Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 05

Memuat...

Dengan muka sungguh-sungguh Thio Swie berkata, “Tiong San, kau tidak tahu, pangeran Lu Goan Ong adalah seorang yang amat tinggi kedudukannya. Kalau tidak salah ia adalah keluarga kaisar sendiri dan menjadi seorang di antara para penasehat kaisar! Ia kaya raya dan amat berpengaruh sehingga semua pembesar di kota raja tunduk kepadanya! Tentu saja kita harus menghormatinya sebagai seorang pembesar tinggi.”

Kini tahulah Tiong San, maka ia berkata, “Hm, kalau begitu soalnya, pantas saja kalian demikian menghormatinya, sungguhpun bagiku yang tidak membutuhkan pertolongannya tak perlu aku harus melakukan penghormatan sedemikian rupa.”

Ketiga orang pemuda itu kembali ke kampung mereka dan di sepanjang perjalanan, Thio Swie dan Khu Sin tiada hentinya membicarakan pangeran besar itu, dan menyatakan pengharapannya mereka untuk bisa mendapat pertolongan kelak di kota raja.

“Gadis tadi amat cantik jelita seperti bidadari,” kata Khu Sin setelah mereka habis membicarakan pangeran itu sendiri.

“Cocok!” kata Thio Swie dengan hati puas. “Memang ia bidadari dan namanya juga manis, Siu Eng ah,

siapa tahu kalau-kalau kelak aku dapat bertemu pula padanya! Ia cantik sekali, dan biarpun mukanya tidak dibedaki, akan tetapi sepasang pipinya seperti bunga bouwtan!”

“Berbeda sekali dengan para penyanyi yang berbedak tebal!” kata Khu Sin. “Hih! Muak dan geli aku melihat para penyanyi itu!” kata Thio Swie sambil meludah. “Bedak mereka itu mungkin tebalnya ada setengah dim! Seperti topeng setan!”

Kedua pemuda itu tertawa geli, akan tetapi Tiong San tidak ikut membicarakan keadaan pangeran dan gadis itu karena pikirannya penuh dengan bayangan orang gila yang aneh tadi. Siapakah dia? Dan mengapa kepandaiannya demikian hebat? Manusiakah dia atau dewa telaga Tai-hu? Dan yang paling mengherankan hatinya dan membuatnya penasaran adalah perampasan kipas-kipas yang ia yakin dilakukan pula oleh orang gila! Apakah kehendaknya maka sampai mengambil kipas-kipas bersyair yang tidak berharga itu?

Setibanya di rumah, ketiga orang pemuda itu tenggelam dalam lamunan dan masing-masing terserang penyakit rindu yang berbeda-beda. Tiong San ingin sekali bertemu kembali dengan orang gila yang amat menarik hatinya itu. Khu Sin ingin sekali dapat menghadap pangeran Lu Goan Ong karena rindu akan pangkat dan kedudukan tinggi. Sedangkan Thio Swie biarpun juga mengharapkan pangkat, namun lebih condong hatinya untuk bertemu dengan Siu Eng, gadis yang telah menawan hatinya itu! Ternyata bahwa pengalaman yang mereka alami di telaga Tai-hu itu berkesan hebat dalam hati mereka dan mendatangkan perubahan yang hebat sekali kepada hidup mereka selanjutnya.

********************

Tiga hari kemudian, Khu Sin dan Thio Swie datang ke rumah Tiong San untuk berpamit karena mereka berdua hendak kembali ke kota raja dan melanjutkan pelajaran mereka. Kebetulan sekali terdapat serombongan piauwsu (pengawal dan pengantar barang-barang dari satu ke lain tempat, semacam usaha ekspedisi) yang datang dari So-cou dan hendak mengantarkan barang-barang dua gerobak banyaknya ke kota raja.

