Sebulan kemudian, perkawinan antara Un Kong Sian dan Oey Bi Nio dilangsungkan dengan meriah. Gedung nyonya Un dihias indah dan ruang yang luas itu penuh dengan tamu-tamu yang terdiri dari orang-orang hartawan dan berpangkat. Kong Sian nampak gagah dan cakap dalam pakaian pengantin sedangkan Oey-siocia kelihatan cantik bagaikan bidadari dari kayangan.
Akan tetapi, benar-benar aneh, pada saat Kong Sian berlutut disamping isterinya untuk bersembahyang, pikirannya tak dapat dipusatkan dan selalu melayang-layang ke tempat jauh, ke kuil nikouw di mana Lin Hwa berada. Bahkan, pada malam harinya, ketika ia berada di kamar pengantin dengan isterinya, ia seringkali melihat betapa wajah isterinya berubah menjadi wajah Lin Hwa yang membuatnya melamun.
Un Kong Sian sama sekali tidak tahu dan juga tidak mengira bahwa pada saat itu, tepat di hari ia menikah, pada malam harinya, Lin Hwa telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat di dalam kuil Thian- an-tang itu. Tangis bayi ini demikian nyaringnya hingga Lan-lan Nikouw mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul dan berkata,
“Bagus, bagus ! Ia calon seorang Mulia” Dengan penuh kesabaran dan telaten sekali, para nikouw di kuil itu memelihara Lin Hwa dan bayinya hingga biarpun ketika melahirkan menderita hebat oleh karena lelah dan sedih teringat kepada suaminya, namun lambat laun hati Lin Hwa yang bersemangat gagah itu dapat menundukkan kesedihannya dan apabila ia nelihat puteranya yang montok dan sehat itu, sinar kegembiraan terbayang pada wajahnya yang cantik. Atas nasehat Lan-lan nikouw, anak yang diberi nama Cin Pau oleh ibunya itu, diberi she (nama keturunan Ong, yakni she ibunya, oleh karena kalau diberi she Khu, khawatir
kalau-kalau akan menarik perhatian para perwira kerajaan. Maka, anak itu lalu bernama Ong Cin Pau dan mendapat perawatan yang sangat open dan penuh kasih sayang dari ibunya dan para nikouw di kuil Thian-an-tang. Setelah anak itu dapat berjalan, Lin Hwa mulai menggembleng tubuh puteranya dengan menggosok ramuan obat kuat yang ia buat sendiri dengan maksud agar tubuh puteranya menjadi sehat dan kuat dan kelak menjadi seorang yang gagah perkasa.
Peristiwa yang terjadi pada keluarga Khu dan Ma itu, tidak saja mendatangkan malapetaka pada kedua keluarga tersebut, akan tetapi juga mendatangkan malapetaka yang tak kalah hebatnya pada keluarga Pangeran Gu Mo Tek dengan terbunuhnya Gu Mo Tek dan kedua orang puteranya, Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu, oleh amukan Khu Tiong dan Ma Gi.
Pada malam hari terjadinya pembunuhan itu, gegerlah seluruh keluarga pangeran itu. Nyonya pangeran yang sudah tua menangis sampai jatuh pingsan beberapa kali, sedangkan isteri kedua orang muda ini memeluki jenazah suaminya sambil menangis tersedu-sedu. Mereka ini harus dikasihani oleh karena sama sekali tidak berdosa dan tidak tahu menahu tentang urusan yang mendatangkan malapetaka ini, bahkan kematian Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu juga mengandung penasaran besar karena kedua orang muda inipun tidak tahu akan pengkhianatan terhadap kedua orang sastrawan tua yang dilakukan oleh ayah mereka.
Pada saat terjadinya pembunuhan ini, isteri Gu Keng Siu telah mempunyai seorang putera berusia lima bulan, sedangkan isteri Gu Leng Siu mengandung muda, paling banyak empat bulan. Dapat dibayangkan betapa hancur dan sedih hati mereka dan berbareng dengan kesedihan hebat ini, timbul pula dendam yang mendalam dan besar di dalam hati mereka terhadap Khu Tiong dan Ma Gi. Kedua nama ini mereka ingat baik-baik dan selama hidup takkan pernah mereka lupakan.
Beberapa bulan kemudian, isteri Gu leng Siu melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Gu Hwee Lian. Dan karena nyonya janda ini masih muda lagi cantik jelita, maka ketika datang pinangan dari seorang komandan meliter berpangkat Touw-tong yang masih muda lagicakap dan gagah, ia menerimanya lalu berpindah ke rumah gedung Touw-tong itu ke kota Lok-keng. Towtong ini bernama Gan Hok dan ia memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, mewarisi ilmu kepandaian silat ayahnya yang telah meninggal dunia. Gan Hok menerima anak tirinya dengan hati rela, karena iapun suka melihat anak yang mungil dan mukanya mirip ibunya itu.
