Dahulu, lebih dari 10 tahun yang lalu, ciangkun Sie Pek Hong menjadi perwira yang mengabdi pada sri baginda maharaja di kota raja; tetapi dia pernah ketangkap basah 'ada main' dengan salah seorang selir sri baginda maharaja, sehingga dia kabur menyimpan dendam terhadap orang- orang yang memusuhi dia, termasuk pangeran Giok Lun!
Kemudian Sie Pek Hong mengabdi pada pangeran Kim Lun di kota Oei-kee tin, dan putera sri baginda raja yang ke delapan ini; memang menyimpan dendam terhadap pangeran
2 Giok Lun, sebab diam-diam dia menyintai liehiap Liu Giok Ing tetapi kalah serobot dengan sang kakak yang lain ibu itu.
Setelah menerima Sie Pek Hong yang dijadikan perwira pada pasukan pelindung yang dimilikinya, dan setelah mengetahui bahwa Sie Pek Hong juga menyimpan dendam terhadap pangeran Giok Lun; maka mereka mengatur rencana hendak mencelakai pangeran Giok Lun, sekaligus mencelakai liehiap Liu Giok Ing.
Sementara itu, Sie Pek Hong yang memang pandai menghasut, berhasil membikin pangeran Kim Lun berminat untuk melakukan perbuatan makar; ingin menjadi raja memakai cara kekerasan, sebab dia mengetahui bahwa tidak ada kemungkinan kursi raja diwariskan kepada dia !
Jelas merupakan perbuatan Sie Pek Hong, yang sengaja melepas anak buah menyebar maut di kota-raja dan didalam istana kerajaan, dengan menggunakan senjata rahasia berbentuk bunga-cinta; sehingga liehiap Liu Giok Ing terkena fitnah dan ikut menyebar maut, bahkan sampai di kota San- hay koan, di tempat pangeran Gin Lun, sehingga terjadi salah mengerti antara pihak Gin Lun Hoat-ong dan Giok Lun Hoat- ong, disusul kemudian dengan tindakan sri baginda maharaja yang menangkap Giok Lun Hoat ong, mengakibatkan Giok Lun Hoat-ong tewas.
Semua perbuatan yang dilakukan Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing, sudah tentu tak lepas dari pengawasan ciangkun Sie Pek Hong yang menyebar anak buahnya; dan betapa ciangkun merasa kagum waktu menyaksikan kegagahan liehiap Liu Giok Ing yang mengamuk di istana-kerajaan. Rencana semula yang
3 hendak membunuh liehiap Liu Giok Ing, batal dia lakukan sebab 'ngeri' menghadapi 'macan-betina yang galak'; sebaliknya diam diam dia 'jatuh cinta' melihat kecantikan liehiap Liu Giok Ing, meskipun setelah 10 tahun liehiap itu menikah dan menjadi isteri pangeran Giok Lun.
Sepuluh tahun yang lalu, ciangkun Sie Pek Hong memang berada di kota raja dan mengabdi sri baginda maharaja; akan tetapi selama itu dia belum pernah melihat kecantikan liehiap Liu Giok Ing dan tak pernah menyaksikan kegagahan 'macan betina yang galak' itu. Cuma kabar-kabar angin yang mengatakan betapa cantiknya dan betapa gagahnya liehiap Liu Giok Ing. Sekarang, setelah dia melihat dengan sepasang matanya sendiri; amboi, kagak tahan dia dan gedebak- gedebuk jantungnya berontak mau copot, sehingga buru-buru dia membatalkan niat hendak membunuh, sebaliknya mengatur siasat 'mengasah otak,' ingin menangkap hidup kalau perlu membawa lari 'macan betina yang janda' itu, tanpa perduli Kim Lun Hoat-ong mengharap harap angin.
––––––––
“JIE-WIE MA CIANGKUN ...!” dia berteriak memanggil Ma Kong berdua Ma Kiang, selekas dia merasa sudah menemukan 'cara' memberikan umpan buat 'macan-betina yang dia rindukan'.
“Siap !" Ma Kong, Ma Kiang bersuara, selekas mereka sudah mendekati dan memberi hormat secara militer.
4 “Tangkap macan betina itu....!" perintah ciangkun Sie Pek Hong.
“Siap !" Ma Kong berdua Ma Kiang berbareng, dan berdiri tegak kagak bergerak. Ngeri disuruh nangkap macan galak.
“Jalan!" Sie Pek Hong bersuara galak, melihat dua pembantunya berdiri mematung.
“Ke mana .. ,?" sengaja Ma Kong menanya, menghambur waktu.
“Tangkap macan betina itu!"
“Ciangkun kagak ikut?" Ma Kiang yang berani menanya, sebab pernah 'nyogok cewek' buat atasannya itu.
