Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 15

Memuat...

Demikianlah, setelah bermalam untuk satu malam di dalam pondok kecil itu, pada keesokkan harinya, pagi-pagi benar Kong Sian, Lin Hwa dan Cin Pau yang digendong oleh Kong Sian, berangkat meninggalkan hutan itu untuk menuju ke Kunlun-san. Cin Pau yang masih kecil dan tidak kenal artinya susah itu selalu bergembira di sepanjang jalan hingga kegembiraannya mempengaruhi kedua orang muda itu dan membuat perjalanan terasa mudah dan lancar. Oleh karena Cin Pau selalu menyebut “ayah” kepada Kong Sian, maka setiap orang yang mereka jumpai di dusun-dusun tentu menganggap bahwa ini adalah sepasang suami isteri dengan anaknya.

Pernah di dalam perjalanan itu, Lin Hwa berkata kepada Kong Sian ketika Cin Pau tertidur. “Kong Sian, kau masih belum mempunyai putera akan tetapi telah disebut ayah. Apakah apakah kau tidak

merasa malu dengan sebutan itu ?”

“Malu ? Mengapa mesti malu ? Aku bahkan senang sekali dengan sebutan itu. Dan bukankah aku

pantas sekali menjadi ayah Cin Pau ?” Jawaban ini membuat seluruh muka Lin Hwa menjadi merah sampai ke telinganya dan sambil tersenyum manis ia mengerling ke arah pemuda itu dengan sudut matanya. Percakapan-percakapan dan senda gurau seperti ini membuat hubungan mereka lebih erat lagi dan tanpa terasa, tanpa pernyataan dengan kata-kata yang langsung, keduanya membangun dan memperkokoh perasaan cinta kasih yang besar dalam hati masing-masing. Dan kemesraan Cin Pau yang benar-benar menganggap Kong Sian sebagai ayahnya, membuat kedua orang muda itu merasa seakan-akan benar-benar mereka menjadi suami isteri sejak dulu.

Kurang lebih satu bulan mereka melakukan perjalanan menuju ke Kunlun-san, tidak dengan tergesa- gesa dan selalu beristirahat sebelum Cin Pau merasa lelah. Akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan. Sambil memondong anak itu, Kong Sian mengajak Lin Hwa mempergunakan ilmu lari cepat mendaki puncak kedua dari pegunungan Kunlun di mana suhunya tinggal.

Ketika mereka tiba di kuil tua yang dijadikan tempat tinggal Beng Hong Tosu, kebetulan sekali pendeta tua ini sedang duduk di depan kuil, bermain catur dengan seorang kakek tua yang jubahnya penuh tambalan, akan tetapi jubah itu bersih sekali. Melihat kedatangan muridnya yang membawa seorang wanita muda dan seorang anak kecil, Beng Hong Tosu lalu berdiri menyambut.

Kong Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Beng Hong Tosu dan menyebut, “Suhu!” Sedangkan Lin Hwa juga mengajak Cin Pau berlutut di depan pendeta sakti itu. Cin Pau turun dari gendongan ibunya dan anak itu dengan tabah sekali lalu menghampiri tosu berjubah tambalan itu dan bertanya dengan suara yang nyaring bersih, “Kakek tua, permainan apakah di atas meja itu ?”

Kakek tua berbaju tambalan itu mengangkat alisnya dan kemudian tertawa bergelak. “Anak baik, ini adalah biji-biji catur.” Kemudian ia mengambil sepuluh biji catur dan satu demi satu ia lemparkan ke udara. Biji-biji catur itu melayang tinggi sekali dan saling susul. Anehnya, ketika biji-biji catur itu turun kembali, kesemuanya telah bertumpuk menjadi satu dengan rapinya dan melayang bersama-sama ke arah tangan kakek itu yang menerimanya dengan tangan kiri.

Cin pau bertepuk tangan dengan girang, “Bagus, bagus ! Dengan mempunyai biji catur ini dan bisa melempar seperti kau, untuk menangkap burung tak perlu mempergunakan busur dan anak panah lagi.”

Kembali kakek tua itu tertawa bergelak-gelak. “Kau cerdik ! Maukah kau mempelajari permainan tadi ?”

“Tentu saja mau, tentu mau,” kata Cin Pau sambil bertepuk-tepuk tangan, kemudian ia menghampiri dan memeluk ibunya. “Ibu, bolehkah aku belajar menimpuk dengan biji catur pada kakek tua ini ?”

