Halo!

Pendekar Bunga Cinta Chapter 16

Memuat...

“Kurang ajar !" perwira itu memaki; ingin masuk lagi kedalam kamar selir raja, akan tetapi batal dia lakukan ketika seorang tentara lain memberitahukan tentang adanya kebakaran.

"Kebakaran dimana ?” tanya perwira itu marah-marah.

“Di kandang kuda !"

“Sialan !" tetapi buru-buru perwira itu lari menuju kandang kuda, takut kudanya terbakar.

Dalam keadaan yang kacau-balau yang semacam itu, liehiap Liu Giok Ing berhasil melukai seorang tentara kerajaan, dan korban itu kemudian dia tarik-tarik mencapai sudut tempat yang cukup gelap. Dilepaskannya semua pakaian tentara itu yang lalu dia pakai; sehingga dilain saat liehiap Liu Giok Ing berobah menjadi seorang tentara, yang lari pincang- pincang diantara banyaknya tentara yang sedang lari-lari. Akan tetapi, liehiap Liu Giok Ing bukan lari mendekati tempat kebakaran, sebaliknya lari ketempat penjara dibawah tanah, yang memang sudah dia ketahui letak tempatnya; sebab dulu pernah dia ubrak-abrik berantakan !

8 Ada sebuah lubang angin diantara sekian banyaknya lubang-angin yang berangka tulang-besi, akan tetapi pedang ku-tie kiam mudah saja membabat putus tulang-tulang besi itu, dan nyeplos masuk tubuh liehiap Liu Giok Ing kedalam ruangan penjara dibawah tanah; akan tetapi selekas itu juga kehadirannya diketahui oleh dua orang petugas penjaga penjara.

“Eh, ngapain kau masuk dari lubang angin..." tanya salah seorang petugas penjara itu; menganggap liehiap Liu Giok Ing adalah tentara yang bertugas menjaga dibagian luar.

Tanpa mengucap kata-kata, liehiap Liu Giok Ing 'menyapu' memakai pedang ku-tie kiam; sehingga bergelundungan jatuh dua kepala manusia yang mati penasaran !

Datang lagi dua orang petugas penjara yang sempat melihat kejadian itu, mereka berteriak kaget; tetapi cuma sempat sekali menangkis pedang ku-tie kiam yang datang menyambar, lalu senjata mereka putus menjadi dua dan tulang iga mereka ikut putus, sehingga ajal menjadi bagian mereka.

“Siangkong ---!!” liehiap Liu Giok Ing berteriak haru ketika dilihatnya suaminya sedang rebah meringkuk didalam kamar tahanan berpintu dan bertulang besi.

“Moay-moay ---!" pangeran Giok Lun bersuara lemah tetapi girang; melihat kedatangan isteri tersayang yang selalu dia pikirkan, yang dia merasa cemas, khawatir isteri tersayang mendapat cedera.

9 Sepasang mata liehiap Liu Giok Ing basah dengan air mata, melihat keadaan suaminya yang ikut menderita; lalu pedang ku-tie kiam merusak pintu tempat tahanan, dan Liu Giok Ing masuk lalu merangkul dan menangis.

“Siangkong, maafkan..." kata Liu Giok Ing diantara suara isak tangisnya, tetapi suaminya cepat-cepat memutus perkataannya:

“Huuuuusssh, jangan menangis moay-moay." dan pangeran Giok Lun membelai rambut isteri kesayangannya.

“Siangkong, kita harus cepat-cepat lari dari sini ..." kata liehiap Liu Giok Ing dalam rangkulan suaminya.

Terdiam Giok Lun Hoat-ong tidak segera memberi jawaban, sehingga liehiap Liu Giok Ing melepas diri dari pelukan suaminya mengawasi dengan sepasang mata basah dan bersinar redup-haru.

“Moay-moay, kakiku masih sakit, lukanya membengkak sehingga tidak mungkin aku bisa lari !"

“Akan kugendong !" terlalu cepat liehiap Liu Giok Ing menjawab, dan dia bahkan langsung bangun berdiri, siap dengan bagian punggung buat tempat sang suami.

“Sebelah tanganku masih sakit, tak mungkin aku ikut bertempur."

“Siang-kong tidak perlu ikut berkelahi...” Liu Giok Ing memaksa; sehingga pangeran Giok Lun bagaikan terpaksa, membiarkan diri digendong oleh 'macan betina kesayangannya' itu.

