Halo!

Pendekar Bunga Cinta Chapter 15

Memuat...

0 kesayangannya mendapat cedera; sehingga sekali lagi dia memerintahkan Lim ciangkun mencari isterinya.

Justeru selagi dia sedang risau dan bingung datang menteri kehakiman Pauw Goan Leng, dan menteri yang tua usia ini tidak langsung mengeluarkan surat perintah penangkapan yang dia terima dari sri baginda maharaja, sebaliknya dia hanya mengatakan bahwa sri baginda maharaja memanggil sang pangeran dan isterinya buat menghadap.

Bertambah bingung pangeran Giok Lun yang mengetahui maksud kedatangannya menteri kehakiman. Haruskah dia beritahukan bahwa isterinya belum pulang, bekas semalam pergi meninggalkan rumah ? Kemana ? Repot juga pangeran Giok-Lun; kemungkinan isterinya akan mendapat tambahan fitnah dianggap biasa keluyuran diwaktu malam sampai pagi belum pulang.

“Pauw-heng, sesungguhnya aku sangat menyesal bahwa sekali ini aku tidak mungkin memenuhi panggilan hu-ong. Bukan sebab aku sengaja tidak mentaati panggilan hu-ong akan tetapi sesungguhnya isteriku sedang pergi dan belum pulang."

“Pergi kemana ?” tanya Pauw Goan Leng tanpa terasa, sebab tidak seharusnya dia berani melakukan pertanyaan semacam itu.

“Keluar kota !" sahut pangeran Giok Lun singkat, seperti merasa tersinggung.

Sejenak hening tidak ada yang bicara; akan tetapi kepala menteri kehakiman itu mengangguk-angguk sambil dia

1 perlihatkan senyumnya. Senyum yang susah diartikan oleh pangeran Giok Lun. Mungkinkah menteri yang tua usia ini sudah mendengar perihal fitnah mengenai isterinya ? Atau mungkinkah menteri-kehakiman ini justeru ikut menduga atau menuduh isterinya yang melakukan pembunuhan- pembunuhan itu ?

Disaat menteri-kehakiman Pauw Goan-Leng membuka mulut hendak bicara, mendadak dia harus menunda sebab seorang pelayan datang membawa laporan, mengatakan Sui Lan pergi menghilang sejak pagi-pagi tadi.

“Akh ... !” pangeran Giok Lun bersuara tertahan cuma itu: lalu cepat-cepat dia perintahkan pelayan itu pergi tanpa dia perdulikan soal menghilangnya Sui Lan. Pikirannya sedang dia pusatkan terhadap persoalan isterinya dan urusan panggilan sang ayah yang begitu tiba-tiba.

Sementara itu, menteri kehakiman Pauw-Goan Leng yang tadi batal bicara; kemudian dia mengeluarkan surat perintah yang dia terima dari sri baginda maharaja, sehingga sudah tentu pangeran Giok lun menjadi semakin bertambah kaget dan bingung. Tetapi seorang anak yang berbakti kepada ayahnya, lagipula dia merasa tidak bersalah; maka dengan tenangkan diri akhirnya dia ikut menteri kehakiman, untuk dibawa menghadap kepada sri baginda maharaja.

Dilain pihak, dengan langkah kaki yang masih pincang, disaat hari sudah mulai malam; Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sedang menempuh perjalanan seorang diri, sudah hampir tiba di pintu kota raja sebelah selatan.

2 Sejenak Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing berdiri diam bersandar pada sebuah pohon beringin. Terlalu letih keadaan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing waktu itu; sepasang matanya redup, sayu dia mengurung diri dalam rangkulan suaminya, tidak pernah melakukan perjalanan yang sejauh itu; tidak membegal uang-saku sehingga tidak mungkin dia menyewa sebuah kereta kuda.

