“Bagaimana ini?” Thio Swie berkata kepada kedua orang kawannya. “Apalagi yang akan terjadi dengan kita?”
“Naiklah saja, untuk apa ragu-ragu? Kita tidak mempunyai kesalahan sesuatu,” kata Khu Sin dan mereka lalu naik ke perahu besar melalui anak tangga itu. Akan tetapi, Thio Swie dan Khu Sin tidak mau naik lebih dulu dan memaksa Tiong San menjadi pelopor.
Mereka disambut oleh pelayan tadi yang dengan sikap hormat mengantar mereka masuk ke dalam ruang kamar perahu yang cukup luas dan yang berbentuk rumah indah di atas perahu itu, melalui sebuah pintu cat biru.
Ketika mereka melangkahi ambang pintu, mereka tercengang melihat betapa keadaan dalam perahu itu amat mewah dan indah, tidak kalah dengan ruang dalam sebuah gedung besar. Terdapat tiga buah meja besar di situ yang penuh dengan dengan hidangan serba mewah dan lezat. Meja terbesar mempunyai beberapa bangku terukir dan di atas sebuah bangku duduk seorang laki-laki berpakaian mewah.
Pada meja yang berada di ujung, duduk tiga orang wanita, sedangkan pada meja terkecil duduk pula beberapa orang wanita yang ternyata adalah penyanyi-penyanyi yang bermuka sebagai kedok karena kulit muka mereka tebal tertutup bedak dan yanci (bedak untuk memerahi muka).
Laki-laki yang duduk menghadapi meja besar itu bertubuh tinggi besar dan dari pakaiannya ternyata bahwa ia tentu seorang berpangkat tinggi. Wajahnya angker dan nampak galak sedangkan sikapnya angkuh sekali. Ketika para pemuda itu masuk, ia tidak menyambutnya dengan berdiri, hanya tetap duduk sambil mengangkat tangan memberi tanda agar supaya pelayan yang menyambut tadi keluar lagi.
Tiong San dan kawan-kawannya melirik ke arah meja kedua. Di situ duduk menghadapi meja tiga orang wanita. Seorang di antara mereka sudah tua, agaknya isteri pembesar ini, yang seorang lagi masih muda dan cantik, sedangkan orang ketiga adalah seorang gadis yang mempunyai kecantikan seperti seorang bidadari dari kahyangan.
Sukar melukiskan gadis ini yang berpakaian mewah, akan tetapi memakai bedak yang tipis sekali. Kalau Thio Swie di suruh membuat syair memuji kecantikan gadis itu, tentu ia akan menyamakan gadis itu dengan burung hong, raja segala burung, dan kalau kembang ia adalah kembang seruni, kalau pohon tentu pohon liu (cemara) yang tidak saja indah, akan tetapi juga mempunyai batang yang lemas hingga dapat menari-nari kalau tertiup angin.
Pembesar itu memandang kepada ketiga pemuda itu dengan matanya yang lebar dan ia nampak senang melihat tiga orang muda yang sopan santun dan tampan itu.
Melihat bahwa orang yang mengundang mereka adalah seorang pembesar tinggi, Thio Swie yang telah sering bertemu dengan pembesar-pembesar di kota raja lalu menjura dengan amat hormatnya, di turut oleh Khu Sin dan Tiong San. Pembesar itu tertawa senang dan berkata,
“Ah, anak-anak muda, duduklah di sini, di mejaku ini. Aku girang melihat bahwa yang ditubruk perahunya adalah kalian orang-orang muda terpelajar. Harap kalian bertiga suka memaafkan orang-orangku yang menubruk perahumu tanpa sengaja dan mendatangkan banyak kekagetan.”
“Tidak apa, taijin. Kami bertiga tidak mendapat kecelakaan sesuatu,” jawab Tiong San dan mereka bertiga lalu duduk di depan pembesar itu setelah sekali lagi dipersilakan. Thio Swie menjadi girang sekali ketika mendapat kenyataan bahwa dengan duduk menghadapi pembesar itu, maka mereka bertiga secara langsung dapat melihat meja di mana duduk gadis cantik itu yang kebetulan duduknya menghadap ke arah mereka pula.
Thio Swie dan Khu Sin hampir tak dapat menahan keinginan hati mereka untuk sering-sering melirik ke arah gadis cantik itu. Hanya Tiong San yang selalu tunduk karena ia memang sama sekali tak pernah merasa tertarik kepada keindahan wajah dan bentuk tubuh seorang wanita.
“Untuk menghilangkan kaget, kalian harus minum arak wangi yang sengaja kudatangkan dari Hok-ciu,” kata pembesar itu dan ia lalu berseru ke arah pintu ruangan itu, “Hei, tambahkan arak dan daging!” Kemudian ia lalu menoleh kepada gadis cantik tadi dan berkata,
“Siu Eng, suruh mereka menyanyi lagi!”
Terdengar suara gadis itu memberi perintah kepada rombongan penyanyi dengan suara yang amat merdu dan tak lama kemudian terdengar suara nyanyian diiringi suara yang-khim. Biarpun muka para penyanyi itu menyebalkan pemandangan mata Thio Swie dan kawan-kawannya, akan tetapi mereka harus mengakui bahwa suara para penyanyi itu cukup merdu.
Setelah seorang pelayan membawa masuk seguci arak wangi dan menuang isinya ke dalam cawan-cawan yang telah disediakan, pembesar itu lalu berkata, “Ayo, kita minum untuk menghilangkan kekagetan tadi sambil mendengar nyanyian merdu!”
Biarpun merasa sungkan-sungkan, akan tetapi ketiga orang muda itu lalu minum arak yang ternyata amat wangi dan enak.
