“Suhu yang mulia, teecu berdua menyerahkan keselamatan jiwa raga di tangan suhu. Kalau suhu menghendaki kami ditangkap dan dihukum mati, terserah, kami takkan melawan karena teecu berdua maklum bahwa melawan suhu sekalian takkan ada gunanya,” kata Un Kong Sian.
“Hm, anak muda, kau berani dan tabah sekali. Siapakah kau dan siapa pula toanio ini ?” tanya Pek Seng Hwesio.
“Teecu hanyalah seorang kawan atau saudara yang membela kawan ini, dan dia ini adalah isteri suheng yang bernama Khu Tiong. Mungkin suhu pernah mendengar nama Khu Liok sastrawan tua itu, Nah, dia ini adalah anak mantunya.”
Mendengar nama Khu Liok disebut oleh anak muda itu, wajah Pek Seng Hwesio nampak terkejut dan sikapnya berubah sungguh-sungguh. Ia lalu mengajak masuk kedua orang muda itu ke ruang dalam dan berkata,
“Pinceng sudah mendengar tentang sastrawan tua yang luar biasa itu dan pinceng sudah membaca pula tulisannya yang berjudul TUHAN TELAH SALAH PILIH. Tadinya pinceng tidak sudi membaca tulisan yang berjudul seperti itu, tidak tahunya ketika pinceng membacanya, isinya penuh dengan sifat- sifat prikemanusiaan dan keadilan yang membuat pinceng sampai mengeluarkan air mata karena teraruh. Sastrawan she Khu itu benar-benar telah membuka mata dan melukiskan keadaan rakyat jelata yang amat menderita dan secara menyindir menyatakan betapa dengan pengangkatan seorang kaisar yang tidak tahu akan keadaan rakyatnya maka seakan-akan Thian telah salah pilih, yakni salah memilih kaisar.”
Dengan penuh semangat dan bergembira, pendeta tua itu membicarakan isi tulisan Khu Liok sehingga Un Kong Sian dan Lin Hwa merasa girang karena hal ini membuktikan bahwa tulisan orang tua itu benar-benar meresap di kalangan rakyat sampai ke pendeta-pendetanya dan bahwa pendeta ini berada di pihak mereka. Kemudian Pek Seng Hwesio lalu bertanya tentang pengalaman mereka. Ketika ia mendengar betapa seluruh keluarga Khu dan Ma mengalami bencana hebat dan menemui maut secara mengerikan, ia menyebut berulang-ulang,
“Omitohud Kejam, sungguh kejam. Kalau begitu, jiwi harus segera mencari tempat yang aman. Bagi
kau, sicu, lebih mudah untuk menghindari diri dari ancaman mereka karena selain kau seorang pria, juga kau memiliki ilmu silat yang cukup baik. Akan tetapi bagi toanio ini. ” Pek Seng Hwesio
memutar-mutar otaknya. Untuk menempatkan wanita muda ini di kuil Thian-lok-si adalah hal yang tidak mungkin sama sekali oleh karena di sebuah kelenteng hwesio, mana bisa ditempatkan seorang wanita muda yang cantik dan yang sedang hami pula ?
“Toanio telah mengandung tua, maka perlu sekali mendapat tempat yang tepat, hingga sewaktu-waktu melahirkan, tidak mengalami kesukaran. Pinceng mempunyai seorang kenalan baik di Kwi-ciu, yakni Lan-lan Nikouw yang mengepalai sebuah kuil wanita di kota itu. Lebih baik sicu ajak toanio ke Kwi-ciu yang tak berapa jauh letaknya dari sini sambil membawa sepucuk surat dari pinceng, Lan-lan Nikouw tentu akan suka menerima dan menolong toanio hingga sementara waktu dapat tinggal dan bersembunyi di sana sampai saat melahirkan tiba. Adapun bagi sicusendiri, tentu saja tidak bisa tinggal di sana dan pinceng rasa mudah bagi sicu untuk mencari tempat berlindung,” kata pula hwesio tua itu kepada Un Kong Sian.
“Terima kasih banyak, suhu. Sekarang juga teecu hendak membawa soso ke sana. Bagi teecu sendiri tidak ada bahaya sesuatu oleh karena menurut rasa teecu, para perwira itu tidak ada yang melihat teecu hingga setelah teecu dapat mencarikan tempat aman bagi soso, teecu dapat kembali ke kota raja dengan aman.”
Demikanlah, setelah keduanya menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada hwesio tukang sapu yang telah menolong mereka, Kong Sian dan Lin Hwa segera meninggalkan kelenteng Thian-lok-si dan menuju ke Kwi-ciu. Mereka masih menyamar sebagai dua orang hwesio yang melakukan perantauan. Oleh karena pada waktu itu memang banyak terlihat hwesio-hwesio atau tokouw-tokouw dan tosu-tosu melakukan perantauan, maka kedua orang hwesio muda yang tampan initidak banyak menarik perhatian orang dan mereka dapat melakukan perjalanan dengan aman tanpa mendapat gangguan.
Bahkan para orang jahat dan perampok tidak mau mengganggu mereka, oleh karena selain mereka segan mengganggu “orang-orang suci”, juga mereka tahu bahwa dalam saku baju hwesio yang lebar itu takkan terdapat sesuatu yang berharga.
