Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 12

Memuat...

Tiong San juga menyeringai dan berkata, “Suhu, apakah teecu belum mati?” “Ha ha ha! Dengan latihan seperti itu, kematian akan takut menghampiri kau!”

Kakek gila ini lalu memberi latihan-latihan samadhi kepada muridnya yang harus dilakukan pada saat itu juga. Semua latihan itu dilakukan dengan taat sekali oleh Tiong San sehingga gurunya menjadi makin girang.

Demikianlah, pemuda sasterawan yang tadinya hanya mengenal syair-syair kuno, sejarah-sejarah orang cerdik pandai dan membuat tulisan indah itu, kini tekun dan rajin belajar ilmu yang jauh berlainan dengan ilmu yang dipelajarinya semenjak kecil. Dan ganjilnya, biarpun ia dilatih oleh seorang yang ia tahu tidak waras otaknya, ia merasa gembira dan mempelajari semua latihan dengan giat.

Beberapa bulan kemudian, ia telah sanggup untuk melakukan latihan menggantung tanpa diikat kakinya, akan tetapi langsung menggunakan kedua kaki dikaitkan pada cabang pohon seperti suhunya! Kini ia tak pernah mendapat gangguan pening lagi karena ia telah dapat menguasai jalan darahnya. Bahkan dalam keadaan seperti itu ia mulai dapat tidur layap-layap dengan nikmatnya.

Setahun kemudian, setelah Tiong San dapat menguasai ilmu lweekang dan ginkang sehingga ia dapat melompat ke atas cabang dari bawah tanah bagaikan seekor burung walet terbang, suhunya mulai mengajar memainkan cambuk. Secara langsung Thian-te Lo-mo menurunkan ilmu silat cambuk yang tiada duanya di dunia ini, yang hanya dapat dimainkan olehnya sendiri, yakni ilmu cambuk Im-yang-joan-pian (Cambuk lemas Im-yang) yang luar biasa hebatnya itu!

Mula-mula Tiong San mempelajari cambuk yang pendek saja dan yang harus ia gerakkan dengan lweekang sehingga cambuk pendek itu bisa menjadi lemas atau kaku menurut aliran tenaganya dan digunakan sesuai dengan keadaan. Kemudian, ia mulai mendapat pelajaran Im-yang-joan-pian yang amat sulit gerakannya. Cambuk yang panjangnya sampai dua tombak itu dapat dimainkan sesuka hatinya, dapat membetot, membelit, menangkis, menotok jalan darah, dan merampas senjata lawan. Juga, cambuk ini dapat digunakan setengah atau seperempatnya saja, hingga dapat digunakan sesuka hati pemainnya, mau panjang atau pendek hanya tinggal mengatur cara memegangnya saja!

Ternyata oleh Tiong San bahwa selain lihai ilmu silatnya, Thian-te Lo-mo biarpun tidak pandai ilmu kesusasteraan, namun amat gemar akan syair-syair indah. Itulah sebabnya maka ia dulu mencuri tiga kipas dia, Khu Sin dan Thio Swie! Dan karena kesukaannya akan syair ini pula yang membuat si gila ini tertarik kepadanya setelah membaca syairnya tentang orang gila dan mengambilnya sebagai murid!

Setelah kini ia tinggal bersama suhunya di guha yang liar dan yang tak pernah dikunjungi manusia lain itu, suhunya setiap hari menyuruh ia membuat syair yang harus diukir di dinding guha hingga setelah ia belajar selama tiga tahun, dinding guha itu penuh dengan ukiran-ukiran syair yang indah-indah.

Setelah belajar selama tiga tahun, Tiong San telah dapat memainkan Im-yang-joan-pian hampir sempurna. Ilmu ginkang dan lweekang yang dilatih secara aneh dan gila-gilaan itu ternyata mendatangkan hasil yang istimewa dan tingkat yang diperolehnya selama tiga tahun itu tidak kalah oleh hasil yang dicapai oleh seorang ahli silat yang telah melatih diri dengan cara biasa selama belasan tahun.

