8 sedang mengerahkan jurus 'sin-liong jip-hay' atau naga-sakti bermain dilaut.
Lelaki itu menganggap dia sudah melakukan penyerangan yang serba cepat, juga gerak serangannya yang saling-susul amat gesit dan pesat; akan tetapi lawannya ternyata dapat bergerak gesit dan lincah, sebab Liu Giok Ing juga sedang mengerahkan ilmu 'coan-hwa jiauw-sie' menembus bunga, melibat pohon, suatu ilmu kelincahan tubuh.
Dengan ilmu 'coan-hwa jiauw-sie' atau menembus bunga, melibat pohon yang mengutamakan kelincahan tubuh itu, Liu Giok Ing berhasil berkelit menghindar dari tiga serangan golok yang datang saling susul. Masih Liu Giok Ing belum mengeluarkan pedang ku-tie kiam yang tetap berada didalam sarungnya, meskipun diketahuinya bahwa laki-laki lawannya sedang merasa penasaran, dan mengulang serang golok yang saling menyusul, kali ini dengan menggunakan jurus 'lian-hoan sam-to' atau tiga golok saling susul.
Tetapi Liu Giok Ing berlaku cepat dan gesit mengandalkan kelincahan tubuhnya, sehingga berhasil lagi dia menghindar dari serangan golok yang datang saling susul, membikin laki- laki lawannya menjadi semakin penasaran bahkan sampai perdengarkan pekik suara marah, setelah itu laki laki ini mengulang serangannya mengerahkan ilmu kim-kee co-siok atau ayam mas mematuk gabah, disambung dengan serangan memakai gerak tipu co-yu hong-goan atau dari kiri-kanan bertemu sumber, mengakibatkan goloknya menyambar seperti membabat dari arah sebelah kiri maupun dari arah sebelah kanan.
9 “Bagus !" seru Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang untuk sekilas berhasil dibikin sibuk; sekaligus berhasil membangkitkan semangat tempurnya seperti 10-tahun yang lalu.
Laki-laki yang tidak dikenal itu juga memperhebat serangannya; bahkan dia menyerang lagi secara berantai memakai goloknya, menggunakan jurus 'lian-goan sam-ki’ atau tiga tikaman yang berantai. Akan tetapi Liu Giok Ing tetap melawan dengan mengerahkan ilmu 'toan-hwa jiauw-sie' yang mengutamakan kelincahan tubuhnya; masih belum mau dia menggunakan pedang ku-tie kiam yang terkenal ampuh dan tajam, sampai dia merobah geraknya menggunakan ilmu 'soan-hong sin hoat' atau gerakan angin puyuh, yang mengakibatkan gerak tubuhnya semakin bertambah gesit dan pesat, seolah-olah berada disekitar lawan bahkan dua kali dia berhasil menendang pantat laki-laki lawannya, sempat membikin laki-laki itu berteriak mengaduh dan berteriak marah-marah :
“Sialan !" laki-laki itu berteriak marah.
“Dukk !" kena dia pukulan jurus 'pek-poh sin-kun' atau kepalan sakti seratus langkah. Terasa sakit muka laki-laki itu, sedangkan tubuhnya berputar tanpa dapat dia kendalikan.
“Sialan !" laki-laki itu berteriak kesakitan.
“Dukk ! Duk !" dua kali duk-duk, bukan duduk; sebab dua- dua kepalan Liu Giok Ing bekerja, menghantam dengan jurus 'tong-cu cin-hiang' atau kacung dewa bersembahyang.
0 Habis sudah daya perlawanan laki-laki itu; dia rubuh terjengkang rebah celentang dan dia tewas tanpa dia mampu berteriak memaki ataupun menjerit kesakitan, sedangkan dibagian kepalanya membenam tiga butir senjata rahasia berbentuk bunga ceng hwa !
Hampir-hampir Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang berteriak kaget. waktu dilihatnya senjata berbentuk bunga cinta itu yang membikin laki-laki itu tewas. Bukan dia yang melakukannya sebab dia memang tidak bermaksud membinasakan laki-laki itu yang hendak dia ajak bicara lagi, memaksa mencari keterangan.
Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing mengawasi arah sekelilingnya selagi dia setengah berlutut didekat mavat laki- laki itu, meneliti dan mencari arah datangnya serangan gelap tadi; dan berhasil dia melihat adanya sesuatu bayangan hitam yang sedang lari menjauhkan diri dari tempat itu.
“Kurang ajar ...!!" Liu Giok Ing bersuara memaki; bergerak pesat menyusul, melupakan laki-laki bekas lawannya yang sudah tewas.
Yakin Liu Giok Ing bahwa seseorang yang sedang dikejarnya itu memiliki ilmu yang begitu lebih tinggi dari pada laki-laki itu yang sudah tewas, terbukti orang itu berhasil melepas serangan gelap tanpa dia mengetahui kehadiran orang itu yang umpatkan diri. Mengapa ? Mengapa orang itu harus umpatkan diri, mengapa orang itu bukan ikut bertempur ?
Terlalu pesat dan terlalu cepat lari orang yang dikejarnya itu, dan Liu Giok Ing semakin penasaran dan semakin
1 mengerahkan ilmu pat-pou kan sian atau delapan-langkah mengejar dewa. Entah iblis, entah dewa; tetapi kali ini benar- benar Liu Giok Ing harus memeras tenaga buat melakukan pengejaran.
Terus orang itu melarikan diri, terus Liu Giok Ing melakukan pengejaran; tanpa menghiraukan mereka sekarang sudah keluar dari pintu perbatasan kota-raja disebelah selatan dan masih Liu Giok Ing melakukan pengejaran meskipun sudah jauh dia meninggalkan kota-raja !
---o~dwkz^)(^hendra~o---
SESAAT setelah Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengejaran terhadap seseorang yang melepas senjata berbentuk bunga-cinta; maka ditempat bekas terjadinya pertempuran tadi, datang rombongan orang orang yang naik kuda. Sebanyak tiga belas orang semuanya.
Seorang laki-laki berpakaian seragam perwira tentara kerajaan, yang agaknya merupakan pimpinan dari rombongan itu, lompat turun dari kudanya dan mendekati mayat laki-laki yang pecundang Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing.
Dua orang laki-laki lain, secara tiba-tiba muncul dari suatu sudut yang cukup jelas. Kedua laki-laki yang baru muncul ini, tidak memakai pakaian seragam sebagai tentara kerajaan; tetapi mereka langsung mendekati perwira yang sedang meneliti mayat bekas pecundang liehiap Liu Giok Ing.
“Sie ciangkun, kami Ma Kong berdua Ma Kiang siap memberikan laporan ..." kata salah seorang dari kedua laki-
2 laki yang baru muncul itu, sambil dia memberi hormat secara militer kepada si perwira yang dia sebut Sie ciangkun, atau panglima Sie; yang pangkatnya sebenarnya adalah kapten.
Kaptan Sie atau Sie ciangkun yang nama lengkapnya Sie Pek Hong, ikut berdiri sehabis begitu tadi dia jongkok; dan ikut memberi hormat secara militer, setelah itu baru dia berkata ;
"Jie-wie Ma-heng; silahkan kalian bicara !"
"Sesuai dengan perintah dan sesuai dengan rencana; kami berdua sudah menunggu disini selagi Nie ciangkun berhasil membawa Liu Giok Ing ketempat ini, sampai mereka berdua bertempur lalu kelihatan jelas Nie ciangkun terdesak bakal kalah, sedangkan kami lalu melepaskan serangan gelap memakai senjata yang berbentuk bunga-cinta, sementara Liu Giok Ing mengejar Oey ciangkun yang sengaja melarikan diri menuju kota San hay koan.”
––––––––
“BAGUS, akan tetapi apakah Nie ciangkun sempat bicara dengan Liu Giok Ing, sebelum dia tewas kena senjata kalian ....?" tanya ciang Sie Pek Hong yang perlihatkan senyumnya, menambah wajahnya semakin tampan meskipun umurnya sudah tiga-puluh tahun lebih; dan dia bersenyum sebab mengetahui rencananya telah dilaksanakan oleh para pembantunya, meskipun mereka harus mengorbankan nyawa seorang teman-sejawat!