“Anak-anak muda, kalian siapakah, siapa namamu dan di mana kalian tinggal? Setelah bertemu, ada baiknya aku mengetahui nama kalian. Siapa tahu kelak dapat bertemu lagi,” kata pembesar itu.
“Saya adalah she Lie, bernama Tiong San, dan kedua kawanku ini bernama Khu Sin dan Thio Swie. Kami bertiga dari dusun Kui-ma-chung tidak jauh dari telaga Tai-hu. Kawan-kawanku ini yang mendapat hari libur dan baru kembali dari kota raja bersama saya sendiri sengaja datang menghibur diri di tempat ini. Sungguh beruntung dapat bertemu dengan taijin yang ramah tamah dan mulia.”
Pembesar itu amat senang mendengar sucapan Tiong San yang sopan santun. “Bagus, bagus, kalian orang-orang muda memang harus belajar dengan rajin agar kelak dapat membantu pemerintah menghatur negara.” Kemudian suaranya berubah ketika ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan tiba-tiba,
“Apakah kalian kenal dengan orang gila yang mengacau tadi? Siapakah dia dan di mana tempat tinggalnya?” Sambil berkata demikian, ia memandang tajam dan matanya menatap wajah ketiga orang pemuda itu berganti-ganti dengan sinar mata menyelidik.
“Orang gila yang manakah, taijin?” Thio Swie balas bertanya dengan heran sehingga ia membuka matanya lebar-lebar. “Sudah sering benar saya mendengar adanya orang-orang gila pada hari ini! Pertama-tama orang gila yang mencambuki perahu-perahu di pantai tadi, dan juga dalam syairnya ”
“Itulah yang kumaksudkan!” pembesar itu memotong ucapan Thio Swie yang tadinya hendak menceritakan bahwa di dalam syair Tiong San juga disebut-sebut adanya orang gila! “Pengemis gila yang membawa cambuk itu! Siapakah dia dan di mana tinggalnya?”
“Saya tidak tahu, taijin. Selama hidup baru tadi saja kami melihat dia di pantai telaga.”
Pembesar itu nampak kecewa dan ia berkata kepada Tiong San dan kawan-kawan, “Coba ceritakan apa yang kalian lihat setelah perahu kalian tertumbuk oleh perahuku tadi!”
Biarpun hatinya merasa heran, akan tetapi Tiong San dapat menduga bahwa pembesar ini tentu sedang menyelidiki orang gila tadi dan menyangka bahwa mereka bertiga mengetahui hal ihwalnya, maka ia cepat menginjak kaki kedua kawannya dan jawabnya,
“Sesungguhnya, taijin, tadi kami hanya melihat seorang gila berkeliaran di pantai dan digoda oleh para nelayan. Kemudian kami melihat ia duduk melenggut di bawah pohon sana dan sesudah itu kami tidak melihatnya lagi. Setelah perahu kami tertumbuk oleh perahu ini kami tidak melihat sesuatu, hanya mendengar teriakan-teriakan di atas perahu ini. Akan tetapi tidak terlihat apa yang terjadi dari perahu kami yang kecil. Hanya itulah sesungguhnya yang kami ketahui, taijin.”
“Sudahlah, sudahlah!” kata pembesar itu dengan muka berubah merah. “Apapun juga yang akan terjadi, aku harus dapat menangkap si gila kurang ajar itu! Kalian boleh turun lagi dan aku mengucapkan terima kasih atas segala keteranganmu. Kalau kalian perlu sesuatu di kota raja, mungkin aku dapat membantumu asal saja kau suka mencari rumahku.”
Tiba-tiba Thio Swie mendapat pikiran bagus. Siapa tahu kalau-kalau pembesar ini dapat menolongnya mendapatkan pangkat? Ia lalu menjura dan bertanya, “Maaf, taijin, akan tetapi di kota raja terdapat banyak sekali gedung-gedung besar. Yang manakah milik taijin?”
Pembesar itu tertawa. “Asal kau tanya di mana tempat tinggal pangeran Lu Goan Ong, siapakah yang takkan kenal namaku?”
Thio Swie membuka mata lebar-lebar dan ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu, diturut oleh Khu Sin yang juga amat terkejut. Akan tetapi, Tiong San hanya menjura saja dan ia tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk ikut-ikutan berlutut.
“Maafkan hamba yang kurang hormat kepada taijin karena tidak tahu,” kata Thio Swie dan Khu Sin.
“Bangunlah, bangunlah!” kata pangeran itu sambil mengerling tajam ke arah Tiong San yang masih berdiri. Setelah kedua orang pemuda itu bangun, pangeran Lu Goan Ong lalu bertanya kepada Tiong San,
“Anak muda, siapakah ayahmu?”
“Ayahku telah meninggal dunia, taijin,” jawab Tiong San sederhana. Akan tetapi Thio Swie yang merasa girang bertemu dengan pangeran itu, segera menyambung, “Taijin, kawan hamba Tiong San ini adalah putera tunggal mendiang Lie-tihu yang menjabat pangkat tihu di kota Liong-shia, sedangkan kawan hamba Khu Sin ini adalah anak kepala kampung hamba, dan hamba sendiri adalah anak seorang guru sastra di kampung hamba pula. Hamba bertiga berasal sekampung, taijin, yaitu kampung Kui-ma-chung.”
Tentu saja segala keterangan ini hanya seperti angin lalu saja terhadap telinga pangeran Lu Goan Ong, maka ia hanya menjawab, “Hm ......hmm ” dan memberi tanda kepada pelayan untuk mengantar mereka
keluar.
Setelah tiba di perahu sendiri dan mendayung perahu itu ke tepi telaga, Tiong San mengomel, “Kalian berlaku seolah-olah dia itu raja sendiri. Apakah sikap menjilat itu kalian pelajari pula di kota raja?”