“Entar, aku nyusul belakangan !"
“Sebaiknya ciangkun duluan, kami yang melindungi dari sebelah belakang." Ma Kiang lagi bicara.
“Kalian takut menghadapi macan betina itu?" sengaja Sie Pek Hong menanya, mengatasi rasa ngeri yang menghantui diri.
“Bukan takut, tetapi tugas kami adalah melindungi ciangkun. Sukar mencari ganti kalau ciangkun mati, ciangkun seorang yang berbudi baik hati." Ma Kong ikut ikutan bicara.
“He he ... !" dua kali he ciangkun Sie Pek Hong tertawa, merasa senang punya pembantu setia. Dua langkah dia berjalan maju dan berhenti lagi, teringat ingin ganti baju militer yang dipakainya, tetapi sayang tidak membawa bekal.
5 Terpaksa ciangkun Sie Pek Hong maju lagi, perlahan- lahan, berlaku waspada bakal menghadapi 'macan betina yang janda tetapi tetap galak'. Ma Kong berdua Ma Kiang mengikuti, juga perlahan waspada langkah kaki mereka, siap kabur !
“Tok-tok tok." ciangkun Sie Pek Hong mengetuk pintu, perlahan-lahan, bersenyum, selagi liehiap menangis-nangis didekat mayat suaminya.
Merah menyala sepasang mata liehiap Liu Giok Ing, waktu dilihatnya ada tiga orang perwira yang berdiri didekat pintu rumah gubuk. Tanpa mengucap apa-apa, tubuhnya bergerak menggunakan ilmu 'peng-see lok-gan', terbang macam burung belibis pindah tempat, sementara kepalan tangan kanannya menyodok bagian perut ciangkun Sie Pek Hong menggunakan jurus 'dewi cantik memberikan hadiah buah tho'.
Kaget ciangkun Sie Pek Hong, akan tetapi cepat dia bergerak menggunakan jurus 'mengganti ujut, berpindah tempat', tubuhnya miring sedikit kesebelah kiri, sementara sebelah tangan-kanannya bergerak memakai ilmu 'tek-seng ciu', atau memetik-bintang, sebab tangan kanan sudah terbiasa ingin menjamah bagian yang tiga-lima. Sayangnya tubuh liehiap Liu Giok Ing meluncur terlalu cepat, hinggap ditanah dengan sepasang kaki siap kuda-kuda meskipun tubuh membelakangi Sie Pek Hong.
Ma Kong berdua Ma Kiang yang sudah lebih dulu bergerak menyisi, sebab menduga bahwa liehiap Liu Giok Ing bakal 'numpang lewat' , sehingga nyaris mereka kena terjang. Setelah itu mereka melihat liehiap Liu Giok Ing berdiri
6 membelakangi mereka. 'Kesempatan ...' pikir mereka; seperti sudah janji, dua bersaudara ini bergerak berbareng, membacok pakai dengan gerak tipu 'tay-san ap-teng atau gunung tay-san menindih, ingin membelah empat tubuh liehiap Liu Giok Ing, lupa perintah menangkap hidup.
Cuma sedikit liehiap Liu Giok Ing bergerak, tubuhnya melesat ke udara seperti 'burung walet menembus angkasa'.
Dua golok Ma Kong dan Ma Kiang, membenam ditanah bekas tempat Liu Giok Ing tadi berdiri seperti patung. Dua bersaudara ini masih nungging waktu tubuh liehiap Liu Giok Ing meluncur turun, dan sepasang kaki 'macan betina yang hendak ditangkap' itu bergerak menendang selagi tubuhnya masih berada diudara bebas, kena pantat-pantat Ma Kong dan Ma Kiang, mengakibatkan tubuh Ma Kong berdua Ma Kiang terjerumus 'ngusruk' tengkurap, kena cium 'gituan' punya kerbau !
Ngomel-ngomel dua bersaudara Ma Kong dan Ma Kiang, selagi mereka berdua bangun berdiri dan mengusap-usap muka, sehingga waktu mereka bisa melek, sempat mereka melihat sang ciangkun sedang berkelahi melawan sang 'macan betina yang sangat pintar nendang' itu !
“Hebat juga ciangkun kita .....” pikir Ma Kong berdua Ma Kiang; sebab sempat melihat, sarung-pedang dilawan dengan sarung-pedang, sedangkan pedang yang tajam dilawan dengan pedang yang tajam juga. Tangan kiri yang memegang sarung-pedang, selalu bergerak memakai jurus 'tek-seng ciu' selalu ingin menyentuh bagian yang tiga-lima; sedangkan tangan kanan memegang pedang tajam, bergerak silih
7 berganti memakai Jurus 'hiu hie liang pou' atau ikan hiu menerjang gelombang, mencari sasaran dibagian pusar. Akan tetapi buru-buru ganti jurus kalau melihat pedangnya mau dibabat buntung; ganti memakai jurus 'kie hwee siao-thian' atau lepas api mau bakar langit, kepingin babat putus pembungkus kepala Liu Giok Ing.
