Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 03

Memuat...

Entah mengapa, keadaan orang gila itu menarik perhatiannya. Seluruh keadaan orang gila itu membayangkan kebebasan yang mutlak baginya. Kalau lain orang bersopan-sopan, memakai pakaian yang mahal-mahal dan berpantas-pantasan, adalah orang gila itu seakan-akan terlepas dari pada segala ikatan dunia, bebas lepas seperti burung di udara.

Lihat betapa ia tadi berjalan seorang diri, bagaikan tak melihat sekian banyak orang di sekelilingnya. Kemudian sekarang duduk dengan enaknya di bawah pohon, bermain-main dengan pecut sendiri. Entah apa yang sedang dipikirkannya!

Tiong San teringat akan keadaan orang-orang yang menganggap diri sendiri “waras” dan nampak olehnya betapa banyak sekali kepalsuan dan keburukan terdapat pada orang-orang yang tidak gila ini. Seperti dia sendiri, ia bersenang selagi hatinya murung, selagi banyak sekali hal mengganggu ketentraman jiwanya, tentang kegagalan mendapat pangkat, tentang keadaan ibunya yang telah menjadi janda, tentang orang- orang berpangkat yang melakukan korupsi besar-besaran, tentang kesengsaraan rakyat jelata ah,

semua ini tentu tidak terpikir atau mengganggu pikiran orang gila itu. Siapakah yang lebih gila, dia sendiri atau orang gila itu?

“Tiong San, lihat, syairku telah selesai!” kata Thio Swie dengan bangga. Tiong San sadar dari lamunannya dan terpaksa ia berkata sambil tersenyum,

“Cepat sekali, Thio Swie dan bagus sekali tulisanmu. Coba kau bacakan syairmu itu!”

Juga Khu Sin yang telah selesai menulis syairnya itu minta kepada Thio Swie untuk membacakan syairnya lebih dulu. Thio Swie lalu membaca syairnya setelah batuk-batuk untuk membuat suaranya terdengar lebih nyaring dan merdu.

Awan putih berkejaran di angkasa biru,

Bagaikan sekelompok angsa berenang di telaga Tai-hu! Air telaga bersih bening penuh bayang-bayang nyata Menarik semua keindahan di atas pada dasarnya

Kita minum arak ditengah-tengah, antara air dan angkasa Menjadi bingung tak kuasa menerka

Mana langit dan mana telaga?

“Bagus, bagus!” Tiong San dan Khu Sin memuji-muji keindahan sajak itu.

“Coba saja kalian dengarkan syairku, “ kata Khu Sin yang lalu membaca syairnya di atas kipasnya.

Perahu kecil diayun air telaga Tai-hu Bagaikan bayi dalam timangan ibu,

Menghadapi cawan penuh, dengan kawan-kawan bercengkerama Menikmati keindahan Tai-hu, raja telaga

Angin berkesiur lembut membawa nyanyian merdu Kalau surga bukan di sini, di mana adanya aku tak tahu!

“Waah, syairmu itu lebih indah lagi!” kata Thio Swie sambil bertepuk tangan memuji, sedangkan Tiong San juga mengangguk-angguk memuji.

“Eh, mana syairmu?” tanya Thio Swie sambil melihat kipas Tiong San yang masih kosong. Juga Khu Sin merasa heran dan menegur sahabatnya itu. Tiong San menjadi merah mukanya karena memang ia belum menuliskan sehurufpun di atas kipasnya. “Tunggu sebentar, kawan-kawan. Aku mendapatkan bahan baik untuk menuliskan syairku,” kata Tiong San dan kembali ia teringat akan orang gila yang ketika ia lirik ternyata masih saja duduk melenggut di bawah pohon sambil memegang gagang cambuknya seperti orang memancing ikan. Ia lalu mulai mencelupkan pitnya pada tinta hitam dan menulis dengan cepat seakan-akan tanpa dipikir lagi,

Memancing ikan dengan pecut tanpa kaitan Bersikap seperti Kiang Cu Ce sang budiman

Orang menyebutnya gila, memang dunia penuh orang gila! Yang waras dianggap gila, yang gila meraja lela

Aku .......

