Halo!

Pendekar Gila Dari Shan-tung Chapter 02

Memuat...

“Bagus, ternyata ingatanmu masih amat tajam!” Thio Swie memuji Tiong San. “Dan sajak yang baru saja diucapkan oleh Khu Sin amat baiknya, kalian harus diberi selamat dengan secawan arak!” sambil berkata demikian Thio Swie yang berwatak gembira lalu menuangkan arak dari guci, memenuhi cawan masing- masing dan mereka lalu mengangkat cawan dan minum dengan gembira.

“Sekarang giliranku,” kata Thio Swie sambil pasang aksi memikir-mikir dengan mengerutkan jidat bagaikan seorang ahli sastra beraksi. “Dengarkan baik-baik, Tiong San, karena kau tentu takkan bisa menerka siapakah pengarang sajak ini.” Thio Swie mengucapkan sajak pilihannya dengan mimik (gerak) muka yang lucu seakan-akan ia sedang beraksi di depan ribuan penonton di atas panggung.

Tiap hari cawanku penuh arak wangi, Duduk di taman bunga kecil indah sunyi,

Tiap hari aku bernyanyi dan menari gembira ria. Lempar jauh-jauh segala susah dan duka, Yang lalu hanya mimpi kosong belaka.

Lihatlah! Orang-orang besar mati menjadi tanah hampa, Tidak sibuk lagi memperebutkan kedudukan dan nama! Karenanya, bersenang-senanglah selagi kau bisa!

“Aah, siapa lagi orangnya kalau bukan Cu Si Cen yang tak kenal susah dan duka? Sudah semenjak kecil aku mengagumi orang itu!” kata Tiong San dan Thio Swie bertepuk-tepuk tangan dengan gembira lalu memperlihatkan ibu jarinya.

“Kau memang jempol, Tiong San! Sepintas saja kau sudah dapat menerka siapa penyairnya,” ia memuji dan menuangkan arak kembali ke dalam cawan masing-masing.

“Memang Cu Si Cen orangnya berwatak suci dan tidak mau memusingkan otaknya dengan segala keruwetan dunia. Sebagai seorang terpelajar yang gagal memperoleh kedudukannya menjadi tak acuh lagi dan menyerahkan diri kepada nasib,” kata Khu Sin sambil menarik napas. Kemudian ia memandang tajam kepada Tiong San dan tiba-tiba menepuk pundak kawannya itu. “Ah, Tiong San, aku menjadi ingat akan sesuatu. Kau mempunyai persamaan yang besar sekali dengan perenung itu!”

Tiong San hanya tersenyum pahit dan berkata, “Betapapun juga aku tidak suka kepada orang yang hanya menyerahkan diri kepada nasib tanpa mau berusaha dan berdaya upaya. Nasib adalah kurnia dari Thian Yang Maha Agung. Akan tetapi bukanlah kehendak Thian bahwa orang hanya menanti dan menyerahkan diri kepada nasib belaka, seakan-akan menyerahkan segala pekerjaan kepada Thian yang sudah cukup memberi berkah berlimpah-limpah! Orang-orang yang tidak mau berikhtiar dan hanya menyerahkan diri kepada nasib adalah orang-orang malas yang tiada guna!” Tiong San nampak bersungguh-sungguh ketika mengucapkan kata-kata ini sehingga kedua orang kawannya mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Coba saja kalian pikir!” kata pemuda itu pula yang biarpun masih muda sekali akan tetapi telah pandai menerawang dan mempergunakan otaknya secara luas. “Thian telah memberi kurnia kepada kita selengkapnya. Ada sepasang tangan untuk bekerja, sepasang kaki untuk berjalan, lengkap dengan otak dan perasaan ditambah pertimbangan dan kecerdikan. Akan tetapi kalau kita tidak berikhtiar, tidak berusaha dan bekerja, tidak mencangkul tanah dan mempergunakan kecerdikan sendiri untuk menanam gandum dan mengerjakan segala kebutuhan kita, tak mungkin segala macam makanan, pakaian dan keperluan lain datang sendiri! Thian cukup adil, dan murah hati, akan tetapi tidak seharusnya diperas habis-habisan!”

