“Mengapa mereka ditangkap?”
“Entah, kami hanya mendapat perintah untuk menangkap orang gila yang berada di sekitar telaga Tai-hu dan karena di sini kami melihat dua orang gila, maka kedua-duanya kami tangkap!”
Kakek gila itu ketika lehernya dikalungi rantai dan tangannya dibelenggu, hanya tertawa menyeringai sambil memandang kepada para penangkapnya dengan mata bodoh. Akan tetapi ketika seorang di antara para polisi itu mengambil cambuk yang digantungkan pada pinggangnya, ia segera berseru keras,
“Jangan ambil cambukku!” dan aneh ketika ia mengulurkan tangan, belenggu besi yang mengikat tangannya putus bagaikan sehelai benang saja! Sekejap kemudian ia telah berhasil merampas kembali cambuknya.
“Apa ini? Aku tidak mau dikalungi kembang!” katanya dan sekali renggut saja, rantai yang dikalungkan lehernya tadi telah putus-putus. “Juga muridku tak boleh dikalungi kembang!” Ia membetot dan merenggut dan semua belenggu yang mengikat leher dan tangan Tiong San juga putus-putus.
Semua orang terkejut sekali dan melarikan diri karena takut orang gila itu mengamuk. Sedangkan para penjaga itu berdiri bengong karena heran bagaimana rantai mereka yang kokoh kuat itu diperlakukan oleh si gila bagaikan sehelai benang yang mudah diputuskan saja.
Si gila lalu melompat dan berkata, “Kalian orang-orang gila, aku mau pergi saja!” Sekali melompat ia telah berada di tempat jauh dan Tiong San melangkahkan kaki hendak lari mengejar. Akan tetapi seorang penjaga memeluk pinggangnya dan yang lain berteriak-teriak, “Tangkap orang gila! Tangkap!!”
“Suhu!” teriaknya dengan ketakutan.
Si gila berhenti lari, menoleh dan segera menggerakkan cambuknya yang telah dilepas dari gulungan. Terdengar “tar-ter-tor” bunyi cambuk dan disusul oleh teriakan-teriakan kesakitan karena semua ponggawa yang berjumlah lima orang itu masing-masing telah mendapat hadiah satu cambukan pada mukanya hingga menjadi biru dan perih.
Tiba-tiba ujung cambuk melayang ke arah Tiong San dan membelit pinggangnya. Tiong San merasa betapa tubuhnya ditarik oleh kekuatan yang luar biasa, hingga tubuhnya segera melayang ke atas dan tahu-tahu ia telah jatuh di punggung suhunya bagaikan seorang sedang naik seekor kuda yang tinggi.
“Ha ha ha! Orang-orang gila, ayo kita balapan lari!” kata suhunya yang segera berlari secepat kijang melompat dan sebentar saja ia menggendong muridnya itu dan telah lenyap dari pandangan semua orang. Peristiwa ini tentu saja menggemparkan orang dan sampai lama orang-orang membicarakan kesaktian orang gila itu dan tiada habisnya mereka terheran-heran mengapa seorang gila bisa mempunyai murid seorang pemuda pelajar, atau seorang pemuda yang berpakaian sebagai seorang pelajar.
Sebetulnya, siapakah orang gila yang aneh dan luar biasa lihainya itu? Para jago silat muda tentu takkan ada yang kenal kepadanya. Akan tetapi para locianpwe atau ahli-ahli silat tua yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya, tentu masih ingat akan seorang hiapkek (pendekar) yang diberi julukan Thian-te Lo-mo atau Iblis Tua Langit Bumi!
Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, Thian-te Lo-mo masih merupakan seorang muda yang menjagoi di seluruh dunia kang-ouw dengan ilmu kepandaiannya yang amat mengagumkan. Ketika itu ia bernama Kui Hong Sian, seorang pendekar muda berusia belum tiga puluh tahun, akan tetapi yang telah menumbangkan jago-jago besar dalam pertandingan pibu atau pertempuran oleh karena Kui Hong Sian memang mempunyai watak yang keras dan tidak mau dikalahkan orang.
