Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 07

Memuat...

Demikianlah Tiong San berpikir dan menurutkan hatinya yang panas, ingin segera pulang meninggalkan tempat yang mengesalkan hatinya itu, untuk menumpahkan seluruh isi hatinya yang sedih itu dihadapan ibunya yang tentu akan pandai menghiburnya.

Akan tetapi, kekerasan hatinya membuat ia mengambil keputusan untuk menanti semalam lagi! Malam nanti barulah bulan akan muncul sepenuhnya, demikian pikirnya. Siapa tahu kalau-kalau orang gila itu akan muncul malam nanti, karena dalam syairnya juga disebutkan malam bulan purnama!

Uang bekalnya telah habis dan semenjak sore hari, ia belum makan sesuatu. Ia mengambil keputusan untuk bertahan semalam lagi dan apabila si gila itu tidak muncul pada malam hari ini, ia akan pulang pada keesokan harinya.

Malang baginya, baru saja hari berganti malam, udara menjadi gelap tertutup mendung tebal dan tak lama kemudian turunlah hujan bagai dituangkan dari atas! Semua orang yang tadinya hendak berpelesir di atas perahu di waktu malam bulan purnama terpaksa meninggalkan telaga dan perahu-perahu mereka. Kalau tidak ada hujan, banyak orang yang berada di perahu sampai semalam suntuk, menikmati pemandangan indah yang ditimbulkan oleh bulan purnama. Akan tetapi, langit gelap dan hujan turun, siapa yang mau menderita kehujanan dan kedinginan? Namun Tiong San tetap duduk berlindung di bawah pohon. Air hujan yang membocor dari sela-sela daun pohon telah membuat seluruh pakaian dan tubuhnya menjadi basah kuyup dan ia menggigil kedinginan, menderita luar dalam. Tubuhnya di bagian luar menderita dingin sedangkan di bagian dalam menderita lapar. Sungguh penderitaan hebat yang belum pernah ia alami! Biarlah, biar aku menanti sampai mati di sini sebelum fajar mendatang, pikirnya dengan tekad bulat.

Menjelang tengah malam, hujan berhenti. Langit menjadi bersih dan bulan muncul penuh, indah dan ayu berseri-seri, bagaikan wajah seorang puteri jelita mengintai dari jendela, segar dan gemilang seakan-akan wajah itu makin bersih dan segar setelah dicuci oleh air hujan tadi.

Suara kodok yang bersembunyi di bawah alang-alang di pinggir telaga, menimbulkan lagu yang berirama, yang terdengar riang bagi mereka yang sedang bergembira, akan tetapi terdengar memilukan hati bagi mereka yang sedang berduka. Bagi telinga Tiong San, suara nyanyian kodok-kodok terdengar tidak keruan, oleh karena semangatnya telah menjadi lemah akibat kelelahan, kedinginan dan kelaparan.

Pada saat ia sedang duduk menggigil di bawah pohon, tiba-tiba permukaan air yang tadinya tenang itu menjadi bergerak-gerak dan terdengar suara air terpukul dan suara orang membentak-bentak marah.

“Nah, kau mau lari ke mana sekarang? Huh, ini yang besar, telah tertangkap. Ah, akan kunikmati dagingmu. Ha ha ha!”

Tiong San tersentak bangun dari lamunannya dan segera berdiri. Ia sendiri merasa heran mengapa tiba- tiba ia menjadi begitu kuat dan segar. Ia melihat ke arah suara itu dan ternyata seorang sedang berenang ke sana ke mari menangkap-nangkap ikan dengan amat mudahnya!

Tangan kiri orang itu membawa tiga ekor ikan besar, sedangkan tangan kanannya masih juga menguber- uber ikan. Bahkan pada mulutnya nampak seekor ikan yang tergigit dan ikan itu masih hidup, bergerak- gerak dan ekornya memukul-mukul hidungnya. Agaknya ikan yang tertangkap paling akhir itulah yang kini digigitnya.

Tiong San tidak dapat melihat tegas wajah itu dan ia berdebar. Bagaimana kalau penangkap ikan itu bukan orang gila yang ia tunggu-tunggu? Akan tetapi, kalau orang lain, bagaimana ia bisa dengan tiba-tiba saja berada di air tanpa diketahui masuknya dan bagaimana ia bisa menangkap-nangkapi ikan seakan-akan ikan itu menyerah begitu saja pada tangannya?

