“Tiat-ciang-kang! Apakah kehendakmu yang sebenarnya?” Liong Ki Lok berseru marah sambil menghadapi si Tangan besi.
“Kehendakku? Kehendakku hanyalah menjadi imbangan kehendakmu! Terus terang saja, muridku suka kepada anakmu. Dan menurut peraturan yang adil, apabila kau hendak memilih menantu berdasarkan kepandaian, biarlah yang tua lawan tua dan yang muda lawan muda. Kalau aku tidak bisa mengalahkan kau dan muridku tidak bisa mengalahkan puterimu, anggap saja bahwa kami tidak tahu diri. Akan tetapi kalau kami dapat menangkan kau dan puterimu, pinangan muridku harus kau terima!”
Keadaan menjadi tegang dan para penonton ke arah mereka dengan hati berdebar-debar. Mereka dapat menduga bahwa kali ini akan terjadi pertempuran yang benar-benar hebat, karena sifatnya bukan main- main lagi.
Akan tetapi tiba-tiba di tengah-tengah ketegangan itu, mereka tertawa gelak-gelak dan tak lama kemudian semua penonton itu tertawa sambil menuding ke arah tengah lapangan. Ternyata bahwa yang menjadi buah tertawaan mereka itu adalah Tiong San.
Ketika semua penonton mundur karena takut, pemuda ini tidak bergerak dari tempatnya hingga otomatis ia kini berada di tengah lapangan yang makin melebar itu. Pemuda ini tidak tahu akan hal ini karena perhatiannya tercurah kepada tambur yang dipukul pecah tadi.
Ia merasa heran karena betapapun tinggi kepandaian dan keras tangan orang berkepala botak itu, agaknya sukar dipercaya untuk dapat memukul sebuah tambur besi dengan sekali pukul saja! Maka tanpa merasa lagi ia melangkah maju dan pada saat si botak bersitegang dengan Liong-kauwsu (guru silat Liong), ia menghampiri tambur itu dan memeriksanya dengan teliti.
Kemudian ia melihat tempat yang pecah itu dan ternyata bahwa tambur itu terbuat dari pada besi yang bersambung sehingga pukulan tadi bukanlah memecahkan besi, akan tetapi hanya melepaskan sambungan-sambungan yang tak seberapa kuat. Ia menarik napas lega dan penasarannya hilang, lalu tertawa-tawa dan duduk di atas tambur itu.
Inilah yang membuat para penonton tertawa karena mereka menyangka bahwa anak muda itu tentulah seorang gila. Ketika orang-orang tertawa dan menudingkan telunjuk ke arahnya, Tiong San yang sudah ketularan watak aneh dari suhunya itu ikut-ikutan tertawa ha ha, hi hi sambil memandang ke kanan kiri. Ia tidak merasa bahwa ia menjadi buah tertawaan. Tentu saja Liong Ki Lok dan Gu Mo yang sedang sama-sama panas itu merasa heran mendengar suara ketawa dari para penonton. Maka mereka berdua, juga si muka kuning dan nona cantik itu, menengok dan memandang ke arah yang ditunjuk-tunjuk oleh penonton.
Mereka melihat seorang pemuda gila duduk di atas tambur, berpakaian tambal-tambalan tidak keruan, berkaki telanjang dan rambutnya awut-awutan. Akan tetapi sepasang matanya amat tajam dan gerak- geriknya halus.
Kedua orang tua itu sedang menghadapi urusan besar, yakni urusan kehormatan, maka tentu saja mereka tidak mau menghiraukan seorang gila. Demikianpun si muka kuning segera berpaling dan memandang lagi kepada Liong Ki Lok dengan muka marah.
Akan tetapi, Liong Bwee Ji nona cantik itu, masih memandang kepada Tiong San dengan penuh perhatian. Ia merasa tertarik sekali karena dalam pandangannya, biarpun pakaiannya tidak keruan, akan tetapi pemuda gila itu benar-benar tampan dan gagah sekali mukanya. Timbul rasa kasihan dalam hatinya, juga rasa sayang mengapa pemuda seperti itu sampai menjadi gila.
Sementara itu, Tiat-ciang-kang Gu Mo berkata lagi, “Bagaimana, orang she Liong. Apakah kau dapat menerima tantangan kami?”