Pada masa itu, melakukan perjalan jauh tidaklah semudah sekarang oleh karena selain tidak ada kendaraan-kendaraan baik dan juga tidak terdapat jalan-jalan raya yang cukup sempurna. Juga perjalanan itu melalui hutan-hutan liar yang banyak terdapat binatang-binatang buas dan perampok-perampok yang lebih buas lagi dari pada binatang hutan!

Oleh karena itu, Khu Sin dan Thio Swie merasa girang sekali melihat adanya rombongan piauwsu dari Pek- eng-piauwkiok (Perusahaan ekspedisi Garuda Putih) lewat di dusun Kui-ma-chung, dan mereka lalu mempergunakan kesempatan itu untuk “membonceng” atau ikut minta perlindungan dengan membayar sedikit biaya. Memang, piauwkiok-piauwkiok ini dibuka oleh orang-orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi untuk mengantar barang-barang berharga dan mengawalnya serta melindunginya dari gangguan perampok-perampok di jalan. Dan Pek-eng-piauwkiok telah mempunyai pengaruh besar sekali oleh karena yang menjadi kepala atau pemimpinnya adalah seorang gagah perkasa bernama Souw Cit yang berjuluk Pek-eng atau Garuda Putih.

Souw Cit mempergunakan pengaruh namanya untuk memberi nama kepada perusahaannya. Dan tiap kali orang-orang atau murid-muridnya mengantar barang berharga, asal pada gerobak-gerobak itu ditancapi bendera yang dilukis dengan gambar seekor garuda putih sedang terbang mengembangkan sayap dan mengulur kedua cakarnya, kaum rimba hijau (perampok) takkan berani mengganggunya.

“Tiong San,” kata Thio Swie. “Alangkah senangnya kalau kau bisa ikut dengan kami dan tinggal bersama di kota raja!”

“Benar,” menyambung Khu Sin. “Tanpa adanya kau di sana, seakan-akan kami merasa kurang lengkap!”

Tiong San tersenyum dan menarik napas panjang. “Terima kasih atas kebaikan hati kalian. Percayalah, tak ada keinginan yang lebih besar dalam hatiku selain dapat bersama dengan kalian, kawan-kawanku yang baik. Akan tetapi, selain aku tidak punya biaya untuk melanjutkan pelajaran, juga aku tidak ada nafsu lagi. Entah mengapa, kawan-kawanku, akan tetapi aku mempunyai perasaan seakan-akan percuma saja aku mempelajari semua kepandaian menulis dan membaca selama ini! Harap kalian jangan meniru sikapku yang tak baik ini, karena kalian mempunyai harapan besar di kemudian hari. Belajarlah rajin-rajin, agar kalian dapat mencapai cita-cita, menjadi pembesar-pembesar yang baik dan bijaksana karena dengan demikian kalian akan berjasa bagi rakyat banyak.” Thio Swie merasa terharu dan memegang pundak kawannya itu. “Akan tetapi, kau sendiri, Tiong San? Apakah yang hendak kau lakukan?”

Kembali Tiong San tersenyum dan matanya bersinar-sinar ganjil.

“Aku? Entahlah, aku hanya seorang kutu buku kecil yang tidak ada gunanya. Mungkin aku akan menukar pitku dengan sebatang pacul, siapa tahu?”

“Apa?” seru Khu Sin sambil membelalakkan mata. “Kau hendak menjadi petani? Kau yang pandai bersyair dan amat indah tulisanmu ini hendak menjadi petani dan bekerja di ladang berlumpur-lumpur kotor?”

“Picik sekali pandanganmu ini, Khu Sin,” Tiong San mencela kawannya sambil memegang pundaknya. “Siapa bilang petani kotor? Kalau kau mempunyai pendirian begitu, baiknya mulai sekarang, tiap kali kau makan, kau boleh mengingat bahwa barang yang kau masukkan ke mulut dan perut dan yang menjaga sehingga hidupmu dapat berlangsung terus, tak lain adalah hasil tetesan keringat para petani! Bagiku, lebih baik menjadi seorang pekerja kasar dengan perut kenyang dari pada menjadi seorang kutu buku yang kempis perutnya. Dan pula, aku harus membantu pekerjaan ibuku!”

