Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 13

Memuat...

“Misalnya, menjadi penyelidik dari keluarga Li ?” kata Kong Sian menyindir. “Mungkin ! Akan tetapi, mengapa kau tahu tentang hal itu ? Kau siapakah ?”

Kong Sian lalu mengaku bahwa ia adalah seorang perantau yang kebetulan lewat saja dan bahwa ia tadi telah mengunjungi keluarga Li dan mengalami peristiwa yang tidak enak sekali.

“Memang, memang mereka itu musuh-musuh kami. Mereka itu orang-orang busuk yang merasa iri hati melihat bahwa guci buatan kami lebih baik.” “Akan tetapi, apakah lukisan-lukisan di sini juga lebih baik dari pada buatan mereka ?” Kong sian bertanya dan tiba-tiba wajah wanita itu menjadi muram.

“Memang lukisan mereka lebih baik sedikit, akan tetapi ukiran kami lebih sempurna . Orang membeli guci melihat ukirannya bukan melihat lukisannya.”

Biarpun di dalam hati Kong Sian hendak menjawab bahwa kalau ia membeli guci, ia akan memperhatikan kedua-duanya, akan tetapi mulutnya tak menyatakan sesuatu dan ia lalu berpamit dan kembali ke hotelnya, ia merasa heran sekali melihat orang-orang yang aneh akan tetapi berkepandaian tinggi itu.

Pada senja hari itu, ketika Kong Sian baru saja kembali dari berjalan-jalan di dalam kota, ia mendengar ribut-ribut dan ketika bertanya kepada pelayan, ia mendengar bahwa telah terjadi pertempuran lagi antara keluarga Li dan keluarga Tan.

Kong Sian cepat berlari keluar dan menuju ke tempat pertempuran, yakni di rumah keluarga Li. Wanita she Tan yang kosen tadi telah datang membawa empat orang kawannya dan di depan rumah itu terjadi pertempuran –pertempuran sengit. Kakek yang kosen dari keluarga Li bertempur melawan wanita she Tan, keadaan merekalah yang paling hebat karena keduanya berilmu silat tinggi. Yang lain-lain main gebuk dan hantam hingga banyak guci yang berada di luar itu roboh dan pecah-pecah.

“Tahan, tahan !” Kong Sian berseru keras dan melompat ke tengah medan pertempuran. Melihat datangnya pemuda yang bergerak cepat ini, kedua pihak berdiri dan menghentikan pertempuran dengan mata merah karena marah.

“Kau !” tegur kakek she Li, “Mau apa kau anak murid Kunlun-san datang menahan kami ?”

“Maaf, cuwi sekalian,” kata Kong Sian sambil menjura. “Kedatangan siauwte ini tak lain hanya hendak mencegah terjadinya pertempuran ini lebih lanjut.”

“Pergi kau ! Siapa sudi mendengar omongan orang luar seperti kau ?” bentak nyonya she Tan itu dengan galaknya.

“Benar, kau pergilah !” kata kakek she Li, “atau, terpaksa kami akan melemparmu keluar !”

Tiba-tiba Kong Sian tertawa geli dan suara tawanya yang bergelak ini mengherankan semua orang. “Aneh, aneh ! Cuwi sekalian ini agaknya cocok dalam satu hal akan tetapi bertentangan dalam lain hal pula !”

“Apa maksudmu ?” tanya kakek Li

Kong Sian lalu menghadapi dua orang pemimpin keluarga itu dan setelah menjura lagi lalu berkata, “Jiwi, dengarlah baik-baik. Ketika jiwi menghadapi siauwte, jiwi mempunyai anggapan dan pikiran yang sama, yakni keduanya menghendaki aku keluar dan tidak ikut campur. Ini namanya cocok dan akur atau sama pendapat. Mengapa jiwi tidak mau mempergunakan kecocokkan ini untuk membereskan perselisihan dan permusuhan dengan jalan damai pula ? Mengapa jiwi tidak mau tanam saja permusuhan ini dan bekerja dengan tekun dan tidak saling mengganggu ?”

