Halo!

Pendekar Bunga Cinta Chapter 10

Memuat...

Meluruk semua pasukan sie-wie yang ada, cuma mengurung, cuma merintang; takut dekat-dekat, takut kena pedang kalau 'macan-betina yang galak' itu mengamuk- ngamuk lagi. Sedangkan pangeran Giok Lun yang merasa penasaran, lompat tinggi dan jatuh memakai ilmu 'burung belibis menyeberang pantai'. Sedikit lewat dia hinggap berdiri membelakangi Liu Giok Ing yang lagi jalan tenang-tenang mau pulang, lalu sebelah kaki Liu Giok Ing menendang pantat pangeran itu yang dia anggap melintang di jalan. Itulah saat yang kedua kali pangeran Giok Lun kena tendang 'macan betina yang galak' itu, yang sekarang menjadi isterinya.

Seorang diri Giok Lun Hoat ong tersenyum karena teringat dengan kejadian tempo dulu, selagi dia duduk menunggu isterinya yang sedang keluar malam. Kemana? Entah, dia juga tidak tahu. Yang jelas isteri tersayang itu sedang mengejar seorang lelaki, seorang lelaki yang sedang menyebar maut dan memfitnah suaminya; seorang lelaki? Akh ! Buru buru Giok Lun Hoat ong menghapus rasa cemburu, karena mendadak

4 dia teringat dengan 'rahasia hati' yang disimpannya. Rahasia hati' tentang lelaki yang pernah 'mencuri' hati isterinya. Dia menghapus rasa cemburu itu, sebab dia tahu lelaki itu sudah menikah, dan juga sudah mempunyai seorang anak yang umur 10-tahun lebih dan lelaki 'pencuri hati' istrinya sekarang bertugas jauh diperbatasan kota Gan-bun koan, yang berbatasan dengan orang-orang Manchuria !

Dan selagi pangeran Giok Lun terbawa hanyut dalam lamunan kejadian lama, maka tidak diketahui olehnya bahwa sejak tadi seorang pelayan perempuan berdiri menunggu dia.

Pelayan perempuan itu masih muda usianya, baru 16 tahun lebih sedikit, manis mukanya dan putih halus kulitnya; tubuhnya sedang tumbuh merangsang, terutama pada bagian badan yang membusung segar.

Siu Lan nama perawan yang bekerja sebagai pelayan itu. Sejak tadi dia menunggu majikannya yang sedang ditinggal pergi oleh isterinya, sering dia mencuri lihat muka tampan sang pangeran yang masih kelihatan muda dan mendadak dia tersipu malu ketika pandangan matanya bertemu dengan pangeran Giok Lun yang sekilas melirik dia.

“Eh, Siu Lan. Mengapa kau masih berdiri disitu...?” tanya pangeran Giok Lun yang baru menyadari.

Cepat-cepat Siu Lan berlutut, seperti biasa sesuai dengan peraturan yang berlaku; menunduk dia tak berani mengangkat muka mengawasi sang pangeran, dan agak gemetar suaranya waktu dia berkata;

5 “Ampun ong-ya. Hamba masih menunggu perintah ong- ya. Mungkin ong-ya masih membutuhkan sesuatu yang dapat hamba lakukan ....."

Sejenak pangeran Giok Lun terdiam mengawasi Siu Lan yang tugasnya sebagai pelayan, sempat dilihatnya Siu Lan melirik; begitu tajam lirikan matanya. Dan, mulutnya yang karena gin-cu, benar-benar merangsang seperti mulut isterinya yang sudah seringkali dia gigit lembut-mesra. Tetapi akh ! Mengapa dia harus membiarkan diri terbawa hanyut oleh sebuah lirikan mata Siu Lan yang pelayan ? Tidak pernah dia memikirkan perempuan lain, dan sama sekali tidak pernah dia mempunyai niat buat membagi kasih-sayang kepada perempuan lain. Cuma Giok Ing yang berhak menerima kasih sayangnya, cuma Giok Ing yang dia cintai setulus hatinya. Dia bahkan terkenang dan bagaikan terdengar lagi kata-kata ayahnya yang pernah diucapkan dihadapannya:

“Giok-jie, sudah kau pikirkan benar-benar tentang pilihan kau? Tidak kau menyadari siapa dia ?"

