Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 10

Memuat...

Menjelang senja mereka tiba di luar sebuah kampung. Dan tiba-tiba dari dalam kampung itu keluarlah tiga orang laki-laki yang setelah dekat ternyata bahwa mereka adalah orang-orang yang memakai pakaian perwira-perwira dengan topi pangkat di atas kepala masing-masing.

Seorang di antara mereka telah tua dan ketika melihat orang gila itu berjalan bersama muridnya, perwira tua itu tiba-tiba berseru keras dan menghentikan langkah kakinya. Kedua orang kawannya juga berhenti tiba-tiba. Bukankah, kau Thian-te Lo-mo Kui Hong Sian??” perwira tua itu berseru sambil menghadang di depan kakek gila itu.

Tiong San merasa takut karena peristiwa penangkapan di pinggir telaga Tai-hu tadi. Maka melihat sikap yang galak dari ketiga orang perwira ini, ia lalu mundur dan berdiri di belakang tubuh suhunya. Sementara itu, si gila tertawa ha ha, hi hi, dan sambil monyongkan mulutnya ke arah perwira tua itu, lalu berkata,

“Eh, eh, mukamu seperti monyet tua! Ha ha ha, muridku, coba kau lihat orang gila ini. Bukankah seperti seekor monyet tua yang meniru lagak manusia? Ha ha!”

Tiong San yang sudah maklum akan adat suhunya, lalu tertawa juga dan berkata, “Benar, suhu. Akan tetapi jenggotnya seperti kambing!” Tiong San sengaja berkelakar untuk menyenangkan hati suhunya karena ia memang sedang merasa gembira sekali.

Tanpa disengaja ia kini dapat mengetahui nama dan julukan suhunya, yaitu Thian-te Lo-mo Kui Hong Sian atau Kui Hong Sian si Iblis tua langit bumi! Biarpun selama hidupnya Tiong San belum pernah mendengar nama ini. Akan tetapi dari julukannya saja, ia maklum bahwa suhunya tentu seorang gagah yang luar biasa dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Thian-te Lo-mo tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan muridnya ini. Dan perwira tua itu menjadi merah mukanya. Dia memang mempunyai julukan Sin-kun Lo-wan (Monyet tua bertangan sakti). Perwira ini adalah seorang perwira kota raja yang mempunyai kedudukan tinggi dan ia menduduki tingkat kelima dari para panglima kaisar. Maka ilmu silatnya sudah tinggi sekali.

Dulu ketika Kui Hong Sian suka datang ke kota raja dan membikin kacau, perwira yang bernama Kwee Houw inipun pernah ikut mengepung. Oleh karena itu ia masih dapat mengenal muka Thian-te Lo-mo. Tentu saja ia menjadi marah sekali ketika kedua orang itu begitu bertemu telah menggodanya dengan hina-hinaan.

“Thian-te Lo-mo! Kau telah membuat kedosaan besar ketika dulu mengacau ke kota raja. Akan tetapi setelah kau mengundurkan diri, dosamu dilupakan orang. Tidak tahunya kau makin menjadi gila dan berani main-main mengganggu pangeran Lu Goan Ong dan mencuri cap kebesarannya. Mengingat bahwa kau adalah seorang tua berotak miring, maka kalau kau mau mengembalikan cap pangkat itu kepadaku, aku akan menghabiskan perkara sampai di sini saja. Akan tetapi kalau kau hendak tetap menggila, kau pasti akan menemui bencana. Karena bukan aku saja yang akan menghadapimu, akan tetapi seluruh perwira kerajaan!”

Pidato perwira ini agaknya sama sekali tidak menarik perhatian Thian-te Lo-mo karena sambil menekan- nekan perutnya yang kempis tipis, ia menyeringai dan berkata, “Aduh, perutku sudah lapar! Eh, bocah gendeng, ke mana perginya ikan-ikan panggang itu?” tiba-tiba ia berpaling kepada Tiong San yang menjadi celangap!

“Suhu, bukankah ikan-ikan itu kini telah berenang di dalam perut kita?” jawabnya sambil tersenyum- senyum juga.

“Kurang ajar! Kau sudah makan habis ikan-ikan itu?”

“Bukan teecu sendiri, akan tetapi bersama suhu!” Tiong San memperingatkan.

Bukan main marahnya Kwee Houw ketika melihat betapa kata-katanya tadi sama sekali tidak dihiraukan oleh orang gila itu.

“Thian-te Lo-mo, kembalikan cap pangkat pangeran Lu Goan Ong kepadaku!” katanya sambil mencabut keluar senjatanya, yakni sepasang siang-kek atau sepasang tombak bercabang yang pendek dan runcing.

Tiba-tiba Thian-te Lo-mo berpaling kepadanya. “Monyet tua, apakah kau membawa makanan? Perutku lapar sekali!”

Perwira tua itu hendak menyerang karena tidak dapat menahan marahnya lagi. Akan tetapi seorang kawannya, perwira yang lebih muda berkata perlahan, “Kwee-ciangkun, sukar berurusan dengan seorang yang miring otaknya.” Ia memang agak merasa gentar juga terhadap orang gila ini karena nama Thian-te Lo-mo memang nama yang amat ditakuti oleh orang-orang kang-ouw. Ia lalu mengeluarkan bungkusan roti kering dan memberikan roti itu kepada Thian-te Lo-mo sambil berkata,

“Kakek yang baik, ini rotiku boleh kau ambil. Akan tetapi harus ditukar dengan cap pangkat pangeran Lu Goan Ong!”

Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan, tahu-tahu bungkusan roti itu telah berada di tangan Thian-te Lo- mo! Perwira itu tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi. Ia hanya melihat orang gila itu mengulurkan tangannya dan tahu-tahu bungkusan telah terampas dan berpindah tangan!