Liong Ki Lok masih menahan sabar dan menjawab setelah menjura, Tiat-ciang-kang, sesungguhnya kedatanganku ke Shan-tung bukan hendak mencari perkara permusuhan. Dan harap kau ingat bahwa urusan perjodohan tak dapat dipaksakan dengan kekerasan.”
Marah sekali si botak mendengar ini. “Kalau begitu kau terang-terangan menolak pinangan muridku! Hal ini tidak mengapa, karena bukan hanya puterimu saja wanita di atas dunia ini. Akan tetapi kau telah membikin malu muridku yang berarti membikin malu aku pula. Maka kalau kau tidak berani menghadapi kami dan menerima tantangan kami, lebih baik kau sekarang minta maaf kepada muridku dan segera pergi meninggalkan daerah Shan-tung!”
MERAHLAH muka Liong Ki Lok mendengar ucapan ini. Ini adalah penghinaan yang besar dan yang tak dapat ditelannya begitu saja.
“Tiat-ciang-kang, urusan perjodohan baik kita habiskan sampai di sini saja. Akan tetapi kalau kau memang masih menantangku, aku yang bodoh tentu saja takkan mundur untuk melayanimu beberapa gebrakan dan merasai kelihaian tangan besimu!”
“Bangsat sombong, kalau begitu rasakan tanganku!” Gu Mo membentak dan segera memukul dengan tangan kanannya. Pukulan ini hebat sekali, akan tetapi dengan cepat sekali Liong Ki Lok telah dapat mengelak dan sebentar saja kedua orang jagoan itu saling serang dengan seru.
Terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Bwee Ji telah melompat maju sambil menghunus pedangnya. “Ayah, biar aku yang memberi ajaran kepada bangsat tua ini!”
Akan tetapi ia disambut oleh si muka kuning yang juga telah mengeluarkan pedangnya sehingga pertempuran terjadi dalam dua rombongan. Permainan pedang Bwee Ji cepat sekali, akan tetapi si muka kuning yang telah mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai, ternyata bukanlah lawan yang ringan baginya.
Pada saat pertempuran berjalan seru, tiba-tiba terdengar bentakan orang yang melompat ke kalangan pertandingan.
“Berhenti kalian semua!” Orang itu adalah seorang yang berpakaian sebagai seorang perwira, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya mewah sekali. Tangannya memegang sebuah pemukul yang merupakan ruyung berduri, yakni seringkali terlihat digunakan oleh para algojo yang menyiksa dan memaksa pengakuan seorang tahanan atau pesakitan pada masa itu. Orang ini menggerakkan senjatanya dua kali dan pedang di tangan si muka kuning terlempar jauh sedangkan Tiat-ciang-kang sendiri ketika tangannya terbentur oleh ruyung ini, tubuhnya terhuyung ke belakang. Melihat datangnya orang ini, empat orang yang sedang bertempur itu menjadi pucat, terutama sekali Liong Ki Lok dan Tiat-ciang-kang yang segera menjura memberi hormat. Sedangkan Bwee Ji nampak jelas betapa tubuhnya menjadi gemetar ketika melihat perwira tinggi besar yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu.
“Liong Ki Lok, bagus sekali perbuatanmu! Kau lari dari kota raja untuk mengingkari janjimu kepada ongya dan kini dengan berani mati sekali telah mencari menantu untuk calon selir ongya! Apakah kau sudah bosan hidup? Aku datang menyusul kalian dan sekarang juga kau dan anakmu harus ikut aku kembali ke kota raja!” Kemudian perwira itu berpaling menghadapi Tiat-ciang-kang Gu Mo yang berdiri sambil menundukkan kepalanya,
“Dan kau, Tiat-ciang-kang! Kau berani mati untuk mengganggu calon mertua dan calon selir ongya! Apakah kau sudah berani menghadapi aku, Te-sam Tai-ciangkun?”
Dengan muka masih pucat, Tiat-ciang-kang Gu Mo segera berlutut di depan perwira itu sambil berkata, “Susiok, teecu mana berani berlaku kurang ajar? Teecu bertengkar dengan Liong Ki Lok karena tidak tahu akan hal yang susiok (paman guru) sebutkan tadi. Harap sudi memberi maaf banyak-banyak kepada teecu!”
