Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 08

Memuat...

Orang gila itu kembali bergelak tertawa. “Mengapa harus mengambil murid?”

“Karena hanya seorang muridlah yang harus tunduk kepada gurunya. Kalau kau tidak mau mengambil murid kepadaku, aku takkan sudi menjalankan peintahmu!”

“Ha ha ha! Semenjak melihatmu, aku memang suka kepadamu, karena kau tidak seperti orang-orang gila yang lain. Baiklah, kau kuterima menjadi muridku. Nah, makanlah ikanmu!”

Tiong San merasa girang sekali, akan tetapi juga gelisah. Bagaimana ia dapat makan daging ikan yang mentah, bahkan ikan yang masih hidup segar dan berkelonjotan di tangannya? Akan tetapi, ia tahu bahwa orang gila itu aneh sekali pikirannya dan kalau ia menolak atau tidak mentaati perintahnya, tentu akan menjadi marah dan akan sia-sialah maksudnya berguru.

Maka sambil meramkan mata ia lalu membuka mulut dan menggigit perut ikan yang dipegangnya! Ikan itu meronta keras sekali dan telinga Tiong San seakan-akan mendengar pekik kesakitan dari ikan itu, maka ia urungkan maksudnya dan membelalakkan mata dengan penuh kengerian.

Hampir saja ia melepaskan ikan itu dari pegangannya. Akan tetapi ia bertemu pandang dengan si gila yang kini telah menjadi gurunya, dan sepasang mata orang itu berputar-putar liar hingga ia takut sekali. Dengan cepat ia lalu menggigit lagi dan kini ia betul-betul menggigit hingga terasa darah ikan yang asin dan agak manis itu pada lidahnya. Ia telah berhasil menggeragot sepotong daging yang terus dikunyahnya tanpa berani memandang kepada ikan yang masih meronta-ronta di tangannya!

Orang gila itu tertawa terbahak-bahak. “Gila! Gila dan bodoh! Mengapa ikan hidup dimakan?”

Panas sekali hati Tiong San mendengar ini, akan tetapi karena ia ingat bahwa orang itu memang gila, maka ia menjadi sabar kembali.

“Ayo, ikut aku naik!” kata pula si gila dan entah bagaimana caranya bergerak, biarpun tubuhnya masih lurus seperti orang berdiri di dalam air, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya dapat bergerak maju dengan amat cepatnya. Tiong San lalu berenang ke pinggir dengan tubuh lemas dan napas tersengal-sengal. Ia dapat mencapai pinggir telaga, akan tetapi tidak dapat naik karena pinggir telaga itu tingginya lebih dari satu tombak. Si gila tadi dengan mudahnya menggerakkan tubuh dan tahu-tahu tubuhnya telah melompat ke darat tanpa memperdulikan Tiong San.

“Suhu .... tolong teecu (murid) naik ....!” Tiong San berseru karena ia benar-benar telah tidak kuat lagi. Kedua kakinya telah menjadi kaku kedinginan dan sukar digerakkan lagi hingga beberapa kali ia telah tenggelam dan minum air telaga secara terpaksa.

Kepala orang gila itu muncul di atasnya dan tiba-tiba si gila itu menggerakkan cambuknya yang tadi digulung dan berada di pinggangnya. Cambuk ini panjang sekali dan tahu-tahu cambuk itu telah menyambar air di pinggir tubuh Tiong San dan telah melibat perutnya. Tiong San tidak tahu bagaimana hal itu dapat terjadi, akan tetapi ia merasa seakan-akan pinggangnya ada yang memegang dan tahu-tahu tubuhnya melayang ke atas dan ia terlempar ke darat dengan selamat, dalam keadaan berdiri.

Segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan orang gila itu. “Suhu, teecu menghaturkan terima kasih bahwa suhu telah sudi menerima teecu sebagai murid.”

“Ha ha ha! Orang gila memang aneh kelakuannya. Aku belum mati mengapa kausembah-sembah? Ayo, lekas panggang ikan itu, aku ingin makan daging panggang. Kau muridku, bukan? Maka kau harus menurut segala perintahku. Panggang ikan itu baik-baik!” Setelah berkata demikian, si gila itu lalu melompat-lompat dengan girang sambil tertawa-tawa dan tak lama kemudian terdengar mendengkur karena ia telah tertidur di bawah sebatang pohon dengan tubuh masih basah kuyup.

Tiong San lalu mengambil kayu kering dan membuat api dengan susah karena tangannya yang lemah itu sukar sekali menyalakan api dengan menggosok. Akhirnya ia mendapatkan batu karang yang keras dan ketika ia menggosok batu-batu itu, ternyata bahwa batu itu adalah batu api yang mudah mengeluarkan api.

Ia menjadi girang sekali dan sebentar saja di tempat itu nampak api unggun menyala dan Tiong San merasa betapa hangat dan enaknya duduk memanggang ikan di dekat api yang panas itu pada saat tubuhnya sedang menderita kedinginan. Akan tetapi, kehangatan tubuh ini menimbulkan penderitaan baru, karena perutnya yang tadi tidak amat mengganggu ketika ia kedinginan, kini setelah tubuhnya hangat dan darahnya berjalan cepat, rasa lapar itu mengganggunya bukan main seakan-akan menggeragoti perutnya dari sebelah dalam. Belum pernah selama hidupnya Tiong San menderita kesengsaraan sehebat ini.