Cheng Hwa Lie Hiap (Pendekar Bunga Cinta)

110 Hilang rasa sakit pada sebelah kaki liehiap Liu Giok Ing yang bekas kena tendang; sebab dia menyadari bahwa dia harus menolong dan melindungi suaminya; terlalu pesat gerak tubuhnya waktu dia lompat keluar dari penjara dibawah tanah, bagaikan dia tidak merasa terintang meskipun harus menggendong sang suami.

Tetapi, selekas dia berada dihalaman istana kerajaan, maka secepat itu juga dia dikurung dan dikepung oleh sejumlah tentara kerajaan.

“Tangkap ! ada orang bongkar penjara..!" mereka berteriak-teriak; mengakibatkan beberapa orang perwira ikut melibatkan diri dalam pengepungan itu.

“Siang-kong, berpeganglah yang erat..." bisik liehiap Liu Giok Ing dekat muka suaminya; sadar bahwa dia harus melakukan pertempuran yang berat.

“Baik moay-moay, tetapi berhati-hatilah kau ... "

Tersenyum liehiap Liu Giok Ing mendengar kata-kata suaminya, untuk yang kesekian kalinya, dia menyadari betapa suaminya menyintai dia, dan yang selalu mengharapkan mendapat cinta-kasih dia.

Akan tetapi, cinta-kasih yang diharapkan oleh suaminya, sudahkah dia berikan ?

Sepuluh tahun mereka menikah dan menjadi suami-isteri, sepuluh-tahun suaminya memberikan kasih sayang yang begitu besar; tetapi mengapa dia masih tidak bisa melupakan laki-laki si 'pencuri-hati' ? Dan lelaki itu bahkan sudah

1 melupakan dia, sudah menikah dan sudah mempunyai anak. Mengapa masih dia pikirkan, seolah-olah masih dia harapkan?

Tak sempat liehiap Liu Giok Ing berpikir lama, sebab waktu itu dia harus sudah mulai mengamuk, membuka 'jalan darah' berusaha menerobos kepungan; ingin menyelamatkan suami tersayang. Dia suami tersayang. Mulai malam itu, mulai detik itu; Giok Lun Hoat-ong adalah suami tersayang, yang akan dia berikan semua cinta kasihnya, meskipun cuma sisa !

Gesit dan lincah gerak tubuh liehiap Liu Giok Ing yang mengamuk ditengah kepungan sekian banyaknya tentara kerajaan, juga Giok Lun Hoat ong ikut melakukan penyerangan dan pembelaan diri, memakai sebatang tombak yang berhasil dia rampas dari seorang tentara kerajaan; tetapi gerak pangeran itu sudah tentu tidak sebebas seperti dia berdiri diatas dua kakinya sendiri.

Pedang ku-tie kiam yang terkenal ampuh dan tajam, berhasil membikin putus berbagai macam senjata yang kena menyentuh; mayat mayat semakin banyak yang bergelimpangan, di samping mereka yang terluka parah maupun ringan. Tetapi pasukan yang mengurung dan mengepung bukan menjadi berkurang, bahkan bertambah banyak; juga menteri kehakiman ikut-ikut mengirim bantuan berupa tenaga polisi yang membawa pentungan besi.

“Siangkong, buang tombak yang kau pegang dan tutuplah erat-erat sepasang telinga siangkong..." sekali lagi liehiap Liu Giok Ing membisik dekat telinga suami tersayang.

Meskipun pangeran Giok Lun tidak tahu dengan maksud isterinya, akan tetapi dia percaya penuh dengan kesaktian

2 isterinya, maka itu dia menurut apa yang diminta isterinya, sehingga pada detik berikutnya terdengarlah suara pekik yang keras dari liehiap Liu Giok Ing, pekik suara yang dapat memecah perhatian orang-orang.

Bertepatan dengan itu, sebelah tangan kiri liehiap Liu Giok Ing bergerak menyebar senjata rahasia berbentuk bunga- cinta; begitu cepat gerak tangan kirinya, sehingga suaminya tidak sempat melihat waktu isterinya meraup segenggam senjata rahasia itu dari kantong bajunya, lalu menyebarkan senjata-rahasia yang berbentuk bunga-cinta ke arah para- pengepung, sebab liehiap Liu Giok Ing bergerak menggunakan ilmu 'memetik-daun menerbangkan-bunga'.