Akan tetapi, oleh karena selama tiga tahun ia tidak pernah bertemu dengan manusia lain kecuali gurunya yang mempunyai watak luar biasa, maka sifat-sifat yang aneh dari suhunya juga menular kepadanya. Dengan ucapan-ucapan aneh dan gerak tubuh seperti orang gila agaknya guru dan murid ini dapat mengenal masing-masing lebih erat dan baik lagi.

Untuk melatih kepandaian yang dipelajarinya selama itu, Tiong San diberi sebuah kitab catatan yang corat- coret tidak keruan, akan tetapi sebenarnya mengandung pelajaran inti sari ilmu silat yang dilatihnya karena kitab yang ditulis oleh suhunya itu adalah catatan yang mengandung Kauw-koat (teori silat) dari seluruh kepandaian Thian-te Lo-mo.

Orang lain yang belum pernah mendapat didikan langsung dari Thian-te Lo-mo, kalau mempelajari kitab itu akan merasa pusing dan sedikitpun takkan mengerti. Akan tetapi bagi Tiong San, kitab itu merupakan penuntun dan petunjuk yang amat penting dan dengan pertolongan kitab ini pemuda itu dapat mempelajari ilmu silat pemberian suhunya dengan sempurna.

DALAM latihan-latihan kegesitan, tidak jarang Tiong San harus menjadi bulan-bulanan cambuk suhunya, karena dengan cambuk ditangan, Thian-te Lo-mo menyerang muridnya itu yang harus mengandalkan kegesitan tubuh dan ginkang untuk mengelak. Mula-mula seluruh tubuhnya matang biru kena cambukan, akan tetapi lambat laun ia memiliki kegesitan cukup hebat sehingga dalam serentetan serangan yang tidak kurang dari lima puluh jurus, ia hanya dua atau tiga kali saja terkena pecutan cambuk suhunya.

Agaknya Thian-te Lo-mo telah merasa puas melihat kemajuan muridnya, karena kini timbul pula penyakitnya suka merantau. Ia mengajak Tiong San meninggalkan gunung Thai-san dan mulai mengadakan perantauan ke seluruh daerah Shan-tung. Tentu saja hal ini amat menggirangkan hati pemuda itu karena berarti bahwa ia mulai hidup lagi di dunia ramai.

Propinsi Shan-tung mempunyai daerah yang luas sekali. Di bagian barat berdiri tegak gunung Thai-san yang tingginya hampir lima ribu kaki itu dan di bagian timur merupakan semenanjung besar antara laut Po dan sungai Kuning. Sebagian besar tanahnya merupakan pertanian yang amat luas karena Shan-tung terletak di bagian hilir sungai Huang-ho atau sungai Kuning yang amat terkenal sehingga sepanjang lembah Huang-ho ini merupakan tanah yang amat subur.

Selain kota-kota besar seperti Cin-an, Cing-tau, dan lain-lain, juga Shan-tung merupakan pusat kebudayaan. Oleh karena di situ terletak pula kota Ci-fu yang menjadi tempat kelahiran Kong Hu Cu (confusius), pujangga termasyhur di seluruh dunia yang melahirkan kebudayaan Tionghoa yang tak dapat lenyap hingga masa kini.

Di kota Ci-fu ini terdapat sebuah kelenteng Kong Hu Cu yang amat besar dan para pengunjung propinsi Shan-tung selalu tak ketinggalan untuk menyaksikan kelenteng ini, disamping menikmati keindahan alam yang banyak terdapat di daerah itu, seperti Cing-tau yang kaya akan tamasya alam indah dan iklimnya amat baik, atau mengunjungi danau Taming yang terkenal di Cin-an yang menjadi ibukota propinsi Shan- tung.

Tempat pertapaan Thian-te Lo-mo adalah di lereng gunung Thai-san sebelah barat yang masih liar dan penuh dengan hutan belukar yang jarang atau hampir belum pernah diinjak manusia lain kecuali Thian-te Lo-mo dan muridnya.