Tiong San lalu melangkah maju sampai ke dekat telaga dan setelah berada dekat dengan orang yang bermain-main dengan ikan-ikan di air itu, ia menjadi girang sekali. Tak salah lagi, rambut yang panjang dan terapung-apung di atas air seperti rambut seorang wanita itu membuktikan bahwa orang ini memang benar orang gila yang ditunggu-tunggunya!

“Locianpwe (orang tua gagah)!” Tiong San memanggil ke arah orang itu. Akan tetapi yang dipanggilnya tidak meladeninya, bahkan makin gembira, tertawa terbahak-bahak sambil mengejar seekor ikan sisik kuning.

“Emas ..... emas.....! Ha, aku ingin emas pada sisikmu itu!” Ikan bersisik kuning emas itu berenang cepat melarikan diri. Akan tetapi tangan kanan orang itu lebih cepat lagi dan sebentar saja ia telah dapat menangkap ikan itu, diangkatnya tinggi-tinggi, kemudian menjepit ikan itu pada bawah lengan kirinya karena tangan kiri sudah penuh ikan. Lalu ia menggunakan tangan kanan untuk mencabut beberapa sisik ikan itu lalu diletakkannya di atas kepalanya bagai penghias rambut.

“Bagus, bagus.... aku memakai emas ha ha ha!”

“Locianpwe ....!” Tiong San memanggil lagi lalu mengulang panggilannya sampai berkali-kali. Akan tetapi orang itu sama sekali tak menghiraukannya. Kemudian pemuda itu teringat bahwa orang ini biarpun berkepandaian tinggi, akan tetapi mungkin memang benar-benar miring otaknya hingga tidak mau disebut locianpwe, maka ia berseru lagi keras-keras,

“Eh, kakek gila !”

Benar saja kali ini si gila itu menengok dan ketika melihat Tiong San berdiri di pinggir telaga, ia lalu berkata sambil tertawa, “Ha ha ha, kau anak gendeng sudah berada di situ? Ayo, kau bantu aku menangkap daging ikan yang lezat!” sambil berkata demikian, ia mengambil ikan yang tadi digigitnya dan dengan hati ngeri Tiong San melihat betapa ikan itu telah kehilangan ekornya, agaknya sudah masuk ke dalam perut orang itu.

“Kau tidak lekas-lekas melompat turun?” orang gila itu berteriak dan suaranya terdengar marah. Aneh sekali, Tiong San ketika mendengar suara ini, merasa betapa suara itu amat berpengaruh yang mengharuskan ia menuruti perintah, maka tanpa memperdulikan sesuatu lagi, ia lalu melompat dan mencebur ke dalam telaga!

Biarpun bukan seorang ahli berenang, akan tetapi oleh karena di dalam kampungnya terdapat anak sungai di mana ia mandi dengan kawan-kawannya ketika kecil, Tiong San cukup dapat menguasai kaki tangannya yang digerakkan untuk menjaga dirinya supaya tidak tenggelam.

“Ha ha, bagus! Tangkap ikan itu!”

“Mana?” tanya Tiong San sambil memandang ke sekelilingnya yang hanya air belaka. “Itu! Dia berenang di dekat kakimu! Ah ia berenang jauh, dasar kau tolol!”

Orang tua itu menangkap seekor ikan lagi dan berkali-kali memberi tahu kepada Tiong San akan adanya ikan di dekatnya yang sama sekali tidak terlihat oleh Tiong San. Sebetulnya andaikata pemuda itu dapat melihat ikan yang berada di dekatnya, tetap ia takkan dapat menangkapnya. Jangankan disuruh menangkap ikan yang dapat berenang amat cepatnya dan mempunyai tubuh yang sangat licin, sedang untuk menjaga diri jangan sampai tenggelam saja sudah merupakan pekerjaan yang amat berat baginya.

Sampai lama si gila itu bermain-main di air dan Tiong San mulai tidak tahan lagi. Tubuhnya memang sudah lemas dan lapar, maka kini karena berada di dalam air, ia menggigil kedinginan dan hampir tak kuasa menggerakkan kaki tangannya lagi.

“Aku .... aku dingin ” katanya dengan bibir gemetar dan muka berwarna biru.

