Halo!

Pendekar Bunga Cinta Chapter 07

Memuat...

3 seseorang itu, dan entah berupa 'sengketa' apa yang di beritahukan kepada sri baginda raja !

Untuk yang kesekian kalinya, terbayang lagi oleh Kwee Su Liang dengan kejadian lama, terbayang semua pengalamannya waktu tempo dulu; apakah nasib yang hendak mempertemukan lagi antara dia dan Liu Giok Ing, setelah lebih dari 10-tahun lamanya mereka terpisah? Dan, ah ! Mendadak Kwee Su Liang pun teringat dengan pertemuannya dan dengan pembicaraan si orang-tua sakti Lauw Tong Sun. Apakah akan menjadi kenyataan atas ramalan yang diucapkan oleh orang itu?

“Baiklah Toan tayjin, tolong beri kabar kepada sri baginda raja bahwa aku Kwee Su Liang menerima tugas yang diperintahkan. Dalam waktu secepatnya aku akan berangkat.'' akhirnya kata Kwee Su Liang kepada menteri kesra Toan Teng Hong.

Akan tetapi, selekas Kwee Su Liang sudah berkumpul lagi dengan isterinya jelas tidak mudah buat dia mengajak isterinya bicara. Haruskah dia mengatakan secara terus-terang tentang perintah sri baginda raja ? Haruskah dia memberitahukan bahwa sri baginda raja memerintahkan dia menangkap Ceng-hwa lie hiap Liu Giok Ing ? Jelas Liu Gwat Hwa akan tertawa kalau suaminya mengatakan hal itu. Tawa yang bukan wajar tertawa, tawa sebab Lie Gwat Hwa juga mengetahui tentang sengketa tempo dulu antara Kwee Su Liang dan Liu Giok Ing ! Dan mengenai rahasia hati isterinya ? Untuk yang kesekian kalinya Kwee Su Liang menjadi risau

4 kalau dia teringat dan meraba-raba tentang rahasia hati isterinya!

“Suko, setiap orang tentu memiliki rahasia yang tersimpan didalam hatinya." itulah kata-kata Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang sukar dilupakan oleh Kwee Su Liang, disaat dahulu mereka cukup akrab bergaul.

“Cuma orang yang bodoh yang mau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hasrat hatinya..” dan inilah kata- kata Kwee Su Liang yang pernah dia ucapkan dihadapan Ceng- hwa liehiap Liu Giok Ing.

(“Giok moay seharusnya aku girang mendengar kau sudah menikah dengan Giok Lun Hoat-ong...”) bisik Kwee Su Liang didalam hati; akan tetapi, mengapa terjadi peristiwa seperti yang diceritakan oleh menteri kesra Toan Teng Hong. Kenapa? Jelas Kwee Su Liang harus melakukan perjalanan meninggalkan rumah dan meninggalkan anak isterinya. Bukan buat menangkap Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, akan tetapi untuk bertemu, untuk menanyakan dan untuk memperoleh penjelasan. Setelah itu ? Ya, setelah itu apa yang harus dia laporkan kepada sri baginda raja ?

Hampir semalaman suntuk Kwee Su Liang harus melakukan pembicaraan dengan isterinya, juga dengan kedua bibiknya, membicarakan tentang tugas yang dia terima dari sri baginda raja, akan tetapi tidak dia jelaskan tentang adanya senjata-rahasia 'bunga cinta', apalagi tentang Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang tidak dia sebut-sebut namanya, selagi dia bicara dengan isteri dan kedua bibiknya. Yang dia bicarakan justeru lebih banyak tentang hatinya yang merasa

5 risau, karena harus meninggalkan isteri dan anaknya, di saat dia baru saja bertemu dan melakukan pembicaraan dengan si kakek Lauw Tong Sun, “Akan terjadi malapetaka...” kata si kakek Lauw Tong Sun; “dan anda akan banyak melakukan perjalanan jauh meninggalkan rumah dan meninggalkan keluar....”

(“Akh, mengapa begitu cepatnya ramalan itu menjadi suatu kenyataan....?”) pikir Kwee Su Liang didalam hati; dan tentang malapetaka itu? Benar-benar sangat merisaukan hati Kwee Su Liang: sehingga berbalik isterinya yang harus menghibur dan membesarkan hati Kwee Su Liang, juga kedua bibiknya yang berjanji akan memperketat melakukan penjagaan, selama Kwee Su Liang tidak berada ditempat.

Maka terjadilah Kwee Su Liang meninggalkan kota perbatasan Gan-bun-koan meninggalkan rumah dan meninggalkan isteri serta anaknya; juga meninggalkan kedua bibiknya dan kedua keponakannya, Kwee Giok Cu dan Sie Pek Lian.

Peristiwa apakah yang sebenarnya telah terjadi di kota raja ??

Biasanya, setiap malam tanggal limabelasan merupakan malam sang rembulan bersinar terang; akan tetapi malam itu rembulan kelihatan bersinar suram, agak gelap menyeramkan. Terlebih karena banyaknya asap dupa dan hio yang tertiup angin sepoi-sepoi dari hampir setiap rumah di kota raja; bagaikan menambah suasana menjadi remang-remang menyeramkan.

6 Kemudian cuaca pun ikut berobah menjadi hitam pekat, mendung menandakan hujan akan segera turun; sehingga tiada banyak orang yang keluar berkeluyuran sebaliknya mereka cepat-cepat pulang ke rumah masing-masing, bersiap- siap menghindar dari curahan air hujan yang hendak turun.