Karena selain penuh dengan binatang-binatang liar yang berbahaya, juga tidak mudah untuk mendaki bukit itu dari bagian barat karena amat sukar jalannya dan melalui banyak jurang-jurang dalam dan rawa-rawa yang berbahaya. Akan tetapi, lereng sebelah timur, merupakan pusat kebudayaan karena di lereng ini penuh dengan kelenteng-kelenteng, menara-menara tua dan bahkan terdapat anak tangga menaik yang luar biasa panjangnya.

Setelah turun gunung bersama suhunya, selain menikmati pemandangan indah yang membuat hatinya amat gembira, juga Tiong San mulai mengalami peristiwa-peristiwa di mana ilmu kepandaiannya mendapat ujian berat. Pakaiannya yang dulu berwarna hijau dan merupakan pakaian seorang terpelajar, kini hanya tinggal merupakan celana pendek tambal-tambalan sampai di bawah lutut dan sebuah baju penuh tambalan pula.

Akan tetapi, betapapun juga Tiong San tetap menjaga kebersihan sehingga baju dan celananya yang sudah penuh tambalan itu tetap nampak bersih karena seringkali dicuci. Bahkan kini ia nampak lebih tegap dan tampan dari pada dulu, sungguhpun rambutnya agak awut-awutan dan hanya diikat dengan sehelai kulit pohon yang telah dilemaskan saja.

Satu-satunya barang yang menempel pada pakaiannya hanyalah sebatang cambuk warna hitam yang panjang dan digulung lalu digantungkan pada pinggangnya. Cambuk ini bukanlah cambuk biasa, karena terbuat dari kulit sebatang pohon yang terdapat di tengah-tengah hutan menurut petunjuk suhunya.

Kulit ini setelah diambil dari batang pohon, lalu direndam dalam air sampai sebulan lebih. Kemudian dipukul-pukul dengan batu sehingga hilang patinya dan tinggal seratnya saja. Dari serat-serat yang halus, kuat dan lemas inilah maka lalu dibuat sebatang cambuk yang lemas dan kuat serta panjang pula.

Tentu saja dalam pembuatan cambuk ini, suhunya sendiri yang turun tangan sehingga cambuk yang panjang itu merupakan serat-serat yang masih utuh dan tidak ada sambungannya dan untuk membabat putus cambuk ini, agaknya diperlukan sebuah pedang yang luar biasa sekali. Pedang atau senjata tajam biasa saja jangan harap akan dapat membabat putus cambuk ini.

Ketika guru dan murid ini tiba di kota Cin-an, mereka tidak lupa mengunjungi danau Taming yang indah. Mereka memilih tempat sunyi di sebelah selatan. Dan dalam kegembiraannya, Tiong San teringat akan pertemuannya dengan suhunya di telaga Tai-hu dulu.

Maka ia lalu mengambil cambuknya dan sambil duduk di tepi danau, ia mulai mencambuk, dan menangkap ikan dengan ujung cambuknya seperti yang dilakukan oleh suhunya dulu di tepi telaga Tai-hu. Thian-te Lo- mo tertawa geli melihat perbuatan muridnya, maka ia lalu berkata,

“Tangkap ikan besar-besar kemudian pangganglah, aku hendak tidur!” dan sebentar kemudian ia telah mendengkur di bawah pohon.

Tiong San merasa gembira sekali melihat betapa ujung cambuknya tak pernah gagal menangkap ikan yang dikehendakinya. Ketika berlatih di gunung Thai-san, suhunya menyuruh mencambuk ujung kayu yang terbakar seperti lilin dan latihan ini dilakukan terus menerus sampai beberapa bulan sehingga kini ia dapat menggerakkan cambuknya sedemikian rupa sehingga tiap kali ia mencambuk, ujung cambuk pasti mengenai sasaran yang jitu!

Tiap kali melihat ikan besar yang hendak ditangkapnya, ia lalu menggerakkan cambuknya yang menyambar ke air dan dengan gerakan cepat ia dapat membuat ujung cambuk itu membelit tubuh ikan yang segera diangkat ke darat dengan mudahnya. Kalau ikan itu kurus atau kurang besar. Ia lalu melemparkannya kembali ke air.

Post a Comment