Halo!

Pendekar Pemabuk Chapter 03

Memuat...

Semua perwira di dalam gedung itu merasa kagum dan segan terhadap gadis itu karena maklum bahwa ilmu kepandaian gadis itu amat tinggi, bahkan tidak berada di sebelah kepandaian perwira yang manapun juga di kota Kiang-sui! Tadinya tak seorangpun menyangka bahwa Tin Eng memiliki ilmu silat tinggi dan lihai dan hanya menyangka bahwa gadis itu pernah belajar ilmu silat karena ayahnya pun seorang yang pandai ilmu silat, akan tetapi semenjak terjadi sebuah peristiwa yang mengagumkan, barulah mereka tahu bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Bahkan Liok Ong Gun sendiri tadinya tidak pernah menyangka bahwa puterinya memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada ilmu silatnya sendiri!

Hal itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Ketika itu, kota Kiang-sui kedatangan seorang pencuri yang lihai sekali. Kepala daerah Liok telah mengerahkan para penjaga dan perwira untuk menangkap pencuri itu, akan tetapi maling itu ternyata amat tangguhnya hingga tak dapat ditangkap, bahkan ketika pada suatu malam dikepung, maling itu telah melukai beberapa orang perwira! Dalam kesombongannya karena tidak menemukan tandingan, maling itu akhirnya berani mendatangi gedung Liok Ong Gun untuk mencuri! Dan di tempat inilah ia menemui tandingannya, yakni Tin Eng sendiri!

Ketika maling itu sedang mencari-cari di atas genteng, tiba-tiba ia diserang oleh Tin Eng dan mereka bertempur hebat sekali. Ribut-ribut ini terdengar oleh Liok Ong Gun yang segera mengerahkan para perwira dan menyusul ke atas di mana dengan bengong mereka menyaksikan sebuah pertempuran hebat antara Tin Eng dan maling itu! Bukan main kagum hati mereka ketika akhirnya Tin Eng berhasil merobohkan maling itu yang segera dibekuk dan dihukum. Dan semenjak malam itulah maka Tin Eng terbuka rahasianya, dan semua orang, termasuk ayah sendiri, baru maklum bahwa dara jelita itu memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dari pada para perwira di kota Kiang-sui.

Pada saat Liok Ong Gun dan tamu-tamunya datang di kebun itu, Tin Eng sedang berlatih silat pedang yang mempunyai gerakan-gerakan luar biasa cepatnya. Sinar pedangnya bergulung- gulung menyelimuti tubuhnya dan angin sabetan pedang menyambar-nyambar sampai jauh. Para perwira memandang kagum, demikian pula Liok Ong Gun karena tidak mudah untuk menyaksikan ilmu silat puterinya itu yang belum pernah mau memperlihatkan kepandaiannya kepada siapapun juga.

Sementara itu, melihat kecantikan gadis yang hendak dijodohkan dengannya, pemuda murid Bong Bi Sianjin tercengang dan pada saat itu yang kelihatan olehnya hanya kecantikan Tin Eng, sama sekali tidak memperdulikan ilmu pedang yang dimainkan oleh dara itu.

Akan tetapi, Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin saling pandang dengan mata mengandung keheranan besar. Selama mereka hidup, baru satu kali saja mereka pernah menyaksikan ilmu pedang seperti ini, yaitu ketika mereka masih muda. Inilah ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat yang jarang terlihat di atas dunia ini. Pencipta ilmu pedang ini telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu, dan orang itu setahu mereka tidak mempunyai murid, bagaimana ilmu pedangnya kini terjatuh kepada puteri Liok Ong Gun?

Dengan penuh perhatian, kedua kakek itu memandang ilmu pedang yang dimainkan Tin Eng. Mereka maklum bahwa ilmu pedang itu benar-benar hebat sekali, akan tetapi sayang dara itu masih belum sempurna kepandaiannya dan terdapat kesalahan di sana-sini, sungguhpun mereka berdua juga tidak paham ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (ilmu pedang garuda sakti), namun sebagai ahli-ahli ilmu silat mereka dapat melihat kesalahan-kesalahan dan cacat dalam permainan gadis itu.