Melihat hal ini, Beng Hong Tosu tersenyum dan berkata, “Bu Eng Cu (Si Tanpa Bayangan), kau diam- diam telah memilih murid !” Kakek yang disebut Bu Eng Cu itu tertawa lagi. Dia adalah seorang tokoh persilatan yang aneh dan berilmu kepandaian tinggi sekali, bernama Tiauw It Lojin dan berjuluk Bu Eng Cu. Ia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap karena memang biasa merantau ke gunung-gunung menikmati pemandangan indah. Akan tetapi, seringkali ia datang berkunjung kepada Beng Hong Tosu yang menjadi sahabat baiknya di masa mudanya. Kakek inilah yang dulu pernah mendemonstrasikan ilmu silatnya dan yang dilihat oleh Kong Sian ketika ia masih belajar di Kunlun-san dan ketika ia bersama Lin Hwa tertolong di kuil Thian Lok Si, ia melihat betapa ilmu silatnya hwesio muka hitam yang disebut Lokoay itu mirip betul dengan ilmu silat kakek tua ini. Maka, mengingat hal ini, ia memberi hormat dengan berlutut di depan kakek itu sambil berkata, “Locianpwe, teecu Kong Sian memberi hormat. Apakah selama ini locianpwe sehat-sehat saja ?”

“Baik, Kong Sian, aku baik saja. Kau pun baik ku lihat !” Jawaban ini membayangkan sifatnya yang terus terang dan tidak suka pakai banyak kata-kata muluk. Memang Bu Eng Cu ini terkenal beradat polos, bahkan kadang-kadang aneh sehingga ucapannya sukar dimengerti.

“Kong Sian, pinto telah mendengar tentang nasib kedua suhengmu,” kata Beng Hong Tosu sambil menghela napas, “kehendak Thian tak dapat ditentang dan memang sudah nasib mereka harus berkorban demi membela orang tua. Akan tetapi, mereka tewas dengan gagah perkasa dan tidak memalukan nama guru dan orang tua. Harus pinto puji dan hormati perbuatan kedua suhengmu dan ayah-ayah mereka. Memang mereka itu orang-orang berjiwa besar dan yang berani melakukan perbuatan besar pula tanpa takut menanggung akibatnya. Memang seharusnya demikianlah. Setiap orang harus berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga demi kebaikan. Adapun akan hasil dan tidaknya, itu bukan soal kita dan ketentuan terakhir bukan berada dalam kekuasaan kita. Namun, tetap manusia harus berikhtiar sekuatnya tanpa memusingkan tentang hasil atau tidaknya.

Dua orang sastrawan tua itu telah melakukan sesuatu yang baik, sesuai dengan jiwa mereka. Dan lihatlah, ratusan ribu orang bergelora semangatnya dan berhasil menumbangkan pemerintah yang lalim. Akan tetapi, tetap saja hasil yang mereka peroleh itu bukanlah hasil yang baik dan sebagaimana yang dicita-citakan oleh orang yang paling sengsara. Keadaan tetap buruk dan sedikit sekali perbedaannya dengan keadaan dulu. Kau tentu maklum dan telah menyaksikan sendiri.”

“Teecu mengerti, suhu. Memang, keadaan masih sama, hanya berganti majikan !” kata Kong Sian.

“Itulah ! Akan tetapi, kita tak dapat menyalahkan kedua orang sastrawan besar itu. Bukan salah mereka, dan bukan demikian yang mereka kehendaki. Semua adalah kehendak Thian yang maha kuasa.

Namun, lepas dari soal berhasil atau tidak, tetap saja harus diakui bahwa kedua orang itu telah melakukan tugas sebagai manusia-manusia baik !”

Mendengar betapa guru dan murid ini bicara tentang mertuanya dan suaminya yang telah tewas, tak tertahan lagi mengalirlah air mata di sepanjang kedua pipi Lin Hwa. Luka lama yang selama ini telah mulai mengering, kini terbuka pula dan terasa perih.

Beng Hong Tosu memandang kepada Lin Hwa dan bertanya kepada Kong sian, “Kong Sian, siapakah kawanmu ini ?”

“Suhu, dia adalah isteri Khu suheng dan anak itu adalah anaknya.” Pada saat itu, Cin Pau sedang bermain-main dengan biji-biji catur sehingga ia tidak mendengarkan semua percakapan yang memusingkan kepalanya itu sehingga ia tidak mendengar pula kata-kata Kong Sian ini.

