Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 13

Memuat...

Setelah mendapat cukup banyak ikan, Tiong San lalu membuat api dan memanggang ikan-ikan itu. Akan tetapi suhunya masih saja mendengkur dan biarpun ia telah bertahun-tahun ikut suhunya, namun sikapnya yang berbakti masih belum lenyap, sungguhpun kini terhadap suhunya ia tidak bersopan santun lagi seperti dulu karena maklum bahwa suhunya tidak suka akan sikap demikian itu.

Ia meletakkan ikan-ikan panggang itu pada sehelai daun dan menaruh di dekat suhunya. Kemudian karena tertarik melihat banyaknya perahu yang hilir mudik di atas danau dan ramainya tepi danau sebelah timur, ia lalu berjalan-jalan ke sana.

Tiba-tiba ia mendengar suara tambur dan melihat banyak orang berkerumun, mengelilingi sebuah tempat yang ramai dengan leher diulur ke depan seakan-akan melihat sesuatu yang menarik. Makin lama makin banyaklah orang menonton dan berkerumun di situ sehingga Tiong San tak dapat menahan keinginan hatinya untuk melihat pula.

Ketika ia melongok ke dalam lingkaran manusia yang berdiri menonton, ternyata bahwa tambur itu dipukul oleh seorang gadis baju merah yang kecantikannya mengingatkan dia akan Siu Eng, gadis yang berada dengan pangeran Lu Goan Ong di perahunya. Gadis cantik yang membuat Thio Swie tergila-gila!

Diam-diam Tiong San tersenyum, bukan karena melihat kecantikan gadis itu, akan tetapi oleh karena teringat kepada Thio Swie, sahabat karibnya. Orang-orang di dekatnya yang melihat pakaiannya dan kemudian melihat ia tersenyum-senyum seorang diri, memandangnya dengan mata mengandung penuh sangkaan bahwa ia tentulah seorang pemuda otak miring.

Tanpa memperdulikan pandangan orang-orang itu, Tiong San memperhatikan lebih lanjut dan ia melihat seorang laki-laki setengah tua sedang bermain silat, diiringi suara tambur sehingga gerakannya menjadi hidup seakan-akan suara tambur itu menambah tenaga pada tiap gerakan tangannya.

Ilmu silat orang itu cukup kuat dan cepat. Dan ternyata bahwa ia memainkan ilmu silat monyet (Kauw-kun) dengan langkah kaki tetap dan cermat sekali. Pakaiannya ringkas berwarna putih dan wajah orang itu cukup gagah.

Tiong San tertarik sekali melihat permainan silat ini. Dulu ia mungkin akan merasa kagum sekali melihat kecepatan gerakan tangan orang itu. Kini ia melihat betapa orang itu amat lambat gerakannya dan ia melihat kekosongan-kekosongan yang mudah dimasuki pukulan lawan pada permainan orang itu. Hal ini bukan menunjukkan bahwa ilmu silat orang itu kurang tinggi, akan tetapi adalah karena pandang mata Tiong San telah jauh berbeda dengan dulu. Tadipun ketika ia mencari ikan, setiap ikan yang berenang lalu di bawah permukaan air, bahkan yang berenang dalam sekali sampai hampir merayap di dasar danau, ia dapat melihatnya dengan terang.

Ilmu silat orang itu memang tidak rendah, terbukti dari tepuk tangan memuji dari para penonton setelah ia menghentikan permainannya. Orang itu lalu mengangkat kedua tangan dan menjura keempat penjuru dan ketika ia menjura ke arah Tiong San, pemuda itu buru-buru membalas dan menjura pula sehingga semua orang yang berada di dekatnya tertawa geli.

Tiong San merasa heran sekali mengapa orang mentertawakannya dan ia melihat bahwa orang-orang lain tidak ada yang membalas penghormatan itu, sehingga ia merupakan orang satu-satunya yang membalas dan menjura. Tiong San tidak melupakan adat sopan santun dan karena ia belum pernah melihat orang menjual silat di depan umum, maka menurut kesopanannya, iapun membalas penghormatan itu yang tidak semestinya sehingga tanpa disadari ia membuat dirinya menjadi buah tertawaan.

Akan tetapi orang yang tadi bersilat itu mengangguk kepadanya sekali lagi, kemudian berkata kepada orang banyak.

“Cuwi (tuan-tuan) sekalian yang terhormat. Kami berdua ayah dan anak datang dari luar daerah Shan-tung dan karenanya kami mohon maaf kepada para ahli silat di Shan-tung apabila kami berbuat lancang dengan pertunjukan ini. Bukan sekali-kali maksud kami untuk menjual silat dan mencari uang, dan bukan sekali-kali kami memandang rendah kepada para ahli silat di daerah ini. Bahkan dengan kedatangan kami ini, kami bermaksud untuk mencari orang gagah yang banyak terdapat di Shan-tung. Anakku yang bodoh dan buruk rupa ini telah cukup dewasa dan ia mempunyai permintaan yang aneh, yakni dengan jalan mengadu pibu (mencoba kepandaian), anakku baru mau diikat dengan jodohnya!”

Terdengar gelak tertawa dari para penonton dan gadis itu menundukkan kepala kemalu-maluan.

“Aku sebagai orang tua yang memanjakan anak, tentu saja tidak dapat mencari jalan lain, kecuali mengharap para enghiong (orang gagah) yang sudi turun tangan untuk membuktikan padanya bahwa di dunia ini, terutama di daerah Shan-tung, terdapat banyak orang-orang gagah. Dan harap saja para enghiong yang menaruh minat untuk menjadi keluarga kami, suka turun ke lapangan ini agar hatiku tidak selalu merasa gelisah. Syarat untuk dapat mengadu pibu dengan anakku mudah saja. Pertama-tama ia harus dapat mengangkat tambur ini di atas kepala. Kedua ia harus dapat bertahan menghadapi aku dalam tiga puluh jurus. Siapa saja yang dapat memenuhi dua syarat ini, akan mengukur kepandaian dengan anakku dan apabila kedua pihak setuju, akan diadakan ikatan kodoh!”

