi kitab kuno itu sehingga ia mulai dapat membacanya dan bukan main terperanjat dan gembiranya ketika mendapat kenyataan bahwa kitab kuno itu adalah pelajaran ilmu silat tinggi terdiri dari tiga bagian.

Bagian pertama adalah pelajaran latihan lweekang dan ginkang, bagian kedua pelajaran ilmu silat tangan kosong yang disebut Sin-eng Kun-hoat, bagian ketiga adalah pelajaran ilmu silat pedang yang disebut Sin-eng Kiam-hoat! Kini mengertilah ia bahwa kitab yang dibawa oleh Tin Eng tadi hanyalah salinan dari pada kitab kuno ini dan yang disalin hanya bagian ilmu pedangnya saja, akan tetapi menurut dugaannya karena melihat buruknya tulisan penyalin itu, maka salinan itupun tidak sempurna. Inilah kitab aslinya, kitab kuno peninggalan seorang sakti yang kini dapat ia pelajari dengan pertolongan kamus kecil ini. Bukan main girangnya hati Gwat Kong dan ia segera berlutut sambil mengangkat tinggi-tinggi kitab itu dan berbisik, “Teecu akan mempelajari isi kitab ini, harap locianpwe memberi berkah dan ijin.”

Semenjak saat itu, setiap malam ia mempelajari isi kitab itu dengan penuh ketekunan. Ia memperhatikan isi kitab itu dari baris pertama dan mempelajarinya dengan penuh kerajinan dan ketekunan, dengan bantuan kamus itu. Ternyata susunan pelajaran itu rapi sekali dan ia mulai mempelajari bagian pertama di mana terdapat pelajaran-pelajaran bersemedi dan latihan napas untuk memperkuat lweekang dan ginkang.

Demikian pula keadaan Tin Eng. Gadis ini dengan diam-diam mempelajari ilmu silat pedang yang tidak diketahui namanya itu di dalam kamarnya. Dengan girang ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang itu benar-benar lihai dan hebat sekali, jauh lebih tinggi dari pada ilmu silat yang ia pelajari dari ayahnya.

Selama dua tahun lebih, Tin Eng dan Gwat Kong mempelajari isi kitab itu dalam kamar masing-masing, akan tetapi tentu saja Tin Eng tidak tahu bahwa pemuda pelayan yang bodoh itu pun sedang mempelajari ilmu silat yang sama dengan yang dipelajarinya, bahkan yang aslinya. Gadis ini hanya melihat betapa tubuh pelayan itu makin kurus saja seperti orang sakit. Ia tidak pernah menduga bahwa hal ini adalah karena Gwat Kong hampir tak pernah tidur di waktu malam untuk mempelajari ilmu itu dengan penuh ketekunan.

Dan dalam hal mempelajari ilmu itu, Gwat Kong jauh lebih rajin dari pada Tin Eng dan juga pemuda itu tidak sering terganggu karena gadis itu tinggal di dalam gedung dan sewaktu- waktu ibunya dan ayahnya tentu datang ke kamarnya. Sedangkan Gwat Kong tidur di dekat kandang kuda karena tugasnya pula untuk merawat kuda, jarang sekali mendapat gangguan. Baik Tin Eng maupun Gwat Kong, keduanya tidak sadar sama sekali bahwa mereka telah mempelajari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat yang pada ratusan tahun yang lalu telah menggemparkan dunia persilatan! Bahkan penyalin yang buruk tulisannya itu ketika masih hidup, merupakan jago silat yang tak terkalahkan sungguhpun ia hanya mempelajari ilmu silat itu dengan kurang sempurna oleh karena orang itu kurang pandai menyalin isi kitab!

Kedua orang muda itu tidak tahu bahwa di dalam tubuh mereka telah memiliki ilmu kepandaian yang amat mengagumkan. Terutama sekali Gwat Kong yang mempelajari kitab aslinya dan yang mempelajari dari tingkat permulaan. Pemuda itu sama sekali tidak merasa bahwa ia telah memiliki kepandaian kepandaian yang sukar diukur tingginya.

Ketika terjadi pertempuran melawan maling sakti dan berhasil mengalahkan maling itu, barulah Tin Eng sadar akan kelihaian ilmu pedang yang secara rahasia dipelajarinya itu dan tentu saja ia menjadi girang dan bangga sekali, akan tetapi pada waktu itu, tetap saja Gwat Kong sendiri belum menyadari bahwa ia telah memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada Tin Eng!

Gadis yang keras hati dan manja ini tetap memegang teguh rahasianya sehingga biarpun ayahnya sendiri yang bertanya karena terheran melihat kemajuannya setelah ia berhasil menangkap maling, tidak diberitahunya tentang kitab itu.

Maka tibalah saatnya Gwat Kong menyadari dan mengherankan kelihaiannya sendiri yakni ketika terjadi pertandingan sebagai ujian terhadap pemuda Gan Bu Gi itu. Tanpa disengaja ia menyambit dengan hancuran rumput yang digenggamnya dan ternyata bahwa berkat latihan lweekang dari kitab itu, ia memiliki pandangan mata yang luar biasa tajamnya sehingga bidikannya mengenai sasaran dengan tepat!

Sebagaimana dituturkan di bagian depan, Gwat Kong termenung di kandang kuda sambil mengelus-elus leher kuda itu. Semalam suntuk ia tidak dapat tidur, karena selain ia merasa bangga dan girang mendapat kenyataan tentang kelihaian ilmu silatnya. Iapun merasa amat gelisah.

Post a Comment