Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 12

Memuat...

Un Kong Sian terkejut dan heran sekali ketika ia berpaling dan mendapat kenyataan bahwa dialah yang dibentak itu. Yang membentaknya adalah seorang laki-laki setengah tua yang berdiri di ambang pintu rumah dan tangan kanannya memegang sebuah guci arak yang besar sekali. Dan sebelum Kong Sian sempat membuka mulut untuk memberi keterangan yang sebetulnya, tahu-tahu orang itu mengangkat tangan yang memegang guci itu ke atas dan melemparkan guci besar itu ke arah kepalanya. Guci itu besar dan berat sekali, dan juga keras karena sudah mengering dan siap untuk digambari, maka ketika dilempar ke arah kepalanya, tenaga luncuran itu kuat sekali hingga kepala orang yang tertimpanya mungkin akan menjadi remuk.

Kong Sian menjadi terkejut, akan tetapi dengan sikap tenang anak murid Kunlun-san ini lalu mengangkat kedua tangan dan menyambut guci yang melayang ke arah kepalanya itu. Ia merasa betapa tenaga tenaga lempar orang itu besar sekali, hingga baiknya ia menyambuti dengan kedua tangan, kalau ia memandang rendah dan menyambut dengan satu tangan saja, mungkin ia akan kena timpa.

Ketika Un Kong Sian meletakkan guci itu ke atas tanah dengan hati-hati dan siap hendak memberi keterangan, tiba-tiba orang itu melemparkan guci lain lagi dan kini guci yang sama besar dan beratnya itu meluncur ke arah dadanya dengan cepat sekali seakan-akan sebuah pelor besi kecil. Kali ini benar- benar Un Kong Sian terkejut dan ia maklum bahwa ia takkan dapat menyambut guci ini seperti tadi, maka untuk menjaga diri, ia lalu memukul guci yang melayang itu dengan gerak tipu Hek-Houw-to-sim atau Harimau hitam menyambar hati. Terdengar suara “brak” dan guci itu pecah bela terkena pukulan Kong Sian yang keras.

“Bagus ! Mereka telah mengirim orang yang memiliki kepandaian,” seru orang setengah tua itu dan bagaikan seekor harimau yang ganas, ia lalu melompat dan menerkam Kong Sian dengan sebuah serangan kilat.

Kong Sian cepat mengelak ke samping dan berseru, ”Hei tahan dulu!” Akan tetapi tikang guci yang berwatak berangasan itu tidak memperdulikannya, bahkan lalu menyerang dengan ilmu silat Lo-han Kun-wat atau ilmu silat pendekar tua, semacam ilmu pukulan yang lihai dari cabang Siauwlim.

Kong Sian menjadi penasaran juga dan karena maklum bahwa orang kasar ini selain bertenaga besar juga memiliki ilmu silat yang lihai, maka ia lalu melayani dengan hati-hati dan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya. Ternyata bahwa pemuda ini lebih unggul tingkatnya dalam hal ginkang atau ilmu meringankan tubuh. Gerakannya lebih gesit dan cepat dan ini merupakan keuntungan besar baginya. Dengan perlahan akan tetapi tentu, ia mulai mendesak lawannya. Kalau Kong Sian menghendaki, tentu ia akan dapat merobohkan lawannya dengan serangan-serangan maut, akan tetapi oleh karena ia tidak mempunyai permusuhan dengan orang ini, maka ia hanya berusaha untuk menjatuhkan saja tanpa melukai berat. Akan tetapi, hal ini bukanlah mudah, karena lawannya juga mengeluarkan segala tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkannya.

Tiba-tiba muncul seorang kakek diambang pintu itu dan ia berseru, “A Lung mundurlah!”

Bentakan ini berpengaruh sekali dan orang yang berangasan tadi lalu mencelat mundur. Juga lalu Kong Sian lalu membungkuk dan menjura sebagai tanda menghormat sambil berkata,

“Maafkanlah siauwte yang dapat mengganggu, sebetulnya bukan maksud siauwte untuk menerbitkan keonaran.”

Kakek itu menatap wajahnya dengan tajam lalu berkata perlahan. “Kau anak murid Kunlun mengapa mencampuri orang lain ?”

Kong Sian terkejut karena ternyata bahwa baru melihat gerakannya sebentar saja kakek itu telah dapat mengetahui bahwa ia adalah anak murid Kunlun-pai. Maka karena maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang berilmu tinggi, ia lalu menjura lagi dan berkata, “Locianpwe harap banyak memaafkan siauwte yang muda. Sebenarnya siauwte sama sekali tidak tahu apa yang locianpwe maksudkan dan sampai sekarang siauwte masih merasa penasaran dan heran mengapa datang-datang siauwte diserang oleh twako (kakak) ini ?”