Liehiap Liu Giok Ing buru-buru melompat mundur dua langkah kebelakang, tetapi Sie-Pek Hong telah menyerang lagi memakai pedangnya, menggunakan jurus pek-wan hian-ko' atau monyet-putih persembahkan buah; lurus-lurus pedangnya bergerak menikam bagian pusar, akan tetapi buru- buru pedang itu menghilang kalau mau dibabat buntung.
Sebaliknya sarung pedang ditangan kiri Sie Pek Hong, menyusul bergerak memakai jurus 'sian-wan cek-tho' atau sun-go-kong nyolong buah-tho, sebab sarung-pedang itu mau nyontek bagian tiga-lima.
Berteriak liehiap Liu Giok Ing marah-marah selagi mundur lagi tiga langkah kebelakang, sempat bikin Sie Pek Hong bengong ngawasin seperti terpukau; atau seperti sedang mikir-mikir, 'repot juga kalau punya bini yang suka berteriak semacam itu'.
Untung Sie Pek Hong cepat tersadar, sebab sempat melihat sepasang tangan liehiap Liu Giok Ing berkepal seperti tegang. Yakin dia bahwa 'macan-betina yang pintar menjerit' itu sedang mengerahkan tenaga dalamnya, entah berdasarkan aliran atau golongan sebelah mana; tetapi ogah Sie Pek Hong diajak ngadu tenaga seperti itu, yang bisa bikin darah segar ngocor keluar.
8 Dengan terburu-buru dia mundur kebelakang, habis sudah lupa yang tadi dia peroleh; lalu dia lompat tinggi-tinggi dan jauh seperti 'burung gagak mencari perlindungan diatas pohon-pohon beringin', tepat di saat liehiap Liu Giok Ing menyerang dengan menggunakan tenaga Eng-jiauw kang, mengakibatkan gempur berantakan tanah bekas tempat Sie Pek Hong tadi berdiri. Dan Sie Pek Hong harus buru-buru lompat lagi, turun mendekati tempat Ma Kong berdua Ma Kiang berdiri nonton; dan gerak lompat Sie Pek Hong tadi, memakai jurus 'ho-lip kee-kun' atau burung-bango hinggap di tempat anak-anak ayam.
Gempur berantakan daun-daun pohon beringin bekas Sie Pek Hong tadi berlindung, dan buru-buru Sie Pek Hong ngomel terhadap Ma Kong berdua Ma Kiang :
“Mengapa kalian cuma nonton ..."
“Bukan nonton, kami sedang berdiri untuk berjaga-jaga, siap melindungi kalau ciangkun terluka atau binasa ..." sahut Ma Kiang yang buru-buru lari ke sebelah selatan; sebab dilihatnya gerak tangan liehiap Liu Giok Ing yang ingin menyerang lagi, dan Ma Kong ikut kabur ke sebelah utara sebab melihat adiknya mendahului kabur, sedangkan ciangkun Sie Pek Hong ikut kabur sambil dia berteriak :
“Thio heng cepat keluar !"
Keluar si tinggi hitam Thio Hek dari tempat semak-semak yang banyak pohon alang-alang, gatal sepasang kaki dan sepasang tangannya, sehingga ia merasa perlu menggaruk- garuk selagi dia mendekati liehiap Liu Giok Ing, disaat ''macan
9 betina yang galak' itu habis menggempur tanah-tanah yang lumpur.
“Eh, siao-kouwnio. Kau ada disini ?" Thio Hek menyapa liehiap Liu Giok Ing, sengaja perlihatkan muka kaget dan heran,
Terbelalak sepasang mata liehiap Liu Giok Ing mengawasi si tinggi hitam yang suaranya serak-serak basah seperti Louis Armstrong dan terpukau dia waktu mendengar istilah 'siao- kouwnio' atau nona kecil. Siapa si tinggi hitam ini ?' pikir liehiap Liu Giok Ing didalam hati, merasa tidak kenal :
“Siapa kau ?” tanyanya dan bersikap galak.
“Eh, Siao-kouwnio. Apakah kau benar-benar lupa dengan aku ? Aku adalah Thio si hitam."
“Thio Hek ?" liehiap Liu Giok Ing mengulang, menyebut nama.
“Benar, Thio Hek yang dulu mengabdi pelayan suhu, Touw-liong cuncia diatas gunung Ouw bong-san !"