Beng Hong Tosu mengangguk-angguk dan memandang kepada Lin Hwa dengan terharu dan iba. Kemudian, Kong Sian dengan panjang lebar lalu menceritakan kepada suhunya tentang semua pengalaman-pengalaman semenjak peristiwa pembasmian kedua keluarga Khu dan Ma itu terjadi.

“Oleh karena itu, suhu. Teecu mohon kepada suhu sudilah kiranya menaruh hati kasihan kepada Khu- soso ini dan sudi menerima puteranya sebagai murid di Kunlun.” Kong Sian mengakhiri ceritanya.

“Bagus, bagus Beng Hong Toyu (sahabat), anak itu sendiri ingin belajar dari aku, akan tetapi muridmu ini hendak memaksanya belajar dari kau.”

Beng Hong Tosu tertawa dan meraba-raba jenggotnya yang putih dan panjang. “Kong Sian, kau mendengar sendiri ? Hayo lekas kau aturkan beribu terima kasih kepada Bu Eng Cu !”

Kong Sian dan Lin Hwa lalu berlutut di depan Tiauw it Lojin dan menghaturkan terima kasih bahwa orang tua itu suka menerima Cin Pau menjadi muridnya.

“Tak usah berterima kasih. Aku tidak memberi apa-apa, pengetahuan takkan berkurang atau hilang biarpun diberikan kepada seribu orang. Kalau kalian tidak keberatan, maka anak itu hendak ku bawa ke tempatku sekarang juga.”

Lin Hwa lalu berdiri dan menhampiri Cin Pau yang lalu dipeluk dan diciuminya. “Anakku yang baik,” katanya sambil menahan bercucurnya air mata, “Kau ingin belajar ilmu dari locianpwe ini, bukan ?” Cin Pau mengangguk.

“Kalau begitu, sekarang kau harus ikut kepadanya. Kau harus menjadi murid yang taat dan penurut, harus rajin-rajin belajar. Cin Pau, jangan mengecewakan ibumu, ya ? Jagalah dirimu baik-baik !”

“Apa ibu tidak ikut ?” tanya anak itu dengan kedua matanya yang lebar memandang ibunya.

“Tidak, nak. Tidak boleh ibu ikut. Kau yang hendak belajar, bukan ibumu. Akan tetapi, tak lama ibu tentu akan menyusulmu, nak. Kau ikutlah dengan gurumu !”

“Hayo, Cin Pau, hayo kita pergi !” kata Bu Eng Cu Tiauw It Lojin sambil menggandeng tangan anak itu. Cin Pau tidak membantah dan menjawab dengan gagah, “Baik, suhu.”

Kemudian kedua orang itu meninggalkan tempat itu setelah Bu Eng Cu berkata kepada Beng Hong Tosu, “Sampai ketemu lagi, toyu.” Cin Pau beberapa kali berpaling memandang ibunya dan ketika melihat betapa pipi ibunya basah air mata, ia berseru nyaring, “Ibu jangan menangis, kelak aku akan kembali kepadamu !” Kemudian, kepada Kong Sian ia berseru, “Ayah, jaga ibu baik-baik !”

Setelah bayangan mereka lenyap di satu tikungan jalan, Beng Hong Tosu bertanya dengan suara heran kepada Kong Sian,” Mengapa dia menyebutmu ayah ?”

Merahlah wajah Kong Sian, akan tetapi dengan suara tetap ia menjawab, “Anak itu belum tahu akan hal ihwal ayahnya dan begitu bertemu dengan teecu, ia telah menyebut ayah. Teecu tidak tega untuk melukai hatinya yang masih suci.”

Beng Hong Tosu mengangguk-angguk dan berkata, “Anak itu baik sekali, boleh diharapkan kelak.”

Setelah tinggal di situ selama tiga hari, Kong Sian lalu berpamit kepada suhunya untuk pulang ke kota raja karena telah lama meninggalkan ibunya. Lin Hwa juga menyatakan hendak pergi dan mencari kuburan suaminya.

“Pergilah,” kata Beng Hong Tosu. “Dan berhati-hatilah, terutama terhadap musuh di dalam dada !” Setelah meninggalkan pesan ini, pendeta itu lalu masuk ke dalam pondoknya untuk bersamadhi.

Post a Comment