“Aku tidak suka menjadi pembesar, terutama pada dewasa ini, ibu. Hal ini disebabkan oleh rasa sebal dan benciku melihat betapa sebagian banyak pembesar negeri menjalankan kejahatan di balik kedok kedudukan mereka! Tentu ibu masih teringat betapa aku yang telah lulus ujian tak dapat menerima pangkat oleh karena aku tidak punya uang untuk menyogok! Keadaan di kota raja kotor sekali. Hampir semua pembesar hanya mementingkan kesenangan diri dan menumpuk harta tanpa memperdulikan halal atau tidaknya harta yang mereka tumpuk untuk keperluan diri sendiri itu! Aku tidak sudi menjadi pembesar macam itu, ibu!”
Ibunya menarik napas panjang. “Hatimu sama benar dengan ayahmu. Mendiang ayahmu biarpun menjadi seorang pembesar akan tetapi hidup secara jujur, tidak memeras rakyat bahkan membuang-buang uang untuk orang miskin. Akan tetapi, anakku, selain kedudukan tinggi dan pangkat, pekerjaan apalagi yang dapat mengangkat derajat dan nama kita dan dapat mendatangkan penghasilan yang cukup untuk kita makan dan pakai?”
“Aku tidak inginkan derajat dan nama besar itu, karena sebagaimana ucapan orang-orang cerdik pandai di jaman dahulu, nama besar dan derajat hanya akan membuat kita berada di tempat yang amat tinggi hingga kalau sekali jatuh, akan terasa sekali sakitnya! Lebih baik aku menjadi seorang petani saja, ibu!”
“Petani?”
Tiong San memandang muka ibunya dengan sedih. “Ah, ibu, apakah ibu juga memandang rendah pekerjaan petani dan tidak dapat menghargai jasa-jasa mereka?”
Nyonya Lie menaruh kain sulamannya di atas meja dan memeluk puteranya. “Bukan demikian anakku. Pekerjaan itu sendiri tidak apa-apa, karena tidak ada pekerjaan yang rendah. Akan tetapi, ada dua hal yang amat kusesalkan apabila kau hanya menerima menjadi seorang petani biasa. Pertama, kau semenjak kecil telah mempelajari ilmu kepandaian, membuang-buang waktu penuh ketekunan, dan membuang- buang uang yang tidak sedikit jumlahnya, sehingga tidak seharusnya apabila segala pengorbanan itu sekarang tidak menghasilkan sesuatu dan kau hanya ingin menjadi petani biasa! Kedua, dengan menjadi petani, maka kau berarti tidak dapat mempergunakan segala kepandaianmu yang telah kau pelajari bertahun-tahun itu untuk bekerja guna kepentingan umum! Dua hal inilah yang akan membuat aku menyesal selama hidupku!” Kemudian nyonya itu tak dapat menahan lagi turunnya air matanya.
Tiong San dapat menyelami hati ibunya. Sebagai seorang wanita biasa, sudah tentu ibunya rindu sekali melihat ia memakai pakaian kebesaran, dihormati orang dan menduduki pangkat tinggi. Hati ibunya akan menjadi besar dan bangga melihat puteranya menjadi orang mulia. Kalau ia menjadi petani, maka setidak- tidaknya ibunya akan merasa malu dan kecewa.
“Ibu!” katanya kemudian dengan suara menghibur. “Percayalah bahwa anakmu akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perbuatan yang akan menjunjung tinggi nama keluarga kita! Akan tetapi tidak sebagai pembesar, karena kepandaian kesusasteraan pada dewasa ini hanya digunakan untuk mencelakai sesamanya, untuk merusak, bukan untuk melakukan kebaikan. Kalau aku melakukan sesuatu demi kebaikan orang banyak, maka pekerjaan yang kulakukan itu bukan berdasarkan kepandaianku menulis!”
“Habis, selain menulis dan membaca, kau mempunyai kepandaian apalagi?” tanya ibunya yang mulai merasa jengkel.