Sepuluh tahun lebih dia tidak pernah berkecimpung lagi didalam kalangan rimba persilatan, bahkan sudah tidak dia perhatikan lagi. Sekarang, secara tiba-tiba dia harus berlari, melawan sekian banyak orang yang mengepung dia, bahkan Kanglam liehiap Soh Sim Lan ikut-ikut menentang dia, kenapa? Terasa pedih dan sakit hatinya kalau dia teringat lagi dengan kejadian itu, sehingga dendamnya terhadap pangeran Gin Lun menjadi kian bertambah; pangeran Gin Lun yang sudah memfitnah dia, dan pangeran Gin Lun yang menghasut orang orang yang memusuhi dia, termasuk Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang satu perguruan dengan adiknya, Liu Goat Go.

“Moay-moay, dimana kau berada ...?" Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing berkata perlahan; teringat dengan adiknya yang tidak dia ketahui jejaknya sehingga bertambah dia penasaran dengan Kanglam liehiap Soh-Sim Lan. Andaikata tadi mereka sempat bicara, ingin benar dia menanyakan perihal adiknya itu.

Lesu bagaikan kehilangan gairah, liehiap Liu Giok Ing melangkah lagi hendak mencapai pintu kota raja; tetap timpang langkah kakinya, dan mendadak dia menunda lagi

3 langkah kakinya, sebab telinganya yang memang sudah terlatih, mendadak mendengar suara yang tidak wajar.

Segera Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing memusatkan alat pendengarannya, sehingga sesaat kemudian dia merasa yakin bahwa suara yang didengarnya adalah suara rintihan seseorang. Suara rintihan seseorang yang sedang menahan rasa sakit, dan seseorang itu adalah seorang laki-laki.

Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing meneliti lalu mendekati arah suara rintihan itu terdengar; sehingga dilain saat dia menemukan Lim ciangkun yang rebah terluka parah dekat sebuah selokan.

“Lim ciangkun !" liehiap Liu Giok Ing bersuara kaget.

“Nio-cu .." Lim ciangkun bersuara lemah, terlalu parah luka yang dideritanya.

“Lim ciangkun; mengapa kau terluka ?" tanya liehiap Liu Giok Ing, yang terpaksa harus setengah berlutut memeriksa luka perwira yang tugasnya sebagai pelindung dirumahnya.

“Nio-cu, ong-ya ditangkap ..."

“Heh !" kaget liehiap Liu Giok Ing; dan bersusah payah Lim ciangkun menceritakan peristiwa yang terjadi.

Siang tadi Lim ciangkun pulang sehabis sia-sia mencari liehiap Liu Giok Ing, akan tetapi dia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Giok Lun Hoat-ong sudah ditangkap oleh menteri kehakiman, berdasarkan perintah dari sri baginda maharaja.

4 Lim ciangkun bergegas meninggalkan rumah; hendak mencari keterangan tempat ditahannya Giok Lun Hoat-ong, sampai kemudian diketahui olehnya bahwa pangeran itu ditahan didalam istana raja, dibagian bawah tanah. Kaget dan cemas Lim ciangkun sebab dia tidak berdaya buat memberikan pertolongan, dan dia menjadi lebih kaget lagi; ketika pihak istana-kerajaan sudah mengetahui bahwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengacauan dirumahnya pangeran Gin Lun, di kota San hay koan, sehingga liehiap Liu Giok Ing juga sedang dicari oleh pihak kerajaan untuk ditangkap !

Semakin Lim ciangkun menjadi kaget bahkan menjadi gugup, terlebih ketika ada seorang dari pihak istana kerajaan yang melihat dia; dan mengenali dia sebagai perwira yang bertugas dirumah Giok Lun Hoat-ong dan orang itu lalu memanggil kawan-kawan mereka, untuk menangkap Lim ciangkun dengan harapan mendapat jasa dari sri baginda maharaja.

Dalam gugupnya Lim ciangkun melakukan perlawanan, sehingga semakin lama semakin banyak tentara-kerajaan yang mengepung dia; dan mereka bahkan berteriak 'tangkap pembunuh' setelah Lim ciangkun melukai beberapa orang yang hendak menangkap dia.

