Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 11

Memuat...

Kini Thian-te Lo-mo tidak hanya mengelak sambil berputar-putar seperti tadi. Seperti seorang yang nampak gembira sekali ia tertawa terkekeh-kekeh sambil menggerakkan kedua lengannya. Jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya terbuka sedangkan jari-jari yang lain terkepal dan dengan dua jari tangan kanan kiri ini ia menghadapi senjata-senjata lawan.

Dengan jari-jari tangannya yang panjang dan kurus tak berdaging itu, ia menangkis serangan senjata setiap lawannya dengan kepretan-kepretan keras, dan selalu ia dapat mementalkan senjata pengeroyok dengan memukulkan jarinya pada punggung golok yang tidak tajam dan gagang tombak bercagak. Tiap kali ia menangkiskan jarinya pada senjata musuh, lawannya yang memegang senjata merasa betapa tangan mereka kesemutan karena dari jari tangan Thian-te Lo-mo keluar tenaga lweekang yang bukan main besarnya.

Tiong San yang menonton pertempuran itu merasa pening kepalanya karena gerakan empat orang itu, terutama suhunya, amat cepat sehingga seakan-akan yang bertempur bukan empat orang, akan tetapi banyak sekali! Betapapun juga, ia merasa amat khawatir karena suhunya hanya menggunakan jari tangan untuk menangkis senjata-senjata musuh. Apakah tangan suhunya takkan luka?

Agaknya Thian-te Lo-mo memang sengaja mempermainkan ketiga pengeroyoknya itu, karena tiba-tiba gerakan tubuhnya makin cepat ketika sambil tertawa ia berkata,

“Monyet tua dan monyet-monyet muda, sudahlah, aku sudah lelah!” begitu ia mengeluarkan ucapan ini, terdengar suara tang-ting-tong, dan dua golok beserta sepasang siang-kek itu terpental ke tengah udara dan tubuh Thian-te Lo-mo melayang ke arah muridnya.

“Ayoh kita kabur!” katanya sambil menangkap lengan kanan Tiong San. “Suhu, cap itu kembalikan saja! Untuk apakah cap macam itu bagi kita?”

Thian-te Lo-mo tertawa gelak-gelak. Lalu merogoh saku baju di antara baju kutangnya yang tinggal sedikit itu, dan mengeluarkan sebuah cap yang dulu dicurinya ketika ia mengacau di atas perahu pangeran Lu Goan Ong. Ia melambaikan tangannya kepada Kwee Houw dan berkata,

“Monyet tua, ke sinilah kau dan terimalah kembali cap busuk ini!” Biarpun tadi merasa kaget dan marah karena dikalahkan, akan tetapi melihat orang gila itu benar-benar hendak mengembalikan cap pangeran Lu Goan Ong, perwira itu merasa girang sekali. Kalau ia berhasil mendapatkan kembali cap yang hilang tentu ia akan menerima banyak hadiah dan mungkin kenaikan pangkat dari pangeran Lu yang berpengaruh! Maka ia segera melangkah lebar menghampiri Thian-te Lo- mo.

“Thian-te Lo-mo, kau sungguh baik, terima kasih,” katanya mengulurkan tangan. Thian-te Lo-mo memberikan cap itu dan melepaskan di tangannya Kwee Houw. Akan tetapi ketika perwira ini memandang, ternyata bahwa cap itu telah ditekan oleh tangan Iblis Tua Langit Bumi itu dan menjadi pecah berantakan!

Setelah memberikan cap yang dirusaknya itu, Thian-te Lo-mo lalu menarik tangan muridnya, dan lari bagaikan terbang! Tiong San merasa betapa ia ditarik cepat sekali sehingga kedua kakinya tidak menginjak bumi.