Kemudian dengan mengerahkan tenaga Eng-jiauw kang, sebelah tangan kanan liehiap Liu Giok Ing yang memegang pedang ku-tie kiam tetapi yang sudah masuk kedalam sarung; bergerak bagaikan memukul udara kosong, tetapi mengakibatkan beberapa orang tentara terpental dengan mulut mengeluarkan darah-segar, bahkan tanah ikut kena tergempur berhamburan !

Menggunakan kesempatan pihak pengepung sedang terpukau ketakutan, maka dengan gerak 'yan-cu coan-in' atau burung-walet menembus angkasa tubuh liehiap Liu Giok Ing melesat keatas genting; menyusul kemudian tubuhnya melayang lompat kearah sebelah luar halaman istana, menggunakan ilmu 'peng-see lok-gan' atau burung-belibis hinggap di pasir, tanpa dia menghiraukan betapa derasnya hujan anak-panah yang lewat disekeliling tubuhnya, juga dibagian sebelah bawah, juga dibagian sebelah atas!

3 Setelah berada dibagian luar halaman istana kerajaan, maka liehiap Liu Giok Ing mengerahkan ilmu 'pat-pou kan- siang' atau delapan langkah mengejar-dewa; kabur cepat cepat menuju arah sebelah selatan.

“Kita selamat, siangkong..." kata liehiap Liu Giok Ing selagi dia masih lari ngos-ngosan; menggendong sang suami tersayang dibagian punggung, dan berhasil sudah dia melewati pintu kota raja sebelah selatan.

“Hu uh..," sahut sang suami tersayang, terdengar lemah suaranya; akan tetapi bagaikan tersentak Liu Giok Ing, sewaktu dia merasakan seluruh tubuh suaminya seolah-olah menegang.

“Siangkong, kau kenapa ....?" tanya Liu Giok Ing yang mendadak merasa cemas; tetapi sambil tetap lari.

Sejenak suami tersayang itu tidak memberikan jawaban, sampai sesaat kemudian, barulah Liu Giok Ing mendengar perkataan suaminya.

“Moay-moay tentu letih, sebaiknya kau istirahat dulu , ."

Tersenyum liehiap Liu Giok Ing mendengar perkataan suaminya yang tidak menjawab pertanyaannya; sebaliknya memikirkan sang isteri yang nanti keletihan. Untuk yang kesekian kalinya, suami tersayang itu perlihatkan kasih sayangnya kepada isterinya; sehingga lupa Liu Giok Ing dengan rasa cemasnya tadi dan lupa juga dengan rasa letih yang sedang dia derita. Terlalu berat perjuangannya selama dua hari itu, dia bahkan tidak tidur, tidak makan; cuma minum air sungai waktu diperjalanan tadi. Dan yang lebih berat lagi,

4 dia menderita kegoncangan jiwa akibat berbagai peristiwa yang terjadi begitu tiba-tiba. Urusan fitnah atas dirinya, urusan Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang ikut memusuhi dia, urusan pangeran Gin Lun yang menjadi dalang dari semua peristiwa itu, dan urusan suaminya yang ikut menderita; yang bahkan menjadi tahanan didalam penjara atas perintah ayahnya sendiri !!

“Moay-moay, istirahatlah dulu. Aku...”

Sekali lagi liehiap Liu Giok Ing menjadi terisak waktu mendengar suara suaminya, yang tidak melengkapi kalimat perkataannya; hilang-lenyap semua yang dipikirkannya, sebaliknya kembali dihantui oleh rasa cemas.

“Kenapa ? Apakah suaminya ... ?”

“Siangkong, kau kenapa--?” sekali lagi liehiap Liu Giok Ing menanya, dan memperlambat larinya.

“Aku, aku terluka ... "

Bagaikan hilang lenyap tenaga liehiap Liu Giok Ing waktu didengarnya perkataan suami tersayang itu; berhenti dia lari dan berhati-hati dia menurunkan suami tersayang dari bagian punggungnya, setelah itu, hampir-hampir dia berteriak, sebab dilihatnya ada dua batang anak panah yang membenam dibagian punggung suaminya!

“Siangkong, kau ... !" tak sanggup liehiap Liu Giok Ing meneruskan perkataannya; lembut dan berhati-hati dia merebahkan tubuh suaminya, rebah miring sehingga sempat dia melihat, betapa dalamnya anak panah itu membenam didalam tubuh suaminya. Begitu dalam sehingga dia yakin

5 akan sia-sia dia berusaha mencabut anak panah itu dari tubuh suaminya. Tiada harapan lagi buat dia menolong nyawa suami tersayang itu !

Post a Comment