Sampai menjelang fajar suhunya masih belum bangun. Daging ikan sudah semenjak tadi matang dan api unggun terus ia nyalakan untuk mengusir dingin. Ia merasa lapar sekali, akan tetapi ia tidak berani mengganggu lima ekor ikan besar yang kini telah matang itu. Ia anggap kurang sopan kalau ia mendahului suhunya makan daging tadi, maka dengan mengeraskan hati ia menahan lapar dan menunggu dengan penuh kesabaran. Setelah fajar berganti pagi dan telaga itu mulai dikunjungi orang, barulah si gila itu bangun dari tidurnya dan segera mulai makan. Tiong San diam saja tidak ikut makan sampai si gila itu menghabiskan sebuah kepala ikan dan berkata,

“Ayo, makan!”

Ketika Tiong San baru saja makan dua gigitan, ia membentak, “Makan ya makan, tapi jangan banyak-banyak!”

Bukan main mendongkolnya hati Tiong San. Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu, hanya makan dengan gigitan sedikit-sedikit dan perlahan-lahan. Gurunya membentak lagi sambil melototkan matanya yang besar,

“Kok sedikit amat! Kau makan atau main-main? Ayo, makan yang banyak! Apa kaukira aku harus menghabiskan semua ikan ini?”

Di dalam hatinya Tiong San merasa mendongkol dan juga geli. Akan tetapi ia mulai biasa dengan adat suhunya yang gila-gilaan, maka ia segera makan dengan lahap sekali. Karena memang perutnya telah amat lapar hingga ikan itu terasa amat gurih dan enak. Dengan heran ia melihat betapa gurihnya hanya makan sedikit daging ikan itu.

Akan tetapi semua kepala dan tulang ikan yang keras itu dikunyahnya sampai berbunyi keletak-keletuk seperti anjing menggeragoti tulang! Tulang ikan yang runcing dan keras itu beradu dengan giginya dan ternyata tulang-tulang itu kena dikunyah hancur dan harus ditelan dengan enaknya! Karena suhunya hanya sedikit makan daging ikan, maka bagian Tiong San amat banyak hingga telah menghabiskan tiga ekor ikan, ia merasa kenyang sekali.

Akan tetapi ketika ia berhenti makan, suhunya berkata lagi, “Makan terus! Ikan-ikan ini harus dihabiskan, kalau tidak ia akan menangis!”

Saking herannya, walaupun tahu akan keanehan adat suhunya, Tiong San sampai menunda makannya dan mengurungkan daging yang sudah dibawa ke mulutnya. Ia memandang kepada suhunya dan bertanya,

“Apakah ikan bisa menangis, suhu? Apalagi ikan yang sudah dipanggang dan mati, dan mengapa pula ia menangis?”

Gurunya tertawa-tawa geli. “Anak gendeng! Tentu saja menangis! Kita sudah tangkap dia dan panggang tubuhnya di atas api. Setelah mereka ini menderita sedemikian hebatnya, apakah mereka tidak menjadi sedih kalau mereka disia-siakan dan tidak dimakan? Ayo, kita makan terus!”

Tiong San terpaksa menjejal perutnya lagi dengan daging ikan dan ketika kedua orang murid dan guru itu sedang makan daging ikan, di situ lewat beberapa orang pelancong yang berjalan-jalan. Mereka memandang kepada Tiong San dan suhunya sambil tertawa-tawa, karena menganggap mereka berdua itu orang-orang gila.

Memang si gila itu nampak lucu dan menunjukkan bahwa ia memang seorang gila, sedangkan Tiong San kinipun kelihatan tidak keruan dengan pakaiannya yang kotor dan masih sedikit basah dan rambutnya yang awut-awutan cukup memberi kesan bahwa iapun seorang pemuda gila.

Melihat dua orang gila itu makan ikan dengan enaknya, para pelancong itu menganggapnya sebagai pemandangan yang aneh dan menggembirakan. Maka tak lama kemudian Tiong San dan gurunya telah dirubung orang banyak.

Tiong San merasa tak senang sekali dijadikan tontonan. Akan tetapi oleh karena ia melihat suhunya hanya menyeringai dan kadang-kadang memandang kepada orang-orang itu sambil tertawa ha ha, hi hi, maka iapun ikut menyeringai dan tertawa ha ha, hi hi, seperti lakunya seorang gila pula! Suhunya memandang kepadanya dengan muka girang dan seperti seorang yang menahan kegelian hatinya, ia berkata perlahan,

“Memang dunia penuh orang gila ha ha ha!” Tiong San teringat bahwa itu adalah sebuah kalimat dari syair pada kipasnya, maka iapun lalu tertawa geli dan tidak memperdulikan mereka yang menonton dia dan suhunya makan. Setelah daging ikan dan semua tulang habis berpindah ke perut mereka, sehingga Tiong San merasa perutnya berat dan penuh padat. Orang gila itu lalu mengulurkan tangan merobek ujung jubah Tiong San dan menggunakan robekan baju itu untuk menyusuti mulutnya yang berlepotan minyak ikan. Tiong San tertawa dan iapun meniru perbuatan suhunya, merobek ujung bajunya yang lalu menyusuti mulutnya pula.

Orang-orang pada tertawa melihat hal ini, dan pada saat itu terdengar bentakan-bentakan. “Minggir!”

Semua orang minggir dan memberi jalan kepada orang-orang yang membentaknya. Ternyata bahwa yang datang itu adalah lima orang anggauta polisi yang membawa rantai dan golok. Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu mengalungi leher orang gila itu dan leher Tiong San dengan rantai besi. Lalu mengikat pula kedua lengan mereka.

Tiong San merasa terkejut sekali, akan tetapi oleh karena maklum akan adat yang aneh dari suhunya dan melihat betapa suhunya itu hanya tertawa ha ha, hi hi, tanpa mengadakan perlawanan, ia pun ikut-ikutan tertawa. Sungguhpun tertawanya masam karena diliputi hati yang amat gelisah dan takut!

Seorang pelancong yang melihat betapa dua orang gila itu ditangkap, lalu bertanya kepada para anggauta ponggawa itu,

Post a Comment