Biarpun cap itu telah pecah-pecah, akan tetapi Kwee Houw merasa lega. Karena rusaknya cap tidak menjadi soal besar. Bagi seorang berpangkat, pada dewasa itu, cap merupakan benda yang bernilai besar bagaikan ajimat. Dengan cap ini, seorang pembesar memberi tanda-tanda kepada semua surat-surat dan cap merupakan lambang kebesaran. Apabila cap itu dirusak, dapat dibuat yang baru, akan tetapi kalau sampai hilang dan terjatuh ke dalam tangan orang lain, maka orang lain akan dapat mempergunakan cap itu untuk memalsu dan merusak nama baik.

Oleh karena ini, maka cap dijaga amat tertib dan keras oleh setiap pemiliknya sehingga ketika Thian-te Lo- mo mencuri cap pangeran Lu Goan Ong, pangeran ini merasa gelisah dan tak sedap makan tak nyenyak tidur sehingga ia mengerahkan seluruh perwira untuk mencari dan mendapatkan kembali cap itu!

Thian-te Lo-mo membawa muridnya kembali ke Shan-tung, dan di sepanjang jalan, Tiong San makin mengenal tabiat dan watak suhunya yang benar-benar aneh. Pada umumnya, suhunya ini berwatak gila- gilaan, dan suka sekali menggoda orang dengan perbuatan-perbuatan yang seperti perbuatan anak kecil. Dan tiap kali bertemu dengan orang yang berlaku sewenang-wenang atau penjahat, tentu ia tidak lupa untuk menghadiahkan sekali cambukan pada muka atau tubuhnya.

Akan tetapi, adakalanya suhunya bicara seperti seorang yang waras dan berpandangan luas sekali terutama pada waktu mengajar silat kepadanya. Sungguhpun di luar tahunya, Thian-te Lo-mo mengajar silat dengan cara yang amat luar biasa dan jauh berbeda dengan ahli-ahli silat lainnya kalau mengajar silat.

Selama perjalanan yang memakan waktu hampir sebulan menuju ke propinsi Shan-tung itu, Tiong San dengan gembira dan kagum dapat mengetahui bahwa pada hakekatnya Thian-te Lo-mo mempunyai sifat pendekar yang budiman dan gemar menolong orang.

Hanya cara-caranya saja yang luar biasa sekali dan mirip perbuatan orang gila. Kalau gurunya sedang kumat gilanya, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa suhunya memang benar-benar mempunyai penyakit otak miring. Akan tetapi kalau suhunya sedang waras, ia merasa seakan-akan berhadapan dengan seorang berhati suci yang sakti.

Setelah mereka tiba di sebelah barat propinsi Shan-tung, suhunya lalu menggendongnya dan secepat burung terbang orang tua itu mendaki gunung Tai-san sambil berlari-lari. Mereka tiba di sebelah guha yang menjadi tempat tinggal Thian-te Lo-mo bertahun-tahun bertapa dan mengasingkan diri.

Mulailah kakek ini melatih Tiong San dengan dasar-dasar silat tinggi, dan terutama melatih lweekang dan ginkang. Dalam latihan mengatur jalan darah di tubuh, Thian-te Lo-mo mempunyai cara-cara istimewa sekali yang membuat Tiong San mula-mula merasa menderita sekali.

Kakek itu dengan ringannya melompat ke atas cabang sebatang pohon siong, lalu menyuruh muridnya menyusulnya. Tentu saja Tiong San tidak dapat melompat setinggi itu. Maka pemuda ini lalu memanjat pohon dan menyusul suhunya yang berdiri di atas cabang pohon.

“Kau tirulah perbuatanku ini!” kata Thian-te Lo-mo yang lalu menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan tubuh itu lalu bergantungan pada cabang oleh karena ia menggunakan kedua kakinya untuk dikaitkan kepada cabang tadi.

“Teecu tidak bisa, suhu.” “Cobalah!”

Dengan nekat Tiong San lalu meniru perbuatan suhunya akan tetapi tentu saja kakinya tidak kuat menahan tubuhnya hingga ia meluncur ke bawah dengan kepala lebih dulu! Pada saat kepalanya sudah hampir tertumbuk kepada batu di bawah pohon yang tentu akan membuat kepalanya pecah, tiba-tiba kakinya terpegang kuat-kuat dan dalam keadaan menggantung dengan kepala di bawah, tubuhnya lalu ditarik kembali ke atas!

