“SIAO KOUWNIO, siapa nama kau dan apa keperluan kau datang menghadap ?" tanya menteri kehakiman Pauw Goan Leng, sambil dia mengawasi Siu Lan yang sedang berlutut. Sepasang mata menteri kehakiman yang tua usia sebenarnya masih mengantuk, akan tetapi wajah cantik dan tubuh merangsang yang dimiliki oleh Siu Lan, berhasil membikin sepasang mata itu kelihatan segar seperti disiram air.
Sementara itu Siu Lan yang sedang berlutut dengan tubuh gemetar, bahkan mau menangis sebab menahan rasa takut, didalam hati dia merasa penasaran sebab menteri kehakiman memakai istilah 'siao-kouwnio' atau nona kecil, waktu bicara tadi. Tidakkah menteri yang tua tetapi kelihatan galak itu mengetahui, betapa dia memiliki tubuh yang segar dan sudah pandai bikin anak ? Akan tetapi, karena rasa takutnya itu, Siu Lan berkata dengan nada suara gemetaran :
“Nama hamba Siu Lan; hamba bekerja sebagai pelayan dari pangeran Giok Lun."
3 “Teruskan !" bentak menteri kehakiman setengah keras, sementara sepasang matanya ogah meram, asyik menikmati bagian dada Siu Lan yang tiga empat; kalau menurut perkiraan dia.
“Ampun tay-jin. Hamba terpaksa menghadap tay-jin pagi- pagi, sebab hamba perlu cepat-cepat balik lagi. Hamba tahu tay-jin masih ngantuk meskipun sepasang mata tay-jin ogah ditutup. Hamba ingin melaporkan tentang peristiwa mengerikan yang terjadi semalam ...."
Kaget juga menteri kehakiman Pauw Goan Leng sampai kepalanya ikut geleng-geleng. Memang semalam tidurnya sudah terganggu karena adanya laporan tentang peristiwa pembunuhan dirumahnya menteri pertanian dan menteri pertanian itu tewas dibunuh oleh seorang yang menggunakan senjata rahasia berbentuk bunga-cinta. Buru-buru Pauw Goan Leng memerintahkan kepala polisi Hamutu buat melakukan pemeriksaan dan penyelidikan; bukan untuk menangkap sebab yakin sipembunuh sudah kabur.
Kepala polisi Hamutu memang terkenal pandai menyelidik, sejak dulu waktu masih menetap digurun pasir Gobi, waktu dia sering mendapat tugas menyelidik onta-onta yang kabur lari; sampai kemudian dia tersesat diatas gunung Gobi, bertemu seorang tua sakti bertemu dengan onta yang lari. Dan dari orang tua yang sakti itu dia berhasil menambah ilmu, lalu pindah ke kota raja sebab bercita-cita ingin menjadi raja, tetapi untuk sementara dia cuma memperoleh kerja sebagai kepala polisi.
4 Sesuai dengan perintah menteri kehakiman; tengah malam buta dia terpaksa buka mata, meninjau dan memeriksa berbagai macam bibit tanaman dirumah menteri pertanian sebab buat urusan pembunuhan sudah dia ketahui siapa pelakunya atau si pemilik senjata rahasia berbentuk bunga- cinta. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang cantik jelita dan pandai menyebar cinta; akan tetapi sukar didekati sebab galaknya seperti macan betina !
Bergegas Hamutu ingin buru-buru pulang, ingin buru-buru menyusun laporan; dua lembar sekaligus, yang satu buat menteri kehakiman dan yang satu lagi buat sri baginda maharaja; yang hendak dia serahkan sendiri, dengan harapan dia bakal menerima jasa dipungut mantu, supaya tambah cepat dia bisa menggantikan jadi raja.
Akan tetapi, belum sempat dia mencapai rumah, sudah datang laporan lain yang mengatakan ada keributan dirumah pangeran Giok Lun.
“Heh, berkelahi dia !” tanya Hamutu kepada pembantunya yang membawa laporan.
“Iya ..." sahut sang pembantu yang serba tangkas.
“Lawan lelakinya , .."
“Bukan ! Lawan maling yang sudah berhasil melukai pangeran Giok Lun !"
Bergegas Hamutu memimpin rombongannya pulang, bukan memeriksa dirumah pangeran Giok Lun, takut bertemu 'macan betina yang galak' !