Adapun nyonya janda Keng Siu tidak mau kawin lagi, bahkan bersumpah hendak menjadi janda sampai tiba saatnya menyusul suami ke alam baka dan bersumpah pula hendak menjagaputeranya yang bernama Gu Liong itu agar kelak dapat membalaskan dendam hatinya. Nyonya janda Cu Keng Siu tetap tinggal bersama ibu mertuanya di gedung nyonya pangeran ini, dan kadangkala ia mengunjungi ibu Gu Hwee Lian yang kini menjadi nyonya Gan Hok itu. Mereka tetap mengadakan perhubungan seperti biasa oleh karena biarpun yang seorang telah menjadi isteri orang lain, namun dendam hati mereka masih sama hingga seakan-akan ada pertalian erat di antara mereka berdua, bahkan Gan Hok telah berlaku baik sekali kepada nyonya janda Gu Keng Siu dan ketika diminta, ia suka menerima Gu Liong menjadi muridnya, dan mengajarsilat kepadananak laki-laki ini bersama dengan anak tirinya, yakni Hweee Lian.
Biarpun kedua orang perempuan yang mengandung dendam hati besar ini telah mendengar bahwa kedua orang musuh mereka, yakni Khu Tiong dan Ma Gi, telah dapat ditewaskan oleh para perwira, namun mereka tetap merasa kurang puas oleh karena kedua isteri musuh-musuh ini masih hidup dan bahkan sedang mengandung tua sehingga rasa dendam mereka segera berpindah kepada isteri Khu Tiong dan isteri Ma Gi beserta anak-anak mereka.
Demikian hebat rasa dendam yang sudah mengeram dan meracuni hati wanita, sehingga mereka tidak puas sebelum melihat musuh mereka di tumpas habis sampai semua keluarga dan keturunannya. ******
Nyonya janda Ma Gi yang tinggal di gedung Gak Song Ki akhirnya melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Ma Siauw Eng. Nama ini dipilih oleh Kwei Lan, nyonya janda itu, untuk memperingati ayah mertuanya, Ma Eng, maka anaknya pun diberi sama dengan huruf “Eng” pula. Gak Song Ki dan ibunya girang sekali dan suka melihat anak perempuan yang cantik dan mungil itu. Adapun tentang nama, Gak Song Ki tidak menaruh keberatan karena ia amat sayang kepada Kwei Lan.
Mendapat pelayanan yang amat manis dan baik dari perwira muda yang tampan itu beserta ibunya, dan melihat pula betapa Gak Song Ki selalu bersikap ramah tamah dan sopan santun, juga amat mencintainya, maka setahun kemudian Kwei Lan tak dapat menolak dan menerima dengan hati tulus pinangan perwira muda itu sehingga ia menjadi nyonya Gak Song Ki yang gagah. Orang tak dapat menyalahkan nyonya janda ini karena ia mempunyai banyak alasan kuat untuk menerima pinangan Gak Song Ki. Pertama-tama karena ia masih amat mudah, belum lebih dua puluh tahun hingga tentu saja hatinya masih ingin sekali mempunyai rumah tangga yang bahagia. Kedua karena Gak Song Ki adalah seorang perwira muda yang cukup tampan, sopan, dan gagah perkasa. Ketiga karena nyonya janda ini merasa telah berhutang budi dan mengingat akan nasib puterinya. Kalau ia menjadi nyonya perwira ini, tentu hidupnya akan terjamin dan dengan sendirinya ia tak usah kuatirkan nasib anaknya. Pula, dengan menjadi isteri Gak Song Ki ia tak perlu kuatir lagi akan dikejar-kejar oleh kaisar dan jiwanya serta keselamatan anaknya takkan terganggu pula.
Ternyata bahwa Gak Song Ki amat menyinta Kwei Lan hingga nyonya ini merasa beruntung sekali. Terutama karena ia melihat betapa suaminya yang baru ini juga menaruh hati kasih sayang kepada Siauw Eng yang jelas sekali kelihatan bahwa ia akan menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa seperti ibunya. Gak Song Ki adalah seorang perwira yang kurang paham tentang ilmu sastera, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi hingga karena ia tidak dapat mengajarkan ilmu kesusasteraan maka ia lalu melatih ilmu silat kepada Siauw Eng yang dianggap seperti anak sendiri itu.
