Halo!

Pendekar Bunga Cinta Chapter 11

Memuat...

Ada bayangan hitam yang lompat melesat dari suatu sudut gelap, yang cukup jauh terpisah dari tempat Liu Giok Ing berada. Gesit dan pesat gerak bayangan hitam itu, dan secepat itu juga Liu Giok Ing melesat menyusul meninggalkan alam khayal yang sedang dia bayangkan.

Sejenak Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing harus menunda niatnya buat mengejar bayangan itu, ketika dia tiba ditempat bekas bayangan itu melarikan diri. Rumah menteri pertanian Siauw Cu Leng, dan ada pekik teriak yang didengar oleh Liu Giok Ing :

“Tangkap si pembunuh! Kejar ...!"

Jelas malam itu telah terjadi lagi peristiwa pembunuhan, dan menteri pertanian Siauw Cu Leng yang mendapat giliran. Seorang menteri yang sudah cukup tua usianya, seorang menteri yang terkenal setianya terhadap sri baginda raja yang sekarang sedang berkuasa!

Tak dapat Liu Giok Ing menghindar dari suatu pertempuran yang harus dilaksanakan, pertempuran melawan petugas pengawal dirumah menteri pertanian Siauw Cu Leng, yang berhasil menemui dia selagi dia berdiri terpaku.

Sukar buat Liu Giok Ing memberikan penjelasan kepada para petugas pengawal yang sedang mengepung dia, sebab dia menyadari bahwa dia memang sedang dicurigai. Dicurigai

2 sebagai pelaku pembunuhan yang sedang meraja-lela di kota- raja !

Terpaksa Liu Giok Ing harus melakukan pertempuran itu, akan tetapi tidak ada niatnya untuk melukai orang-orang yang mengepung dia, apalagi membunuhnya. Dia hanya bertempur buat mencari jalan menghindar dan melarikan diri dari tempat itu.

Pedang Ku-te kiam atau pedang besi hitam yang dipegangnya ditangan kirinya, tetap berada didalam sarung; dan dia gunakan pedang itu hanya untuk menangkis setiap serangan senjata orang-orang yang mengepung dia, sedangkan kepalan tangan kanannya menghantam setiap lawan yang berusaha mendekat atau merintangi dia.

Cukup beberapa orang yang dia hajar rebah terkulai, setelah itu terbuka kesempatan buat dia lompat keatas genteng rumah; lalu melesat lagi memilih arah bayangan hitam tadi menghilang.

Semakin marah dan semakin penasaran Liu Giok Ing menghadapi si pembunuh yang keji itu. Terus dia melakukan pengejaran tanpa dia perhatikan arah yang ditempuhnya, entah kesebelah barat entah kesebelah selatan; sampai tahu- tahu dia berada diatas genteng rumahnya sendiri, rumah pangeran Giok-Lun!

Ada suara ribut-ribut dihalaman rumahnya itu, suara teriak orang-orang 'tangkap si-pembunuh' seperti yang didengarnya dirumah menteri pertanian tadi. Keadaan dihalaman rumah itu kelihatan kacau balau karena banyaknya petugas yang sedang lari tanpa arah menentu, bergegas

3 mencari si pembunuh yang tidak diketahui jejaknya; dan keadaan menjadi tambah kacau ketika Liu Giok Ing melesat turun ditengah-tengah mereka, sebab mereka langsung melakukan penyerangan sambil berteriak tambah keras 'tangkap pembunuh.'

Terpaksa Liu Giok Ing harus menghalau setiap serangan yang dilakukan oleh orang-orangnya sendiri, tetapi Liu Giok Ing cepat menyadari, bahwa dia sedang memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam; sehingga orang-orang itu tidak mengenali dia. “Tahan ...!" teriak Liu Giok Ing sambil dia melepaskan tutup muka yang dipakainya; sehingga perbuatannya itu mengakibatkan semua orang-orang menjadi kaget bercampur-heran.

(“Ternyata si pelaku pembunuhan adalah sang nyonya majikan, seperti berita yang pernah mereka dengar ... ") pikir orang-orang itu yang serentak terdiam tidak bersuara; terpaku dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, sampai Lim ciangkun yang memberitahukan, bahwa ada seseorang yang berusaha hendak membunuh pangeran Giok Lun.

Liu Giok Ing terkejut bagaikan disambar halilintar, dia lompat melesat meninggalkan Lim ciangkun tanpa mengucap apa-apa; dan dia tiba dikamar tidur, menemukan suaminya terluka dibagian sebelah kaki dan sebelah tangan, sementara Siu Lan sibuk berusaha untuk menolong sang majikan.

“Siangkong ....!!" Liu Giok berteriak dan melompat bagaikan hendak menerkam suaminya, berhasil membikin Siu Lan menjerit ketakutan, menganggap sang nio-cu mau

4 membunuh majikannya; padahal Liu Giok Ing turut cemas melihat keadaan suaminya.

“Moay-moay, cepat kau kejar pembunuh keji itu....!" kata pangeran Giok Lun selekas dilihatnya isterinya yang lompat memasuki kamar. Nada suaranya marah bercampur penasaran, sedangkan sebelah tangannya masih memegang pedang pusaka; bekas dia gunakan buat bertempur melawan seseorang yang berusaha hendak membunuh dia.

“Tetapi siangkong terluka," kata Liu Giok Ing yang sejenak menjadi ragu-ragu.

Terpaksa Liu Giok Ing tinggalkan suaminya. Dia bahkan tidak sempat melihat luka yang diderita oleh suaminya; entah terkena senjata apa padahal pada sebelah tangan suaminya, ada dua butir senjata rahasia berbentuk bunga-cinta yang dipegangnya, senjata melukai sebelah kaki dan sebelah tangannya.

Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengejaran berdasarkan arah yang diberitahukan oleh Lim ciangkun dan Lim ciangkun bahkan ikut melakukan pengejaran, meskipun dia tertinggal sangat jauh oleh sang nio-cu; sebab saat itu Liu Giok Ing sedang mengerahkan ilmu lari cepat 'pat-pou kan- sian' atau delapan langkah mengejar dewa.

Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari bahwa tidak mudah buat dia melakukan pengejaran, sebab dia sudah ketinggalan waktu selama tadi dia bicara dengan suaminya; sedangkan si penjahat sudah melarikan diri. Tetapi, disuatu saat secara mendadak dia diserang oleh senjata rahasia. Telinganya yang memang sudah terlatih, dan sepasang

5 matanya yang tajam; cepat mengetahui datangnya serangan gelap itu. Dia berkelit dan menangkis memakai pedang ku-te kiam ditangan kirinya, yang masih tetap berada didalam sarung.

Sempat Liu Giok Ing melihat adanya bayangan hitam yang lompat melesat, selagi dia menunda langkah kakinya sehabis berkelit dan menangkis serangan gelap.

Dengan gerak 'yan-cu coan-in' atau burung walet menembus angkasa, Liu Giok Ing melompat dengan melesat mengejar bayangan hitam itu; lalu dengan tiga kali lompatan dan tubuhnya jungkir balik diudara bebas; maka pada detik berikutnya dia telah menghadang arah lari bayangan hitam itu.

“Berhenti !" bentaknya, dan nada suaranya penuh wibawa, kembali seperti 10-tahun yang lalu, sementara sepasang kakinya siap memasang kuda-kuda, sedangkan tangan kiri siap dengan pedang ku-tie kiam, meskipun masih berada didalam sarungnya.

Bayangan hitam itu tertawa. Dia tidak memakai tutup muka sehingga mudah dilihat oleh Liu Giok Ing bahwa orang itu adalah seorang laki-laki, yang seingatnya belum pernah dia temui dan tidak dia kenal.

“Liu Giok Ing, setelah sekian lamanya menunggu; ternyata malam ini aku berhasil 'memancing' kau keluar dari kerangkeng !”

6 Sepasang mata Liu Giok Ing bersinar tajam menyimpan rasa marah. Dia meneliti, akan tetapi tetap dia merasa tidak kenal dengan laki-laki itu ;

“Siapa kau dan mengapa kau melakukan perbuatan keji dengan memfitnah aku ?”

“Ha-ha-ha ! Liu Giok Ing. Namamu dulu begitu menyemarak di kalangan rimba persilatan: sayang waktu itu aku belum mempunyai kesempatan untuk menghadapi kau. Tetapi sekarang, setelah 10-tahun kau menghilang dan mendengar perkataan dari perkataan kamu, maka aku menganggap nama kau sebagai Ceng-hwa liehiap ternyata kosong belaka. Apa arti senjata rahasia yang berbentuk bunga ceng-hwa itu? Bagiku hanya merupakan benda permainan belaka, sehingga sesungguhnya aku tidak mengerti, entah apa yang menyebabkan sehingga dengan senjata mainan itu kau berhasil menyemarak di kalangan rimba persilatan. Aku bukan hendak memfitnah kau, Liu Giok Ing; aku cuma hendak memancing kau keluar membebaskan diri dari rangkulan suamimu. Ketahuilah olehmu bahwa masih banyak orang yang menyimpan dendam terhadap kau. juga aku, juga Gin Lun Hoat ong ..."

“Gin Lun Hoat-ong?" Liu Giok Ing bersuara tanpa terasa; berhasil sejenak memutus perkataan lelaki itu, dan lelaki itu tertawa sambil berkata :

“Ha-ha-ha ! Liu Giok Ing, Liu Giok Ing. Mengapa kau lupakan Gin Lun Hoat ong dan cuma teringat pada Giok Lan Hoat-ong ? Mengapa kau justeru memilih pangeran Giok Lun yang harus kau jadikan suami, bukan kau pilih pangeran Gin

7 Lun yang lebih gagah dan lebih berbakat untuk menjadi raja? Dahulu pangeran Gin Lun ingin memilih kau buat dijadikan isterinya, buat menjadi calon seorang permaisuri raja; tetapi kau justeru memilih pangeran Giok Lun dan membiarkan pangeran Gin Lun menyimpan dendam terhadap kau, juga terhadap pangeran Giok Lun. Sekarang sedang terbuka kesempatan buat pangeran Gin Lun yang bakal menggantikan jadi raja; menggantikan si tua yang sudah tidak berguna akan tetapi yang masih gila perempuan. Pangeran Gin Lun sekarang sedang menyusun kekuatan dan menyebar pengaruh, juga didalam kalangan istana kerajaan; dan pangeran Gin Lun memerintahkan aku dan beberapa orang teman, buat membunuh orang orang yang dianggap masih setia terhadap raja sekarang yang sudah tua tidak berguna, termasuk suami kau; sedangkan terhadap kau, pangeran Gin Lun masih berbelas kasihan dan menyimpan rindu. Kau masih akan diterima menjadi selir, kalau kau mau ikut berpihak dengan pangeran Gin Lun; sebaliknya kalau kau ..."

“Teruskan...!" kata Liu Giok Ing bagaikan menantang, sebab dilihatnya lelaki itu tidak meneruskan perkataannya; sementara itu didalam hati, terlalu banyak yang Liu Giok Ing sedang pikirkan.

“Kalau kau menolak, maut adalah menjadi bagian kau ...!” dan laki-laki itu menyudahi perkataannya, dengan menyertai serangannya yang berupa tikaman memakai golok.

Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing berkelit menghindar, tetapi serangan lelaki itu ternyata saling-susul sebanyak, sebab dia

Post a Comment