Halo!

Pendekar Pemabuk Chapter 04

Memuat...

“Awas seranganku!” Lie Bong berseru keras dan maju menyerang dengan gerakan Go-yang- pok-sit atau kambing lapar tubruk makanan. Pukulannya keras sekali dan gerakannya cepat hingga serangan pertama ini saja agaknya sudah cukup merobohkan lawan yang kurang gesit. Akan tetapi, dengan masih tenang pemuda itu mengelak ke samping hingga serangan lawan mengenai tempat kosong.

Lie Bong melanjutkan serangannya dengan pukulan Siok-lui-kik-ting atau Petir sambar kepala. Serangan kedua ini lebih hebat dan pukulan yang ditujukan ke arah kepala Gan Bu Gi itu. Kalau mengenai sasaran mungkin akan menghancurkan kepala pemuda itu. Sekali lagi pemuda itu mengelak dengan cepat luar biasa sehingga Lie Bong mulai merasa panas dan penasaran.

Ia tiada hentinya menyerang bertubi-tubi, kini tidak sungkan-sungkan lagi dan mengeluarkan serangan-serangan yang paling berbahaya. Namun sungguh mengherankan, jangankan mengenai tubuh pemuda itu, ujung baju yang panjang dari pemuda itu saja ia tak mampu menyentuhnya! Pemuda itu berkelebat ke kanan-kiri dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, gesitnya melebihi burung walet dan setelah menyerang belasan jurus, belum juga Lie Bong berhasil memukul lawannya.

Kini barulah para perwira merasa terkejut, sedangkan Tin Eng sendiri merasa kagum melihat kelincahan pemuda itu yang ternyata memiliki ilmu gin-kang atau keringan tubuh yang luar biasa sekali. Makin cepat Lie Bong menyerang, makin cepat pula pemuda itu bergerak sehingga sebentar saja tubuhnya seakan-akan menjadi tiga atau empat karena cepatnya gerakannya. Lie Bong mulai merasa pening karena ia tidak melihat dengan jelas ke jurusan mana lawannya mengelak dan tahu-tahu lawannya telah berada di kanan, di kiri, bahkan di belakangnya.

Tak terasa lagi Liok Ong Gun bertepuk tangan saking gembiranya.

“Gan-kongcu, balaslah, jangan sungkan!” teriaknya, lupa bahwa pertandingan itu sebetulnya hanya merupakan ujian bagi calon perwira itu.

Mendengar ini, Gan Bu Gi berkata kepada Lie Bong,

“Ciangkun, maafkan siauwte!” Baru saja kata-kata ini diucapkan, tahu-tahu Lie Bong memekik dan tubuhnya terlempar sampai dua tombak jauhnya, jatuh berdebuk dengan pantat di depan ke atas tanah sehingga debu mengepul ke atas dan ia merasa pantatnya sakit sekali! Ternyata bahwa ketika ia sedang memukul, secepat kilat pemuda itu mengelak dan melompat ke samping dan ketika ia melanjutkan serangannya dengan sebuah tendangan, sambil mengelak pemuda itu lalu mendorong tubuh belakangnya dari samping dengan tenaga yang luar biasa besarnya sehingga tidak ampun lagi ia terbawa oleh tenaga tendangan dan dorongan itu sehingga terlempar jauh! Terdengar suara terbahak-bahak dari Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin, dibarengi tepuk tangan Liok Ong Gun yang merasa kagum sekali.

Dengan mendongkol, malu, dan pemasaran Lie Bong merayap bangun dan hendak melawan dengan menggunakan senjata, akan tetapi ternyata bahwa tubuh belakangnya terasa sakit sekali sehingga ketika ia berdiri, ia merasa bahwa tak mungkin baginya untuk maju bertanding lagi. Ia hanya berdiri dan mengurut-urut pantatnya sambil meringis kesakitan!” Sementara itu, empat orang perwira lainnya merasa penasaran sekali melihat betapa Lie Bong dipermainkan demikian mudahnya oleh pemuda itu. Thio Sin sebagai kepala perwira merasa penasaran dan melompat maju sambil menjura kepada Liok Ong Gun dan berkata,

“Taijin, oleh karena saudara Lie Bong sudah kalah dan tidak mungkin untuk melakukan ujian senjata, biarlah siauwte sendiri yang maju untuk melakukan ujian ini.”

Liok Ong Gun mengangguk dengan girang dan Thio Sin mencabut sepasang siang-kiam (sepasang pedang) yang tajam dan tipis. Ia terkenal sebagai ahli main siang-kiam yang jarang mendapat tandingan maka ia yakin bahwa kini ia akan dapat mengalahkan pemuda yang hendak mendesak kedudukannya itu. Hatinya merasa iri sekali melihat betapa Liok Ong Gun agaknya tertarik dan kagum sekali kepada Gan Bu Gi.

Setelah melompat dengan ringan dan gesitnya kehadapan pemuda itu, Thio Sin lalu berkata sambil menyilangkan sepasang pedangnya di dada.

“Gan-kongcu, harap kau suka mengeluarkan senjatamu agar kita dapat segera menguji kepandaian masing-masing. “ Dengan hati–hati Thio Sin menyebut “menguji kepandaian masing-masing” dan tidak menguji kepandaian pemuda itu, oleh karena ia menduga bahwa pemuda itu tentu berkepandaian tinggi dan belum tentu ia dapat mengalahkannya.

Gan Bu Gi balas menjura, “Ciangkun, biarlah kau saja yang mempergunakan senjata, siauwte akan menghadapimu dengan bertangan kosong saja. Bukankah kita hanya hendak main-main saja?”

