6 mengganggu Bun-jie atau kita ? Disamping itu, moay-moay juga bukan merupakan seorang ibu yang boleh dipandang ringan, belum lagi kedua bibik yang dulu di kalangan rimba persilatan terkenal galak. Siapa berani main-main hendak mengganggu anak kita...?"
Terasa Lie Gwat Hwa terhibur mendengar perkataan suaminya, berbareng bangkit juga jiwa pendekar yang dimilikinya. Adakah seorang-orang yang hendak coba-coba bermain gila dihadapannya ? Sejenak berkurang rasa khawatirnya, tetapi mendadak dia pun teringat dengan perkataan Lauw Tong Sun tentang suaminya yang katanya akan banyak melakukan perjalanan meninggalkan rumah:
“Tetapi siang-kong, tentang kepergian siangkong seperti yang dikatakan oleh..."
Dan Kwee Su Liang buru-buru memutus perkataan isterinya:
“Sudahlah moay-moay, tidak akan aku pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan kalian, itu cuma gertak belaka dari Lauw lo cianpwee yang menghendaki mengambil anak kita buat dijadikan muridnya. Dianggapnya kita akan ketakutan kalau mendengar gertakannya itu...."
Akan tetapi, didalam hati Kwee Su Liang ikut merasa cemas dan ikut memikirkan perkataan Lauw Tong Sun. Mungkinkah Lauw Tong Sun pandai meramalkan sesuatu yang bakal terjadi ? Sejenak jiwanya terasa bergetar, sehingga tanpa terasa dia mempererat rangkulannya bagaikan dia mencari tempat perlindungan kepada isterinya; isteri yang sangat dicintainya.
7 Percakapan mereka pun menjadi terhenti, sebab keduanya bagai sedang tenggelam dan membiarkan diri terbawa hanyut oleh kasih-mesra yang telah lama mereka cinta akan merupakan suatu kehancuran bila .... pikir Kwee Su Liang selagi saling-rangkul dengan isterinya. Dan, rahasia yang selama ini mereka simpan didalam hati sanubarinya, apakah merupakan rahasia hati yang untuk kesekian kalinnya menghantui hatinya. Ia buru-buru mengusir rasa hati yang menjadi risau kalau dia teringat dengan rahasia hati. Rahasia hati yang menjadi rahasia hidup isterinya, dan rahasia hatinya sendiri.
Alangkah lemah hatinya kalau dia menghadapi seorang perempuan, padahal dia merupakan seorang pendekar yang terkenal gagah perkasa, biasa menghadapi kekerasan dan biasa menentang maut. Akan tetapi kalau berhadapan dengan seorang perempuan ??
Berulang lagi Kwee Su Liang teringat dengan kejadian lama, kejadian tempo dulu. Akh mengapa justeru Lie Gwat Hwa yang berhasil dia persunting menjadi isterinya; isteri kesayangannya ? Mengapa bukan.... Akh, entah dimana dia sekarang. Mungkin dia juga sudah menikah; mungkin dia juga sudah mempunyai anak.
Dan, satu demi satu bintang-bintang menghilang dari angkasa, bagaikan takut dan umpatkan diri di balik awan hitam.
Apalagi yang harus ditakuti ? Sunyi, yang begitu pedih. Ada sedikit air mata yang berlinang di sepasang mata Kwee Su
8 Liang, waktu dia teringat dengan kejadian tempo dulu; untung isterinya tidak terlihat.
---o~dwkz^)(^hendra~o---
ESOK PAGINYA selagi Kwee Su Liang baru saja selesai menghadapi sarapan bersama isterinya, datang seorang pelayan yang mengabarkan, bahwa di kantor sudah ditunggu utusan dari kota-raja; dari istana sri baginda maharaja !!
Sejenak Kwee Su Liang terdiam mengawasi pelayan itu, lalu ganti mengawasi isterinya. Jelas Kwee Su Liang merasa terkejut juga isterinya. Tidak biasa pihak istana mengirim utusan langsung, buat dia yang berkedudukan diperbatasan kota. Ada apakah gerangan? Serasa tidak pernah dia melakukan sesuatu kesalahan, daerah kekuasaan dalam keadaan aman tenteram. Sebaliknya dibeberapa daerah lain justeru sering terjadi kekacauan, baik yang berkorupsi, perampok yang meraja-lela, di beberapa tempat lagi terdengar adanya perbuatan makar atau niat untuk melakukan berontak untuk melawan pemerintah yang berkuasa.
Daerah kekuasaan Kwee Su Liang memang berbatasan dengan negara Watzu, Tartar, dan Kwee Su Liang menyadari bahwa suku-bangsa Watzu sedang menyebar pengaruh, menyusun kekuatan. Pengaruh suku-bangsa Watzu bahkan sudah menjalar sampai kebagian Asia-tengah, dekat dengan perbatasan dengan negara Iran, Persia; akan tetapi selama itu, Kwee Su Liang tak merasakan adanya sesuatu ancaman dari pihak suku-bangsa Watzu, tiada tanda-tanda bahwa mereka
9 akan melakukan penyerangan memasuki wilayah negeri cina yang sedang dijajah oleh bangsa Mongolia. Suasana kelihatan tenang, mengapa tiba-tiba datang utusan dari kota-raja, bahkan dari pihak istana kerajaan?
Sementara itu Lie Gwat Hwa buru-buru menyediakan pakaian dinas suaminya, dan dia membantu suaminya ganti pakaian; setelah itu dengan hati risau Lie Gwat Hwa meninggalkan dia, buat menemui utusan yang sudah menunggu.