“Tak mungkin !” kata kakek Li “Tak sudi !” jawab nyonya Tan.

“Maaf, jiwi ! Jiwi adalah orang-orang gagah dan pandai. Orang yang berani mengalah dan mengakui kesalahan barulah patut disebut orang pandai. Permusuhan jiwi hanya disebabkan oleh persaingan dalam pembuatan guci-guci ini. Semua orang telah tahu bahwa guci buatan keluarga Li lebih menang dalam lukisan, akan tetapi kalah dalam ukiran, sebaliknya guci keluaran keluarga Tan kalah dalam hal lukisan dan menang dalam ukiran. Alangkah baiknya kalau kalian semua berani mengakui kesalahan dan berani melihat kekurangan sendiri, lalu berdamai dan saling bekerja sama, saling tolong. Kalau keluarga Li dapat memberikan kepandaian melukisnya kepada keluarga Tan, sebaliknya keluarga Tan juga suka mengajarkan ilmu ukir kepada keluarga Li, bukankah nanti guci-guci keluaran kedua keluarga akan menjadi benda-benda yang amat indah dan tiada cacad celahnya ? Dan bukankah hal ini merupakan kebanggaan kota Li-kiang dan sekalian penduduknya.” “Benar, benar. Tepat sekali !” terdengar seruan keras yang serempak keluar dari banyak mulut, dan ketika Kong Sian menengok, ternyata tempat itu telah penuh dengan orang-orang yang datang menonton.

Kedua pemimpin keluarga itu termenung dan saling pandang. Akhirnya kakek she Li itu menjura kepada nyonya Tan dan berkata,

“Kata-kata anak muda ini tepat juga. Maukah kau memikir-mikirkan hal ini ?”

Nyonya Tan mengangguk dan kemudian ia lalu mengajak keluarganya meninggalkan tempat itu dengan aman. Sementara itu, Kong Sian sudah menyelinap pergi di antara penonton karena ia tidak mau dijadikan perhatian orang. Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ia telah melanjutkan perjalanannya. Ia tidak tahu bahwa ucapannya itu benar-benar berhasil baik dan kedua keluarga yang bermusuhan itu kini telah berbaik kembali, bahkan tak lama kemudian seorang putera keluarga Tan dijodohkan dengan seorang puteri keluarga Li.

Setelah meninggalkan kota Li-kiang, Un Kong sian cepat melanjutkan perjalanannya menuju ke barat. Pada malam hari, ia bermalam di dusun-dusun, bahkan kadang-kadang di dalam hutan kalau kebetulan ia berada di hutan yang luas pada waktu malam hari tiba.

Demikian, tak terasa pula beberapa pekan telah lewat dan ia makin dekat dengan daerah pegunungan Kunlun-san. Makin ke barat, makin banyaklah hutan dan makin jarang dusun, hingga pada suatu malam, ia terpaksa bermalam di sebuah hutan yang liar. Seperti biasa, ia naik ke sebatang pohon besar untuk bermalam.

Ketika ia sedang enak-enak melonjorkan kaki melepas lelah, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap. Pada malam hari itu, bulan bersinar penuh hingga ia dapat melihat bayangan lima orang laki-laki berjalan perlahan sambil bercakap-cakap.

Kong Sian tertarik hatinya dan menduga bahwa mereka ini kalau bukan pedagang-pedagang keliling, tentulah perampok-perampok. Maka diam-diam ia melompat ke cabang yang lebih rendah dan mendengarkan percakapan mereka.

“Tapi dia itu lihai sekali. Kemaren dulu, aku dan sam-te hampir saja celaka dalam tangannya. Ilmu pedangnya benar-benar tinggi dan sukar dilawan,” kata seorang di antara mereka.

“Ah, sampai dimana lihainya seorang wanita ?” mencela yang lain dengan suara menghina. “Dulu kau hanya berdua, akan tetapi sekarang kita berlima. Apa yang harus ditakutkan ?”

“Betapapun juga, kita harus cerdik dan hati-hati !” kata orang ketiga yang lebih tenang bicaranya.