3 “Tidak akan kami membunuh Nie ciang-kun, kalau dia belum sempat bicara dengan Liu Giok Ing; sesuai seperti rencana dan perintah ciangkun......" sahut Ma Kong yang kakaknya Ma Kiang; sedangkan umur mereka berdua, sedikit lebih tua dari umur Sie ciangkun.
“Ha-ha-ha ... !" Sie Pek Hong tertawa girang, lalu dia memanggil seorang pembantunya yang lain, seorang laki-laki yang sudah 40-tahun lebih umurnya.
“Thia-heng, apakah kau yakin bahwa Liu Giok Ing mengenali kau ... ?"
Sesuai dengan namanya Thio Hek; laki-laki yang bertubuh tinggi penuh otot itu memiliki kulit yang agak hitam, akibat terlalu banyak kena sinar matahari atau mungkin akibat terlalu sering bermain api. Suaranya seperti guntur waktu dia berkata :
“Mungkin lupa, akan tetapi kalau aku membicarakan urusan tempo dulu; aku yakin dia pasti akan teringat ..."
“Bagus kalau begitu...." sahut Sie Pek Hong; lalu dia menghadapi semua anak-buahnya dan berkata lagi :
“Sekarang kalian semua dengarkan baik-baik, kita atur rencana berikutnya...."
Semua orang mendengarkan rencana yang dibicarakan oleh ciangkun Sie Pek Hong; memperhatikannya benar-benar, kemudian semuanya menanggalkan pakaian militer yang mereka pakai, mengganti dengan pakaian lain, setelah selesai mengatur rencana mereka tinggalkan tempat itu,
Cheng Hwa Lie Hiap (Pendekar Bunga Cinta)
84 meninggalkan mayat Nie ciangkun yang juga sudah diganti pakaiannya.
Sementara itu; hari sudah mendekati subuh waktu Ceng- hwa liehiap Liu Giok Ing memasuki kota San-hay koan dalam usahanya melakukan pengejaran.
Kota San hay koan yang letaknva disebelah selatan kota raja, merupakan tempat tinggalnya Gin Lun Hoat-ong; putera ke-5, dari sri baginda maharaja; juga dari seorang selir. Saudara seayah dengan Giok Lun Hoat-ong, bukan seibu !
Bayangan hitam yang dikejar oleh liehiap Liu Giok Ing, ternyata benar-benar memasuki rumah pangeran Gin Lun yang mirip seperti istana, dan hal ini memang sudah diduga oleh liehiap Liu Giok Ing, setelah sempat dia mendengar keterangan yang diberikan lelaki pecundangnya yang tewas tadi !
Sesungguhnya liehiap Liu Giok Ing tak pernah menduga, bahwa Gin Lun Hoat-ong merupakan dalang dari si pelaku yang melakukan pembunuhan biadap, yang memfitnah nama dia; sebab pembunuhnya itu sengaja dipakai senjata rahasia berbentuk bunga ceng-hwa yang khas menjadi senjata rahasia yang biasa dia gunakan. Dulu, sebelum dia menjadi isterinya pangeran Giok Lun.
Sehabis Liu Giok Ing mendengar keterangan yang diberikan oleh lelaki pecundangnya, sebenarnya dia ingin membicarakan kepada suaminya. Ingin dia memberitahukan meskipun dia yakin bahwa suaminya takkan mempercayai keterangan itu. Tidak mungkin pangeran Giok Lun mau melakukan perbuatan yang sekeji itu, dan tak mungkin
5 pangeran Giok Lun mempunyai etikad melakukan pemberontakan terhadap ayahnya sendiri !
Sekarang, sesudah liehiap Liu Giok Ing mengejar bayangan hitam yang lari menghilang didalam istana pangeran Gin Lun; maka liehiap Liu Giok Ing bertekad hendak bertemu dan berbicara dengan pangeran Gin Lun. Ingin dia untuk memaksanya supaya pangeran yang pengecut itu mengakui perbuatannya, dan kalau mungkin, ingin dia bawa pangeran itu menghadap kepada sri baginda raja agar ikut mengetahui kejadian yang sebenarnya, lalu memberikan hukuman terhadap pangeran Gin Lun.
Akan tetapi, kedatangan liehiap Liu Giok Ing ke istana Gin Lun itu bagaikan memang sudah diketahui, sudah siap ditunggu-tunggu; dan sudah tersedia perangkap buat dia !