Hal ini memang istimewa sekali dan belum pernah terjadi, maka tentu saja menimbulkan kegemparan di antara penonton. Siapa orangnya yang tidak ingin memperisteri gadis yang demikian cantik jelita?

“Sayang aku sudah beristeri,” terdengar seorang laki-laki muda mengeluh dan ucapannya ini disambut oleh suara ketawa geli.

“Sayang aku tak pandai bersilat,” kata orang lain.

Tiba-tiba dari rombongan penonton maju seorang pemuda bermuka hitam yang bertubuh tinggi besar. Sambil tersenyum malu-malu ia menjura kepada orang tua itu dan berkata,

“Bolehkah kiranya siauwte mencoba-coba mengangkat tambur itu?”

“Boleh sekali! Tentu saja, siapa juga boleh mencobanya,” jawab yang ditanya sambil tersenyum ramah. Sedangkan gadis itu lalu berdiri meninggalkan tamburnya dan berdiri dipinggir. Setelah ia berdiri orang makin kagum karena gadis itu mempunyai potongan tubuh yang benar-benar menggiurkan hati laki-laki.

Bajunya merah, celananya biru muda dengan ikat pinggang kuning. Pada pinggangnya tergantung satu pedang yang berukir indah. Sungguhpun sikap gadis itu amat sungguh-sungguh dan tak pernah nampak senyum, akan tetapi kedua matanya yang bening berseri-seri hingga dapat diduga bahwa ia adalah seorang gadis yang berwatak gembira. Si Muka hitam melangkah maju dengan gagah, menanggalkan jubahnya hingga kini hanya memakai baju yang berlengan pendek hingga nampak kedua lengan tangannya yang besar dengan urat melingkar- lingkar. Ia tersenyum-senyum lagi lalu menghampiri tambur yang ternyata terbuat dari pada besi itu. Ia lalu membungkuk dan sambil berseru keras ia mengangkat tambur itu ke atas.

Ia berhasil mengangkat tambur sampai ke pundaknya. Akan tetapi kedua tangannya telah gemetar dan terpaksa ia menunda tambur itu pada pundaknya dan tidak kuat melanjutkan mengangkat sampai ke atas kepalanya. Biarpun ia sudah mencobanya berkali-kali sambil mengerahkan tenaga! Ternyata bahwa tambur itu beratnya tidak kurang dari lima ratus kati!

Dengan muka merah karena lelah dan malu, si muka hitam lalu menurunkan lagi tambur itu dengan susah payah. Kemudian ia memungut jubahnya yang tadi diletakkan di atas tanah lalu membungkuk-bungkuk kepada orang tua itu sambil berkata, “Maaf, maaf ...!” dan segera keluar dari situ dan cepat pergi, diikuti oleh suara ketawa dari para penonton.

Melihat hal ini, beberapa orang pemuda yang tadinya hendak mencoba, menjadi kuncup hatinya dan mundur teratur sebelum mencoba. Akan tetapi ada pula yang berani dan maju mencobanya, akan tetapi kembali dua orang pemuda gagal mengangkat tambur yang amat berat.

Timbul keraguan dan kekecewaan di antara para penonton melihat hal itu karena mereka ingin sekali menyaksikan pertempuran silat, terutama dengan gadis cantik itu.

“Tambur itu terlalu berat,” terdengar seorang berkata.

“Kalau Hek-twako (engko hitam) tadi tidak kuat mengangkatnya, takkan ada orang yang kuat! kata suara lain.

“Apakah nona itu kuat mengangkatnya?” tanya suara yang perlahan akan tetapi cukup keras hingga terdengar oleh nona itu dan ayahnya.

Orang tua itu tersenyum dan segera melangkah ke arah tambur itu mengangkat dengan tangan kanannya dan berseru kepada puterinya,

“Bwee-ji, sambut!”

Sambil berkata demikian ia melontarkan tambur itu ke arah puterinya yang segera mengulurkan tangan kanan dan menyambut tambur itu dengan gerakan indah, yaitu dengan kaki kanan di depan kaki kiri di belakang agak ditekuk sedikit dan membarengi luncuran tambur yang berat itu dengan memegang pinggir tambur, terus didorong memutar dan tambur besi itu meluncur kembali kepada ayahnya!

Inilah gerakan Dewa sakti memindah bintang sehingga tanpa banyak mengeluarkan tenaga, hanya dengan mengerahkan lweekang, ia dapat mengemudikan tenaga luncuran tambur itu sehingga dapat diatur sedemikian rupa, tanpa menggunakan tenaga sendiri ia dapat menambah tenaga luncuran dengan sedikit dorongan untuk mengembalikan kepada ayahnya.

Ayahnya tersenyum dan dengan gerakan Jing-cin-hong-twi (Tendangan angin seribu kati) orang tua ini dengan kakinya mendupak tambur yang melayang ke arahnya itu sehingga tambur sekali lagi melayang ke arah gadis itu. Beberapa kali kedua orang itu mendemonstrasikan kepandaian mereka dan akhirnya gadis itu menggunakan kedua tangannya menyambut tambur itu dengan mudah dan ringan, lalu menaruhkannya ke atas tanah.

Pecahlah sorak-sorai dari penonton yang tiada habisnya memuji pertunjukkan yang hebat itu! Orang tua itu lalu menjura ke empat penjuru dan sambil tersenyum berkata,

Post a Comment