Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 14

Memuat...

“Aku dan anakku yang bodoh mohon maaf sebanyaknya kepada cuwi sekalian. Bukan aku Liong Ki Lok dan anakku Liong Bwee Ji hendak menyombongkan kepandaian kami, sama sekali tidak. Permainan rendah yang kami pertunjukkan tadi hanyalah untuk menarik perhatian para enghiong yang berada di sini untuk memperlihatkan kepandaian. Kalau sekiranya di sini kebetulan tidak ada orang gagah, terpaksa kami hendak pergi ke lain tempat!” Ucapan yang merupakan pancingan ini berhasil. Dari sebelah kiri melompat ke dalam lapangan seorang laki-laki yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun dan bermuka kuning. Ia menjura pada Liong Ki Lok dan berkata,

“Maafkan kalau siauwte berlaku lancang. Siauwte she Liok dan biarpun sudah berusia tiga puluh tahun lebih, akan tetapi siauwte belum mempunyai jodoh. Siapa tahu kalau jodoh siauwte berada di sini!” Setelah berkata demikian, orang bermuka kuning ini lalu menghampiri tambur dan dengan tangan kanan ia mengangkat tambur tinggi-tinggi di atas kepalanya!

Tiong San yang berdiri menonton di antara orang banyak, diam-diam merasa kagum dan maklum bahwa si muka kuning ini adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga dalam cukup tinggi. Sedangkan para penonton bertepuk tangan riuh sungguhpun mereka merasa sayang kalau nona cantik itu akan dijodohkan dengan si muka kuning yang tidak saja usianya banyak lebih tua, akan tetapi juga berwajah tidak menyenangkan dan sama sekali tidak sesuai untuk mendampingi si cantik.

Akan tetapi Liong Ki Lok hanya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya kepada si muka kuning she Liok itu. “Sicu (tuan yang gagah) sungguh kuat. Tentang jodoh dapat dirundingkan kemudian, dan kegagahanmu menarik hatiku. Marilah kita main-main sebentar dan kalau sampai tiga puluh jurus kau dapat bertahan, maka boleh kau memberi pengajaran kepada anakku!”

Sambil berkata demikian, Liong Ki Lok lalu minta kepada semua orang untuk mundur sedikit untuk memberi tempat yang lebih lega kepadanya yang hendak mengadu pibu dengan si muka kuning.

Para penonton menjadi gembira karena segera akan menyaksikan pertempuran yang hebat. Maka mereka lalu mundur tiga langkah sehingga tempat itu menjadi cukup luas. Si muka kuning lalu mempererat tali pinggang dan ikat kepalanya.

Lalu ia memasang kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk sehingga tubuhnya merendah. Tangan kanan dipasang melintang di depan dada dan tangan kiri lurus di bawah menjaga pusar. Kedudukan kuda- kudanya cukup kuat dan Tiong San dengan hati gembira melihat ke arah Liong Ki Lok, ingin sekali tahu bagaimana orang tua itu akan melakukan serangannya.

Ternyata Liong Ki Lok berlaku tenang saja dan melihat pasangan kuda-kuda itu. Ia dapat menerka bahwa si muka kuning ini tentulah anak murid Bu-tong-pai. Ia berseru, “Liok-enghiong, awas serangan!”

Dengan sembarangan saja ia lalu melangkah maju dan tangan kanannya menyambar dengan sebuah pukulan miring ke arah kepala si muka kuning yang segera menggeser kakinya yang berada di bawah itu membalas dengan pukulan ke arah dada lawan, di susul dengan tangan kanan yang menyodok ke arah mata orang she Liong itu. Inilah pukulan dengan gerak tipu Pek-wan-hian-tho (Kera putih mempersembahkan buah To) dan dengan gerakan lincah, Liong Ki Lok dapat pula mengelak.