5 Lupa Hamutu menulis surat laporan, sebab buru-buru dia naik ke atas tempat tidur, menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
“Siangkoan sakit ?" tanya isteri Hamutu, lembut-mesra- manja suaranya.
“Huuuuhh ! Habis nguber macan !" dan buru-buru Hamutu meram, kepingin buru-buru tidur tetapi kagak bisa pulas, mikirin macan betina yang cantik jelita tetapi galaknya kagak tahan.
Akan tetapi; belum sempat Hamutu pulas tertidur; bininya sudah goyang-goyang ranjang membangunkan dia. Mau marah hamutu; tapi batal; sebab ada seorang cewek yang mencari dia; katanya.
Bergegas Hamutu buru-buru turun dari atas ranjang; menuju kantor meskipun sepasang matanya masih meram- meram, hampir membentur dinding tembok. Akan tetapi sepasang matanya itu cepat berobah menjadi melek-melek waktu dilihatnya Siu Lan yang cari dia.
“Mau apa ?" tanya Hamutu lembut-lembut mesra-mesra, tetapi ternyata Siu Lan datang membawa laporan tentang 'macan betina yang galak', yang semalam membunuh orang katanya.
Bergegas dan buru-buru Hamutu menarik sebelah tangan Siu Lan, untuk diajak menghadap menteri kehakiman; akan tetapi sempat membikin janji, 'habis melapor, kita jalan-jalan dulu.'
6 Bergegas dan buru-buru menteri kehakiman Pauw Goan Leng mengusap sepasang matanya, supaya tetap melek habis mengingat-ingat peristiwa semalam; sedangkan kepada Siu Lan lalu dia berkata, tetap dengan suara galak-galak lembut :
“Hemm bocah manis. Jangan kau anggap perbuatan main- main datang menghadap kepadaku, aku masih mengantuk; kalau kau mau tahu. Tetapi, coba kau ceritakan semuanya. Kalau cerita kau enak didengar, akan kuberi hadiah; sebaliknya kalau cerita kau menjengkelkan aku, akan kusimpan kau didalam kamar tahanan ..."
Tersenyum Siu Lan waktu mendengar perkataan menteri tua-tua keladi itu. Cukup manis senyumnya dan cukup bikin jantung laki laki tua itu goyang-goyang mau copot.
“Ampun lo ya. Eh, tay jin. Tetapi semalam hamba menyaksikan sendiri perbuatan itu, perbuatan menyeramkan yang dilakukan oleh Hoat ong nio cu Liu Giok Ing ..."
Sekilas Pauw Goan Leng tersenyum waktu mendengar Siu Lan meralat 'istilah' lo-ya ( tuan-tua ), senang dia; dianggap belum tua. Akan tetapi segera dia menjadi kaget waktu Siu Lan menyebut nama Liu Giok Ing yang isteri Giok Lun Hoat- ong, yang dikatakan sebagai si pelaku dari perbuatan pembunuhan itu; terlebih ketika selanjutnya Siu Lan menceritakan tentang kejadian semalam. Dikatakannya bahwa Siu Lan melihat Ceng-hwa liehiap terbang memasuki kamar memakai kain warna hitam. Ditangannya sudah siap dengan pedang yang tajam; menerkam suaminya sehingga Siu Lan yang menjerit-meram ketakutan setelah itu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing pergi lagi, kagak pulang pulang sebaliknya
7 diterima berita dirumah menteri pertanian terjadi ribut-ribut dan menteri pertanian mati dibunuh. Pasti dilakukan oleh nio- cu...” Siu Lan menambahkan dan menyudahi perkataannya.
Sekilas sepasang mata Pauw Goan Leng meram-meram, cuma sekilas sebab dia merasa perlu berpikir; akan tetapi sayang membuang kesempatan melek-melek mengawasi tubuh Siu Lan. Setelah itu bergegas dia bangun dari tempat duduknya, dijinjingnya di bagian bawah pakaiannya yang gombrang gombrang lalu didekati Siu Lan yang masih berlutut, pegal tentunya bocah manis itu.
Dituntunnya Siu Lan supaya bangun berdiri, lembut perlahan-lahan sampai dia bersenyum; sehingga berhasil dia menambah senyum Siu Lan yang kelihatan makin manis, makin mesra. Setelah itu, keras-keras dia berkata kepada Hamutu :
“Tangkap bocah ini dan simpan didalam kamar, eh, kamar tahanan .....!”
