Halo!

Pendekar Pemabuk Chapter 06

Memuat...

Peristiwa ini merupakan malapetaka besar bagi keluarga Bun. Bukan hanya karena hukuman itu, akan tetapi yang lebih menyedihkan hati Bun-tihu ialah kehancuran namanya. Nama yang tadinya putih bersih dan yang dijaganya dengan baik itu tiba-tiba saja menjadi ternoda kotor dan hina. Ia tak kuat menahan kesedihannya dan akhirnya membunuh diri di dalam tahanan! Nyonya Bun telah menjadi janda yang miskin karena setelah Bun-tihu ditangkap, harta bendanya dirampas semua dengan alasan bahwa harta benda itu datang dari hasil rampokan dan curian. Dengan kejamnya pembesar-pembesar atasan mengusir Nyonya Bun serta putera tunggalnya dari rumah itu. Nyonya ini lalu meninggalkan Lam-hoat dan dengan hati hancur, nyonya bangsawan yang tidak biasa hidup melarat ini merantau ke utara.

Ketika malapetaka itu menimpa keluarganya Bun Gwat Kong baru berusia lima tahun dan anak kecil yang belum tahu apa-apa ini hanya dapat menangis di sepanjang perjalanan karena sebagai putera bangsawan ia pun tidak biasa melakukan perjalanan jauh dan sengsara seperti itu! Akhirnya ibu dan anak ini setelah mengalami kesengsaraan hebat, tiba di sebuah kota di sebelah utara Lam-hoat. Kota ini adalah kota Ki-hong dan di sinilah nyonya Bun memilih tempat tinggal. Mereka mondok di tempat seorang petani miskin dan nyonya Bun lalu mempergunakan kepandaiannya untuk membuat kain sulaman indah dan menyuruh puteranya menjual hasil kerajinan tangan itu ke rumah orang-orang hartawan. Karena hasil kerjanya memang indah dan bermutu tinggi, maka barang-barang itu laku baik dan mendatangkan penghasilan yang cukup untuk biaya sehari-hari.

Kalau ia mau, nyonya Bun tentu saja dapat pergi ke rumah orang tua atau keluarga lainnya yang terdiri dari orang-orang hartawan, akan tetapi nyonya ini mempunyai keangkuhan yang tinggi dan ia tidak mau menumpangkan diri membikin repot orang lain. Selain ini, ia pun merasa malu karena tahu bahwa nama keluarganya telah menjadi cemar karena peristiwa itu. Hatinya berduka dan sakit sekali kalau teringat betapa suaminya telah meninggal dunia dalam keadaan yang amat menggenaskan. Kalau dia tidak mengingat puteranya, Gwat Kong, tentu nyonya ini telah membunuh diri pula karena sedih dan malu.

Kini ia hidup hanya untuk putera tunggalnya. Dengan rajin ia mendidik puteranya itu dalam hal kepandaian membaca dan menulis. Gwat Kong belajar dengan tekun dan rajin sehingga ia dapat memiliki kepandaian itu dengan baik karena otaknya memang tajam. Selama lima tahun sehingga usianya menjadi sepuluh, Gwat Kong merupakan seorang anak yang rajin bekerja membantu ibunya dan rajin belajar pula hingga kesedihan hati ibunya banyak terhibur karenanya.

Akan tetapi, sudah menjadi lazimnya bagi seorang anak laki-laki untuk bermain-main dan bergaul dengan sesama kawannya. Di waktu senggang, Gwat Kong keluar dari rumah dan bermain-main dengan banyak kawan di kota itu dan memang sesungguhnya bahwa pergaulan itu mempengaruhi hidup dan tabiat seseorang. Setelah banyak bergaul dengan pemuda- pemuda yang nakal maka mulai berubahlah sifat Gwat Kong yang tadinya pendiam dan penurut. Ia mulai malas belajar, bahkan kadang-kadang pada saat ibunya menyuruh dia mengantarkan hasil sulaman, anak itu tidak ada di rumah, entah pergi bermain-main di mana. Ibunya mulai berkuatir, apalagi setelah makin lama Gwat Kong makin menjadi malas, bahkan kini berani pula pergi membawa uang yang dimintanya dari nyonya itu. Nyonya Bun mulai menegur anaknya, akan tetapi tidak ada hasilnya. Diam-diam Gwat Kong telah kena pengaruh pergaulan yang kurang baik.