Ketiga orang kawan karib semenjak kanak-anak itu bercakap-cakap tiada habisnya dan agaknya akan makin panjang dan hangat percakapan mereka kalau tidak datang rombongan piauwsu yang memberi tahu kepada Khu Sin dan Thio Swie bahwa saat untuk berangkat sudah tiba. Mereka berdua lalu memeluk Tiong San dan mengucapkan selamat berpisah dengan hangat. Juga mereka masuk ke dalam rumah dan menjura di depan ibu Tiong San, memberi hormat dan minta diri. Nyonya janda Lie memberi doa restu kepada dua orang pemuda kawan baik puteranya itu.

Setelah rombongan itu berangkat, Tiong San berdiri termenung memandang sampai rombongan itu lenyap dalam sebuah tikungan jalan, Masih terdengar suara kaki kuda yang menarik tiga buah gerobak itu dan suara para piauwsu yang bersenda gurau sepanjang jalan. Untuk sesaat timbul rasa iri dan keinginan untuk ikut ke kota raja dalam hati Tiong San sehingga ia merasa betapa sedu sedan naik dari dada menuju kerongkongannya. Akan tetapi ia menindas perasaan itu dan mulutnya bergerak-gerak.

“Semoga kalian bisa menjadi pembesar-pembesar yang baik dan bijaksana ” Kemudian ia lalu masuk

ke dalam rumah. Ibunya yang sedang menyulam lalu menunda pekerjaannya dan memandang kepada puteranya dengan penuh kasih sayang.

“Tiong San, kalau kau dapat ikut pergi dengan kawan-kawanmu itu, untuk belajar dan menempuh ujian di kota raja, biarpun hatiku merasa berat berpisah dengan kau, akan tetapi perasaan itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan kegiranganku karena harapan melihat kau pulang dengan menggondol sebuah pangkat!” Nyonya ini lalu menarik nafas panjang dan matanya membayangkan rasa kasihan yang besar terhadap puteranya yang tercinta.

“Ah ibu, kalau aku pergi, bukankah kau menjadi sendirian di rumah ini dan merasa kesunyian!” kata Tiong San yang lalu duduk di dekat kaki ibunya.

Nyonya itu meraba kepala puteranya dan membelai rambutnya.

“Anakku, seorang ibu di manapun juga akan mendapatkan kebahagiaan dalam penderitaan dan pengorbanan perasaan demi keberuntungan anaknya! Kalau saja kau dapat melanjutkan pelajaranmu, ah

... alangkah akan senangnya hatiku .....” dan nyonya ini cepat-cepat menundukkan mukanya dan melanjutkan sulamannya agar air mata yang telah memenuhi pelupuk matanya itu tidak menetes turun.

Akan tetapi, keharuan hatinya mendorong airmata itu keluar hingga dua titik air bening jatuh ke atas kain yang sedang disulamnya, kain sulaman yang menjadi pekerjaannya sehari-hari di samping pekerjaan menenun untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Tiong San memeluk ibunya. “Ibu, jangan kau bersedih karena anakmu tidak dapat melanjutkan pelajaran. Terus terang saja, ibu. Akupun tidak ingin untuk melanjutkan pelajaran hanya untuk memperebutkan pangkat. Aku tidak ingin menjadi pembesar!”

Ibunya cepat menengok. Inilah kata-kata baru baginya. Cita-citanya sejak dulu, juga cita-cita mendiang suaminya, adalah melihat putera tunggal ini menjadi seorang pembesar yang terhormat dan bijaksana seperti ayahnya. Akan tetapi pengakuan tidak suka menjadi pembesar ini benar-benar mengagetkan hatinya.

“Apa katamu, nak? Kau tidak suka menjadi pembesar? Mengapa?”

Post a Comment