Bergegas dan buru-buru Hamutu mematuhi perintah atasannya, ingin dia ganti meraih dan memegang sebelah tangan Siu Lan; akan tetapi batal dia lakukan sebab dibentak oleh atasannya. Terpaksa Hamutu menuntun Siu Lan memakai sebatang pedang yang dia pegang dan yang dipegang oleh Siu Lan. Jalan mereka iring-mengiring dan digiring oleh sepasukan polisi yang menjadi bawahannya Hamutu.
Bergegas dan buru-buru menteri kehakiman Paow Leng segera meninggalkan kantor, menuju istana kerajaan hendak memberikan laporan kepada sri baginda maharaja.
8 Bergegas dan buru-buru sri baginda maharaja meninggalkan selir kesayangannya, sebab ada laporan menteri kehakiman datang menghadap. Ngomel-ngomel sri baginda maharaja dihadapan menteri kehakiman Pauw Goan Leng, hampir-hampir Pauw Goan Leng lupa laporan yang hendak diberikan. Cuma sepotong-sepotong yang Pauw Goan Leng bisa ceritakan tentang kejadian semalam, sebab sri baginda raja tetap ngomel-ngomel tanpa dia dengar apa yang dilaporkan oleh Pauw Goan Leng sebab sepasang mata maharaja agung itu masih meram-meram, menikmati belaian lembut mesra dari selir kesayangannya. Pauw Goan Leng cuma mendengar raja memerintahkan dia untuk menangkap pangeran Giok Lun juga bininya. Dua-duanya harus ditangkap. Memang tidak sukar menangkap pangeran Giok Lun setelah ada perintah dari sri baginda maharaja, tetapi untuk menangkap 'macan-betina yang galak', bisa tobat-tobat menteri kehakiman yang tua-tua keladi itu.
“Eh, itu Siu Lan yang membawa laporan, apa benar-benar dia bocah manis ... - " tanya sri baginda maharaja yang agung; yang mendadak sepasang matanya melek-melek mengawasi Pauw Goan Leng.
Kaget juga Pauw Goan Leng sebab secara mendadak sri baginda maharaja yang agung itu mengalihkan bahan pembicaraan. Agak takut dia melihat sri baginda raja yang melek-melek mengawasi, ada kesempatan buat dia untuk bicara; dan merocos dia bicara, selangit memberikan pujian tentang kecantikan Siu Lan.
9 “He-he-he ... !" tiga kali he sri baginda maharaja yang agung itu tertawa sebaliknya pangeran Giok Lun kaget dan bingung waktu pagi itu dia menerima kedatangan menteri kehakiman Pauw Goan Leng.
Pangeran Giok Lun memang sedang bingung bahkan cemas. Semalaman suntuk dia tidak tidur, menunggu sang isteri tercinta yang keluar malam-malam dan tidak pulang- pulang. Lupa dia dengan sebelah kaki dan sebelah lengannya yang terluka; sebaliknya dia lebih memikirkan nasib sang isteri tercinta, takut kalau kalau sang isteri mendapat cedera.
Lim ciangkun yang diminta mengikuti perjalanan isterinya, hanya berhasil menemukan mayat manusia yang tewas kena senjata rahasia berbentuk bunga-cinta. Siapa yang membunuh orang itu ? Mungkin isterinya, mungkin juga bukan isterinya, meskipun orang itu tewas terkena senjata rahasia yang biasanya digunakan oleh isterinya.
Nah ! Senjata rahasia berbentuk bunga-cinta yang memang sedang dia risaukan, setelah dia mengetahui ada orang lain yang juga menggunakan senjata itu, yang bahkan sedang menyebar maut di kota raja, khususnya di istana kerajaan, Siapakah orang itu ? Senjata rahasia yang berbentuk bunga-cinta itu, bahkan hampir-hampir merenggut nyawa Giok Lun Hoat-ong; kalau dia tidak menyimpan obat yang khas buatan isterinya.
Isteri kesayangan itu sekarang sedang mengejar si pelaku atau si penyebar maut itu, dan isteri kesayangan itu kagak pulang-pulang, meskipun sampai matahari nongol keluar. Kenapa ? Jelas dia memikirkan dan merisaukan, khawatir isteri