Tiong San menundukkan kepalanya dan terbayanglah orang gila yang dijumpainya di telaga Tai-hu kemaren dulu itu. Ah, pikirnya. Kalau saja aku mempunyai kepandaian selihai orang gila itu, tentu aku dapat melakukan perbuatan mulia yang akan lebih menggemparkan dari pada kepandaian kesasteraan yang kumiliki! Ia menarik napas panjang berulang-ulang tanpa dapat menjawab pertanyaan ibunya, sehingga orang tua itu merasa kasihan melihatnya.
“Sudahlah, Tiong San. Kau beristirahatlah di kamarmu dan jangan terlalu banyak memikirkan hal ini. Kita percaya saja kepada Thian pada suatu waktu akan datang saat baik bagi kita. Aku hendak meneruskan pekerjaanku ini, karena aku sudah berjanji kepada orang yang memesannya untuk menyelesaikan dalam hari ini juga.”
Tiong San lalu bangkit berdiri dan dengan kedua kaki lemas ia masuk ke dalam kamarnya. Ia membantingkan dirinya di atas pembaringan sambil mengeluh. Akan tetapi ia segera melompat bangun lagi karena terkejut ketika melihat sebuah kipas di atas meja kecil dalam kamarnya. Karena kipas itu adalah kipasnya yang lenyap dari atas perahu di telaga Tai-hu kemaren dulu itu!
Dengan tangan gemetar pemuda itu mengambil kipas itu dan mengamat-amatinya. Dan ternyata bahwa syairnya yang belum habis di tulis itu kini telah ditambah dengan tulisan orang lain yang gayanya aneh dan bengkak-bengkok seperti ular! Ketika ia menulis syairnya dulu, pada baris kelima baru ia tulis “aku ” dan
terhenti karena tabrakan perahu. Akan tetapi sekarang huruf “aku” itu telah ada sambungannya yang berbunyi,
Aku juga gila!
Dan alangkah baiknya gila bertemu gila
Pada malam bulan purnama di pinggir telaga!
Tiong San membaca syairnya berulang-ulang dengan perasaan tidak keruan karena heran dan juga kagum. Ia heran akan maksud orang gila itu, dan kagum melihat betapa tulisan itu, biarpun tak dapat disebut indah, akan tetapi gayanya benar-benar aneh dan dari bentuk coretan yang lenggak-lenggok seperti ular itu dapat diketahui betapa huruf-huruf itu mengandung tenaga yang kuat sekali sehingga tiap coretan merupakan seekor ular yang seperti hidup bergerak-gerak dan mengerikan!
Ia membaca sekali lagi sajaknya yang kini selengkapnya berbunyi,
Memancing ikat dengan pecut, tanpa kaitan Bersikap seperti Kiang Cu Ce, sang budiman
Orang menyebut gila, memang dunia penuh orang gila! Yang waras dianggap gila, yang gila merajalela!
Aku juga gila!
Dan alangkah baiknya gila bertemu gila
Pada malam bulan purnama di pinggir telaga!
Alangkah aneh dan ganjilnya bunyi syair itu, dan hanya seorang yang tidak waras otaknya saja dapat menulis syair seperti itu. Apakah maksud orang gila itu menulis bahwa akan baik sekali kalau gila bertemu gila pada malam bulan purnama di pinggir telaga? Dan bagaimana ia bisa menaruh kipas itu di dalam kamarnya tanpa diketahui orang lain? Benar-benar seorang gila yang amat aneh.
Sampai malam Tiong San duduk termenung di dalam kamarnya dan ketika ibunya mengajaknya makan malam, ia tidak banyak bicara hingga membuat ibunya merasa gelisah sekali.. Sehabis makan, pemuda itu tanpa menukar pakaiannya lalu kembali ke dalam kamar lagi dan duduk termenung sambil membuka jendela kamarnya. Tiba-tiba tanpa disengaja ia melihat ke angkasa dan mukanya bercahaya terang ketika ia melihat bulan yang hampir tersenyum di balik awan.