Kemudian ia bertemu dengan seorang pendekar wanita yang cantik dan ia jatuh cinta. Tak disangkanya bahwa pendekar wanita ini adalah puteri seorang jago tua yang pernah dikalahkannya dan ketika hal ini diketahui oleh pendekar wanita itu, maka sepasang orang muda yang sudah saling mencinta ini lalu bertempur karena pendekar wanita itu hendak membalaskan sakit hati ayahnya. Dalam pertempuran ini, Kui Hong Sian salah tangan dan melukai muka wanita itu dengan pedangnya sehingga muka yang cantik menjadi bercacad.
Semenjak peristiwa ini, Kui Hong Sian lalu lenyap dari dunia kang-ouw. Ia menderita patah hati karena terputusnya cinta yang telah berakar di dalam hatinya. Sampai hampir sepuluh tahun ia mengasingkan diri dan ketika muncul kembali, ia menjadi seorang yang amat ganas. Tiap orang penjahat yang bertemu dengan orang setengah tua yang pakaiannya tidak keruan ini pasti mengalami celaka, karena Kui Hong Sian tidak mau memberi ampun kepada penjahat-penjahat besar maupun kecil.
Didalam waktu itulah ia melakukan hal-hal yang menggemparkan dunia kang-ouw, karena seorang diri saja ia naik ke bukit Tung-hwa-san dan mengobrak-abrik sarang perampok yang dikepalai oleh tujuh orang perampok bersaudara yang terkenal gagah perkasa, yang menggemparkan ialah, bahwa ia mengganti pedangnya dengan sebatang cambuk panjang yang lihai sekali. Memang Kui Hong Sian telah bersumpah takkan memegang pedang lagi semenjak ia melukai muka wanita yang dicintai itu dengan pedangnya.
Selain mengobrak-abrik perampok di bukit Tung-hwa-san, ia masih banyak melakukan kegemparan, diantaranya dengan memasuki istana raja dan dalam satu malam saja ia mencuri puluhan cap-cap kebesaran para pembesar di kota raja dan melukai para pengawal dengan cambuknya yang lihai. Namanya menjadi terkenal sekali dan pada waktu itulah ia mendapat julukan Thian-te Lo-mo.
Setelah membuat nama besar selama lima tahun, kemudian ia lenyap lagi dari dunia ramai. Dan orang tidak tahu bahwa si Iblis tua langit bumi ini telah kembali ke tanah kelahirannya, yakni di propinsi Shan- tung, di sebuah guha yang banyak terdapat di pegunungan Tai-san di propinsi Shan-tung sebelah barat.
Ternyata bahwa di dalam hidupnya, Kui Hong Sian mengalami berbagai kekecewaan dan terutama sekali kesedihan hati yang timbul akibat patah hatinya itu membuat ia semakin tua makin menjadi tidak keruan tingkah lakunya.
DAN lima tahun kemudian setelah orang-orang mulai lupa kepada namanya, dari bukit Tai-san muncullah seorang kakek yang berpakaian tidak keruan, membawa-bawa cambuk dan tingkah lakunya seperti orang gila. Inilah Thian-te Lo-mo yang pada lima tahun yang lalu, baru melihat bayangannya saja sudah membuat penjahat-penjahat besar lari pontang-panting.
Kakek gila ini mengembara terus hingga ia tiba di telaga Tai-hu di dekat So-couw dan bertemu dengan Lie Tiong San yang akhirnya ia angkat menjadi muridnya. Demikianlah riwayat singkat dari kakek gila yang amat aneh dan lihai itu yang melarikan diri dengan murid digendong di atas punggungnya setelah tadi memperlihatkan ilmu kepandaiannya yang mengherankan semua orang di pinggir telaga Tai-hu. Ketika berada di atas punggung suhunya yang lari secepat angin, Tiong San merasa amat heran dan juga ngeri. Ia melihat betapa pohon-pohon di kanan kirinya seakan-akan berlari cepat dari depan dan telinganya mendengar suara dari daun-daun pohon di kanan kiri yang dilaluinya.