“A Lung, yakinkah kau bahwa ia seorang dari mereka ?” tanya kakek itu kepada lawan Kong Sian tadi.

Orang setengah tua yang bernama A Lung itu lalu menuturkan dengan suaranya yang kasar, “Orang ini datang-datang tanpa permisi memeriksa guci-guci kita, apalagi maksudnya kalau bukan hendak menyelidiki ?”

Tiba-tiba Kong Sian tertawa bergelak hingga tidak saja A Lung menjadi heran, akan tetapi kakek itu sendiri pun melengak.

“Locianpwe, ternyata sahabat ini telah salah sangka. Ketahuilah, siauwte adalah orang yang datang dari tempat jauh dan kebetulan saja siauwte berhenti di kota ini karena telah lama ingin sekali menyaksikan sendiri pembuatan guci-guci yang telah lama siauwte kagumi keindahannya. Pelayan hotel memberi tahu bahwa di sinilah tempat pembuatan guci yang paling besar, maka siauwte lalu menuju ke sini.

Ketika siauwte melihat tumpukan guci ini dan tidak melihat seorang pun yang menjaganya, maka siauwte lalu melihat-lihat dan mengagumi keindahan guci-guci ini. Tiba-tiba saja siauwte lalu diserang oleh sahabat ini. Harap locianpwe suaka memberi maaf .”

Air muka yang tadinya keruh dari kakek itu lalu menjadi terang dan ia menegur A Lung, “ A Lung, lain kali jangan kau terlalu sembrono !” A Lung yang ditegur lalu menjura kepada Kong Sian dan mulutnya bergerak meminta maaf, kemudian ia kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.

Kakek itu dengan ramah tamah lalu mempersilakan Kong Sian masuk dan duduk di dalam rumah. Kong Sian yang ingin sekali melihat cara pembuatan guci-guci itu, lalu mengikuti kakek itu ke dalam di mana ia melihat betapa guci-guci itu dibuat oleh beberapa orang laki-laki dan wanita. Ia merasa heran sekali karena ternyata menurut keterangan kakek itu bahwa semua pekerja adalah keluarga sendiri dan seorangpun tidak ada orang dari luar.

Kong Sian menyatakan keheranannya dan juga bertanya tentang sikap mereka yang aneh tadi. Kakek itu menarik napas panjang, dan mempersilakan tamunya mengambil tempat duduk, ia lalu berkata,

Keluarga kami she Li semenjak beberapa keturunan telah membuat guci-guci arak, dan demikian pula beberapa banyak keluarga lain di kota Li-kiang ini. Di anatara pembuat-pembuat guci yang terbesar dan paling terkenal adalah keluarga kami dan keluarga she Tan di ujung utara kota ini. Mereka juga pembuat-pembuat guci yang pandai. Akan tetapi di antara keluarga she Tan dan keluarga kami timbullah persaingan hebat yang terjadi semenjak kakekku masih hidup.”

“Apakah yang menimbulkan persaingan itu ? Apakah penjualan guci di satu pihak ada yang tidak laku ?” tanya Kong Sian.

“Bukan demikian soalnya, sebenarnya hanya soal keangkuhan dan saling tidak mau mengalah. Guci- guci keluaran Li-kiang tidak ada yang tidak laku, bahkan pembuat-pembuat guci yang kurang pandaipun tak pernah mengeluh karena dagangannya tidak laku. Apa yang di sini dianggap kurang baik, di daerah lain sudah menjadikan orang-orang kagum. Mungkin sekali pihak she Tan itu merasa iri hati oleh karena mereka kalah dalam hal memberi lukisan pada guci-guci. Di sana tidak ada orang yang ahli dan pandai betul melukis sepeti yang ada pada kami. Inilah agaknya yang membuat mereka menjadi penasaran sekali dan mengambil sikap bermusuh dengan kami. Bahkan seringkali terjadi perkelahian oleh karena saling merasa panasdan saling menganggap guci masing-masing lebih bagus.

Kong Sian merasa heran sekali, “Locianpwe, kau orang tua bukanlah orang sembaranganan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, apakah mungkin locianpwe masih mempunyai darah panas yang membuat kedua pihak saling bermusuhan hanya karena urusan kecil saja ?”