Tiba-tiba Thio Swie tertawa bergelak. “Tiong San, kata-katamu ini biarpun tak dapat kubantah kebenarannya, akan tetapi kenyataannya pada dewasa ini sama sekali menyangkal kebenaranmu! Lihat saja, orang-orang besar tanpa berusaha, tanpa berikhtiar, hanya dengan duduk ongkang-ongkang dan goyang-goyang kaki dan mengipas-ngipas tubuh di atas kursi, semua keperluannya datang berlebih- lebihan! Bukankah itu karena nasib mereka yang amat baik? Seperti Wu Yen Kau pernah menulis,

Nasib, kau makhluk penuh senda-gurau

Tak perduli kutuk tangis, tak hiraukan puji syukur! Kadang-kadang di sini, kadang kala di sana, naik turun, Mendatangkan senyum menimbulkan air mata!

“Itu bukan karena nasib, kawanku,” kata Tiong San sambil menarik napas. “Akan tetapi karena salahnya keadaan dan keadaan hidup manusia bukanlah datang dari Thian. Akan tetapi timbul oleh karena perbuatan manusia sendiri. Kalau pengemudinya tidak pandai memegang kendali, kuda-kudanya akan berlari liar dan kereta yang ditariknya akan lari pontang panting kacau-balau dan banyak kemungkinan masuk ke dalam jurang. Demikian pula, kalau pemegang kendali pemerintah kurang bijaksana, maka para petugas akan dimabok kecurangan dan rakyat akan mengalami hidup sengsara ”

“Sst! Tiong San, jangan keras-keras! Kita bukan berada di dalam sebuah kamar tertutup di rumah sendiri,” kata Khu Sin dengan muka khawatir.

“Dindingpun pada waktu ini bertelinga, kau harus bicara dengan hati-hati, kawan!” kata pula Thio Swie memperingatkan. “Lebih baik kita lanjutkan dengan sajak-sajak kuno yang mengandung banyak filsafat hidup dari pada membicarakan hal yang bukan menjadi tugas kita untuk memusingkannya. Ingatkah kau kepada ahli filsafat Cu Si yang pernah berkata,

Siapakah tak ingin biliknya penuh emas? Siapakah tak ingin gudangnya penuh gandum? Namun cita-cita akan tetap tinggal cita-cita

Kalau sang nasib tidak membantu pelaksanaannya! Nasib anak-anak pun tak dapat kau tentukan di muka!

“Ah, Thio Swie, kau harus menjadi seorang pemeluk agama Tao, pergi ke puncak gunung mengasingkan diri, duduk melamun sepanjang hari dan mengucapkan syair yang dibuat oleh Su Tung Po,

Mengapa mengejar-ngejar nama besar tak berharga, yang hanya terletak di atas tanduk seekor siput?

Mengapa mencari-cari keuntungan,

yang pada hakekatnya amat kecil hingga dapat ditimbang di atas kepala lalat? Semua itu tiada gunanya!

Segala sesuatu sudah ditentukan oleh sang nasib Siapa beruntung, siapa sengsara!

Ditegur sedemikian oleh Tiong San, Thio Swie hanya tersenyum gembira. “Kalau aku menjadi pertapa, hanya satu tempat yang akan kupilih menjadi tempat pertapaanku.”

“Di mana?” tanya Khu Sin.

“Di atas tempat tidur yang empuk dengan tilam yang putih bersih dan bantal kepala yang empuk dan harum!”

“Ah, kau pemalas, itu bukan pertapa namanya, akan tetapi tukang tidur dan mimpi!”

Ketiganya tertawa dan demikianlah ketiga orang muda itu tertawa-tawa gembira, mendeklamasikan sajak- sajak kuno dan bercakap-cakap tentang sastra yang menjadi kesukaan mereka. Keadaan di atas telaga makin ramai, perahu-perahu bertambah dan suara suling merayu-rayu yang diikuti suara yang-khim untuk mengiringi suara nyanyian merdu seorang penyanyi wanita, menambah gembira suasana.

