Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 14

Memuat...

Pingsan ?

Kong Sian tak mau membuang waktu lalu segera ia melompat ke belakang. Dilihatnya bahwa biarpun wanita itu cukup lihai, namun menghadapi empat orang laki-laki yang bersenjata tajam hanya dengan sepotong kayu ditangan, maka ia mulai terdesak juga. Kong Sian maklum bahwa kalau yang dipegang oleh wanita itu bukan kayu akan tetapi pedang, tentu sebentar saja empat orang penjahat itu dapat dirobohkan. Ia lalu berseru keras dan melompat bagaikan seekor naga melayang turun dari angkasa. Begitu kaki dan tangannya bergerak, berteriaklah dua orang pengeroyok yang terlempar dan tak dapat bergerak lagi. Kesempatan ini digunakan oleh wanita itu untuk mengerjakan tongkatnya, sambil mengaduh-aduh, dua orang lain kena digebuk sedemikian rupa hingga mereka roboh tak dapat bergerak lagi.

Kong Sian memandang dengan kagum, dan wanita itupun memandang dengan terimah kasih. Dua pasang mata bertemu dan !!

“Lin Hwa !”

“Kong Sian ......kau ........kau ?”

Lin Hwa melangkah maju dan ketika kedua lengan tangan Kong Sian terulur ke depan, ia lalu menubruk pemuda itu, menjatuhkan mukanya di dada Kong Sian dan menangis terisak-isak.

Sementara itu, ke lima orang penjahat yang kena gebuk dan pukul tadi, telah siuman dari pingsannya dan melihat keadaan yang tidak menguntungkan mereka, mereka ini lalu bangkit, membantu kawan- kawan yang agak berat mendapat bagian, lalu berjalan pergi sambil terpincang-pincang dan terhuyung- huyung.

Sampai lama kedua orang itu tidak bergerak maupun bersuara, yang bergerak hanyalah tubuh Lin Hwa karena tangisnya, sedangkan yang terdengar hanyalah suara sesenggukan tangisnya.

“Lin Hwa .... soso mengapa kau sampai tinggal di sini ?” “Kong Sian, jangan sebut aku dengan sebutan itu. Panggil saja namaku, itu lebih baik jangan

ingatkan aku akan hal-hal dulu lagi ” Lin Hwa lalu mengundurkan diri dan sambil menghapus

pipinya yang basah, ia lalu menatap wajah pemuda itu. Tiba-tiba timbul senyumnya hingga pipinya nampak manis sekali dengan lesung pipit di kanan kiri.

“Kong Sian, kau kau kelihatan lebih tua dan kurus sekali.”

“Dan kau nampak bertambah manis saja, Lin Hwa. Oh ya, mana anakmu ? Ingin sekali aku

memeluk nya, Mana dia ?”

“Cin Pau. ” Lin Hwa memanggil dengan suara merdu dan nada menarik. Suara nyonya muda ini

terdengar gembira sekali hingga ia sendiri merasa heran, seakan-akan tidak mengenal suaranya sendiri. Belum pernah ia mendengar suaranya sendiri segembira ini dan mengingat akan hal-hal ini tiba- tiba saja kulit mukanya menjadi kemerah-merahan.

Seorang anak kecil berusia kurang lebih empat tahun berlari-lari dari dalam rumah dan menghampiri ibunya. Anak itu ketika melihat Kong Sian, lalu berhenti berlari dan memandang dengan sepasang matanya yang lebar dan bagus. Kong Sian tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya ke arah anak itu. Anak kecil itupun lalu tersenyum, kemudian dengan muka berseri-seri ia lalu berseru,

“Ayah.......! Ayah !” Sambil berseru demikian, Cin Pau yang masih kecil itu lalu berlari cepat dan

menubruk Kong Sian. Kong Sian dengan hati amat terharu lalu memondong dan memeluk anak itu, menciumi rambutnya yang hitam dan penuh dan ketika ia melirik ke arah Lin Hwa, ternyata nyonya muda itu telah membalikkan tubuh agar Kong Sian tidak melihat betapa ia menangis dengan hati terharu karena melihat Cin Pau berteriak memanggil “ayah” kepada Kong Sian, seakan-akan sebilah pedang telah menusuk jantungnya. Seringkali anak itu menanyakan ayahnya dan selalu Lin Hwa membohonginya dan menjawab bahwa ayahnya sedang pergi memburu binatang liar dan bahwa ayahnya pada suatu waktu tentu akan datang mengunjungi mereka. Cin Pau yang masih kecil tidak tahu bahwa ibunya telah membohong dan percaya akan keterangan ini, maka ketika melihat Kong Sian, seorang laki-laki yang baik hati, penuh kasih sayang, ia tidak ragu-ragu lagi menduga bahwa orang ini tentulah ayahnya.

Kong Sian memeluk erat-erat tubuh kecil itu dan ia diamkan saja ketika berkali-kali Cin Pau menyebutnya ayah. Ketika ia melihat Lin Hwa membalikkan tubuh hendak menegur anaknya dengan mata basah, diam-diam Kong Sian menaruh telunjuknya pada bibir dan melarang Lin Hwa membantah sebutan itu. Ia pikir bahwa anak yang masih kecil ini tak perlu dilukai hatinya dengan kenyataan tentang ayahnya, maka apa salahnya kalau anak ini mengaku ayah kepadanya. Bahkan, ia merasa girang dan senang sekali mendengar sebutan ini, sebutan yang membuat hatinya makin terikat dengan hati Lin Hwa.