Demikianlah pertempuran mulai berlangsung dan sebentar lagi keduanya bergerak dengan amat cepatnya, saling serang. Akan tetapi si muka kuning lebih banyak mempertahankan diri oleh karena ia tak hendak memberi lowongan kepada Liong Ki Lok. Baginya asalkan ia dapat bertahan sampai tigapuluh jurus, berarti ia telah memenuhi syarat kedua dan dapat bertanding menghadapi si cantik.

Tak disangkanya sama sekali bahwa setelah ia dapat bertahan dan menghindarkan diri dari serangan- serangan orang tua itu sampai delapan jurus. Tiba-tiba Liong Ki Lok berseru keras dan serangannya datang bertubi-tubi dengan hebatnya!

Orang tua itu kini mengeluarkan kepandaian aslinya dan menyerang dengan tipu-tipu lihai seperti Pai-bun- twi-san (Atur pintu menolak gunung), disusul dengan Pai-in-cut-cui (Dorong awan keluar puncak) yang dilakukan dengan amat cepat dan kuatnya.

Si muka kuning kalah cepat dan ketika tangan kanan Liong Ki Lok menyambar seperti kilat ke arah dadanya untuk mendorongnya, ia lalu memukul dengan tangan kanan sambil mengerahkan lweekangnya. Orang muka kuning ini memang memiliki tenaga lweekang cukup baik sehingga ia hendak mengakhiri pertandingan itu dengan mngadu tenaga oleh karena maklum bahwa dalam hal ginkang ia masih kalah. Dua tangan beradu keras dan akibatnya, si muka kuning itu terhuyung-huyung mundur, sedangkan Liong Ki Lok masih tetap menyerang dan mempergunakan kesempatan itu untuk melangkah maju dan mendesak lawan yang sudah terhuyung-huyung.

Serangan tiba dengan cepatnya dan dengan gerak tipu Heng-pai-kwan-him (Puja Kwan-im dengan tangan miring) ia berhasil mendorong si muka kuning hingga terguling di atas tanah dan dengan demikian maka si muka kuning itu telah dikalahkan dalam dua belas jurus.

Tepuk tangan riuh rendah menyambut kemenangan ini dan si muka kuning wajah berubah pucat lalu menjura dan melangkah keluar dari lapangan pertandingan.

“Liok-enghiong cukup gagah dan terima kasih telah berlaku mengalah,” kata Liong Ki Lok sambil menjura ke arah orang itu yang tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di luar lingkaran penonton, bicara berbisik-bisik dengan seorang laki-laki tua yang berkepala botak.

Setelah si muka kuning mundur, majulah seorang pemuda yang gagah dan tampan. Begitu ia maju dan menjura kepada Liong Ki Lok, semua orang bertepuk tangan memuji karena pemuda ini betul-betul cakap dan kalau saja kepandaiannya tinggi, maka ia akan menjadi calon jodoh yang sesuai dengan gadis itu. Bwee Ji mengerling cepat dan diam-diam iapun mengakui kecakapan pemuda itu.

“Siauwte she Pouw dari dusun sebelah barat hendak mencoba-coba kebodohan sendiri,” kata pemuda itu yang segera menghampiri tambur dan seperti si muka kuning tadi, iapun dapat mengangkat tambur itu dengan diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya. Orang-orang berteriak-teriak memuji dan sekali gus semua penonton merasa bersimpati kepada pemuda tampan itu dan mengharapkan kemenangannya.

Akan tetapi Tiong San yang melihat cara pemuda itu mengangkat tambur, maklum bahwa dalam hal lweekang, pemuda tampan ini masih belum dapat mengalahkan si muka kuning. Maka untuk menghadapi Liong Ki Lok jago tua yang kosen itu, ia tidak mempunyai banyak harapan.

Setelah lulus dalam ujian pertama, pemuda she Pouw itu lalu menghadapi Liong Ki Lok yang sudah siap untuk menguji kepandaiannya. Ketika mereka bertempur, ternyata bahwa gerakan pemuda cakap itu cepat sekali dan ternyata ia memiliki ginkang yang cukup mengagumkan.

