Thio Sin dan kawan-kawannya lalu mulai menyerang dengan senjata mereka. Gerakan mereka itu gesit dan cepat sekali, setiap serangan yang mereka lakukan amat berbahaya. Akan tetapi pemuda itu dengan tenangnya lalu menggerakkan jubah di tangannya dan sekali gus saja semua senjata lawan dapat ditangkis dengan hebat. Empat orang perwira itu merasa terkejur sekali ketika merasa betapa tenaga yang keluar dari tangkisan itu hebat dan kuat sekali, maka mereka lalu maju lagi mendesak dari segala jurusan dengan berpencar. Sebentar saja pemuda itu terkepung dari empat penjuru dan datangnya serangan lawan bagai hujan.
Akan tetapi ia segera berseru keras dan Tiba-tiba jubah di tangannya yang kini menjadi sebatang senjata yang keras dan kuat itu, diputar demikian cepatnya sehingga tubuhnya tertutup sama sekali oleh gulungan sinat senjata istimewa ini.
Tak terasa lagi Tin Eng berseru dengan suara nyaring, “Bagus sekali!” Sementara itu, pelayan muda Bun Gwat Kong yang juga merasa kagum, tak terasa pula meremas-remas rumput digenggamannya sehingga menjadi hancur. Kini ia tidak berjongkok lagi akan tetapi berdiri dan memandang tanpa berkedip. Ia kagum melihat kehebatan permainan silat Gan Bu Gi dan diam-diam merasa iri hati melihat betapa senjata istimewa pemuda itu dapat melindungi dirinya sedemikian rupa terhadap kurungan lima batang pedang dari keempat perwira itu. Memang Gan Bu Gi hendak mendemonstrasikan kepandaiannya dan ia hanya memperlihatkan kekuatan menahan semua serangan itu tanpa membalas sedikit pun. Tiga puluh jurus lebih telah berjalan dan senjata empat orang perwira itu ternyata sama sekali tidak dapat mendesak padanya. Kini barulah mereka maklum dan mengakui keunggulan pemuda itu dan merasa kuatir karena tadinya mereka sama sekali tak pernah menyangka bahwa pemuda gunung itu demikian lihai.
“Bu Gi, rampas senjata mereka!” Tiba-tiba Bong Bi Sianjin berseru dengan gembira. Mendengar perintah suhunya ini, Gan Bu Gi lalu berseru keras dan gulungan baju panjang di tangannya lalu bergerak secara luar biasa sekali. Kini baju itu bergulung-gulung dan sebentar saja ia berhasil melibat sepasang siang-kiam dari Thio Sin dan sekali membetot, sepasang pedang itu terlepas dari pegangan dan jatuh di atas lantai! Tiga pendekar Kiangsui terkejut melihat ini dan sebelum mereka sempat mengelak, pedang mereka telah terlibat pula dan terbetot sehingga terlepas dari pegangan pula!
Pada saat itu juga, Lie Bong yang berhati curang melihat kekalahan kawan-kawannya, dari belakang lalu mengirim tusukan dengan pedangnya tanpa memberi peringatan lebih dulu. Tin Eng yang bermata tajam dapat melihat gerakan ini dan ia tak dapat menahan jeritannya, sedangkan pelayan muda yang berdiri di belakangnya lalu tanpa disadarinya menggerakkan
tangan yang mengepal hancuran rumput tadi. Gerakan ini dilakukannya karena ia pun melihat hal itu dan terkejut. Maksudnya hendak mencegah kecurangan itu, akan tetapi karena ia tidak berani maju, maka tangannya secara otomatis lalu melempar bubukan rumput itu ke arah pedang yang ditusukkan!