Belum habis Tiong San menuliskan syairnya, tiba-tiba Thio Swie berteriak keras,

“Hai, apa kamu gila ??” dan baru saja ia berseru demikian untuk menegur sebuah perahu besar yang

datang menubruk perahu kecil mereka. Tubrukan itu sudah terjadi dan hampir saja perahu mereka terguling! Baiknya perahu mereka yang kecil itu berdasar lebar hingga tidak terguling, hanya terombang- ambing dan terdorong sampai jauh.

“Kurang ajar!” seru Khu Sin

“Gila benar!” Thio Swie memaki. Akan tetapi perahu besar itu melewat tanpa memperdulikan mereka dan anak perahu hanya memandang sebentar sambil tertawa-tawa. Dari atas perahu besar itu terdengar nyanyian merdu dan melihat bendera yang berkibar di atas perahu, maklumlah ketiga orang muda bahwa itu adalah perahu seorang pembesar tinggi.

Tubrukan itu terjadi di tempat dekat pantai sebelah kanan di mana orang gila tadi duduk, dan perahu kecil Tiong San dan kawan-kawannya terdorong ke dekat pantai. Orang gila itu sedang memukul-mukul pecutnya ke air dan ketika Tiong San memandang, ia terkejut sekali karena ternyata bahwa di atas air depan orang gila itu, nampak beberapa ekor ikan besar yang mati mengambang.

Orang gila itu menggunakan pecutnya untuk mencambuk ikan-ikan besar yang berenang lewat dan dengan mudahnya menangkap ikan itu yang dikumpulkan di dekat tempat duduknya. Pada saat tubrukan terjadi, orang gila itu sedang mencambuk seekor ikan besar. Akan tetapi karena air menjadi bergelombang sebagai akibat tubrukan kedua perahu, maka ikan itu menjadi terkejut dan dapat menyelam ke bawah sebelum tubuhnya terpukul cambuk.

Melihat kegagalannya ini, si gila lalu mengangkat mukanya dan melihat betapa Thio Swie dan Khu Sin mengacung-acungkan tinju sambil marah-marah ke arah perahu besar. Ia tertawa bergelak-gelak.

“Ikan besar selalu mengganggu ikan kecil, juga perahu besar mengganggu perahu kecil,” katanya dengan suara parau dan yang hanya terdengar oleh Tiong San yang sedang memperhatikannya karena kedua orang kawannya sedang sibuk memaki-maki perahu besar itu. “Aku lebih suka menangkap ikan besar!” kata orang gila itu dan dan sekali ia menggenjot tubuhnya, ia telah melompat dengan luar biasa cepatnya ke atas perahu besar yang jaraknya tidak kurang dari tujuh tombak dari tempat duduknya.

Tiong San terkejut sekali dan kalau ia tidak sedang memperhatikan orang gila itu, tentu ia tidak melihat gerakan itu karena gerakan si gila memang cepat sekali dan tubuhnya yang melompat hanya nampak bayangan berkelebat saja. Tahu-tahu di atas perahu besar terdengar suara ribut-ribut dan orang berteriak- teriak.

“Orang gila! Orang gila!!” lalu terdengar suara cambuk berdetak-detak seperti orang lagi mencambuki kerbau yang dihalaunya pulang.

Thio Swie dan Khu Sin yang tidak melihat hal ini mengira bahwa orang-orang di atas perahu besar sedang memaki mereka, maka Thio Swie menjadi makin marah dan balas memaki.

“Kalian yang gila! Mengapa menabrak perahu kami?” Akan tetapi biarpun ia memaki berulang-ulang, tidak ada orang yang meladeninya, dan suara di atas perahu besar makin gaduh saja. Mereka bertiga yang berada di perahu kecil tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi di atas perahu besar yang tinggi itu. Akan tetapi dengan hati yang berdebar-debar, Tiong San dapat menduga bahwa si gila itulah yang mendatangkan keributan.