Terpaksa Lim ciangkun berlari-lari dan bertempur karena dia terus dikejar, sampai akhirnya dia terluka parah tetapi dia berhasil menghilang dari para pengejarnya; lalu sengaja dia menuju ke pintu kota raja sebelah selatan, bermaksud menunggu kedatangannya sang nio-cu, yang katanya sedang

5 dalam perjalanan habis melakukan pembunuhan dirumahnya pangeran Gin Lun di kota San-hay koan !

Berhasil Lim ciangkun bertemu dengan isteri majikannya, dan berhasil Lim ciangkun menceritakan peristiwa itu; tetapi setelah itu dia mati dekat kaki isteri majikannya.

Menangis liehiap Liu Giok Ing didekat mayat Lim ciangkun, menangis bukan buat yang mati; akan tetapi buat sang suami yang ikut menderita karena perbuatan dia.

Jelas Gin Lun Hoat ong sudah memberikan laporan ke istana-kerajaan; dan yang membawa laporan itu tentu naik kuda; sehingga mendahului liehiap Liu Giok Ing yang jalan pincang-pincang.

“Siangkong; oh siangkong ... - " liehiap Liu Giok Ing mengeluh diantara isak-tangisnya; untung tidak ada orang yang mendengarnya. Andaikata ada yang mendengar atau melihat, tentu dianggapnya bahwa Lim ciangkun yang tewas adalah suaminya liehiap Liu Giok Ing.

Bertekad liehiap Liu Giok Ing mencari suaminya, tak perduli dia harus mempertaruhkan nyawa, tak perduli dia harus menyebar maut lagi!! Sekali ini dia akan berkelahi, untuk suami dan untuk dirinya sendiri.

Sepasang matanya bersinar menyala waktu dia bangun berdiri, lalu didalam hati dia mengucap kata-kata 'maaf' kepada Lim ciangkun; sebab dia tidak bisa mengurus jenazah perwira yang setia itu; dan dia harus cepat-cepat berusaha menolong suaminya.

---o~dwkz^)(^hendra~o---

6 MALAM SUDAH CUKUP waktu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing tiba di istana kerajaan, tetapi dia menjadi terkejut ketika melihat penjagaan yang begitu ketat; bagaikan sudah direncanakan bila dia bakal datang mengacau ketempat itu.

Dengan gerak 'yan-cu coan-in' atau burung walet menembus angkasa, tubuh liehiap Liu Giok Ing lompat pesat mencapai bagian tembok halaman istana: dan sekali lagi dia lompat lalu hinggap pada sebuah pohon yang lebat, tanpa ada seorang petugas penjaga yang melihat dan mengetahui.

Sejenak liehiap Liu Giok Ing terdiam berpikir, lupa dia dengan betisnya yang masih terasa sakit disebabkan bekas kena ditendang; sebaliknya sempat dia menikmati lembutnya belaian angin malam, yang bagaikan belaian tangan-tangan suaminya.

Memang bakal repot kalau dia harus bertempur selagi dia belum berhasil menolong suaminya, dia harus mengatur siasat supaya kedatangannya jangan sampai diketahui oleh pihak tentara yang bertugas; setelah berhasil menolong sang suami, boleh dia berpesta menyebar maut !!

Lompat lagi liehiap Liu Giok Ing keatas genteng yang terdekat, lalu pindah pada genteng yang tertinggi, dan pindah-pindah lagi sampai berhasil dia mencapai bagian belakang dari istana kerajaan yang besar dan luas itu, lalu dia mencari ruang dapur dan mulai dia melepas api; bukan di satu tempat, tetapi di beberapa tempat yang terpisah cukup jauh, dia melepas api membikin terjadinya kebakaran !!

7 Ribut tentara-kerajaan yang bertugas menjaga, berteriak mereka 'ada kebakaran' dan lari-lari berusaha memadamkan api.

“Kebakaran dimana ?” tanya seorang perwira yang 'nyelip' keluar dari cela-cela daun pintu kamar salah satu selir raja.

“Di dapur !" sahut seorang tentara yang gugup lari.

Post a Comment