Un Kong Sian menggelengkan kepalanyadan ibunya amat terharu ketika melihat betapa di antara rambut anaknya yang hitam dan subur itu kini nampak beberapa helai rambut putih.
“Tidak ibu, aku tidak apa-apa. Hanya ”
“Hanya apakah, anakku ? Apakah yang mengganggu pikiranmu ?”
Un Kong Sian tak dapat melanjutkan kata-katanya karena memang ia tidak tahu apakah yang menyebabkan ia menjadi kesal dan seakan-akan bosan akan segala apa. Kemudian, tiba-tiba ia teringat kepada Lin Hwa yang telah empat tahun tak dijumpainya itu, maka ia segera berkata,
“Aku hanya ingin sekali pergi merantau, ibu.”
Ibunya menghela napas. Nyonya ini merasa kecewa dan sedih sekali oleh karena setelah kawin empat tahun lamanya, mantunya belum juga kelihatan mengandung, sedangkan ia telah amat rindu menanti datangnya seorang cucu yang mungil.
“Kalau kau pikir bahwa hal itu akan mendatangkan kegembiraan bagimu, kau pergilah, nak. Akan tetapi, jangan terlalu lama dan ingatlah bahwa ibumu yang sudah tua menanti di rumah.”
Un Kong Sian dengan girang lalu berlutut dan memeluk kaki ibunya yang mencucurkan air mata sambil mencari-cari rambut putih di kepala puteranya itu untuk dicabut.
Setelah mengadakan persiapan dan berpamit kepada isteri dan ibunya, Un Kong Sian lalu pergi, mulai dengan perjalanannya merantau. Ketika dia memberitahukan maksud dan kehendaknya kepada isterinya, Bi Nio hanya menjawab sederhana,
“Baiklah, dan aku akan menjaga ibu dengan baik-baik. Kau tetapkan hatimu dan jangan kuatirkan kami.”
******
Setelah keluar dari rumah dan berada di alam bebas, Un Kong Sian merasa seakan-akan ia telah merdeka terlepas dari kurungan, seperti seekor burung yang terlepas dan kini terbang ke angkasa dengan bebas merdeka dan gembira. Ia merasa hidup kembali dari dunia lain yang menjemukan dan mengesalkan hati.
Serbuan tentara petani ternyata mendatangkan perubahan hebat di dusun-dusun. Penderitaan berkurang dan kemiskinan agak dapat di atasi, akan tetapi timbul pula gejala-gejala baru yang sebenarnya telah tua yakni berlakunya hukum rimba. Memang, ketika mulai dengan pemberontakan, semua petani bersatu padu merupakan kesatuan yang kokoh kuat, akan tetapi setelah pemberontakan itu berhasil, mereka saling cakar seperti anjing berebut makanan. Tentu saja dalam perebutan ini, yang kuat menang dan yang kalah tetap menderita.
Dengan demikian, maka penindasan masih belum terhapus sama sekali dari muka bumi Tiongkok, hanya bertukar majikan saja. Kalau dulu yang menjadi “raja kecil” adalah hartawan terbesar atau bangsawan tertinggi, kini mereka ini dapat diusir dan kedudukan mereka digantikan oleh orang yang terkuat. Un Kong Sian langsung menuju ke Kwi-ciu untuk mendatangi kuil Thian-an-tang dan mencari Lin Hwa, wanita yang selama ini belum pernah lenyap dari ingatannya.
Akan tetapi ketika ia tiba di kuil Thian-an-tang di Kwi-ciu itu, ia melihat bahwa perubahan besar telah terjadi pula di kuil Thian-an-tang. Lan-lan Nikouw yang telah tua itu sudah meninggal dunia ketika terjadi keributan dan penyerbuan barisan tani. Ketika terjadi keributan, maka para penjahat menggunakan kesempatan itu untuk merajalela dan mengumbar nafsu jahatnya. Melihat bahwa di antara para nikouw du kuil Thian-an-tang banyak terdapat nikouw muda yang berwajah lumayan, mereka lalu berani datang mengganggu. Dan di antara para nikouw itu terdapat pula banyak wanita yang sebelum masuk menjadi nikouw menuntut penghidupan tidak patut, bahkan ada pula beberapa orang wanita pelacur yang katanya telah bertobat dan hendak menebus dosa lalu masuk menjadi pendeta perempuan. Mereka inilah yang masih belum bersih betul batinnya dan tidak kuat menghadapi godaan sehingga diam-diam mereka melakukan perhubungan rahasia dengan para penjahat itu. Hal ini diketahui oleh Lan-lan Nikouw yang juga memiliki kepandaian ilmu silat cukup tinggi. Nilouw tua yang biasanya amat sabar dan peramah itu, tak dapat menahan kemarahan hatinya. Dengan pedang ditangan ia lalu menghajar penjahat-penjahat itu dan bersama dengan para nikouw yang berjalan sesat, ia lalu membunuh mereka sehingga sebentar saja belasan orang menjadi mayat dan bergelimpangan di halaman belakang kuil Thian-an-tang.