Tiba-tiba di tempat perahu-perahu berkumpul terdengar seruan orang-orang sambil tertawa, “Orang gila! Orang gila!”

Tiong San dan dua orang kawannya memandang dan mereka melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus yang hampir telanjang karena tubuhnya hanya tertutup oleh sebuah celana yang pendek sampai di atas lutut sedangkan bajunya hanya menyerupai kutang yang menutup dada dan perut saja.

Laki-laki itu usianya paling sedikit lima puluh tahun, akan tetapi rambutnya yang panjang terurai ke atas kedua pundaknya, masih nampak hitam. Ia berjalan-jalan di antara perahu-perahu kosong yang belum mendapat penyewa dan menggunakan sebatang pecut panjang yang dipegang di tangan kirinya untuk memecuti perahu-perahu itu sambil mulutnya tiada hentinya berkemak-kemik. Orang-orang yang dekat dengan dia mendengar ia berkata perlahan.

“Ayo berkumpul .... pulang ke kandang .....” seakan-akan perahu-perahu itu adalah sekumpulan kerbau yang sedang digembala olehnya.

Orang gila yang suka mengamuk amat ditakuti orang. Akan tetapi orang gila yang tidak berbahaya selalu menjadi ejekan dan bahan godaan orang. Maka melihat betapa orang gila ini tidak berbahaya dan sama sekali tidak memperdulikan sekian banyak orang yang berada di pantai telaga, ada beberapa orang yang hendak menggodanya,

“Eh, orang tua, agaknya kau gila kerbau!” kata seorang sambil tertawa-tawa.

“Siapa bilang dia gila!” kata seorang lain. “Dia adalah seorang hartawan yang sedang menggiringkan seratus ekor kerbau ke kandangnya!”

Seorang nelayan lain yang merasa kurang puas kalau hanya menggoda dengan kata-kata saja, lalu melangkah maju hendak menarik rambut orang gila yang bergantungan di atas pundak itu. Akan tetapi sebelum ia tiba dekat, kakinya tergelincir di atas batu dan ia roboh terguling. Celaka baginya, ia terjatuh di tempat yang basah dengan muka lebih dulu sehingga ketika ia bangun kembali, mukanya penuh lumpur dan kedua matanya tak dapat melihat.

Ia mengangkat kedua tangan meraba-raba ke sana ke mari sambil mengumpat caci hingga semua orang tertawa terpingkal-pingkal dan kini orang itulah yang menjadi tontonan. Si gila dengan diam-diam terus melangkah maju menjauhi tempat ramai, lalu duduk di bawah pohon di bagian kanan telaga, memukul- mukulkan pecutnya pada air telaga seperti orang sedang memancing ikan. Orang-orang tidak memperhatikan lagi padanya karena tempatnya agak jauh dari tempat ramai.

“Ada-ada saja,” kata Thio Swie yang tadi ikut tertawa bergelak melihat nelayan yang jatuh. “Kawan-kawan, kipas kita masih kosong, mari kita isi dengan syair yang baik untuk kenang-kenangan!”

Kedua orang kawannya setuju dan mereka mulai sibuk menulis syair di atas kipas yang putih bersih itu. “Kalian telah belajar di kota raja, tentu saja aku tak dapat melawan kalian. Baik dalam susunan syairnya maupun tulisannya,” kata Tiong San.

Akan tetapi Thio Swie dan Khu Sin maklum bahwa tulisan Tiong San bukan main indahnya sehingga guru mereka sendiri dulu amat kagum memujinya. Sedangkan dalam hal pembuatan syair, pemuda itupun amat pandai.

Ketika Thio Swie dan Khu Sin sudah selesai membuat syair mereka, Tiong San masih saja duduk melamun dengan pit yang masih kering di tangan kanan dan kipas terbuka dihadapannya. Ia tak dapat menulis sesuatu oleh karena pikirannya masih penuh terisi peritiwa orang gila yang barusan terjadi.

Post a Comment