Kawan-kawannya yang suka berjudi itu menyeretnya sehingga anak remaja yang baru berusia sepuluh tahun itu kini gemar berjudi dan bertaruh mengadu jangkrik. Bahkan, yang lebih hebat lagi Gwat Kong mulai belajar minum arak dengan kawan-kawannya. Dan yang aneh, anak ini ternyata kuat sekali minum arak dan dalam beberapa bulan saja, tidak ada seorang pun anak di kota itu yang berani bertanding minum arak dengan Gwat Kong. Oleh karena itu, maka tak lama kemudian Gwat Kong disebut oleh kawan-kawannya ‘Ciu-siauwkoai’ atau setan arak kecil!

Baiknya bukan hanya keburukan yang ia dapat dari pergaulannya dengan anak-anak jahat itu, akan tetapi juga ada hasilnya yang baik yakni kepandaian silat. Ia mulai gemar belajar silat karena selalu kalau sedang bermain-main dan berkelahi, ia menjadi korban yang menderita kekalahan. Dan seperti juga dalam hal minum arak, dalam hal ilmu silat pun setelah ia mulai belajar dari guru silat kota itu yang menerima bayaran, tak seorangpun di antara kawan- kawannya, biar yang lebih besar sekalipun, dapat melawannya dalam perkelahian. Selain tenaganya besar, iapun memiliki kecerdikan sehingga dapat mempergunakan sedikit ilmu silat yang dipelajarinya dengan baik dan praktis, sedangkan sebagian besar kawan-kawannya itu hanyalah mempelajari ilmu silat untuk dipakai berlagak belaka, bagus dilihat kalau bersilat seorang diri, akan tetapi tidak ada gunanya jika menghadapi lawan.

Melihat keadaan puteranya ini, luka di hati nyonya Bun kambuh kembali. Tadinya hatinya yang terluka karena peristiwa yang menimpa keluarganya itu mulai sembuh dan terhibur, akan tetapi kini melihat keadaan puteranya, ia teringat kembali kepada suaminya dan berpikir bahwa anaknya takkan menjadi demikian apabila suaminya masih hidup! Hal ini amat mendukakan hatinya dan nyonya yang bernasib malang itu jatuh sakit. Barulah Gwat Kong merasa terkejut dan menyesal sekali melihat ibunya jatuh sakit, dan sekali gus ia lalu menghentikan kebiasaannya pergi bermain dan meninggalkan rumah itu. Ia berdiam saja di rumah menjaga, akan tetapi terlambat. Penyakit nyonya ini bukanlah penyakit biasa, akan tetapi penyakit yang timbul dari kesedihan hati dan akhirnya, setelah menghabiskan uang simpanan untuk membeli obat guna menyembuhkan ibunya ternyata penyakit itu mengantar nyonya Bun pulang ke alam baka.

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya itu, dengan suara terputus-putus menceritakan kembali peristiwa yang menimpa keluarganya kepada Gwat Kong yang telah lupa sama sekali akan hal itu. Setelah mengubur jenazah ibunya atas bantuan beberapa orang kawan Gwat Kong yang baru berusia dua belas tahun itu, tak pernah dapat melupakan sakit hatinya yang timbul serentak setelah mendengar cerita ibunya. Ia bersumpah di depan kuburan ibunya untuk membalas dendam ini kepada Tan-wangwe yang tinggal di Lam-hoat. Dengan tabah anak yang baru berusia dua belas tahun itu lalu pergi ke Lam-hoat dan setelah mendapatkan rumah gedung Tan-wangwe ia lalu masuk kedalam rumah itu dan memaki-maki lalu mengamuk.

Akan tetapi, apakah daya seorang anak tanggung yang hanya memiliki kepandaian silat pasaran? Ia dianggap anak gila yang datang mengacau dan setelah menerima gebukan- gebukan dari para penjaga sehingga tubuhnya bengkak-bengkak dan kulitnya matang biru, ia dibebaskan dan diusir bagaikan seekor anjing.