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Kwi-ciu dan mudah saja mereka mencari kuil nikouw (pendeta wanita penganut agama Buddha). Yang bernama Thian-an-tang. Kepala pendeta di situ yang bernama Lan-lan Nikouw ternyata adalah seorang nikouw tua yang amat ramah tamah dan yang menerima mereka dengan hati terharu setelah membaca surat pek Seng Hwesio dan mendengar pengalaman mereka. Ia menyatakan kerelaan hatinya untuk menerima Lin Hwa dengan ucapan halus,
“Tentu saja toanio boleh tinggal di sini dan biarlah dia menyamar sebagai nikouw dan menanti kelahiran bayinya di kelenteng kami.” Lin Hwa sambil berlutut menghaturkan terima kasih, sedangkan Kong Sian setelah berpamit dan meninggalkan pesan agar Lin Hwa menjaga diri dengan hati-hati, lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke kota raja.
Sebelum masuk ke kota raja, pemuda yang selalu berhati-hati ini terlebih dahulu mendengarkan berita- berita tentang peristiwa hebat itu untuk mendengar kalau-kalau namanya disebut-sebut. Akan tetapi, sebagaimana dugaannya, dengan hati lega ia mendapat kenyataan bahwa tak seorang pun di antara para perwira ada yang mengenalnya hingga ia dapat masuk dengan aman di kota raja dan menuju ke rumahnya.
Ibunya yang sudah amat mengkhawatirkan keadaan puteranya yang lama pergi tak kunjung pulang dan yang sama sekali tidak mengabarkan ke mana perginya itu, menyambutnya dengan girang dan lega.
Kepada ibunya, Kong Sian menuturkan pengalamannya hingga orang tua inipun merasa amat terharu dan kasihan mendengar tentang nasib kedua keluarga yang dikenalnya itu pula.
Pada hari itu juga, Kong Sian mengunjungi seorang perwira yang dikenalnya dan bertanya tentang nasib kedua suhengnya. Ternyata bahwa kedua suhengnya itu telah tewas dan hal ini benar-benar membuat hati pemuda ini sakit sekali. Akan tetapi, di depan perwira itu, ia tidak berani berkata apa-apa dan kemudian ia pulang dengan hati dan pikirannya penuh mengenangkan keadaan lin Hwa Bagaimana kalau nyonya yang kini telah menjadi janda itu mendengar akan nasib suaminya ? Ia merasa kasihan sekali dan diam-diam Kong Sian merasa heran di dalam hatinya kini tumbuh semacam perasaan yang aneh terhadap diri Lin Hwa. Seakan-akan ia ikut merasakan penderitaan nyonya muda itu dan diam- diam ia merasa bahwa ia bertanggung jawab untuk mengurus dan memperhatikan nasib selanjutnya dari Lin Hwa dan diam-diam ia mempunyai kesanggupan besar untuk membela dan melindungi nyonya itu dengan taruhan jiwanya.
Nyonya Un yang selalu menguatirkan puteranya kalau-kalau sampai terlibat dalam urusan itu, lalu mengambil keputusan untuk segera melangsungkan pernikaan Un Kong Sian yang sudah lama ditunda- tunda. Ia berpendapat bahwa kalau sudah kawin, putera tunggalnya ini tentu akan menghentikan kebiasaannya merantau. Maka, ketika Kong Sian tiba di rumah, ia disambut oleh ibunya dengan kata- kata halus akan tetapi tegas,
“Kong Sian, aku akan mengirim utusan ke rumah keluarga Oey untuk menetapkan hari perkawinanmu. Ku minta supaya kali ini kau tidak akan membandel lagi !”
“Ibu. !” bantah Kong Sian, akan tetapi ketika melihat betapa sinar mata ibunya membayangkan sesal
dan duka, ia tak berani melanjutkan bantahannya.
“Anakku, kau tahu bahwa ibumu telah tua dan mungkin takkan lama lagi hidup di dunia ini. Kau tahu pula bahwa idam-idaman hati ibumu yang terutama ialah melihat kau menjadi pengantin dan kemudian kalau usia masih panjang, dapat menyaksikan kelahiran cucuku dan dapat pula menimang-nimangnya. Apakah kau begitu tega hati untuk mengecewakan dan mendukakan hati ibumu yang telah tua ini ?
Apakah dari anak tunggalku aku takkan mendapatkan kepuasan hati yang tak berapa berat dilakukannya ini ?”
Un Kong sian menundukkan kepala dan aneh sekali, pada saat ia didesak supaya kawin dengan Oey- siocia, puteri keluarga Oey yang kaya raya itu, pikirannya melayang ke kuil Thian-an-tang.
“Aku tidak berani membantah kehendakmu, ibu, hanya aku hendak menyatakan bahwa sebenarnya hatiku belum ingin kawin.”
“Kong Sian, Kong Sian apakah kau hendak menanti aku mati lebih dulu sebelum kawin ?” Sambil
berkata demikian, nyonya tua itu mulai menangis. Menghadapi senjata ampuh dari kaum wanita ini, Kong Sian menyerah dan segera berlutut di depan ibunya.
“Baiklah, ibu, baiklah dan jangan ibu bersedih hati,” jawabnya dengan lemas.
Maka giranglah hati Un-hujin ini dan segera ia mengirim utusan dan menetapkan hari pernikahan puteranya itu secepat mungkin. Semua persiapan pernikahan telah diadakan dan setiap hari nyonya tua itu sibuk sekali, akan tetapi dalam kesibukkannya, sinar kegembiraan tak pernah meninggalkan wajah nyonya tua ini sehingga diam-diam Un Kong Sian menghela napas dan tidak tega untuk mengecewakanhati ibunya. Ia pernah melihat wajah tunangannya dan harus ia akui bahwa wajah tunangannya itu cukup cantik menarik, akan tetapi entah mengapa, kini hati dan pikirannya penuh dengan bayangan Lin Hwa yang ia anggap seorang wanita gagah yang bernasib malang dan patut dikasihani.