Entah sudah berapa banyak air-mata yang dia keluarkan; meskipun kadang-kadang dia tersenyum kalau dia teringat lagi dengan Liang-ko yang dia benci dan yang dia rindukan. Juga sekarang, setelah dia menjadi mantu seorang raja, juga sekarang; selagi dia menghadapi peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang. Seseorang yang sengaja memfitnah dia, yang berhasil membakar semangatnya; dan berhasil membikin dia penasaran.
Giok Lun Hoat-ong juga mendengar tentang adanya peristiwa yang menggegerkan itu; dan pangeran ini juga menyadari bahwa isterinya sedang difitnah oleh seseorang. Difitnah; oleh karena pangeran ini tahu benar bahwa perbuatan keji itu bukan dilakukan oleh isterinya sebab isteri
0 tersayang itu tidak pernah lepas dari rangkulannya; dan tidak pernah meninggalkan dia.
Sempat pangeran Giok Lun memperhatikan keadaan isterinya yang mendadak berobah, suka perlihatkan sikap marah-marah dan penasaran; setelah diketahuinya tentang adanya peristiwa pembunuhan keji itu. Sempat pangeran Giok Lun menyediakan waktu, pada waktu senja maupun pada waktu malam hari, buat menghibur isteri kesayangannya. Dirangkulnya tak sudahnya dikecupnya sepasang pipi isteri kesayangannya, yang kulitnya putih bersih halus seperti batu pualam; bahkan dipangkuannya yang lalu membelai dengan berbagai kata dan perbuatan mesra. Begitu besar kasih- sayangnya terhadap isterinya, yang tak mudah dia persunting dan dia peroleh. Sepuluh tahun lebih dia menjadi suami dari Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing, yang dahulu terkenal sebagai 'macan betina yang galak'; tetapi yang begitu lemah lembut dan begitu manja setelah mereka berada diranjang.
Lemah lembut manja, benarkah ini? Akh ! Kadang-kadang Giok Lun Hoat-ong meragukan. Cuma didalam hati dan cuma merupakan rahasia hati; sebab pangeran ini cukup mengetahui, ada lelaki lain yang berhasil 'mencuri' hati isterinya sebelum dia menjadi suaminya. Dan rahasia hati itu tetap dia simpan didalam hatinya, sepuluh tahun mereka hidup menjadi suami isteri, sepuluh tahun Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing rela menyerahkan diri; tetapi mengapa selama 10 tahun itu tidak kelihatan sang bayi nongol buat bukti nyata kasih sayang mereka ??
1 Giok Lun Hoat ong merupakan putera salah seorang selir dari sri baginda maharaja yang sedang berkuasa. Dalam buku pelajaran sejarah bangsa dan negara Cina dikelas es-em-pe, tidak disebutkan entah berapa banyak selir yang dimiliki oleh sri baginda maharaja ini, mungkin sampai puluhan disamping seorang permaisuri; tetapi menurut ceritera sana-sini, dari sekian banyaknya selir-selir itu, sri baginda maharaja mempunyai 13 orang putera. Cap-sha tay po, kalau menurut istilah ki-dalang wayang-boneka yang di kelenteng toa-se-bio.
Dan ketiga belas orang pangeran ini, sudah tentu suaminya memiliki rahasia hidup masing-masing yang tidak akan mungkin diketahui orang, kalau rahasia hidup atau rahasia mati itu tidak mereka uraikan dihadapan seorang- orang yang tekun mencatat; sehingga di kemudian hari diketahui tentang mereka. Ada yang bermaksud, dengan melakukan perbuatan makar, dan menyimpan dendam terhadap ayahnya sendiri, ada yang merindukan sang ibu tiri dan ada juga yang senang hidup menyendiri.
Sebagai seorang putera-raja, meskipun cuma dari seorang selir; Giok Lun Hoat-ong yang dalam urutan merupakan putera ketiga dari sri baginda maharaja, memperoleh pendidikan yang sempurna, mengerti ilmu surat, ilmu silat dan sedikit menggambar sehingga ada lukisan sketsa wajah-muka sang isteri tercinta yang sempat menghias kulit halaman muka buku-buku ceritera-silat.