Akan tetapi, sang hujan tak kunjung turun membasahi bumi meskipun malam kian bertambah larut, dan keadaan bertambah sepi sebab awan hitam masih tetap menyelubungi kota raja bagaikan sang hujan selalu mengancam akan turun sewaktu-waktu. Tidak ada suara orang yang bernyanyi-nyanyi, tidak ada suara orang yang berlalu-lintas; cuma sisa suara burung malam dan burung hantu yang perdengarkan suara, menambahkan keadaan semakin jadi menyeramkan.

Justeru disaat yang sedang sesunyi itu, disaat tiada sinar rembulan yang tertutup dengan gumpalan awan-awan hitam; maka secara tiba-tiba kesunyian itu terpecahkan karena terdengarnya pekik suara banyak orang, pekik suara dari orang-orang yang menjadi penghuni rumah menteri pertahanan dan keamanan Wie Kok Ceng, sebab malam itu menteri hankam Wie Kok Ceng tewas, menjadi korban keganasan yang kesekian kalinya senjata rahasia berbentuk bunga Ceng-hwa yang mengandung bisa racun maut !!

Sudah cukup banyak nyawa yang menjadi korban keganasan senjata rahasia yang mengandung bisa racun itu, mula pertama peristiwa itu terjadi dikalangan para pengawal istana kerajaan, disusul kemudian terhadap beberapa menteri yang terkenal setia terhadap raja dan negara; mereka semua tewas terkena senjata rahasia yang berbentuk bunga Ceng-

7 hwa, atau bunga cinta, namun tak ada seorang pun yang melihat pelakunya. Cuma dikatakan memakai pakaian malam serba hitam dan serba ketat, tinggi langsing bentuk tubuhnya dan pesat cepat gerak tubuhnya, seolah-olah si pelaku itu dapat terbang di udara, tidak kena sasaran anak panah yang semakin bertambah ketat melakukan penjagaan, melindungi keselamatan sri baginda raja yang sewaktu-waktu ikut terancam nyawanya !!

Memang sudah tidak asing lagi buat orang-orang dikalangan rimba persilatan, bahwa senjata rahasia berbentuk bunga Ceng hwa itu merupakan senjata yang khas dari Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing; hal ini juga diketahui oleh orang- orang yang bertugas menjadi pengawal istana kerajaan, bahkan juga oleh sri baginda maharaja. Lebih dari 10 tahun yang lalu, Ceng hwa liehiap Liu Giok-Ing pernah "mengacau" di kota raja, bahkan didalam istana kerajaan, dan kemudian liehiap Liu Giok Ing menikah dengan pangeran Giok Lun, dan sejak itu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing menghilang dari kalangan rimba persilatan. Oleh karenanya, sri baginda raja ikut meragukan, entah apa yang menyebabkan sehingga Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing mulai melakukan kegiatan lagi, bahkan melakukan pembunuhan terhadap para pengawal istana kerajaan; dan melakukan pembunuhan terhadap para menteri yang diketahui setia mengabdi terhadap raja dan negara. Mungkinkah bukan Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang melakukannya, ataukah ada maksud tidak baik dari pangeran Giok Lun yang kepingin melakukan perbuatan makar?

Sri baginda maharaja merasa cukup bijaksana untuk segera tidak mengeluarkan perintah penangkapan terhadap

8 Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing, juga terhadap pangeran Giok Lun yang merupakan puteranya.

Sementara itu, Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing ikut menjadi terkejut ketika mendengar berita tentang peristiwa pembunuhan itu; padahal sesungguhnya bukan dia yang melakukannya.

Senjata rahasia berbentuk bunga ceng-hwa atau bunga- cinta, memang merupakan senjata rahasia yang khas menjadi milik dia. Dengan sebatang pedang pusaka dan dengan senjata rahasia yang berbentuk bunga ceng-hwa itu, untuk banyak tahun lamanya dia berkelana dan merajalela dikalangan rimba-persilatan, sehingga berhasil dia memperoleh julukan sebagai Ceng-hwa liehiap. Cuma sebuah nama julukan atau semacam 'gelar' dia pergunakan untuk segala perbuatannya yang mempertaruhkan nyawa, cuma sebuah 'gelar' buat ganti sekian banyaknya nyawa yang tewas sebagai korban pedang dan senjata-rahasia berbentuk bunga ceng-hwa. Melulu untuk sebuah 'gelar' dia bahkan harus menghadapi berbagai macam penderitaan dan kepedihan; suatu kepedihan yang terasa begitu menyakitkan hatinya, yang tak mudah dia lupakan selama hidupnya.

Setelah 10-tahun lamanya dia menikah dengan pangeran Giok Lun, dan setelah 10-tahun lamanya dia menghilang dari segala kegiatan sebagai seorang pendekar; maka sekarang secara tiba-tiba ada seorang-orang lain yang meraja-lela memakai senjata-rahasia berbentuk bunga ceng-hwa. Dalam hati Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari adanya seseorang yang melakukan perbuatan itu, sengaja melakukan

9 pembunuhan-pembunuhan memakai senjata rahasia yang khas menjadi miliknya, dengan maksud mencemarkan bahkan memfitnah dia. Jelas bahwa orang-orang itu merupakan seorang musuh yang masih menyimpan dendam terhadap dia, tetapi siapakah orang-orang itu; siapa musuh itu?

Sekilas Liu Giok Ing teringat dengan seseorang. Seseorang yang pernah menyakitkan hatinya, begitu sakitnya sehingga dia bagaikan hidup merana untuk waktu yang cukup lama. Seseorang yang pernah dia tempur, seseorang yang dia benci tetapi juga yang dia rindukan.

( “Liang-ko, mengapa kau begitu kejam?") kata-kata ini terlalu sering dia ucapkan di dalam hati, dulu dan sekarang, setelah 10-tahun lamanya dia menjadi isterinya pangeran Giok Lun, putera ketiga dari sri baginda maharaja yang saat itu sedang berkuasa.

Post a Comment