Memang benar, karena orang-orang di perahu besar tiba-tiba melihat seorang tua yang berpakaian tidak keruan sedang mengayun-ayunkan cambuknya memberi hadiah kepada para anak buah perahu dengan satu sabetan. Sabetannya membuat kulit menjadi biru dan terasa sakit sekali. Lagak si gila ini seperti seorang ayah yang sedang memberi ajaran kepada anak-anaknya, karena sambil tersenyum-senyum dan mata terputar-putar ia berkata berkali-kali,

“Nah, rasakan! Kalau tidak dicambuk kalian tidak akan kapok!”

SETELAH semua orang merasai cambukannya, si gila lalu melompat lagi ke darat. Akan tetapi tubuhnya menukik ke arah perahu Tiong San dan kawan-kawannya. Tiga orang anak muda itu hanya melihat bayangan hitam seperti burung garuda menyambar ke arah mereka dan ketika melihat lagi, bayangan itu telah lenyap dan bersama bayangan itu, ketiga buah kipas mereka juga turut lenyap!

Thio Swie dan Khu Sin saling pandang dengan muka pucat.

“Apakah yang menyambar tadi dan ... dan kipas kita telah digondol pergi!” kata Thio Swie dengan bengong.

“Jangan-jangan setan telaga Tai-hu!” kata Khu Sin dengan bulu tengkuk meremang. “Tiong San, mengapa kau diam saja?”

Tiong San memang sedang memandang ke arah tempat orang gila tadi duduk memancing ikan dan kini ia tidak melihat lagi orang itu yang telah pergi entah ke mana dan dengan cara entah bagaimana. Ia memandang kepada kedua kawannya dan mengangkat pundak.

“Aku sendiri tidak mengerti, bagaimana kipas kita bisa lenyap!” katanya. “Sayang sekali karena syairku tadi belum selesai!”

“Heran sekali, jangan-jangan benar seperti kata Khu Sin bahwa yang mengganggu kita adalah setan telaga Tai-hu,” kata Thio Swie.

“Sudahlah, hal ini baiknya jangan kita bicarakan lagi dan jangan memberitahukan kepada siapa pun juga,” kata Tiong San yang tidak mau menceritakan apa yang telah dilihatnya tadi. “Kalau benar-benar yang mengambilnya malaikat telaga, siapa tahu syair kalian yang amat bagus itu akan menyenangkan hati Hai- liong-ong (Raja Naga) yang menguasai semua air dan kau berdua diangkat menjadi pembesar!”

“Hush, jangan begitu, Tiong San!” kata Khu Sin dengan wajah pucat karena pemuda ini memang agak takhyul dan percaya kepada dongeng-dongeng tentang raja naga itu.

Juga Thio Swie yang biasanya suka berkelakar, kini menjadi pucat. “Aku .... aku tidak mau menjadi pembesar di dasar laut atau telaga! Mari mari kita pulang saja. Lebih baik aku pergi tidur di kamarku dan

kalau sudah bangun menganggap semua ini sebagai mimpi.”

Pada saat itu, perahu besar tadi di dayung menuju ke arah mereka dan dari atas perahu kelihatan kepala orang menjenguk ke bawah memandang kepada mereka.

“Eh, eh apakah mereka hendak menubruk kita lagi? Jangan-jangan perahu kita akan terbalik nanti, kata

Khu Sin dengan muka marah.

“Kalau kita tenggelam, barangkali kita memang sudah akan diterima menjadi pembesar air!” Thio Swie mulai berkelakar lagi setelah rasa kagetnya mereda.

“Hush, diam. Mereka rupanya hendak bicara dengan kita,” kata Tiong San.

Benar saja, perahu itu berhenti dekat perahu mereka dan orang yang menjenguk itu berpakaian seperti seorang pelayan pembesar, yang segera berkata, “Apakah sam-wi kongcu yang perahunya tertubruk tadi?” tanyanya.

“Benar, akan tetapi kami tidak pusingkan hal kecil itu,” kata Tiong San yang tidak mau berurusan dengan pembesar.

“Sam-wi, kalian dipersilahkan naik karena Ong-taijin (pembesar Ong) hendak bertemu dengan kalian.”

Tanpa menanti jawaban ketiga orang muda yang diundang itu, orang-orang di atas perahu besar segera menurunkan anak tangga terbuat dari kain yang menggantung turun sampai ke perahu kecil.

Post a Comment