Tentang isteri tersayang yang mahir ilmu-silatnya itu memang sudah diketahui Giok Lun Hoat-ong bahwa isterinya merupakan murid-tunggal dari Touw-liong cuncia, seorang
2 laki-laki yang tinggi ilmu dan hidup menyendiri dekat perbatasan Inlam, Tali; bahkan di bagian pedalaman, ditempat yang masih banyak dihuni oleh suku-bangsa Biauw yang liar, yang gemar makan daging orang.
Isteri tersayang yang cantik-jelita dan mahir ilmu-silatnya itu bahkan dikenal orang sebagai 'macan betina yang galak' disamping gelar ‘Ceng-hwa liehiap' atau pendekar bunga- cinta; dan isteri tersayang ini pernah menyebar maut dikalangan rimba-persilatan bahkan di kota-raja dan di dalam istana kerajaan. Menyebar maut dikalangan orang-orang yang jahat; tetapi kalau menurut pengakuan isteri tersayang itu; dan Giok Lun Hoat-ong cuma manggut-manggut mesra kalau mereka membicarakan lagi urusan itu. Berdua, dalam kamar, akan tetapi, apakah 'orang orang jahat' itu tidak mempunyai sanak? Mungkin sang isteri tersayang lupa, waktu itu sebaliknya Giok Lun Hoat-ong tidak lupa dan tidak pernah melupakan, bahwa diantara sekian banyaknya 'orang orang jahat' itu, ada yang menyimpan dendam dan benci terhadap isteri kesayangannya. Bahkan mungkin ada yang menyimpan rindu, seperti laki laki perkasa yang pernah 'mencuri' hati isterinya. Dulu !
Sekarang tibalah saatnya buat seorang 'orang jahat' itu untuk melakukan balas dendam terhadap isteri kesayangannya itu.
Balas dendam memakai cara memfitnah, mencemarkan nama isterinya dan menyebar berita bahwa sang isteri tersayang bermaksud menggunakan pengaruh kedudukan suaminya, hendak melakukan perbuatan makar,
Cheng Hwa Lie Hiap (Pendekar Bunga Cinta)
53 menggulingkan pemerintah yang sekarang sedang berkuasa; dalam arti kata hendak menggeser bahkan mungkin membunuh ayah mertuanya !
Jelas Giok Lun Hoat ong harus cepat-cepat menghadap ayah tercinta, perlu memberikan penjelasan; tetapi Giok Lun Hoat ong tidak mudah untuk menemui sang ayah tercinta bahkan tak mudah memperoleh kesempatan buat menghadap, selalu ada rintangan dari pihak istana, rintangan yang sengaja diatur dan direncanakan pihak orang orang yang juga ikut dendam terhadap Giok Lun Hoat ong. Dikatakannya sang ayah tercinta sedang sibuk, di istana bukan tempat melakukan kegiatan pemerintahan; tetapi sibuk entah ditempat selir yang keberapa !
Giok Lun Hoat ong pusing menghadapi masalah itu, tetapi dihadapan isteri tersayang, dia berusaha menghibur, selalu dia membelai dengan kata-kata dan perbuatan mesra, seperti pada senja itu selagi mereka berdua duduk di dalam ruangan yang berdekatan dengan taman bunga.
Untuk yang kesekalian kalinya; sempat Giok Lun Hoat-ong merangkul pinggang isterinya yang ramping; sempat dia memangku sang isteri tersayang, sempat dia mengecup pada bagian pipi, lalu pindah kebagian leher, dekat daun telinga sehingga sang isteri tersayang bergelinjang dan merengek manja, setelah itu baru Giok Lun Hoat-ong berkata :
“Moay-moay, mengapa kau kelihatan muram? Apa yang sedang kau pikirkan ..."
Begitu halus, begitu lembut Giok Lun Hoat-ong mengucap kata-kata, dan selembut itu juga dia membelai rambut ikal
4 isteri kesayangannya, sehingga sekilas Liu Giok Ing merasa bagaikan tersentak.