Demikianlah, empat orang muda yang binasa sebagai akibat dari pada perbuatan ayah masing-masing, yakni Khu Tiong, Magi, Gu Keng Siu, dan Gu leng Siu, meninggalkan keturunan masing-masing yang hidup terpisahdan dalam keadaan yang berlainan pula, akan tetapi keempat keturunan itu semua menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi semenjak kecil dan yang kelak akan menimbulkan cerita luar biasa hebat dan ramainya.
Pada waktu itu, rakyat yang telah tertindas oleh kelaliman Kaisar beserta hulubalangnya dan para pembesar yang korup, lebih menderita lagi ketika Tiongkok diserang musim kering yang hebat. Panen menjadi rusak dan tak berhasil, namun tetap saja rakyat tani harus membayar pajak yang luar biasa beratnya hingga seakan-akan mereka tercekik dari kanan kiri. Entah dosa apa yang telah diperbuat oleh nenek moyang mereka hingga pada saat yang bersamaan, Tuhan dan Kaisar telah memperlihatkan kekuasaan dan kemurkaan terhadap para petani miskin itu.
Keadaan yang amat sengsara ini telah sampai di puncaknya dan ibarat api telah bernyala-nyala. Kemudian tersebarlah buku karangan Khu Liok dan Ma Eng yang berjudul TUHAN TELAH SALAH PILIH itu yang merupakan kipas dan yang mendatangkan angin hingga api yang telah bernyalah di dada para rakyat kecil itu makin berkobar hebat. Maka pecahlah pemberontakan kaum tani pada tahun 874 dipimpin oleh seorang patriot bernama Ong Sian Ci dan dimulai di Santhung, daerah yang menderita karena musim kering. Pemberontakan menjalar luas sekali sehingga sebentar saja dimana- mana terjadi pemberontakan kaum tani yang menuntut perbaikan nasib. Ketika pemimpin pemberontakshe Ong itu tewasdalam peperangan, ia digantikan oleh seorang patriot lain bernama Oey Ciauw yang berhasil menggerakkan kaum tani dan rakyat kecil sampai mencapai barisan yang terdiri dari setengah juta rakyat lebih.
Dan tentara rakyat ini menyerbu terus, menerjang segala penghalang, sepak terjang mereka mengerihkan dan mengagumkan sekali, mati satu maju dua, roboh dua maju empat, terus menerus jumlah mereka melipat gandahingga akhirnya kekuasaan Kaisar tang dapat ditumbangkan hingga Kaisar yang lemah itu melarikan diri, mengungsi ke Secuan.
Un Kong Sian yang melihat semua ini, menghela napas dan menyesali sifat Kaisar yang kurang bijaksana hingga terjadilah pemberontakan ini. Ia tidak mau ikut campur dan hanya tinggal di rumah bersama isteri dan ibunya. Orang muda ini tidak mengalami kebahagiaan dalam rumah tangganya. Memang ia harus akui bahwa isterinya adalah seorang wanita yang selain cantik, juga sangat setia dan melayaninya dengan penuh perhatian. Akan tetapi, isterinya yang bernama Oey Bi Nio ini, terlalu pendiam dan jarang sekali tersenyum. Segala apa yang dilakukan hanya terdorong oleh tugas dan wajib semata-mata, tanpa disertai perasaan kasih sayang yang seharusnya diperlihatkan oleh seorang isteri. Kong Sian tak dapat mencela isterinya, karena memang dalam segala hal, Bi Nio berlaku baik dan memenuhi kewajiban dan inilah yang mengesalkan hatinya. Bi Nio merupakan sebuah mesin yang baik jalannya, atau seorang pelayan yang sempurna pekerjaannya, bukan merupakan seorang isteri yang merupakan lawan bercinta dan bercekcok.
Tubuh Un Kong Sian makin kurus saja, karena ia jarang keluar pintu dan kesukaannya hanya duduk di sebuah kursi dan melamun. Ibunya amat kuatir melihat keadaan puteranya ini dan sebagai seorang wanita kuno, ia cukup puas melihat anak mantunya yang tahu kewajiban dan berbakti itu, sama sekali tidak tahu tentang kekosongan hati puteranya akibat sikap pendiam dan penurut dari Bi Nio itu.
“Kong Sian, mengapa kau selalu melamun dan seperti orang yang berduka saja ?” pada suatu hari nyonya tua ini bertanya dengan suara penuh kasih sayang. Apakah kau merasa tubuhmu kurang sehat
?”