Orang gila itu memandangnya dan tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh seakan-akan merasa amat geli hatinya. “Kau kau seperti mayat hidup! Ha ha ha! Alangkah lucunya! Kalau tidak bisa menangkap ikan, mengapa

masuk ke dalam air? Benar tolol!”

“Kau yang suruh aku turun!” jawab Tiong San yang merasa mendongkol juga. “Aku? Ha ha ha! Aku suruh kau membantu tangkap ikan, bukan suruh kau mandi.” “Siapa yang mandi?”

“Kau lapar! Ya, kau lapar, kudengar perutmu berkeruyuk. Ha ha ha!”

Mendengar perkataan yang tidak keruan arahnya ini, Tiong San makin merasa yakin bahwa orang ini benar-benar gila. Akan tetapi bagaimana ia dapat mendengar suara perutnya yang berkeruyuk? Ia memang merasa betapa perutnya menggeliat-geliat, akan tetapi telinganya sendiripun tidak mendengar suara keruyukan perutnya.

“Aku dingin ”

“Lapar! Bantah kakek itu.

“Tidak, dingin!” Tiong San berkeras karena merasa malu mengaku lapar.

“Lapar, lapar, lapar!” kakek itu berteriak berulang-ulang dengan marah seperti laku seorang anak kecil bertengkar dengan kawannya. Tiba-tiba Tiong San merasa geli sekali melihat hal yang dianggapnya amat lucu ini. Ia teringat betapa dulu ketika kecilnya, ia sering bertengkar dengan Thio Swie tentang sesuatu dan sikap kakek gila ini sama dengan Thio Swie di waktu kecil.

“Baiklah,” katanya kemudian. “Aku memang lapar.”

Si gila tertawa bergelak-gelak, “Ha ha ha! Kau dingin!” “Aku lapar!”

“Dingin, dingin, dingin!” lagi-lagi kakek itu berteriak-teriak sehingga Tiong San merasa bohwat (kehilangan akal) dan terpaksa pula ia mengangguk-anggukkan kepala. “Memang aku dingin dan lapar.”

“Kau memang bodoh, anak gila yang bodoh. Makanan sudah tersedia, mengapa masih menderita kelaparan?”

“Makanan? Mana?”

“Ikan-ikan itu, bukankah tinggal ambil saja?” “Aku tak dapat menangkapnya.”

“Hm, memang kau bodoh. Nah, ini makanlah!” sambil berkata demikian si gila menyodorkan seekor ikan besar yang masih bergerak-gerak karena belum mati kepada Tiong San. Pemuda itu menerimanya dan harus mempergunakan kedua tangannya untuk memegang erat-erat karena ikan itu meronta-ronta. Karena kedua tangannya memegang ikan, maka tubuhnya lalu tenggelam.

Tiong San mendengar suara orang gila itu menertawakan, maka ia menggertakkan gigi dan menggerakkan kedua kakinya hingga tubuhnya mumbul lagi ke permukaan air. Selanjutnya ia menggerak-gerakkan kedua kakinya seperti orang berlari hingga tubuhnya tetap terapung dan tidak tenggelam.

“Lekas makan!” kata si gila.

“Apa! Makan apa? Ikan ini harus dimasak dulu!”

“Gila dan tolol! Makanan enak-enak akan dirusak pula! Kau makanlah, ikan ini enak sekali apabila belum mati. Masih segar darahnya!” Setelah berkata demikian, orang gila itu menggeragoti seekor ikan yang dipegangnya. Ikan itu meronta-ronta, akan tetapi tidak kuasa melawan gigi orang gila yang telah membenamkan giginya pada perut ikan dan sekali ia menggeragot, daging perut telah terbawa pada mulutnya yang lalu dikunyahnya dengan enaknya!

Tiong San menjadi pening kepalanya melihat hal ini. Kengerian terbayang pada matanya. “Ayo, makan ikanmu!” si gila kembali mendesak.

Tentu saja Tiong San tidak mau menurut perintahnya, dan tiba-tiba pemuda ini timbul sebuah pikiran. Ia maklum akan kesaktian orang gila ini dan ingin sekali menjadi muridnya untuk memiliki ilmu kepandaian yang hebat itu, maka ia lalu berkata.

“Aku mau menurut perintahmu asal kau mengambil murid padaku!”

Post a Comment