Hilang lenyap rasa gelinjang bekas kena sentuh dan kecup suaminya; dan begitu tiba-tiba ada sedikit air mata yang menggenang disepasang matanya yang biasanya bersinar jernih tajam. Air mata yang untuk kesekian kalinya tak jemu- jemu membasahi mukanya. Mengapa ? Pasti dan selalu suaminya akan menanya, tetapi tahukah suaminya apa sebab air-mata itu tak bosan-bosan membasahi mukanya; tahukah suaminya untuk siapa air-mata itu dia keluarkan? Akh ! Suami yang malang dan suami tersayang.
“Moay-moay, mengapa kau mengeluarkan air-mata ....?" dan buru-buru Giok Lun Hoat ong mengeringkan air-mata itu memakai jari-jari tangannya; lembut mesra dia melakukannya, sehingga berhasil menambah derasnya air-mata itu keluar, untuk yang kesekian kalinya, berulang lagi seperti biasa.
Dan Giok Lun Hoat-ong cukup menyadari, cukup mengetahui. Air-mata pertama yang isterinya keluarkan, merupakan air-mata yang isterinya keluarkan buat laki-laki yang pernah mencuri hati isterinya, dan yang masih tetap dikenang oleh isterinya, akibat kata-kata suaminya yang lembut-mesra, seperti yang pernah diucapkan oleh laki-laki pencuri hati itu yang sangat berkesan dihati isterinya. Sedang air mata berikutnya Liu Giok Ing keluarkan buat suaminva yang begitu menyayangi dia, begitu mencintai, cumbu merayu; ingin memperoleh cinta kasih sepenuhnya. Mungkinkah itu ??
5 “Siang-kong, betapa aku tidak merasa risau, aku bahkan merasa marah dan penasaran karena perbuatan seorang yang sedang memfitnah aku. Bukan kepada siang-kong aku marah- marah, dari itu maafkan..."
Cepat-cepat Giok Lun Hoat-ong menutup mulut isterinya memakai jari tangannya, tidak dibiarkannya isterinya melengkapi perkataannya; lalu ganti dia yang berkata:
“Moay-moay, aku dapat mengerti perasaan kau. Esok pagi akan kuperintahkan Lim ciang-kun buat melakukan penyelidikan dan penangkapan terhadap si pelaku itu.”
Liu Giok Ing melepaskan diri dari rangkulan suaminya, pindah duduk dari atas pangkuan suaminya; memilih sebuah kursi yang letaknya berhadapan dengan suaminya itu.
“Siang-kong, sesungguhnya aku bukan tidak menghargai ilmu kepandaian Lim ciangkun. Akan tetapi seseorang yang melakukan perbuatan keji itu, pasti merupakan seseorang yang tinggi ilmu kepandaiannya. Siang-kong tentu menyadari betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh menteri hankam, seorang menteri yang mengatur pertahanan dan keamanan negara. Rumahnya bahkan dijaga ketat, akan tetapi ternyata dia tewas. Dari itu perkenankanlah siang-kong, perkenankanlah untuk sekali ini aku sendiri yang akan melakukan penyelidikan. Hal ini perlu aku lakukan, bukan melulu buat kepentingan aku; tetapi kepentingan kita, sebelum sri baginda ...." dan mendadak Liu Giok Ing menghentikan perkataannya; tanpa suaminya mencegah untuk dia meneruskan perkataannya. Tetapi, suami itu kelihatan menunduk lesu, dan ada air mata yang membasahi mukanya. Kenapa??
6 Buru-buru Liu Giok Ing bangun lagi dari tempat duduknya, mendekati dan berlutut di dekat suaminya; dengan sepasang tangan berada diatas pangkuan sang suami:
“Siang-kong, mengapa siang-kong mengeluarkan air mata ...?''
Ikut Liu Giok Ing mengeluarkan air mata. Untuk yang kesekian kalinya, dia bagaikan kehilangan jiwa pendekar yang dimilikinya; menghadapi sang suami yang bersikap lemah lembut.
“Moay-moay..." Giok Lun Hoat-ong bersuara dan memerlukan menghapus air mata isteri kesayangannya, sebaliknya membiarkan air matanya sendiri yang masih membasah di mukanya; lalu dia meneruskan berkata:
“...Kalau aku memberikan perkenan, jelas moay-moay akan mengulang perbuatan seperti dulu, dan moay-moay akan pergi meninggalkan aku....”