“Anak muda, kau tidak tahu. Permusuhan yang memanaskan otak dan hati bukanlah tergantung dari pada sebab-sebab permusuhan itu timbul. Kalau rasa amarah sudah naik di kepala dan rasa dendam dan benci sudah membuat mata menjadi gelap, orang tidak mengingat lagi akan segala sebab-sebab permusuhan terjadi. Kami hanya mempertahankan nama dan menjaga kehormatan keluarga kami belaka. Soal kehormatan memang soal yang penting dan yang sudah selayaknya dibela dengan berkorban apapun juga.” Kong Sian amat tertarik mendengar urusan permusuhan antara tukang pembuat guci ini. Ia merasa ragu-ragu dan penasaran karena hanya mendengar keterangan di satu pihak, maka ia lalu berpamit dan langsung mengunjungi keluarga Tan di sebelah utara yang juga membuat guci arak.

Seperti halnya dengan rumah keluarga Li, di depan rumah keluarga Tan banyak bertumpuk guci-guci arak yang dijemur. Ketika Kong Sian memperhatikan, benar saja bahwa lukisan guci itu tidak seindah lukisan di guci buatan keluarga Li. Akan tetapi, buatan keluarga she Tan ini lebih halus dan ukiran- ukiran di pinggir guci lebih indah. Hingga kekalahan lukisan itu dapat tertutup oleh keindahan ukiran yang lebih tinggi mutunya dari pada ukiran guci buatan keluarga Li. Kalau ia menjadi pembeli, tentu ia bingung untuk memilih, mana yang lebih indah menarik di antara buatan kedua keluarga itu. Yang satu lebih indah ukirannya, yang lain lebih menarik gambarnya.

“Kongcu, apakah kau hendak membeli guci ?” tanya seorang wanita setengah tua ketika melihat ia memperhatikan guci-guci yang sedang dijemur itu.

Kong Sian cepat memberi hormat karena ia sudah kapok dengan pengalaman di rumah keluarga Li yang datang-datang menyerang tadi.

“Tidak, aku hanya hendak melihat-lihat saja. Guci-guci di sini lebih indah ukirannya dari pada guci-guci buatan keluarga Li di selatan itu,” katanya memancing sambil menatap wajah wanita itu.

Tiba-tiba wanita itu berseri mukanya mendengar ini. “Memang ! Mana bisa keluarga Li yang sombong itu melawan guci buatan kami ? Semua mata yang awas dapat membedakan mana barang buruk dan mana yang lebih baik. Guci buatan kami memang jauh lebih dari pada buatan mereka.”

Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seekor anjing besar yang berlari sambil menggonggong dan menyerbu ke arah Kong Sian. Pemuda ini tidak menjadi gugup dan dengan dorongan tangan kiri ia berhasil melemparkan anjing itu ke samping sambil berseru,

“Jangan sembarangan menggigit orang !”

“Bagus !” kata wanita itu dan segera membentak anjingnya yang lari ke dalam rumah kembali sambil menyembunyikan ekor di bawah perut. “Kau lihai juga, kongcu,” katanya, kemudian seperti yang tidak memperdulikan lagi kepada Kong Sian, ia lalu mengambil guci yang bertumpuk-tumpuk di situ lalu melempar-lemparkan ke atas dengan ringan sekali. Tangannya bekerja cepat dan sebentar saja tujuh buah guci yang tadi bertumpuk, telah dilemparkan dan melayang-layang di udara. Ketika guci pertama melayang turun, lalu disambut oleh wanita itu dan dilemparkannya kembali ke atas, demikianpun dengan guci kedua dan seterusnya. Guci-guci itu berterbangan di udara bagaikan burung-burung besar dan lemparan wanita itu demikian tepat hingga guci-guci itu tidak saling beradu di tengah udara.

Diam-diam Kong Sian merasa kagum sekali. Ia maklum bahwa untuk dapat memainkan guci-guci itu sedemikian rupa, orang harus berlatih puluhan tahun dan juga harus memiliki tenaga iweekang yang besar, karena guci itu berat dan besar.

Setelah melemparkan setiap buah guci tiga kali ke atas, wanita itu lalu menaruh guci-guci itu perlahan- lahan di atas tanah dan ditumpuknya kembali seperti tadi sambil berkata,

“Kalau begini guci-guci ini lekas kering.”

“Pehbo, kau hebat sekali !” Kong sian memuji dan diam-diam ia kagum sekali. Kota Li-kiang ini memang luar biasa sekali. Baru tukang-tukang pembuat gucinya saja sudah lihai sekali.

“Anak muda, sebenarnya apakah kehendakmu datang ke sini ? Kalau orang datang ke sini tanpa maksud membeli guci, ia hanya mempunyai semacam maksud yang buruk.”

Post a Comment