Karena keduanya memiliki ginkang tinggi, maka pertandingan ini lebih seru dari pada pertandingan pertama sehingga para penonton berseru-seru memuji. Hampir semua penonton mengharapkan agar supaya pemuda ini dapat mempertahankan diri sampai tiga puluh jurus.

Kalau semua orang menyangka bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada si muka kuning, adalah Tiong San yang merasa terheran-heran. Ia tahu betul bahwa biarpun pemuda she Pouw itu ginkangnya lebih menang sedikit dari pada si muka kuning, akan tetapi dalam hal kepandaian silat dan lweekang, ia masih kalah setingkat.

Akan tetapi heran sekali, mengapa Liong Ki Lok tidak mau merobohkannya! Padahal kalau orang tua itu mau, sebelum bertempur sepuluh jurus, pemuda itu pasti akan kalah! Diam-diam Tiong San tertawa geli dalam hatinya karena ia dapat menduga bahwa orang tua ini tentu tertarik kepada pemuda itu untuk diambil menantu.

Benar saja dugaannya, biarpun melayani pemuda itu dengan amat cepat, namun Liong Ki Lok sengaja tidak mengeluarkan kepandaiannya dan hanya “main-main” saja sehingga pemuda itu dapat bertahan sampai tiga puluh jurus. Liong Ki Lok lalu menghentikan serangannya dan berkata sambil tersenyum, “Pouw-enghiong, kau lulus dalam ujian kedua!”

Tiba-tiba terdengar bentakan. “Curang! Curang!” dan si muka kuning yang tadi dikalahkan telah melompat ke dalam kalangan itu bersama seorang laki-laki tua yang berkepala botak. Sikap mereka menunjukkan bahwa mereka merasa penasaran dan marah.

“Orang she Liong!” kata si kepala botak yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, akan tetapi mempunyai tubuh yang tinggi besar itu.

“Mengapa kau berlaku curang? Kau memilih menantu berdasarkan kepandaiannya atau ketampanan wajahnya? Pemuda she Pouw ini kepandaiannya tidak lebih tinggi dari pada kepandaian muridku ini. Akan tetapi kau sengaja tidak mau merobohkannya! Apakah maksudmu? Apa kau sengaja hendak merobohkan muridku dan menghina aku Tiat-ciang-kang Gu Mo (Gu Mo si Telapak tangan Besi)? Jangan kau bermain gila di Shan-tung?”

Liong Ki Lok menjadi pucat dan sambil tersenyum ia menjura dan berkata, “Tiat-ciang-kang, dalam hal memilih menantu, aku bebas dan orang luar tak berhak campur tangan. Aku sama sekali tidak berani menghina kau orang gagah!”

“Kau benar-benar curang! Apakah anehnya tamburmu ini?” Ia melangkah ke arah tambur itu dan sekali ia menggerakkan tangannya dengan miring memukul, tambur itu mengeluarkan suara keras dan pecah menjadi dua! Hebat sekali tenaga dari si Telapak tangan besi ini sehingga semua orang berseru kaget dan ketakutan!

“Dan apakah anehnya mengalahkan kau dan gadismu?” kata Tiat-ciang-kang Gu Mo pula sambil bertolak pinggang sambil menghadapi Liong Ki Lok.

Pemuda she Pouw itu yang melihat lagak ini menjadi marah dan menegur, “Lo-enghiong, tindakanmu ini tak pantas dilakukan oleh orang gagah!”

“Tikus kecil, kau berani mendekati mulut harimau?” Sambil berkata demikian, Tiat-ciang-kang mengayun kaki dan pemuda she Pouw itu tertendang sampai terpental menimpa penonton. Pemuda itu menjadi pucat dan dengan meringis kesakitan dan menggosok-gosok pahanya yang tertendang, ia lalu ngeloyor pergi! Orang-orang yang menonton menjadi makin ketakutan dan tak terasa lagi mereka melangkah mundur dan menjauhi.

Post a Comment