Halo!

Pendekar Bunga Cinta Chapter 09

Memuat...

Terisak menangis Liu Giok Ing waktu didengarnya perkataan suaminya, begitu lembut, begitu mesra; menyimpan rasa takut ditinggalkan. Dan Liu Giok Ing menelungkupkan kepalanya diatas pangkuan suaminya, belakangan kepalanya.

Cukup jelas Liu Giok Ing mengetahui dan menyadari betapa besar kasih sayang suaminya terhadap dirinya. Suaminya tidak membolehkan dia hidup berkelana menyambung nyawa, suaminya takut dia mendapat cedera dan takut kehilangan dia, bahkan takut dia bakal bertemu lagi dengan laki-laki 'pencuri-hati' itu. Tetapi tahukah suaminya

7 bahwa dia masih menyimpan rasa benci tetapi rindu terhadap laki-laki itu ?? Akh, suami yang malang !! Dan buru-buru Liu Giok Ing mengangkat kepalanya, sebelum air mata berikutnya sempat dia keluarkan; dia mengawasi muka suaminya dan dia berkata:

“Siang-kong, meskipun tidak aku ucapkan, akan tetapi didalam hati aku sudah berjanji, bahwa aku tidak bakal meninggalkan kau, tidak bakal kembali hidup berkelana seperti dulu. Aku cuma minta perkenan supaya diboIehkan melakukan penyelidikan dan penangkapan terhadap manusia keji itu. Aku cuma keluar malam untuk melakukan penyelidikan setelah itu aku akan kembali lagi berada disini siangkong......"

“Jadi, moay-moay bukan bermaksud pergi lama meninggalkan rumah dan mening...."

“Tentu tidak, siangkong.,.." sahut Liu Giok Ing yang memutus perkataan suaminya, berhasil dia membikin suami itu merangkul lagi, mengecup lagi dan mengulang lagi dengan belaian kasih-mesra.

---o~dwkz^)(^hendra~o---

MEMANG cuma malam yang memungkinkan buat Ceng- hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan penangkapan terhadap si pelaku pembunuhan keji itu, sebab si pembunuh tentu akan umpatkan diri diwaktu siang. Akan tetapi, tetap bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah buat Liu Giok Ing menemukan jejak si pembunuh, apalagi menangkap basah

8 selagi si pembunuh melakukan kejahatannya. Liu Giok Ing bahkan harus menghindar dari petugas pemerintah yang mencurigai dia, dan yang diperintahkan mematai dia oleh sri baginda raja. Jelas akan terjadi pertempuran antara pihak sendiri, andaikata pihak petugas pemerintah menemukan dia yang sedang berkeliaran diwaktu malam; jelas pihak pemerintah akan tambah mencurigai sebagai perbuatannya semua pembunuhan itu. Oleh karenanya, Liu Giok Ing bahkan harus memakai tutup-muka dengan sehelai kain warna hitam diwaktu dia melakukan penyelidikan hendak menangkap si pembunuh yang hendak memfitnah dia.

Di malam pertama Liu Giok Ing mulai melakukan usahanya mencari jejak si pembunuh, yakni sesaat setelah dia bicara dengan suaminya; maka terasa sangat gelisah hati Giok Lun Hoat-ong yang melepas isterinya. Gelisah dan cemas oleh karena dengan setulus-ikhlas dia menyintai isterinya. Ingin dia memerintahkan Lim ciangkun buat membayangi dan memberikan perlindungan bagi isterinya, akan tetapi isteri tersayang itu justeru menertawakan Lim ciangkun; isteri tersayang itu mengatakan bahwa kemungkinan justeru dia yang harus melindungi Lim ciangkun, andaikata Lim ciangkun ditugaskan ikut mencari jejak si pembunuh. “Bukan tandingan Lim ciangkun....." kata isterinya sambil tertawa jenaka; waktu membicarakan tentang ilmu kepandaian si penjahat. Dan perkataan isteri tersayang itu, sudah tentu menambah rasa cemas Giok Lun Hoat-ong, khawatir kalau-kalau isterinya akan mendapat cidera diwaktu menghadapi penjahat itu. Tetapi apa daya dan yang harus dilakukannya. Isteri tersayang itu terkenal 'keras-kepala' kalau sudah membawakan peranan

9 sebagai seorang pendekar; seorang jago-pedang yang tidak pernah mengenal rasa takut !