Sementara itu, Bong Bi Sianjin tak dapat menahan lagi kegembiraannya dan berseru, “Bagus sekali Kiam-hoat ini!”

Mendengar seruan ini, barulah Tin Eng sadar bahwa di antara rombongan terdapat orang asing, maka ia segera melompat mundur dan menahan gerakan pedangnya. Dengan mata mengandung keheranan ia memandang ke arah dua orang kakek dan pemuda yang tak dikenal itu, kemudian ia mengundurkan diri dengan malu-malu.

Liok Ong Gun menghampiri puterinya dan sambil tertawa berkata, “Tin Eng, kau berhadapan dengan susiok-couw, beliau inilah yang bernama Seng Le Hosiang, susiok dari mendiang suhuku.”

Tin Eng terkejut sekali dan segera menjura dengan hormatnya.

“Bagus, bagus! Kau patut menjadi puteri Liok Ong Gun. Cantik jelita dan kepandaian hebat pula! Entah siapa yang memberi pelajaran ilmu pedang tadi kepadamu.”

Tin Eng tidak menjawab, hanya memberi hormat kepada Bong Bi Sianjin dan Gan Bu Gi ketika ayahnya memperkenalkan mereka kepadanya. Mendengar bahwa pemuda yang tampan dan nampak malu-malu itu hendak masuk menjadi perwira dan kini akan diuji kepandaiannya, Tin Eng merasa gembira dan segera berdiri di tempat yang agak jauh dari situ untuk menonton. Ayahnya tak dapat melarang puterinya yang manja dan keras hati ini, maka ia mendiamkan saja.

Di dekat tempat gadis itu berdiri, terdapat seorang pelayan muda yang sedang mencabuti rumput pengganggu pohon kembang. Dan melihat pemuda ini, Tin Eng segera berkata, “Gwat Kong, tolong beritahu kepada ibu bahwa aku berada di sini untuk menyaksikan ujian perwira baru!”

Pemuda itu mengangguk dan menjawab, “Baik, siocia.” Dan sebelum ia pergi jauh tiba-tiba Liok Ong Gun memanggilnya. Ia segera berjalan kembali dan pembesar itu berkata,

“Kalau kau masuk ke dalam, sekalian ambil dua buah kursi untuk jiwi locianpwe ini!” “Baik, taijin,” kata pemuda pelayan itu setelah memandang sekilas ke arah Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin. “Siapakah pemuda itu?” tanya Seng Le Hosiang kepada Liok Ong Gun. Ia merasa tertarik karena melihat betapa sepasang mata pelayan muda itu mengeluarkan cahaya yang tajam. “Ah, dia adalah seorang pemuda she Bun yang telah tiga tahun bekerja di sini sebagai pelayan. Orangnya jujur, pendiam, dan pekerjaannya baik,” jawab Liok Ong Gun sambil lalu. Sementara itu, Liok Ong Gun lalu memberi perintah kepada seorang perwiranya untuk bersiap menguji pemuda yang hendak menjadi perwira itu. Perwira ini adalah seorang perwira yang sudah berusia empat puluh tahun lebih dan bernama Thio Sin. Dia memang dianggap sebagai pimpinan para panglima yang berjumlah lima orang dan kepandaiannya dianggap paling tinggi.

“Thio-ciangkun, harap kau segera melakukan upacara ujian ini sebagaimana mestinya dan boleh kau pilih siapakah yang diharuskan maju untuk berpibu dengan Gan-kongcu,” kata Liok Ong Gun kepadanya.

“Biarlah siauwte maju dan mengujinya, Thio-twako,” kata seorang perwira yang bermuka hitam dan bertubuh tinggi besar. Perwira ini adalah Lie Bong yang beradat kasar. Ia tadi merasa penasaran dan mendongkol sekali, maka kini ia hendak menggunakan kesempatan untuk membalas penghinaan tadi.

Thio Sin mengangguk sambil tersenyum. Ia percaya penuh kepada kegagahan Lie Bong yang memiliki tenaga besar dan ilmu silat cukup tinggi.