“Hm, pergi kau!” kata perwira itu dengan sombongnya sambil menggerakkan tangan, dan Tiat-ciang-kang Gu Mo yang ternyata adalah murid keponakan perwira gagah itu, segera berdiri dan pergi diikuti si muka kuning bagaikan dua ekor anjing mendapat gebukan.
Perwira itu adalah Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong. Disebut Te-sam Tai-ciangkun atau Panglima besar ketiga, oleh karena ia memang menduduki tingkat ke tiga di antara semua panglima kota raja dan ilmu kepandaiannya amat tinggi. Perwira ini lalu menghadapi Liong Ki Lok dan berkata,
“Ayoh kau dan anakmu ikut kembali ke kota raja!” ucapannya mengandung suara memerintah.
Biarpun ia menjura dengan sikap yang amat menghormat, akan tetapi menghadapi perintah ini, agaknya Liong Ki Lok tidak mau menurut. Ia berkata perlahan,
“Tai-ciangkun, betapapun juga, siauwte tak dapat kembali ke kota raja karena anakku menyatakan lebih baik mati dari pada menjadi selir ongya!”
Ban Kong melebarkan matanya yang sudah lebar dan mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal ketika ia membentak, “Apa katamu? Apa kau ingin mampus di sini? Sekali lagi kuperingatkan, kalau kau membangkang perintah ini, kau akan kupukul mampus seperti anjing dan anakmu akan kupaksa pergi ke kota raja!”
“Apa boleh buat,” kata Liong Ki Lok. “Lebih baik siauwte mati dari pada mengorbankan anak sendiri!”
“Keparat!” Ban Kong membentak dan ketika tangan kirinya bergerak, secepat kilat ia telah mengirim pukulan tangan kiri yang hebat dan cepat ke arah kepala Liong Ki Lok. Liong-kauwsu cepat melompat ke pinggir untuk menghindarkan diri dari pukulan maut ini.
Akan tetapi dengan dua langkah saja Ban Kong telah dapat mendekatinya dan sekali ia ayun tangan kiri dan kaki kanan, tubuh Liong Ki Lok terpental dan terguling-guling. Memang serangan itu hebat sekali, oleh karena sebelum tangan atau kaki itu tiba di tubuh orang, angin pukulan dan tendangannya telah mendatangkan tenaga hebat yang cukup kuat untuk merobohkan orang.
Liong Ki Lok biarpun telah roboh, akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang cukup pandai, segera melompat bangun lagi dan cepat menerima pedang yang dilemparkan oleh puterinya. Melihat kenekatan Liong Ki Lok, Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong tertawa bergelak-gelak dan ia lalu menerjang dengan ruyungnya yang berat dan hebat.
Serangannya benar-benar dahsyat sekali sehingga para penonton yang masih berdiri di tempat jauh, merasa ngeri dan mundur ketakutan. Liong Ki Lok melawan sekuat tenaga. Akan tetapi setelah dapat menangkis lima jurus serangan, akhirnya pedangnya kena terpukul hingga terlempar dan ketika ruyung itu sudah melayang untuk menghancurkan kepalanya, tiba-tiba Bwee Ji menubruk ayahnya dan menghalangi serangan Ban Kong. Ban Kong tertawa berkakakan dan berkata, “Liong Ki Lok, aku masih ingat muka puterimu yang akan menjadi nyonya muda ongya, maka aku tidak menghabisi nyawamu. Ayoh kau dan puterimu lekas ikut aku pergi sebelum aku berobah pikiran dan menghancurkan kepalamu!”
Sebagai sambutan ucapan yang keras ini, terdengarlah tiba-tiba suara tambur dipukul orang. Orang-orang menjadi terkejut sekali dan tiba-tiba terdengar penonton tertawa oleh karena ternyata bahwa yang memukul tambur itu adalah pemuda gila tadi! Dengan tekanan tangannya, Tiong San telah membuat tambur yang pecah tadi terangkap kembali dan kini ia menggunakan tangan kirinya memukul tambur dengan suara riuh!