Setelah siap menerima utusan dari kota raja, maka Kwee Su Liang menjadi tambah terkejut, oleh karena yang datang ternyata adalah seorang menteri, bukan seorang utusan biasa; sehingga semakin bertambah yakin Kwee Su Liang tentang adanya sesuatu urusan yang sangat penting. Menteri yang diutus oleh sri baginda raja, ternyata adalah menteri urusan kesejahteraan negara, Toan Teng Hong; sudah tua orangnya, sudah 80 tahun lebih umurnya dan sudah putih semua rambutnya, juga kumis dan jenggotnya yang tidak panjang.
Menteri Toan Teng Hong membawa sepucuk surat dari istana kerajaan, disamping itu menteri Toan Teng Hong menambahkan keterangannya secara lisan.
Ternyata di kota raja sedang terjadi sesuatu peristiwa yang menghebohkan. Peristiwa itu bahkan merupakan peristiwa berdarah yang meminta korban nyawa manusia.
Dikatakan oleh menteri bahwa menteri pertahanan ikut tewas menjadi korban diantara banyaknya korban lain dari istana kerajaan. Pelaku peristiwa pembunuhan itu pada mulanya tidak diketahui perbuatan siapa gerangan, akan
0 tetapi korban keganasan yang luka-luka maupun yang tewas, ternyata terkena senjata rahasia berbentuk bunga ceng-hwa atau bunga cinta, yang mengandung bisa racun maut. Senjata rahasia berbentuk bunga Ceng hwa itu sudah tidak asing lagi buat orang-orang yang biasa berkelana di kalangan rimba persilatan, suatu senjata yang khas menjadi miliknya Ceng hwa liehiap Liu Giok-Ing !!
Ya, Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, si pendekar bunga- cinta; dan baru semalam Kwee Su Liang teringat dengan kejadian lama. Baru semalam, untuk yang kesekian kalinya dia mengalirkan air mata; terasa pedih, begitu pedih.
Dan satu demi satu bintang-bintang menghilang dari angkasa, bagaikan takut, dan umpatkan diri dibalik awan hitam.
Kwee Su Liang bagaikan ikut merasakan menghadapi suatu pertempuran antara Kwee Su Liang melawan si pendekar bunga-cinta Liu Giok Ing. Takut menghadapi suatu pertempuran yang bakal dilakukan antara dua jago pedang kenamaan. Mengapa mereka harus bertempur; kenapa ? Apa sebab benci tapi rindu ?
Dan Kwee Su Liang menjadi lebih terkejut lagi; ketika diketahuinya dari menteri kesra Toan Teng Hong, bahwa Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing sebenarnya sudah menikah dengan pangeran Giok Lun yang bertempat kediaman di kota raja. Sudah 10-tahun mereka menikah dan Kwee Su Liang tidak mengetahui, dia bahkan menganggap si pendekar bunga-cinta masih merana dan berkelana dikalangan rimba persilatan. Dia bahkan masih memikirkan; masih merisaukan
1 dan masih mengalirkan air mata, kalau dia teringat dengan kejadian lama.
Sementara itu menteri kesra menyambung pembicaraannya yang berhubungan dengan maksud kedatangannya :
Nama Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing sudah tidak asing lagi di kota raja, dan sri baginda raja sudah mengetahui bahwa Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing adalah muridnya Touw-liong cuncia yang terkenal sangat gemar bergaul dengan Suku bangsa Biauw yang masih liar sehingga Touw-liong cuncia sangat pandai mengolah berbagi macam bisa racun, bahkan menguasai ilmu hitam yang berasal dari suku bangsa Biauw....”
––––––––
AKAN tetapi, mengingat Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing sudah menikah dan menjadi isterinya pangeran Gin Lun, maka pada mulanya sri baginda raja tidak yakin kalau peristiwa pembunuhan itu dilakukan oleh Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing; sampai kemudian diterima laporan oleh sri baginda raja tentang Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang katanya telah melakukan penyerangan terhadap istana pangeran Gin Lun, sehingga terjadi pertempuran antara Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melawan pasukan pengawal istana pangeran Gin Lun, bahkan pangeran Gin Lun ikut bertempur dan mendapat cidera ....
2 “Jelas sri baginda raja menjadi sangat marah waktu menerima laporan itu, apalagi waktu diterimanya bahwa Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing hendak melakukan makar, melawan pemerintah dengan mempergunakan pengaruh suaminya, Giok Lun Hoat-ong; menghasut suaminya supaya merebut kekuasaan dan mengangkat diri menjadi raja. Sri baginda raja mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Giok Lun Hoat-ong dan isterinya, tetapi ternyata cuma Giok Lun Hoat-ong yang berhasil ditangkap dan ditahan, sedangkan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menghilang tanpa diketahui jejaknya ..."
“ ... Kemudian sri baginda raja juga mengetahui tentang adanya sengketa antara Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing dan anda, Kwee tay-jin; sehingga sri baginda raja mengutus aku untuk datang di tempat anda, memerintah anda melakukan penangkapan terhadap Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing, dan membawanya ke kota-raja setelah anda berhasil melakukan tugas ini ...”
Terbelalak sepasang mata Kwee Su Liang setelah menteri kersa Toan Teng Hong menyudahi perkataannya, jelas perintah raja tidak mungkin untuk dihindari oleh Kwee Su Liang. Mengapa dia yang ditugaskan untuk menangkap Ceng- hwa liehiap Liu Giok Ing? Mengapa sri baginda ikut mengetahui tentang adanya sengketa antara dia dan Liu Giok Ing ? Sengketa apa ?
Jelas ada seseorang yang telah berbicara atau memberitahu 'sengketa' itu kepada sri baginda raja, jelas seseorang itu telah menghasut sri baginda raja, entah siapa