Kembali berulang Giok Lun Hoat-ong membayangkan kejadian lama, selagi dulu Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing belum menjadi isterinya. Dua-kali pantatnya kena tendang 'macan- betina yang galak' itu. Pertama kali pada waktu Giok Lun Hoat-ong menerima perintah dari ayahnya, sri baginda maharaja; buat menangkap 'macan betina yang galak’ itu, yang waktu itu sedang mengacau di kota raja. Giok Lun Hoat- ong menerima perintah tanpa mengenal rasa 'takut' meskipun sudah dia ketahui betapa macan betina itu sangat galak. Ikut Giok Lun Hoat-ong menyaksikan pasukannya mengepung 'macan-betina yang galak' itu, bahwa ikut Giok Lun Hoat-ong majukan diri, siap tempur melawan ‘macan betina yang liar' itu. Pakai pedang pusaka, dia waktu itu; tapi cuma sekali sentuh, pedangnya hilang entah kemana dibawa terbang dan tahu-tahu pedang pusaka itu sudah berada di tangan kiri 'macan-betina yang pandai terbang' itu.

“Pedang yang bagus ....!" macan-betina yang galak itu berkata jenaka; lalu seenaknya dia bawa pergi pedang-pusaka itu, membikin Giok Lun Hoat-ong marah-marah waktu itu. Berteriak Giok Lun Hoat-ong berusaha mengejar 'macan- betina yang maling pedang' itu. Cepat-cepat lari 'macan- betina yang maling' itu, dan cepat-cepat Giok Lun Hoat-ong berusaha mengejar, meninggalkan pasukannya; sisa dia sendirian yang masih terus melakukan pengejaran. Sampai disuatu tempat yang sunyi, disebelah barat tembok kota-raja, 'Macan betina yang maling pedang' itu duduk menunggu dia, duduk seenaknya diatas rumput menyandar dahan pohon

0 beringin. Ngomel-ngomel Giok Lun Hoat-ong, nuding-nuding pakai jari tangannya yang lurus tegak tetapi gemetar menahan rasa marah, waktu itu; tetapi 'macan betina yang maling pedang' itu tenang-tenang bersenyum simpul dan mengunyah kwaci.

Bertambah marah Giok Lun Hoat-ong. Menambah ngomel-ngomel dan menambah nuding-nuding, dan macan betina yang maling itu mencegah dengan menggoyang-goyang sebelah tangannya, sementara mulutnya perdengarkan suara menirukan bunyi suara cecak, lalu menambah dengan kata- kata :

“Mau apa nguber nguber ....?"

“Mau pedang ...!" cukup keras suara Giok Lun Hoat-ong berteriak, akan tetapi 'macan galak' itu berobah menjadi 'macan jenaka' :

“Nih, ambil ..." katanya dan menyertai seberkas senyum jenaka-manja.

Buru-buru Giok Lun Hoat-ong melangkah tambah mendekati, kesandung sebelah kakinya pada akar pohon beringin yang tidak dilihatnya, terjerumus tubuhnya bagaikan ingin menerkam 'macan jenaka' yang masih duduk tenang, dengan sebelah tangannya menyodorkan pedang pusaka.