Ia tak dapat melihat dengan nyata karena pohon-pohon di kanan kiri jalan itu seakan-akan hanya terbang lewat sekilat saja. Apalagi ketika suhunya mengambil jalan melalui lereng gunung yang penuh jurang- jurang dalam dan melompati jurang-jurang itu demikian enaknya seperti dulu ketika ia masih kecil suka bermain-main melompati selokan-selokan. Terpaksa ia menutup matanya karena merasa ngeri dan takut. Pegangan pada leher suhunya dipererat agar supaya ia tidak sampai melepaskan leher itu dan jatuh ke dalam jurang yang amat dalam.
Tiba-tiba suhunya berhenti berlari dan menggoyang-goyang tubuhnya hingga Tiong San hampir saja tak dapat menahan lagi dan rangkulan tangannya pada leher orang tua itu hampir terlepas.
“Turun, turun! Anak gendeng, apakah kau kira aku ini seekor kuda yang boleh ditunggangi seenak hatimu?”
Tiong San terkejut sekali dan membuka matanya lalu melorot turun dari punggung kakek itu. Ketika ia memandang ke sekelilingnya, ternyata mereka telah tiba di sebuah jalan besar yang lurus tidak di tempat berbukit-bukit lagi. Ia tidak tahu bahwa mereka telah tiba di tempat yang belasan li jauhnya dari telaga Tai- hu.
“Seekor kuda tak dapat lari secepat suhu,” katanya tertawa. Karena pemuda ini mulai tahu tabiat suhunya yang sama sekali tidak menghendaki dipuja-puja dan dihormati sebagaimana layaknya seorang guru mendapat penghormatan dari muridnya.
Benar saja, kakek aneh itu tertawa senang. “Kau harus belajar berlari cepat!” katanya berulang-ulang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dan belajar pula memberi hadiah-hadiah kepada orang-orang yang mengalungi kembang pada lehermu!”
“Teecu bisa juga berlari, suhu.” “Coba kau larilah yang cepat!”
Karena jalan itu rata dan lurus, Tiong San lalu berlari ke depan, dan pada perasaannya larinya sudah cukup cepat hingga napasnya tersengal-sengal. Akan tetapi ketika ia menoleh, ia melihat suhunya berjalan di belakangnya sambil tertawa bergelak-gelak sehingga ia berhenti lagi sambil napasnya terengah-engah seperti mau putus.
“Ha ha ha! Kau seperti gajah berlari! Tubuhmu terlalu berat hingga suara kakimu memekakkan telinga! Ha ha, sungguh lucu melihat gajah kaki dua berlari!”
Merahlah muka Tiong San mendengar ejekan suhunya ini dan ia tak dapat berkata apa-apa selain memandang muka suhunya dengan bingung.
“Kau harus berlari seperti rusa, jangan seperti gajah!” kata suhunya. “Jangan pergunakan semua telapak kakimu untuk menginjak tanah, akan tetapi pergunakan jari-jari kaki saja. Tumit harus diangkat dan terutama sekali napasmu harus diatur baik-baik! Tubuhmu harus seringan mungkin. Ah, celaka kau
masih harus belajar banyak!”
Demikianlah si gila yang dalam hal menerangkan ilmu kepandaian ternyata sama sekali tidak menunjukkan kegilaannya itu, mulai memberi pelajaran kepada Tiong San yang memperhatikan baik-baik. Mereka melanjutkan perjalanan sambil berlari-lari dan mulai dengan pelajaran ilmu berlari cepat di sepanjang jalan yang sunyi.