Dan cepat Tiong San mengeluarkan kipas yang sejak tadi berada di sakunya dan membaca syair itu sekali lagi. Ah, tentu ada maksudnya si gila menulis syair itu, pikirnya. Bulan purnama akan muncul dua tiga hari lagi. Mengapa aku tidak pergi ke sana dan melihat-lihat kalau-kalau ia berada di pinggir telaga? Ia telah menyebutku gila dan mengaku bahwa iapun gila, dengan kata-katanya si gila bertemu si gila pada malam terang bulan purnama di pinggir telaga, Bukankah itu suatu ajakan untuk mengadakan pertemuan di pinggir telaga Tai-hu?
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tiong San menjumpai ibunya dan berkata, “Ibu, ijinkanlah aku pergi sekali lagi ke Tai-hu.”
Ibunya merasa heran. “Bukankah baru saja kau kembali dari sana?”
“Benar, ibu! Akan tetapi aku ingin sekali menghibur diri sekali lagi di sana. Siapa tahu perjalananku kali ini akan mendatangkan perubahan baik seperti yang ibu harapkan kemaren.” Ibunya menggelengkan kepala. “Anakku, kau terlalu banyak memikirkan masa datang yang suram. Baiklah, kauhiburlah hatimu di telaga Tai-hu dan mudah-mudahanan Thian Yang Maha Agung membuka jalan baik bagimu.”
Dengan tergesa-gesa Tiong San lalu berangkat ke Tai-hu. Malam hari itu, ketika semua pelancong telah meninggalkan telaga dan bahkan para pemilik perahu kembali ke rumah masing-masing sehingga telaga itu sunyi senyap, Tiong San tidak meninggalkan tempatnya dan masih duduk melamun di bawah pohon di mana si gila itu dahulu menangkap ikan.
IA duduk terus menanti dengan penuh harapan sambil menikmati keindahan pemandangan di malam itu. Ternyata bahwa pada malam hari, ditimpa cahaya bulan yang hampir bundar, pemandangan di situ benar- benar merupakan soranga. Cahaya bulan membuat air telaga berwarna kuning keemasan dan bulan sendiri tenggelam di dasar telaga, bergoyang-goyang kalau ada angin meniup permukaan air. Pohon- pohon nampak kebiru-biruan dan bunga nampak kekuning-kuningan, dan semua itu diliputi cahaya kemerahan dari sinar bulan yang amat menyejukkan hati.
Akan tetapi, hawa udara malam amat dinginnya sehingga Tiong San menggigil kedinginan. Betapapun juga, pemuda itu cukup memiliki kekerasan hati untuk diam dan tidak meninggalkan tempatnya semalam suntuk. Hatinya amat kecewa oleh karena pada malam hari itu ia tidak melihat bayangan seorangpun di pinggir telaga. Ia mulai ragu-ragu.
Dan ketika fajar mulai menyingsing, matahari menggantikan tugas bulan menerangi permukaan telaga Tai- hu dan para pemilik perahu berangsur-angsur muncul di pinggir telaga. Kekecewaan hati Tiong San membuat ia merasa lemas sekali. Ia tidak bisa tidur semalam penuh dan kini merasa mengantuk sekali. Ketika ia masuk ke dalam kelompok pohon dan memilih tempat yang sunyi agak jauh dari telaga, ia lalu membaringkan diri di bawah sebatang pohon dan segera tertidur nyenyak saking lelahnya!
Ketika ia terjaga, hari sudah siang dan ia merasa lapar sekali maka ditinggalkannya tempat itu dan ia membeli makanan sederhana untuk mengisi perutnya. Ia lalu berjalan-jalan mengelilingi telaga sambil mencari-cari kalau ia akan melihat orang gila yang ditunggu-tunggu. Akan tetapi ia tidak melihat bayangan orang yang dicarinya sehingga ia makin menjadi gelisah. Apakah ia datang jauh-jauh dengan sia-sia belaka?
Malam hari kedua kembali ia berjaga sampai pagi dan tidak melihat siapa-siapa. Hatinya makin sedih dan diam-diam ia memaki diri sendiri. Mengapa ia begitu bodoh menuruti tulisan kacau balau seorang yang tidak waras otaknya? Seorang gila telah mempermainkannya dan ia menuruti saja, berlaku seolah-olah ia sendiri juga gila! Apakah aku benar-benar telah mulai miring otakku?