“Dia akan berobah menjadi seekor 'macan betina yang jinak', pie-he," sahut pangeran Giok Lun yang sempat mengajak ayahnya bergurau, berhasil membikin sri baginda maharaja ikut bersenyum, sementara pangeran Giok Lun berkata lagi :

“Bagaikan dua batu pualam yang dipersatukan; pasti akan menghasilkan seorang anak yang berupa Giok-Giok !"

Sekali lagi sri baginda maharaja ikut bersenyum menghadapi lagak-jenaka puteranya. Akan tetapi setelah 10-

6 tahun menikah dan sang Giok-Giok tak kunjung nongol; maka ganti ayahnya yang berkata :

“Mana Giok-Giok yang kau harapkan ?”

Terdiam pangeran Giok Lun menunduk malu dan ayahnya yang berkata lagi :

“Mungkin isterimu mandul !”

Ingin pangeran Giok Lun membantah, akan tetapi batal dia lakukan, sebab waktu itu dilihatnya ayahnya sedang marah-marah. Bukan marah-marah kepada sang putera yang ketiga akan tetapi marah-marah sebab salah seorang selirnya ketangkap basah, ada main dengan seorang sie-wie; seorang perwira pengawal istana !

“Kau harus cari bini muda !” ayahnya lagi yang berkata, masih bernada marah-marah; batal pangeran Giok Lun membantah meskipun mulutnya sudah terbuka, dan sang ayah lagi yang nyerobot bicara ;

“Ambil selir, sebanyak-banyaknya. Kalau kurang di kota- raja, cari dipelosok kota dan di desa-desa!"

“Cukup ! Aku masih sibuk dengan urusan lain...." dan ayahnya mengusir dia pulang, sebab ayahnya sedang sibuk mengurusi bini-bini yang tak terhitung banyaknya.

(“Cari selir, cari bini-muda. He-he-he...") kata pangeran Giok Lun didalam hati, dan tertawa juga didalam hati; teringat dengan kata-kata ayahnya, sebaliknya terlupa dengan Siu Lan yang masih berlutut, belum berani bangun sebelum mendapat

7 perintah untuk bangun, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Eh, Siu Lan. Tidak Siu Lan, aku tidak perlu apa-apa. Silahkan kau istirahat sebab saya juga mau tidur...." dan pangeran Giok Lun melangkah lesu menuju ke kamar tidur. Lesu sebab bakal tidur sendirian selagi isteri tersayang keluyuran.

Lembut perlahan Siu Lan bangun berdiri; lesu, dia masih berdiri waktu dilihatnya sang pangeran sudah memasuki kamar tidur. Hasrat hatinya, ingin benar dia diajak tidur oleh sang pangeran; yang sejak lama dirindukan, dan sejak lama dia tunggu-tunggu supaya dia diambil menjadi selir. Kenapa? Mengapa tak ada sedikit pun perhatian pangeran terhadap dirinya ? Kurang cantik atau kurang daya-tarik ? Akh ! menurut juru masak kepala, 'kau cantik dan memiliki tubuh yang merangsang, Siu Lan ...'

Atau karena nio-cu yang menyebabkan pangeran takut mengambil bini muda ? Nio-cu memang terkenal galak, sebab dulu biasa ngebelangsak dikalangan gelandangan; tidur diatas pohon pun jadi. Sekarang nio-cu sudah menjadi isteri seorang pangeran, sudah hidup senang diatas kasur yang empuk hangat; mungkin dia bertambah galak diranjang, sebab dihadapan orang-orang kelihatannya nio-cu bersikap ramah, lembut, mesra terhadap suaminya.

(“Apa kelebihan nio-cu kalau dibanding dengan aku ....?") pikir Siu Lan didalam hati. Aku bahkan bisa bikin anak, bukan seperti nio-cu yang mandul tidak pernah bisa bikin anak, meskipun sudah 10 tahun menikah !

8 Jelas Siu Lan merasa penasaran; masih dia berdiri diam didekat kamar tidur majikannya. Ingin dia nekad membuka pintu kamar tidur majikannya dan membuka pakaiannya, supaya majikannya membuka mata, melihat betapa mulus tubuh yang dimilikinya. Akan tetapi batal dia lakukan, takut dia pecat, bukan diajak tidur !

Tambah lesu langkah kaki Siu lan, waktu dia melangkah menuju tempatnya, diruangan sebelah belakang. Dia melangkah lesu perlahan sambil menunduk, sehingga tidak diketahuinya bahwa diatas kaso rumah, sedang meringkuk seorang yang berpakaian serba hitam, juga memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam. Seseorang yang meringkuk setengah rebah diatas kaso rumah, dibagian sudut yang gelap, tidak terlihat oleh Siu Lan bahkan tidak terlihat oleh petugas-petugas yang sedang meronda !