Ternyata bahwa dalam keadaan menggantung tadi, Thian-te Lo-mo telah mempergunakan cambuknya yang panjang yang dilibatkan ke kaki muridnya itu dan kemudian menarik cambuknya itu ke atas. Ia membelitkan gagang cambuknya pada cabang dan membiarkan muridnya dalam keadaan seperti dia, yakni dengan tubuh tergantung pada cabang, kaki di atas dan kepala di bawah! Hanya bedanya, kalau ia menggantungkan diri dengan mempergunakan kedua kaki mencantol cabang, adalah Tiong San benar- benar tergantung pada tali cambuk.

Tiong San tidak tahu harus berbuat bagaimana dan karena ia tergantung dengan muka menghadap suhunya, maka ia lalu memandang dengan penuh perhatian.

“Atur napasmu baik-baik, perlahan-lahan masukkan hawa dari hidung sebanyak mungkin, dada kembangkan perut dikempiskan keluarkan napas perlahan lagi dari mulut, dada dikempiskan dan perut dikembangkan. Jangan pikir apa-apa, terus bernapas dengan baik dan teratur.”

Tiong San dengan taat melakukan petunjuk-petunjuk suhunya, lalu bertanya, “Setelah itu, bagaimana, suhu?”

Tadinya Thian-te Lo-mo meramkan matanya, lalu dibukanya setelah mendengar pertanyaan ini dan mejawab marah, “Anak gendeng, setelah itu tidurlah! Bukankah kita naik ke sini untuk tidur?”

Bukan main bingung hati Tiong San mendengar petunjuk itu dan kebingungan hatinya membuat ia tiba-tiba merasa pening sekali. Kepalanya berdenyut-denyut keras dan kedua telinganya mendengar suara melengking, seluruh tubuhnya merasa betapa darah dalam tubuhnya berdenyut-denyut keras. Karena tubuhnya menggantung dengan kepala di bawah.

Tentu saja aliran darah yang tidak sewajarnya itu membuat ia merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan kepalanya pening. Ia lalu mengeraskan hati membulatkan tekad. Biar sampai mati akan kupertahankan, pikirnya. Suhu berada dalam keadaan yang sama, kalau ia tidak mati, mustahil aku takkan kuat menahan pula!

Kekerasan hatinya banyak menolong, karena kepeningannya berangsur-angsur lenyap dan ia hanya merasa betapa denyutan di seluruh tubuh makin mengeras seakan-akan ia melihat dengan mata sendiri betapa darahnya mengalir cepat dengan kacau balau.

Ketika ia memandang kepada suhunya, ternyata Thian-te Lo-mo telah meramkan matanya pula dan ia mendengar betapa suhunya telah mendengkur! Ia coba untuk meramkan matanya. Akan tetapi begitu matanya ditutup, ia melihat cahaya merah darah memenuhi pandangan matanya yang tertutup. Jangankan disuruh tidur mendengkur seperti suhunya, bahkan baru menutup matanya sebentar saja, kepeningan kepalanya muncul kembali.

Pengalaman pertama kali ini sungguh-sungguh hebat dan Tiong San menderita sekali. Ia menguatkan tubuh dan hatinya, akan tetapi oleh karena ia merasa tak enak sekali dan perutnya terasa kosong dengan jantung dan isi perut bergantungan di dalam rongga perutnya, telinganya serasa menjadi pekak karena suara melengking dan kedua kakinya yang terlibat ujung cambuk serasa mati kaku, tak lama kemudian ia menjadi pingsan dalam keadaan tergantung!

Ketika ia siuman kembali, ia telah berada di bawah, berbaring di dalam guha dan suhunya duduk bersila di dekatnya. Ia bangun dan duduk. Suhunya membuka mata dan tertawa girang. “Ha ha, kau bergantungan seperti ikan asin dijemur!”

Post a Comment