“Ayah mana harimau dan biruang yang kau bunuh ? Kata ibu, ayah pemburu binatang buas yang pandai dan gagah. Aku telah melihat kelihaian ayah tadi ketika bertempur dengan penjahat-penjahat karena aku mengintai dari dalam. Ayah hebat sekali. Benar kata ibu bahwa ilmu-ilmu silat ayah tinggi luar biasa. Lihat, ayah, akupun belajar dengan rajin. Kata ibu, kalau aku belajar dengan rajin kelak akan menjadi gagah seperti ayah.”

Sambil berkata-kata dengan gembira dan cepatnya, Cin Pau lalu merosot turun dari pondongan Kong Sian, lalu ia mulai bersilat di depan Kong Sian dengan gerakan yang lincah. Kong Sian merasa kagum dan senang sekali karena nyata baginya bahwa Lin Hwa tidak membuang waktu percuma dan telah mulai mendidiknya dengan dasar-dasar ilmu silat yang dapat dimainkan dengan baiknya oleh Cin Pau yang baru berusia empat tahun itu.

Untuk menyenangkan hati Cin Pau, Kong Sian membiarkan anak itu melihat dan mengagumi pedangnya dan ketika anak itu bertanya seribu satu macam tentang perburuan binatang buas, ia lalu mengarang cerita tentang perburuan binatang yang menarik hingga anak itu sambil duduk di atas pangkuan “ayahnya”, mendengarkan dengan mulut celangap dan beberapa kali menyebut, “Kau hebat sekali ayah!”

Melihat kelakuan puteranya ini, Lin Hwa membenarkan isarat Kong Sian tadi dan iapun tidak tega untuk menceritakan kepada anak itu bahwa pemuda ini bukanlah ayahnya.

“Ah, Cin Pau, kau nakal sekali. Kong , eh ayahmu baru saja datang, sudah kau ganggu dengan

kecerewetanmu. Dia lelah dan mungkin lapar sekali!” Anak itu lalu melompat turun dari pangkuan Kong Sian dan berlari ke dalam rumah sambil berkata, “Biar kupanggangkan daging kelinci yang kemarin kita tangkap.”

Memang, karena berada berdua di hutan itu, Lin Hwa telah memberi banyak pelajaran kepada puteranya, hingga Cin Pau yang masih kecil itu sudah pandai memanggang daging dan bahkan pandai menangkap kelinci dengan anak panah kecil.

Pada malam harinya, setelah Cin Pau tidur nyenyak, barulah Lin Hwa dan Kong Sian duduk saling berhadapan dan bercakap-cakap menuturkan pengalaman masing-masing selama berpisah. Melihat sikap Lin Hwa yang dari pandangan matanya jelas membisikkan sesuatu yang selalu menjadi kenangannya, Un Kong Sian tak kuasa menuturkan bahwa ia telah kawin dan mempunyai rumah tangga yang tidak berbahagia.

Ternyata bahwa Lin Hwa sudah tahu akan nasib suaminya dan nasib Ma Gi karena iapun mencari tahu akan hal itu dan mendengar berita-berita dari luar kuil ketika ia masih berdiam di kuil Thian-an-tang.

Dan setelah ia pergi meninggalkan kuil Thian-an-tang, ia lalu merantau dengan puteranya dan akhirnya tiba di hutan itu dan bersembunyi di situ bersama anaknya yang masih kecil. Lin Hwa tidak suka tinggal di dusun yang banyak orangnya, oleh karena ia seringkali mengalami gangguan, maklum karena ia masih muda lagi cantik dan janda pula.

Ketika Kong Sian memberitahukan bahwa ia hendak pergi ke Kunlun-san, Lin Hwa memandang dengan hati tertarik dan berkata, “Sudah lama sekali aku mendengar tentang keindahan bukit Kunlun dan kemashuran nama Kunlun-pai. Alangkah senangnya kalau kami bisa ikut kau pergi ke sana.”

Kong Sian hampir melompat karena girangnya, “Mengapa tidak ? Tadi baru saja aku hendak mengajak kau dan Cin Pau ikut. Dengarlah, Lin Hwa, aku mempunyai usul yang baik sekali bagi puteramu.

Biarpun aku percaya penuh akan keahlianmu mengajar dan memdidik anakmu, akan tetapi dalam hal ilmu silat, anakmu perlu mendapat didikan orang yang lebih pandai dari pada kita agar kelak Cin Pau menjadi seorang yang betul-betul gagah dan tidak mengecewakan. Oleh karena itu, lebih baik kita bawa Cin Pau ke Kunlun-san dan di sana aku akan mintakan kepada suhu supaya anak itu diterima menjadi murid. Bagaimana pikiranmu ?”

Berseri wajah Lin Hwa mendengar ini. “Kong Sian, kau memang seorang sahabat yang mulia dan berbudi. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana jadinya dengan aku dan puteraku kelak.”

“Eh, eh, jangan memuji-muji saja, bagaimana jawabmu tentang pergi ke Kunlun-san ?”

“Tentu saja aku turut dengan segala senang hati, jangan baru ke Kunlun-san, biarpun ke ujung dunia sekali pun kalau kau yang mengajak, tentu aku takkan ragu-ragu lagi untuk ikut.”

“Kenapa begitu ?” tanya Kong Sian dengan hati berdebar dan menatap wajah Lin Hwa dengan tajam. “Karena aku yakin bahwa maksudmu mulia dan baik,” jawab Lin Hwa sederhana.

Post a Comment