“Ha ha, roti kering, makanan anjing!” kata Thian-te Lo-mo sambil tertawa, lalu mengambil sepotong roti dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ia memandang kepada Tiong San dan bertanya, “Eh, anak gendeng, apakah kau juga suka makanan anjing istana?”

“Kalau suhu suka, teecu tentu suka pula,” jawabnya.

Kembali Thian-te Lo-mo tertawa. “Lihat, monyet tua, bukankah muridku ini lucu sekali!” Ia memberi beberapa potong roti kepada Tiong San yang lalu menerima dan memakannya. Roti itu memang enak, patut dibawa dan dijadikan bekal oleh perwira-perwira kerajaan.

Thian-te Lo-mo, mana cap pangkat itu?” tanya si perwira muda yang merasa penasaran dan cemas juga karena kakek itu makan rotinya tanpa mengembalikan cap yang dimintanya. Akan tetapi Thian-te Lo-mo seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan setelah roti itu dengan cepat habis dimakannya, lalu ia bertanya lagi,

“Masih adakah rotinya? Kalau tidak ada, keluarkan arakmu, aku ingin sekali minum arak!”

“Orang gila kurang ajar!” Kwee Houw yang sudah tak dapat menahan sabarnya lalu menyerang dengan siang-kek. Gerakannya gesit dan cepat ketika siang-kek di tangan kanannya menusuk dada Thian-te Lo- mo dengan gerak tipu Macan hitam menyambar hati.

Melihat betapa suhunya diserang, Tiong San menjadi takut dan segera berseru kepada suhunya yang masih enak-enak berdiri tanpa memandang kepada penyerangnya, “Suhu, awas!”

Akan tetapi, ketika ujung tombak bercagak itu telah dekat dengan dada Thian-te Lo-mo, tiba-tiba kakek itu tertawa mengejek dan tubuhnya telah lenyap dari depan Kwee Houw. Ketika Kwee Houw cepat memutar tubuh, ternyata kakek itu telah berada di dekat perwira muda yang tadi memberi roti kepadanya dan begitu ia mengulur tangannya, buntalan besar di punggung perwira itu telah dapat direnggutnya dan kini berada di tangannya.

Sambil tertawa-tawa Thian-te Lo-mo membuka bungkusan dan keluarlah seguci arak yang menjadi bekal perwira itu. Ia melemparkan bungkusan tadi kepada perwira yang menyambutnya dengan melongo, lalu minum arak itu langsung dari guci!

Bukan main marahnya Kwee Houw melihat hal ini. Ia merasa dipermainkan oleh orang gila itu. Maka ia segera melompat dan menerjang lagi dengan siang-keknya. Juga dua orang kawannya telah mencabut golok masing-masing dan kini maju mengeroyok.

Tiong San merasa khawatir sekali melihat keadaan suhunya karena orang tua itu agaknya tidak melihat betapa tiga orang perwira sedang menerjang dan menyerangnya. Karena ia masih enak-enak menuangkan isi guci ke dalam mulutnya sambil mendongakkan kepalanya!

Akan tetapi, sungguh mengherankan, ketika ketiga senjata lawan itu telah hampir mengenai tubuhnya, tanpa menunda minumnya, orang gila itu menggeser kedua kakinya dengan amat indah dan cepatnya telah bergerak dengan gerakan Jiauw-pouw-poan-soan atau Tindakan Kaki Berputar-putar sesuai dengan Toa-su-siang-hong-wi (Kedudukan Empat Penjuru).

Dan karena menghadapi tiga orang penyerang dari tiga jurusan atau tiga penjuru, maka ia selalu dapat bergerak ke arah penjuru ke empat atau ke tempat yang kosong hingga betapapun juga ketiga orang lawannya menyerang, ia dapat meloloskan diri dengan menduduki tempat atau penjuru ke empat yang kosong.

Sementara itu, ia masih saja minum arak yang mengeluarkan suara menggelogok di tenggorokannya. Setelah puas minum arak, Thian-te Lo-mo lalu melompat ke dekat muridnya dan memberikan guci itu kepada Tiong San. “Kau minumlah, air keruh ini lumayan juga!”

Tiong San tadi bengong dengan perasaan kagum sekali melihat betapa suhunya sambil minum arak dapat menghindarkan diri dari kepungan tiga orang perwira itu. Maka kini dengan girang dan tersenyum ia menerima guci itu dan minum dengan lagak seperti suhunya tadi, yakni tangan kanan memegang guci yang dituangkan ke mulut sedangkan tangan kiri bertolak pinggang dan mendongakkan kepala.

Akan tetapi diam-diam ia berpikir bagaimana caranya dapat mengelakkan serangan-serangan orang dalam kedudukan seperti itu! Memang kedua kaki mudah saja digerakkan, akan tetapi tanpa melihat musuh, bagaimana suhunya dapat mengelak secara sebegitu sempurnanya?

Ia hanya minum beberapa teguk oleh karena arak itu ternyata keras sekali. Maka ia segera menurunkan guci itu dan kembali memandang ke arah gurunya yang telah dikurung pula! Kini ia melihat hal yang lebih mengagumkannya lagi.

Tiga orang perwira itu yang merasa amat marah dan penasaran, telah menggerakkan senjata mereka dalam penyerangan yang cepat dan ganas. Dua orang perwira muda menggerakkan golok mereka sedemikian cepatnya sehingga nampak dua sinar golok yang berkilauan menyerang suhunya dari depan, karena sepasang tombak ini bergerak-gerak tak menentu, dari bawah dan atas, kanan kiri dengan serangan-serangan maut.

Post a Comment