“Siang-kong, oh siang-kong ..."
Lembut dan lemah pangeran Giok Lun perlihatkan senyumnya, dan selemah itu juga sebelah tangannya bergerak hendak memegang sebelah tangan sang isteri tersayang, yang waktu itu sedang berlutut didekat tubuhnya.
“Moay-moay, mengapa kau mengeluarkan air mata ... ?"
Terisak liehiap Liu Giok Ing menangis, dan ikut dia rebahkan tubuhnya supaya dia bisa umpatkan kepalanya dibagian dada sang suami tersayang.
“Siang-kong, oh siang-kong ... " cuma itu yang sanggup dia katakan.
Lembut dan lemah pangeran Giok Lun membelai rambut isterinya, lalu dia membisik lemah dekat telinga isteri tersayang itu.
“Moay-moay; apakah kau lupa waktu dulu kita membicarakan perihal takdir. Hidup dan mati manusia berada ditangan Tuhan."
Bergerak Liu Giok Ing mengangkat mukanya dari bagian dada suaminya, mukanya basah dengan air mata dan sepasang matanya redup haru waktu mengawasi muka suaminya.
6 “Tidak siangkong, kau tidak akan mati." dan dikecupnya bibir sang suami tersayang; yang sedang perlihatkan senyum, senyum yang begitu lembut, senyum yang begitu lemah.
Tak ada kesanggupan lagi buat Giok Lun Hoat-ong ikut merangkul sang isteri tersayang dan tak ada kekuatan lagi buat dia balas mencium isterinya, sehingga isterinya yang berkata lagi :
“Siangkong. Tak sangka bahwa siangkong bakal menderita seperti ini; akibat ..."
Bagaikan mendapat tambahan tenaga tenaga gaib, sebelah tangan Giok Lun Hoat-ong sanggup menutup mulut isterinya; dan bagaikan mendapat tambahan tenaga gaib, Giok Lun Hoat-ong sungguh mengucap kata kata ;
“Tidak moay-moay, jangan kau menyesali diri dan tak pernah aku menyalahkan kau untuk apapun yang kau lakukan."
Bertambah deras liehiap Liu Giok Ing mengalirkan air matanya. Ketika didengarnya perkataan suaminya itu, dan sekali lagi dia merangkul suaminya; lalu dia berkata diantara isak tangisnya :
“Siangkong, maafkan aku,"
“Tidak moay-moay, tidak ada yang harus aku maafkan sebab tidak ada kesalahan yang kau perbuat, aku hanya merisaukan kau, moay-moay; sebab setelah aku mati, kau akan sebatang kara, entah dimana sekarang adikmu berada.”
7 “Tidak siangkong, aku akan ikut mati. Kita mati bersama sama," terlalu cepat liehiap Liu Giok Ing untuk mengeluarkan kata kata itu, begitu tiba-tiba dia memutuskan, setelah dia menyadari betapa besar kasih sayang suaminya terhadap dirinya.
“Tidak ! Tidak !” Giok Lun Hoat-ong membantah dan dia menyambung lagi perkataannya, setelah berhasil dia memisah diri dari rangkulan isterinya :
“Memang berat hatiku meninggalkan kau moay-moay; terasa hancur hatiku oleh pemisahan kita. Akan tetapi, aku tidak rela membiarkan kau bunuh diri !"
Liehiap Liu Giok Ing memaksakan dirinya buat perlihatkan senyumnya, dan sekali lagi dikecupnya bibir suaminya, setelah itu baru dia berkata lagi :
“Siangkong, aku cinta padamu. Aku tak mau berpisah dengan siangkong ..."
Terbelalak sepasang mata Giok Lun Hoat-ong; meskipun sepasang mata itu sudah redup sayu. Sudah sepuluh tahun mereka menikah sudah sepuluh tahun mereka hidup bersama sebagai suami isteri, baru hari ini dia mendengar pernyataan bahwa isterinya menyintai dia ! Oh Tuhan, dan dia mengucapkan terima kasih Tuhan ...' dan cepat-cepat Giok Lun Hoat ong berkata kepada isteri tersayang itu :
“Moay-moay, kalau benar kau menyintai aku seperti aku menyintai kau, seperti aku menyayangi kau; maka berjanjilah kau, jangan kau lakukan bunuh diri supaya jiwaku tenang ..."
8 Terasa begitu pedih, sangat pedih; waktu Liu Giok Ing mendengar permintaan suami tersayang itu. Air matanya semakin deras yang mengalir keluar, suaranya bagaikan membisik waktu dia memberikan janjinya, demi suami tersayang :
“Aku berjanji, siangkong." dan sekali lagi dia merangkul suaminya; sekali lagi dia terisak menangis.
“Terimakasih, moay-moay," Giok Lun Hoat ong bersuara lemah, membiarkan dirinya dirangkul oleh isteri kesayangannya; lalu selemah itu juga dia berkata lagi :
“Moay-moay, masih ingatkah moay-moay dengan tempo dulu, disaat kita menghadapi bulan-bulan yang penuh madu .. ?"