Biarpun dalam melakukan amukan ini, Lan-lan Nikouw tidak menderita luka, bahkan tidak banyak mengeluarkan tenaga jasmani, namun rohaninya terluka hebat dan ia telah terlampau marah hingga jantung dan paru-parunya terganggu hebat. Apalagi ia merasa amat menyesal telah melanggar pantangan yang paling besar dari orang yang menyucikan batin, yakni ia telah membunuh sekian banyak orang, maka ia lalu jatuh sakit dan penyakit batin ini membawanya ke lubang kubur.
Akan tetapi, amukan dan pembunuhan ini telah membikin takut dan kapok para nikouw, juga mendatangkan kengerian di hati para penjahat, hingga hal yang memalukan nama baik kuil Thian-an- tang itu tak pernah terulang lagi. Kedudukan Lan-lan Nikouw lalu diganti oleh seorang muridnya yang bernama Bwee Lan Nikouw.
Ketika peristiwa itu terjadi, belum lama Lin Hwa meninggalkan kuil itu untuk pergi mencari bahan-bahan obat di gunung-gunung dan meninggalkan puteranya dalam rawatan para nikouw. Ketika ia pulang dan mendengar tentang hal itu, bukan main sedih dan menyesalnya, maka ia lalu membawa Cin Pau pergi dari situ. Kepada para nikouw yang bertanya kemana ia hendak pergi, ia hanya memberitahukan bahwa ia hendak pergi merantau, mencarikan guru silat yang pandai untuk puteranya.
Hanya sekian saja keterangan yang bisa didapat oleh Kong Sian, maka dengan hati berat ia meninggalkan kelenteng Thian-an-tang untuk melanjutkan perjalanannya. Ia ingin sekali bertemu dengan Lin Hwa, akan tetapi oleh karena ia tidak tahu ke mana perginya ibu dan anak itu, ia lalu menuju ke Kunlun-san untuk menjumpai suhunya, yakni Beng Hong Tosu, tokoh Kunlun-san, seorang tosu (pendeta pemeluk agama To) yang tinggi ilmu silatnya. Perjalanan ke Kunlun-san bukanlah perjalanan mudah, karena pegunungan Kunlun terletak jauh di barat dan melalui tempat yang berbahaya serta sukar ditempuh. Akan tetapi oleh karena memang maksudnya hendak merantau, Kong Sian lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke barat.
Pada suatu hari, ia tiba di sebuah kota yang ramai. Kota ini adalah kota Li-kiang yang tersohor karena kerajinan tangan berupa guci-guci arak berkembang yang dibuat oleh penduduk di situ. Oleh karena sudah seringkali melihat guci-guci arak itu mengagumi keindahannya, maka Kong Sian lalu mencari sebuah kamar di hotel dan mengambil keputusan untuk berdiam di hotel itu beberapa hari lamanya dan mencari tempat pembuatan guci untuk menyakskan pembuatannya.
Ia mendapat keterangan dari pelayan bahwa tukang pembuat guci yang besar di kota itu adalah seorang she Li yang tinggal di ujung selatan jalan besar, maka ia lalu menuju ke rumah orang she Li itu. Benar saja, di depan rumah yang cukup besar ituia melihat tumpukan guci-guci yang sedang dijemur dan guci-guci itu berkembang indah sekali.
Ia melihat-lihat guci yang dijemur itu karena di situ tidak ada orang, memperhatikan bentuk dan lukisannya. Mungkin sudah menjadi tabiat setiap orang, apabila melihat guci kosong, selalu tentu menggunakan jari tangan untuk mengetuk-ngetuknya hingga guci itu memperdengarkan suara berkentung, dan Kong Sian pun tidak terkecuali. Ia mengetuk-ngetuk guci-guci itu dan mendekatkan mukanya untuk melihat gambar-gambar itu lebih jelas lagi. Banyak sekali terdapat lukisan-lukisan indah di tubuh guci itu, ada lukisan naga, bunga-bunga, pemandangan alam dan sebagainya. Pada saat ia mengagumi guci-guci itu, tiba-tiba terdengar suara orang membentak, “Hm, tidak tahu malu ! Menyelidik pekerjaan lain orang. Pergunakan otak sendiri dan jangan hanya menjiplak buatan orang lain saja.”