“Bagus, bagus, rumahmu bagus sekali,” Seng Le Hosiang memuji dan memandang kagum. Gan Bu Gi yang semenjak kecil berada di atas gunung juga memandang ke kanan-kiri dengan kagum dan mata terbelalak lebar. Ia merasa malu-malu dan ketika kakinya menginjak lantai yang berkembang dan halus mengkilap itu, ia merasa takut kalau-kalau sepatunya akan merusak lantai maka ia berjalan dengan hati-hati sekali!
Setelah semua orang mengambil tempat duduk di ruangan tamu, Liok Ong Gun menanti sampai pelayan datang membawa minuman.
“Susiok-couw suka minum apa? Arak wangi atau teh wangi? Juga Bong Bi Locianpwe dan Gan-hiante ingin minum apa?” Liok Ong Gun menawarkan dengan ramah tamah.
“Arak saja, boleh keluarkan arak yang paling wangi!” kata Seng Le Hosiang dengan gembira hingga diam-diam para perwira merasa heran mengapa ada hwesio yang suka minum arak.
Bagi Bong Bi Sianjin, tidak ada pantangan minum arak, akan tetapi dengan malu-malu Gan Bu Gi menjawab,
“Harap taijin jangan terlalu merepotkan penyambutan. Siauwte biasanya hanya minum air gunung.”
Jawaban pemuda yang sederhana ini membuat semua orang tersenyum dan Liok Ong Gun merasa suka kepadanya. Ia heran melihat betapa Bong Bi Sianjin yang terkenal akan kegagahannya itu mempunyai murid yang demikian lemah lembut.
Setelah semua orang minum, pembesar itu bertanya kepada susiok-couwnya, “Teecu merasa mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan ini. Apakah kiranya yang dapat teecu lakukan untuk sam-wi?”
“Sudah pinceng katakan tadi bahwa kedatanganku semata-mata hanya untuk urusan kedua orang ini, terutama sekali untuk memperkenalkan Gan Bu Gi kepadamu. Ketahuilah, Liok Ong Gun bahwa sahabatku Bong Bi Sianjin ini datang bersama muridnya kepadaku dengan permintaan agar pinceng menjadi orang perantara terhadap dua hal yang hendak kukemukakan kepadamu, yaitu pertama: sukakah kiranya kau menerima pemuda ini dan memberi pekerjaan yang layak karena ia telah tamat belajar silat pada gurunya dan tentang kepandaian silat patut kupuji dan dengan adanya pemuda ini di sini, agaknya kedudukanmu akan makin kuat.”
Sambil berkata demikian, hwesio tua itu melirik ke arah para perwira yang duduk di pinggir. “Terus terang saja aku berani menyatakan bahwa tenaganya akan jauh lebih berguna dari pada tenaga dua puluh orang pengawalmu yang terpandai.”
Mendengar ucapan ini, tentu saja para perwira merasa mendongkol dan tak senang, akan tetapi mereka tidak berani menyatakan dengan terang-terangan, hanya menundukkan kepala dengan muka berubah merah. Sedangkan Kepala daerah itupun merasa tak enak hati terhadap para perwiranya, maka ia lalu menjawabnya,
“Tentang hal itu, karena susiok-couw yang menjadi penghubung, tentu saja teecu akan memberi pekerjaan yang layak bagi Gan-hiante sesuai dengan kepandaiannya.”
“Boleh diuji, boleh diuji!” kata Seng Le Hosiang sambil meraba jenggotnya yang putih. “Jangan diterima demikian saja, sebelum kau menguji kepandaian. Akan tetapi hal ini boleh dilakukan belakangan. Sekarang soal kedua. Pinceng tahu bahwa kau mempunyai seorang puteri yang baik, dan karena pinceng sudah tahu jelas akan keadaan Gan Bu Gi ini, maka atas persetujuan kami bertiga, pinceng dan sahabatku Bong Bi Sianjin ini bermaksud menjodohkan Gan Bu Gi dengan puterimu! Tentu saja kalau puterimu itu belum dipertunangkan dengan orang lain.” Bukan main terkejutnya hati Liok Ong Gun mendengar ini. Tiba-tiba wajahnya menjadi merah padam akan tetapi ia tidak berani menyatakan marahnya. Siapakah orang muda ini yang hendak dijodohkan dengan puterinya? Mengapa susiok-couwnya demikian lancang? Diam-diam ia memandang tajam kepada Gan Bu Gi yang menundukkan kepalanya. Memang pemuda ini cukup tampan dan sikapnya baik akan tetapi hal ini belum cukup pantas menjadi menantunya, menjadi suami Tin Eng puteri tunggalnya.
“Maafkan teecu, susiok-couw. Tentang hal perjodohan puteri teecu, sungguhpun puteriku itu belum dipertunangkan, akan tetapi agaknya hal ini tidak dapat diputuskan dengan tergesa- gesa dan harus mendapat pertimbangan semasak-masaknya dari teecu sekeluarga. Bukan teecu tidak percaya kepada susiok-couw yang tentu tidak akan memuji sembarangan saja, akan tetapi biarlah hal perjodohan ini ditunda dulu, karena betapapun juga, puteri teecu itu baru berusia lima belas tahun dan masih terlalu muda untuk meninggalkan orang tua.”
Seng Le Hosiang tertawa terbahak-bahak dan memandang kepada Bong Bi Sianjin. “Nah, kau telah mendengar sendiri, toyu. Pinceng hanya menjadi orang perantara, segala keputusan tergantung dari cucu-muridku.”