Gan Bu Gi juga merasa datangnya angin tusukan senjata, maka secepat kilat ia memutar tubuh dan menggerakkan jubahnya untuk menangkis! Semua kejadian ini terjadi cepat sekali dan semua mata ditujukan ke arah Lie Bong dan Gan Bu Gi hingga tak seorangpun melihat datangnya hancuran rumput itu. Dengan tenaga yang luar biasa, hancuran rumput itu memukul pedang Lie Bong dan sambil berteriak keheranan, perwira ini merasa betapa pedangnya disambar oleh sebuah tenaga raksasa sehingga pedangnya terlepas dari pegangan! Sementara itu, jubah di tangan Bu Gi sudah menyambar ke arah tubuhnya. Akan tetapi, ‘senjata rahasia’ yang membentur dan melemparkan pedang Lie Bong tadi, terpental dan dengan tenaga yang masih hebat kini meluncur ke arah jubah Gan Bu Gi. “Brettt!” Jubah itu tertembus oleh hancuran rumput dan menjadi bolong!
Gan Bu Gi terkejut sekali dan cepat menarik kembali jubahnya yang ketika diperiksa ternyata telah menjadi bolong! Ia mengerling ke arah Tin Eng yang memandangnya dengan dada lega karena pemuda itu dengan secara lihai sekali telah menyelamatkan diri. Tak seorangpun tahu bahwa ada senjata rahasia yang aneh telah menolong pemuda itu. Orang satu-satunya yang tahu hanyalah Gan Bu Gi sendiri dan pemuda ini pun menyangka bahwa nona jelita itulah yang telah menolongnya, maka diam-diam ia menjadi girang sekali dan juga terkejut karena tak disangkanya bahwa nona itu sedemikian lihai sehingga tenaga sambitannya berhasil membuat jubahnya menjadi berlubang!
Dengan senyum manis Gan Bu Gi mengangguk ke arah Tin Eng dan berkata perlahan-lahan, “Terima kasih!”
Hal ini membuat Lie Bong merasa heran karena tadipun ia tak mengerti mengapa tiba-tiba pedangnya terlepas sedangkan jubah di tangan lawannya itu belum menyentuh sendjatanya. Juga Tin Eng merasa terheran karena ia tidak mengerti mengapa pemuda itu berterima kasih kepadanya. Yang paling merasa heran adalah si pelayan muda itu sendiri. Tanpa disengaja ia menyambit ke arah pedang Lie Bong dan melihat betapa benda lunak yang disambitkannya itu dapat melemparkan pedang perwira itu, bahkan menembus jubah di tangan Gan Bu Gi, ia merasa terheran-heran dan menjadi bengong! Kemudian ia lalu pergi dari situ, masuk ke dalam kandang kuda di mana ia duduk melamun sambil mengelus-elus kuda yang menjadi sahabat baiknya.
Sementara itu, Thio Sin dan kawan-kawannya lalu menjura kepada Gan Bu Gi dan dengan jujur berkata, “Gan taihiap benar-benar hebat! Kami berlima mengaku bahwa kau memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi dari pada kami. Sudah sepatutnya kalau kau diangkat menjadi Panglima Tertinggi di Kiangsui!”
Memang Thio Sin seorang yang cerdik. Tadinya ia merasa penasaran karena pemuda ini dianggap sebagai pendesak kedudukannya. Akan tetapi setelah menyaksikan betapa lihainya pemuda ini, ia merasa lebih baik menjadikannya sebagai sahabat dari pada sebagai musuh, maka ia lalu memuji-mujinya untuk mengambil hati.
Liok Ong Gun merasa girang bukan main. Ia menghampiri pemuda itu dan melepaskan ikat pinggang berikut pedangnya, diberikan kepada Gan Bu Gi sambil berkata, “Gan-hiante, mulai sekarang kau kuangkat menjadi kepala perwira di daerah Kiangsui ini dan terimalah pedangku ini sebagai tanda pangkatmu!”
Gan Bu Gi lalu menjatuhkan diri berlutut menghaturkan terima kasih.
Sementara itu, Bong Bi Sianjin dan Seng Le Hosiang juga menghampiri sambil tertawa tergelak-gelak.