“Baiknya diatur begini saja. Kalian berempat besok pagi-pagi menyerangnya dengan tiba-tiba dan aku akan menangkap anaknya. Kalau anaknya sudah kutawan, tentu ia akan menyerah kepada kita demi keselamatan anaknya. Bukankah ini sebuah akal yang cerdik ?”

“Ha, ha, ha... Memang twako banyak sekali akalnya. Bagus, bagus. Kau memang berhak mendapatkan dia lebih dulu.”

Terdengar mereka tertawa menjemukan dan mendengar ini, bukan main marahnya hati Kong Sian karena ia dapat menduga bahwa mereka ini tentulah golongan orang-orang ceriwis dan jahat yang suka mengganggu anak bini orang. Maka ia lalu melompat turun di belakang mereka dan mengikuti mereka. Ternyata bahwa ke lima orang ini menuju ke sebuah kelenteng rusak yang berada di dalam hutan itu untuk bermalam di situ. Kong Sian juga bermalam di atas pohon dekat kelenteng tua itu, menanti datangnya fajar.

Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali kelima orang laki-laki itu keluar dari kelenteng dan ternyata oleh Kong Sian bahwa mereka itu adalah orang-orang yang bersifat kasar dan usia mereka rata-rata tiga puluh tahun. Dari gerak-gerik mereka, dapat diduga bahwa mereka ini memang penjahat-penjahat yang suka mengganggu orang, yakni orang-orang gelandangan yang tidak mempunyai keluarga dan pekerjaan tetap, yang hidup mengandalkan bantuan kawan-kawan dan suka berkelahi dengan keroyokan.

Mereka menuju ke sebelah dalam hutan dan Kong Sian diam-diam mengikuti mereka. Tak lama kemudian, Kong Sian melihat sebuah tempat terbuka dalam hutan itu. Dan aneh sekali, pada pagi hari itu, di sebelah belakang rumah terdengar suara wanita bernyanyi. Merdu juga suara itu dan yang membuat Kong Sian heran adalah tempat yang sunyi itu. Di situ bukan dusun atau kampung, akan tetapi mengapa di tempat sesunyi ini ada seorang wanita yang tinggal di dalam gubuk sederhana itu dan mendengar suaranya yang pagi-pagi sudah menyanyi itu agaknya hidup tentram dan damai ?

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil berseru memanggil ibunya. Lima orang itu, yang telah terlihat oleh anak kecil tadi, segera berlari ke arah rumah dan Kong Sian juga bergerak cepat sambil mengintai.

Empat orang penjahat lari ke belakang dan segera mereka mengurung seorang wanita muda yang melawan serangan mereka dengan sepotong kayu di tangan. Agaknya wanita itu tidak mendapat kesempatan untuk mengambil pedang dan terpaksa menghadapi empat orang pengeroyoknya dengan sepotong kayu yang dimainkannya dengan kuat dan hebat sekali hingga empat orang pengeroyok yang bersenjata pedang dan golok itu tak dapat mendekatinya.

Sementara itu, seorang penjahat yang mengatur siasat malam tadi masuk ke dalam rumah melalui pintu depan hingga tak terlihat oleh wanita muda itu. Kong Sian maklum akan maksudnya, yakni menculik anak kecil yang berseru tadi, maka dengan cepat ia lalu melompat ke arah orang itu. Sekali tangannya bergerak, orang itu telah kena ditamparnya di bagian pundak hingga orang itu mengaduh lalu roboh terguling. Ketika ia bangun berdiri dan melihat seorang pemuda kurus tampak berdiri di depannya sambil bertolak pinggang, penjahat itu menjadi marah sekali dan mencabut goloknya yang tergantung di pinggang lalu menyerang dengan hebat. Akan tetapi, ketika tubuh Kong Sian berkelebat, dalam tiga gebrakan saja ia berhasil mengetuk pergelangan tangan lawan yang memegang golok hingga senjata itu terlempar jauh, kemudian menempeleng lagi yang tepat mengenai pangkal telinga orang itu hingga orang itu terhuyung-huyung, matanya terbalik ke atas, lalu terputar-putar terus roboh mencium tanah.

Post a Comment