Bukan main hancur dan gemasnya hati Bun Gwat Kong menerima hinaan ini. Ia lalu keluar meninggalkan Lam-hoat dan terus merantau ke utara. Akhirnya ia sampai di kota Kiangsui dan setelah mencari pekerjaan di sana-sini, akhirnya ia diterima sebagai seorang pelayan di gedung keluarga Liok, Kepala daerah Kiangsui yang kaya raya itu.

Pada waktu itu, Gwat Kong telah berusia tiga belas tahun. Dengan pikiran dewasa telah membuat ia dapat merahasiakan keadaannya. Ia bekerja dengan rajin sekali. Sikapnya yang sopan dan pendiam membuat ia disukai oleh Liok Ong Gun dan orang-orang yang tinggal di gedung itu.

Cita-cita Gwat Kong hanyalah untuk bekerja dengan baik, mengumpulkan hasil upahnya untuk kemudian dipakai biaya mencari guru silat dan kemudian membalas sakit hati orang tuanya.

Di antara semua orang yang tinggal di gedung besar itu, yang paling menarik hatinya ialah puteri tunggal keluarga Liok, yakni Tin Eng. Semenjak ia melihat anak perempuan itu, ia merasa kagum sekali dan timbul perasaan yang aneh dalam dadanya. Biarpun Tin Eng selalu memperlakukannya dengan kasar dan menyuruhnya mengerjakan ini itu dengan lagak seorang majikan memerintah hambanya, namun selalu Gwat Kong melakukannya dengan taat dan girang. Entah mengapa, ia merasa girang sekali apabila ia dapat melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati gadis cilik itu!

Dengan adanya Tin Eng inilah maka Gwat Kong seakan-akan lupa akan segala. Lupa akan kesukaannya minum arak, lupa akan cita-citanya belajar silat dan bahkan lupa pula akan maksudnya membalas dendam sakit hati orang tuanya! Makin lama ia tinggal di situ, makin betahlah ia dan sedikitpun tidak ada keinginan dalam hatinya untuk meninggalkan tempat itu. Bahkan ia bekerja makin rajin hingga ia makin disuka saja.

Ia tahu bahwa Tin Eng suka sekali akan kembang-kembang indah, maka tiap hari ia merawat kebun kembang di belakang gedung itu, menjaganya baik-baik, menanaminya dengan bunga- bunga indah dan setiap hari selain menyapu kebun itu sehingga bersih, ia pun mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di situ. Tanpa diperintah ia lalu menggulung lengan baju dan mencangkuli tanah yang ditumbuhi tumbuhan liar di sebelah barat kebun itu untuk memperluas kebun kembang.

Dan kerajinannya inilah yang mendatangkan hal yang sama sekali tak pernah diduganya dan yang kemudian mengubah keadaan hidupnya sama sekali.

Pada suatu hari, ketika dengan rajinnya ia pagi-pagi sekali mencangkul tanah liar yang keras karena banyak terdapat batu-batu di tempat itu, Tiba-tiba ia berseru keras karena kaget. Ia telah memukul benda yang amat keras dengan cangkulnya dan ketika diperiksanya ternyata cangkulnya telah patah ujungnya! Dengan heran ia lalu menggali tanah itu, karena kalau hanya batu yang terpukul cangkulnya tadi, tak mungkin cangkul itu sampai rusak. Benar saja dugaannya, setelah ia menggali di bawah tanah itu terdapat sebuah peti logam yang kecil, akan tetapi berat dan kokoh kuat sekali.

Dengan hati berdebar ia membersihkan peti besi itu dan ternyata bahwa tutup peti itu tidak terkunci. Ia lalu membukanya dan karena tertutup itu rapat sekali, maka tidak ada tanah yang masuk ke dalam peti. Akan tetapi, kalau tadinya ia menyangka akan mendapatkan harta pusaka di dalam peti, ia kecewa, karena ternyata bahwa isi peti itu tak lain hanyalah tiga buah kitab yang kertasnya telah menjadi kuning saking tuanya. Terutama yang sebuah dan yang paling tebal, sudah amat tuanya dan pinggirannya telah banyak di makan kutu, akan tetapi tulisan di dalamnya masih lengkap.

Post a Comment