Thio Sin marah sekali dalam hatinya karena jawaban ini. Biarpun tidak dikeluarkan untuk menghinanya akan tetapi maksudnya sama dengan memandang rendah. Ia adalah perwira kelas satu di kota Kiangsui, bahkan apabila ia menjadi perwira di kotaraja, sedikitnya akan menduduki kelas tiga. Ilmu silatnya tinggi dan sudah dikenal oleh semua orang. Apakah sekarang ia harus menghadapi seorang pemuda gunung yang bertangan kosong ini dengan senjatanya? Sungguh memalukan sekali. Jangankan sampai kalah, biarpun ia mendapat kemenangan, namanya akan jatuh dan ia akan ditertawakan orang karena sebagai seorang perwira tinggi ia melawan dan menjatuhkan seorang pemuda tak ternama yang bertangan kosong dengan menggunakan siang-kiam! Maka ia lalu berkata,

“Gan-kongcu, aku percaya bahwa kau memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya. Akan tetapi kalau kau tidak menghadapiku dengan senjata, terpaksa ujian ini tidak dapat dilanjutkan.”

Mendengar ucapan ini, Bong Bi Sianjin lalu bangun dari tempat duduknya dan berkata dengan suara keras,

“Ciangkun, kalau muridku sudah menggunakan senjata, maka pertandingan ini tidak akan menarik lagi. Akan tetapi oleh karena memang sudah menjadi peraturan, biarlah muridku mempergunakan senjata dan kau bersama tiga orang kawanmu itu maju berbareng hingga pertempuran ini akan menarik dan sedap ditonton! Bu Gi, kau pergunakanlah senjatamu, akan tetapi jangan yang tajam, cukup dengan jubahmu itu saja,” perintahnya kepada muridnya.

Gan Bu Gi mengangguk dan segera menanggalkan jubahnya yang panjang itu. Ternyata bahwa di sebelah dalam ia memakai pakaian yang ringkas dan kini ia nampak gagah sekali. Ia menggulung jubahnya itu dan memegang di tangan kanan, lalu berkata kepada Thio Sin,

“Ciangkun, kau telah mendengar usul suhu tadi. Harap kau dan ketiga orang kawanmu itu maju berbareng dan marilah kita main-main sebentar!” Saking marah dan mendongkolnya melihat kesombongan Bong Bi Sianjin yang mengusul agar muridnya itu dikeroyok empat, Thio Sin tak dapat mengeluarkan kata-kata dan hanya memandang dengan mata terbelalak marah. Akan tetapi ketiga orang kawannya tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Mereka ini adalah tiga saudara yang disebut Kiangsui Sam- eng atau Tiga Pendekar Kiangsui karena sebelum mereka menjadi perwira-perwira pengawal Liok Ong Gun, memang mereka ini merupakan tiga saudara cabang atas di kota itu.

Kepandaian mereka tidak rendah, hanya kalah sedikit saja dari Thio Sin, maka kini mendengar kesombongan itu, mereka menjadi marah sekali dan berbareng mereka melompat ke tengah lapangan sambil mencabut pedang masing-masing!

“Baik, kami akan maju bareng!” kata Thio Sin. “Akan tetapi, ini bukan kehendak kami.” Kemudian ia menghadapi Liok Ong Gun untuk minta perkenan pembesar itu.

Liok Ong Gun juga merasa penasaran ketika melihat betapa para perwiranya dipandang rendah. Ia ingin sekali melihat apakah benar-benar pemuda itu dengan sepotong jubah saja sanggup menghadapi keempat orang perwira yang memegang pedang, maka ia lalu mengangguk dan berkata,

“Karena mereka yang meminta, biarlah kalian mulai saja.”

Tin Eng merasa semakin kagum dan heran. Ia kagum melihat kelihaian pemuda itu dan heran melihat keberaniannya. Ia maklum bahwa empat orang perwira ayahnya itu memiliki kepandaian yang tidak rendah dan apabila mereka maju bersama, maka mereka merupakan merupakan lawan yang tangguh. Akan tetapi diam-diam ia merasa gembira oleh karena ia akan menyaksikan pertandingan yang benar-benar hebat.

Sementara itu, pelayan muda yang tadi masih mencabuti rumput dan hanya menonton pertandingan yang terjadi antara Gan Bu Gi dengan Lie Bong, kini juga tertarik sekali hingga lupa untuk melakukan pekerjaannya. Dengan tangan kiri memegang sekepal rumput yang sudah dicabut, ia berjongkok tanpa bergerak dan nongkrong di situ sambil memandang dengan hati berdebar.

Gan Bu Gi dengan tenangnya berdiri menghadapi empat orang perwira itu dengan jubah tergulung dalam tangannya. Sikapnya tenang, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya sehingga Liok Ong Gun makin lama makin kagum saja melihatnya. Pemuda yang baru berusia paling banyak dua puluh tahun itu benar-benar mengagumkan, baik kepandaian maupun keberaniannya.

Melihat sikap pemuda itu, Thio Sin lalu berkata sambil menahan marahnya, “Kongcu, kau sendiri yang memilih senjatamu, jangan kau menyesal kalau nanti roboh di tangan kami.” “Tidak akan ada penyesalan dalam hal ini dan silahkan mulai, cuwi ciangkun!” jawab Gan Bu Gi yang memperlebar senyumnya. Pemuda ini merasa gembira sekali bukan karena kemenangannya, akan tetapi oleh karena ia maklum bahwa Tin Eng gadis bidadari itu sedang memandangnya dengan penuh perhatian dan ia mendapat kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya kepada dara jelita yang telah membetot hatinya.

Post a Comment