Sementara itu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing keluyuran tanpa tujuan menentu. Sengaja dia menunggu sampai keadaan sudah cukup larut dan cukup sunyi, lalu dia lompat melesat diatas genteng sebuah rumah yang cukup tinggi. Yakin dia bahwa dia harus berlaku waspada, terhadap musuh yang dicarinya dan terhadap petugas negara yang meronda.

Angin malam yang sepoi-sepoi meniup lembut rambutnya yang dibungkus rapih membangkitkan semangat dan gairah, bahkan membangkitkan kenangan lama selagi dia biasa berkelana dikalangan rimba-persilatan. Naluri seorang pendekar yang dimilikinya, kembali dikuasainya seperti 10- tahun yang lalu, waspada terhadap setiap gerak dan suara.

9 Sepuluh tahun dia hidup mengabdi sebagai seorang isteri, sepuluh-tahun dia dibelai oleh kasih-sayang suaminya; seorang pangeran yang tampan dan kaya-raya, anak dari seorang raja meskipun dari seorang selir. Waktu masa-remaja dahulu, dia hidup begitu bebas, kadang-kadang seperti liar, mengikuti naluri hati remaja; setelah itu dia hidup bagaikan dalam kerangkeng didalam istana seorang pangeran. Ternyata dia mampu mengendalikan diri, mampu menguasai dorongan hati dan bahkan berlaku sebagai seorang isteri yang bijaksana; meskipun kadang-kadang dia suka teringat dan mengenangkan kejadian lama. Terasa bagaikan dalam mimpi kalau dia mengenangkan tempo dulu; kemudian di saat lain dia tersenyum seorang diri, kalau dia sedang berada didalam rangkulan suaminya.

Terasa dia begitu kecil, begitu lemah; kalau dia sedang hanyut dibelai kasih sayang suaminya. Kadang-kadang dia bahkan bagaikan merasa kehilangan kepercayaan terhadap diri dan kemampuan sendiri, dia merasa bagaikan cuma suaminya yang mampu memberikan perlindungan baginya.

‘Tempat berlindung' ! dia berkata seorang diri yang lalu dia bantah. Lebih tepat sebagai tempat pelarian, bukan tempat pelindung. Pelarian dari apa ?

Dan, satu demi satu bintang-bintang menghilang dari angkasa.

'Tempat pelarian ...'

Memang tepat kalau dia mengatakan sebagai tempat pelarian. Tempat pelarian didalam rangkulan seorang suami yang begitu menyintai dia.

0 “Suamiku yang malang........” bisik Liu Giok Ing didalam hati, untuk yang kesekian kalinya, yang tak bosan-bosan dia lakukan. Sama banyaknya seperti dia membisik: “Liang-ko, mengapa kau begitu kejam...?”

Cinta memang aneh. Tetapi, adakah seorang-orang yang dapat menghindar dari cinta?

“Tidak Giok moay. Kita tidak dapat menghindar dari cinta sebab cinta merupakan sebagian dari asal manusia dan cinta adalah bahan-alam yang diperintah oleh khayal....”

Tersenyum Liu Giok Ing kalau dia teringat lagi dengan kata-kata Kwee Su Liang yang sudah berhasil 'mencuri' hatinya. Padahal, siapakah Kwee Su Liang ?? Dan dia, si pendekar bunga-cinta yang juga terkenal sebagai 'macan betina yang galak'. Dia bahkan yang sudah membunuh ibunya Kwee Su Liang !

“Liang-ko....”

“Giok-moay...”

“Kau tahu apa itu cinta....?”

“Kelemahan manusia yang tak dapat diberi ampun, itulah .....”

Cinta memang indah kalau pandai memupuknya, akan tetapi cinta merupakan suatu kehancuran, kalau ...

Ada air mata yang berlinang keluar kalau Liu Giok Ing teringat lagi dengan cinta. Terasa sakit, begitu pedih. Padahal dia bukan seorang yang lemah hati, dia sudah menerima ajaran dari gurunya yang terkenal keras hati. Membunuh atau

1 dibunuh; inilah yang bakal kau hadapi dalam menempuh hidup di alam nyata. Sebab alam nyata sangat kejam !

“Alam nyata terlalu kejam; Liang-ko; aku lebih senang hidup di alam khayal, membayangkan ...”

Post a Comment