“Liok Ong Gun,” kata Seng Le Hosiang. “Tugasku telah selesai dan pinceng merasa girang sekali bahwa kau dapat menerima Gan Bu Gi. Sekarang aku hendak kembali karena masih ada urusan lain yang harus pinceng selesaikan.”
“Pinto juga mau pergi, taijin. Tentang perjodohan itu, biarlah lain kali kita bicarakan! Bu Gi, berhati-hatilah dalam pekerjaanmu!”
Setelah berkata demikian, dua orang kakek pertapa itu berkelebat dan bagaikan dua ekor burung saja, tahu-tahu tubuh mereka telah berada di atas dinding yang mengelilingi gedung itu! Sekali lagi mereka melambaikan tangan kemudian berkelebat lenyap dari situ.
Tin Eng memandang semua itu dengan kagum dan ketika ia melihat betapa Gan Bu Gi sekali lagi memandangnya dengan mata mengandung penuh perasaan, ia menjadi malu. Wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat ia berlari masuk ke dalam gedung.
****
Bun Gwat Kong yang berdiri termenung di kandang kuda sambil mengelus-elus leher kuda itu masih saja terheran-heran. Ia lalu membungkuk dan mengambil sekepal makanan kuda yang sudah hancur, lalu ia sambitkan makanan kuda itu ke arah tiang dengan sekuat tenaga.
Dengan mudah saja benda itu melesat ke dalam tiang kayu yang keras! Bukan main herannya sehingga ia bergidik sendiri karena ngerinya. Bagaimana ia bisa mempunyai kelihaian seperti itu?
Memang, di luar tahunya, pemuda ini memiliki kepandaian dan tenaga lweekang yang luar biasa sekali. Hal ini memang aneh sekali, akan tetapi baiklah kita berhenti sebentar untuk mengikuti pengalaman pemuda ini semenjak ia masih kecil sehingga ia menjadi pelayan di rumah gedung keluarga Liok.
Bun Gwat Kong ini sebenarnya adalah putera tunggal seorang tihu di kota Lam-hoat sebelah selatan. Ayahnya adalah seorang tihu yang amat adil dan bijaksana, serta jujur menjalankan tugasnya. Ketika Gwat Kong masih kecil, ayahnya, yakni Bun-tihu, memeriksa perkara seorang hartawan yang diadukan oleh orang-orang kampung karena memeras mereka dan merampas tanah hak milik rakyat tani. Sebagai seorang tihu yang adil, Bun-tihu menjatuhkan keputusan yang adil, mendenda hartawan itu dan merampas tanah itu untuk dikembalikan kepada yang berhak, orang-orang kampung yang miskin. Hal itu tentu saja membuat hartawan she Tan itu menjadi sakit hati dan dengan pengaruh uangnya, Tan-wangwe (hartawan she Tan) itu lalu memfitnahnya kepada pembesar yang lebih tinggi pangkatnya dan dengan curang sekali ia menyuruh seorang penjahat untuk mencuri harta dan cap kebesaran pembesar itu lalu disembunyikan ke dalam kamar Bun-tihu.
Kemudian Tan-wangwe mendakwa tihu itu sebagai seorang kepala pencuri yang diam-diam mengepalai serombongan pencuri untuk mengumpulkan harta kekayaan. Rumah Bun-tihu diperiksa dan benar saja, harta dan cap yang tercuri itu telah diketemukan di dalam kamarnya, sedangkan maling yang melakukan perbuatan itu pun lalu menyerahkan diri dan mengaku bahwa ia adalah anak buah Bun-tihu yang menjadi kepala gerombolan maling. Tentu saja semua ini adalah tipu muslihat Tan-wangwe yang sudah memberi suapan besar kepada pembesar itu sehingga Bun-tihu akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman. Diam-diam maling yang telah membantu itu dibebaskan, bahkan banyak mendapat hadiah dari Tan-wangwe.