Kaget pangeran Giok Lun yang muda dan sangat tampan itu: takut dia menyentuh tubuh macan jenaka dan takut dia dianggap sebagai laki-laki yang tidak sopan. Hampir dia berteriak memerintahkan macan jenaka itu cepat-cepat minggir menghindar jangan sampai kena dia terkam. Tetapi

1 sia-sia dan sepasang tangannya sudah merangkul. Merangkul dahan pohon beringin sebab 'macan jenaka' itu sudah terbang entah kemana; tetapi tahu-tahu pantatnya kena tendang, dan "macan yang jenaka" itu menghilang, meninggalkan suara tawa yang merdu jenaka, tetap membawa lari pedang pusaka yang dicurinya tadi.

Itulah saat yang pertama kali Giok Lun-Hoat-ong kena tendang 'macan betina yang galak" itu, dan yang kedua kali terjadi di rumah pangeran muda yang tampan itu; sebab diluar dugaan, 'macan betina yang maling' itu datang 'mengaduk-aduk' rumah pangeran Giok Lun, bertempur dan melukai entah berapa banyak pasukan 'sie-wie' yang ditugaskan menjaga keselamatan rumah dan nyawa pangeran yang anak raja; namun yang tidak berdaya menghadapi dan mencegah niat 'macan betina yang maling’ itu, yang katanya hendak bertemu dengan pangeran Giok Lun.

"Mau apa nguber-nguber ??” tanya pangeran Giok Lun, meminjam istilah 'macan betina yang galak' itu, waktu dibawah pohon beringin dulu.

“Eh, aku bukan nguber-nguber ....” bantah macan betina yang galak itu, mengulang bersenyum jenaka seperti dulu.

“Mau apa nyari-nyari ?" Giok Lun Hoat-ong meralat pertanyaan marah suaranya, meskipun bernada menanya.

'Macan betina yang jenaka' itu menambah senyumnya, berobah menjadi 'macan betina yang memikat'; berhasil membetot sebelah hati pangeran muda yang tampan itu, sampai terasa berguncang-guncang. Akan tetapi cepat

2 pangeran Giok Lun tersadar, waktu didengarnya suara 'macan betina yang memikat' itu berkata .

“Mau kembalikan pedang..” dan sebelah tangan kiri 'macan betina yang memikat' itu memberikan pedang pangeran Giok Lun yang dahulu dia bawa lari.

“Tidak perlu ..." pangeran Giok-Lun seperti ngambek- ngambek; ogah menerima pedang pusaka yang hendak dikembalikan.

“Aku juga tidak perlu ..." kata 'macan-betina yang memikat' itu, lembut merdu suaranya dan tetap menyertai seberkas senyum yang memikat; namun berhasil membikin pangeran Giok Lun marah, merasa diejek, merasa dihina; terlebih sebab mendadak dia teringat bahwa dia pernah kena tendang pertama. Cepat-cepat dia berkata, balas mengejek: “Ambil saja dan anggap saja sebagai tanda mata ..."

“Tanda mata ...?" ulang macan betina yang memikat itu merasa tidak mengerti; berpikir dan hilang lenyap senyum yang menghias mukanya.

“Ya, tanda mata. Buat aku lamar kau menjadi bini ..."

Marah 'macan betina yang memikat' itu, berobah dia menjadi 'macan betina yang galak'. Disodoknya ke perut pangeran Giok Lun memakai tangan kirinya yang memegang pedang pusaka milik pangeran muda yang tampan itu. Gerak tangan kiri itu seperti gerak ular belang melepas bisa, tetapi gerak tangan ini begitu lembut-lambat, sehingga tidak sukar buat pangeran Giok Lun menghindar, bahkan dia berhasil

3 memegang pedang pusaka yang masih terbungkus dalam sarung, yang sedang mengarah bagian perut.

Tetapi, selekas sebelah tangan pangeran Giok Lun memegang pedang pusaka itu, maka secepat itu juga Liu Giok Ing melepaskan pegangannya, bagaikan dia sengaja mengembalikan pedang pusaka itu; lalu dia lompat hendak meninggalkan pangeran Giok-Lun.

Bertambah marah pangeran Giok Lun yang merasa kena tipu, berteriak dia keras-keras:

“Tangkap dia ...!!"

Post a Comment