“Majulah, Lie-lote, akan tetapi hati-hatilah,” kata Thio Sin.

Lie Bong berseru girang dan segera bersiap sedia. Ia membereskan topinya yang dihias bulu garuda panjang, lalu memasukkan kuncir rambutnya ke dalam punggung bajunya dan menyingsing lengan bajunya, kemudian ia melompat ke tengah lapangan. Di tengah lapangan itu terdapat sebongkah batu besar yang biasanya digunakan untuk melatih tenaga. Melihat batu besar itu dengan congkaknya Lie Bong lalu menempelkan kakinya kanannya kepada batu itu dan sekali ia menggerakkan kaki, batu itu terlempar jauh ke bawah pohon.

Setelah melakukan demonstrasi untuk memperlihatkan kehebatan tenaganya itu, Lie Bong lalu menjura ke arah pemuda gunung yang masih berdiri sambil tersenyum malu-malu di dekat suhunya sambil berkata,

“Gan-kongcu, aku mendapat kehormatan untuk melayani bermain-main denganmu. Silahkan maju!”

Gan Bu Gi berpaling kepada suhunya seakan-akan minta perkenan dan setelah Bong Bi Sianjin mengangguk, ia lalu berjalan dengan tenang ke dalam lapangan itu, menghadapi Lie Bong.

Pada saat itu, pelayan muda yang diperintah mengambil kursi telah datang. Biarpun hanya disuruh mengambil dua buah kursi, pemuda itu ternyata membawa empat buah kursi. Dua buah diletakkan di belakang kedua pendeta tua itu, sebuah diberikan kepada Liok Ong Gun dan yang sebuah lagi lalu ia bawa menuju tempat Tin Eng berdiri dan ia memberikan kursi kepada gadis itu!

Tak seorangpun memperhatikan pekerjaan ini dan Liok Ong Gun juga sudah lupa bahwa ia tadi hanya memerintahkan mengambil dua buah kursi saja untuk Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin. Mereka duduk dan memperhatikan ujian yang hendak dilangsungkan, sedangkan pemuda pelayan yang bernama Bun Gwat Kong itu lalu melanjutkan pekerjaan mencabuti rumput sambil kadang-kadang menengok ke arah tempat duduk Tin Eng.

“Gan-kongcu,” kata Lie Bong dengan suara keras. “Menurut kebiasaan, pibu ini dilakukan dua kali. Pertama kali dengan bertangan kosong, dan kedua kalinya menggunakan senjata untuk menguji kepandaian main senjata dari calon perwira. Sekarang marilah kita main-main sebentar dengan bertangan kosong. Harap kau suka menanggalkan jubahmu yang panjang itu agar supaya gerakanmu lebih leluasa.”

Pelayan Muda Kepala Daerah Memang pemuda itu memakai jubah pendeta yang panjang dan berlengan baju lebar sekali maka tentu saja dalam pakaian seperti itu, gerakannya akan kurang leluasa. Akan tetapi, sambil tersenyum Gan Bu Gi menjawab,

“Ciangkun, ujian ini hanya main-main belaka, bukan? Biarlah siauwte tetap memakai jubah ini, hanya siauwte harap ciangkun suka menaruh kasihan kepadaku.” Biarpun Gan Bu Gi berkata demikian, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum hingga bagi Lie Bong seakan-akan pemuda itu mengejeknya dan memandang rendah. Menghadapinya dengan pakaian seperti itu saja berarti sudah memandangnya rendah, maka ia menjadi marah sekali.

“Kalau begitu, jangan kau menggunakan alasan bajumu itu kalau nanti kau roboh!” katanya sambil memasang kuda-kuda.

“Seranglah, ciangkun,” kata Gan Bu Gi yang masih tenang-tenang saja dan berdiri biasa seakan-akan tidak menghadapi lawan yang hendak menyerangnya. Tin Eng merasa geli dan juga heran melihat sikap pemuda itu dan ia menduga bahwa dalam satu-dua jurus saja Lie Bong tentu akan menjatuhkan.

Post a Comment