Sambil mengelus-elus jenggotnya yang juga sudah putih semua, tosu ini mengangguk ke arah Liok Ong Gun dan berkata, “Terima kasih banyak atas segala perhatianmu, taijin. Muridku adalah seorang anak muda yang bodoh dan masih hijau serta hanya memiliki sedikit kepandaian yang tak berarti belaka. Oleh karena pinto ingin melihat muridku yang bodoh itu mencari pengalaman dan ikut membantu pemerintah, mengangkat nama sendiri sebagai orang yang gagah, maka harapanku yang terutama ialah agar supaya taijin sudi menolongnya dan memberi pekerjaan yang layak. Sudah tentu saja ia perlu diuji terlebih dahulu dan pinto mempersilahkan kepada taijin untuk menguji.”
“Memang harus diuji!” kata Seng Le Hosiang dengan gembira.
Liok Ong Gun merasa serba salah. Ia percaya bahwa pemuda itu tentu memiliki kepandaian berarti sungguhpun nampaknya lemah, akan tetapi ia masih ragu-ragu untuk menguji yang tentu saja seakan-akan merupakan kekurangpercayaan terhadap Bong Bi Sianjin, terutama sekali terhadap susiok-couwnya. Dengan ragu-ragu ia lalu mengerling kepada penasehatnya yang selalu dapat diharapkan pertolongannya di waktu ia terdesak oleh suatu keadaan.
Lauw Lui Tek dengan tenang lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya yang gemuk ke arah para tamu,
“Maafkan kalau saya berlancang mulut karena sudah menjadi kewajiban saya untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi oleh taijin. Mendengar segala uraian jiwi lo- suhu tadi, saya dapat menduga bahwa kongcu ini tentu memiliki ilmu kepandaian silat dan yang dimaksudkan dengan pekerjaan tentulah dalam bidang keperwiraan. Sebagaimana lazimnya apabila kami menerima seorang perwira baru, ia harus diuji lebih dulu dan cara pengujiannya itu biasanya diadakan sebuah pertandingan adu kepandaian antara perwira baru itu dengan kepala-kepala pengawal untuk menentukan sampai di mana tingkat kepandaiannya. Oleh karena itu, menurut pendapat saya, hendaknya diadakan ujian seperti itu pula kepada kongcu ini dan para pengujinya ialah kelima ciangkun yang sekarang hadir di sini.” Mendengar ini, diam-diam kelima orang perwira Sayap Garuda itu menjadi girang. Tadinya mereka merasa mendongkol sekali karena dirinya dipandang rendah oleh tamu-tamu itu dan sekarang mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. Hendak mereka beri hajaran kepada pemuda yang datang hendak mendesak kedudukan mereka itu!
Mereka adalah panglima-panglima terkemuka di Kiang-sui yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, sedangkan pemuda itu kelihatan demikian malu-malu dan bodoh seperti pemuda gunung. Apa susahnya mengalahkan pemuda macam itu dalam pertandingan pibu (silat)?
Sementara itu, Liok Ong Gun mengangguk-angguk dan berkata kepada Seng Le Hosiang, “Susiok-couw, memang tepat ucapan Lauw-toako tadi dan demikianlah memang sudah menjadi kebiasaan di sini, juga kebiasaan di kota raja apabila kaisar hendak mengangkat perwira baru.”
Bong Bi Sianjin bangun berdiri dan berkata, “Bagus, memang seharusnya demikian, taijin. Harap jangan berlaku sungkan dan marilah kita menyaksikan ujian itu dilaksanakan sekarang juga.”
Liok Ong Gun lalu mempersilahkan mereka menuju ke belakang gedung di mana terdapat kebun kembang yang indah dan di tengah-tengah terdapat pekarangan luas yang memang dipergunakan sebagai lian-bu-tia (tempat berlatih silat). Ketika mereka beramai-ramai tiba di tempat itu, kebetulan sekali puteri Kepala daerah itu sedang berlatih silat pedang seorang diri. Gadis itu berusia kurang lebih lima belas tahun, tubuhnya kecil padat, pinggangnya ramping. Wajahnya cantik jelita dan manis sekali, diramaikan oleh sepasang mata yang lebar berseri- seri dan mulut yang manis berwarna merah delima. Rambutnya hitam dan tebal digulung ke belakang dan dihiasi dengan bunga segar warna merah yang dipetiknya di kebun itu.
Segumpalan rambut menghias di depan telinganya, terurai sampai ke pipinya menambah kecantikannya. Bajunya ringkas dengan lengan baju pendek sampai di bawah siku, baju itu berwarna biru dengan pinggiran merah dan ikat pinggang warna merah pula. Celana berwarna hijau menutupi kedua kakinya yang ringan gerakannya, sepatunya kecil berwarna hitam.
Biarpun pakaiannya itu sederhana saja, akan tetapi bahan pakaiannya terbuat dari sutera mahal yang halus dan lemas.
Selain kembang hidup yang menghiasi rambutnya, gadis ini tidak mengenakan perhiasan lain sebagaimana biasa dipakai oleh puteri-puteri bangsawan yang kaya. Memang Tin Eng tidak suka memakai segala macam perhiasan emas permata yang mahal dan mewah. Namun kesederhanaannya ini tidak mengurangi kecantikannya, bahkan membuat kejelitaannya makin menonjol dan asli.
Tin Eng demikian asyiknya bermain silat pedang hingga ia tidak memperhatikan mereka yang datang. Disangkanya bahwa mereka yang datang hanyalah ayahnya dan para perwira yang sudah berada di situ dan ia tidak menghiraukannya.