“Tentu siangkong, tentu.." sahut Liehiap Liu Giok Ing; tanpa dia menyadari apa maksud perkataan suami tersayang itu.
“Waktu itu, waktu mula-mula, Moay-moay seperti merasa tidak rela, seperti merasa .. "
“Siangkong ... !" buru-buru Liehiap Liu Giok Ing memutus perkataan suaminya dan dia bahkan melepaskan rangkulannya, mengawasi suaminya yang waktu itu sedang bersenyum, meskipun kelihatan seperti meringis menahan rasa sakit, dan suami itu kemudian memaksa untuk bicara lagi:
“Aku tahu, waktu itu moay-moay menikah dengan aku tanpa kau menyertai cinta; sebab ada laki-laki lain yang kau cintai. Akan tetapi aku berusaha hendak memperoleh cinta kau, moay-moay; sebab aku benar-benar menyintai kau.
9 Sedangkan laki laki yang kau cintai itu, aku tahu dia sudah lebih dahulu menikah bahkan kemudian dia memperoleh seorang putera. Aku sengaja memberitahukan kepada kau, moay-moay; bukan maksud aku menyakiti hatimu, tetapi aku menghendaki supaya kau jangan terus merana, supaya kau jangan terus memikirkan dia. Aku.. aku ..."
“Siang kong ... !"
Sekali lagi liehiap Liu Giok Ing merangkul, ketika dilihatnya suaminya bagaikan tak sanggup lagi meneruskan perkataannya.
“Giok moay; ciumlah aku. Peluklah aku, Giok moay ..."
Liehiap Liu Giok Ing memenuhi permintaan suaminya, tanpa menyadari bahwa sudah habis napas suaminya, selekas suaminya menyelesaikan perkataannya.
“Siang-kong ! Oh siang-kong ... !" tambah keras isak tangis liehiap Liu Giok Ing, ketika diketahuinya suaminya sudah mati; bahkan berulangkali dia masih mencium mulut suaminya, sampai tiba-tiba dia merasakan ada darah yang keluar dari mulut suaminya, darah suaminya yang ikut melekat dimulutnya yang mencium suaminya.
---o~dwkz^)(^hendra~o---
SEMALAMAN SUNTUK Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing merangkul tubuh suaminya yang sudah menjadi mayat, yang tewas dipinggir jalan raya; dan kemudian mayat itu dibawa
0 oleh liehiap Liu Giok Ing, berhasil menemukan sebuah rumah gubuk kecil didekat sawah.
Tak hentinya liehiap Liu Giok Ing menangisi mayat suaminya, disertai dengan peluk cium yang tak bosan-bosan dia lakukan, bahkan sampai sejenak dia pulas tertidur, lalu menangis lagi dan tertidur lagi.
Pagi harinya liehiap Liu Giok Ing tersentak bangun; sebab mendengar pekik teriak dari banyaknya suara orang-orang :
“Tangkap ! Pembunuhnya ada disini !"
Bagaikan seekor macan betina yang galak Liu Giok Ing lompat bangun dari sisi mayat suaminya, langsung keluar dari rumah gubuk yang kecil itu lalu dilihatnya ada belasan tentara kerajaan, yang sedang mendekati dan berusaha hendak mengurung rumah gubuk itu.
Sepasang mata Liu Giok Ing bersinar menyala, menyimpan dendam sebab suaminya justeru mati ditangan tentara kerajaan.
Segera terdengar pekik suaranya yang nyaring menggetarkan sekitar tempat itu; lalu tubuhnya lompat melesat mendekati tentara kerajaan itu, langsung mengamuk tanpa menggunakan pedang ku-tie kiam yang tetap berada didalam sarung, namun sepasang tangannya bagaikan menyimpan tenaga yang maha besar, sebab memang dia sedang mengerahkan ilmu Eng-jiauw kang, atau ilmu pukulan 'cakar elang' yang terkenal dahsyat dikalangan rimba persilatan.
1 Dalam waktu yang cukup singkat, belasan tentara kerajaan itu rebah bergelimpangan menjadi mayat; sementara perhatian Liu Giok Ing pindah kepada rakyat jelata yang ikut berkumpul, sebab mereka mendengar suara ribut-ribut tentara yang hendak menangkap pembunuh; dan Liu Giok Ing yang jiwanya memang sedang terguncang, merasa begitu tertekan. Sehingga dia salah mengerti menganggap orang- orang itu hendak membawa lari mayat suaminya, sehingga sekali lagi dia mengamuk, mengakibatkan orang-orang itu berteriak mengatakan 'ada orang gila ngamuk' dan teriakan mereka itu justeru membangkitkan kemarahan Liu Giok Ing, sehingga semakin mengganas dia mengamuk !
Perbuatan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing saat itu, jelas dia lakukan diluar kesadarannya; dan semua perbuatannya itu, tanpa diketahuinya diintai oleh serombongan orang orang yang dipimpin oleh ciangkun Sie Pek Hong, perwira yang mengabdi pada pangeran Kim Lun di kota Oei-kee tin, yang letaknya disebelah timur dari kota raja.