Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 08

Memuat...

“Jangan mengacau di sini ! Siapapun juga tanpa perkenan Pek Seng Suhu, tidak boleh menjamah tirai ini !” katanya dengan suara keras dan kedua matanya yang bundar dan lebar itu melotot marah.

Can Kok terkejut sekali karena ketika tangan hwesio buruk ini menarik tangannya, ia merasa tenaga yang besar sekali keluar dari tangan itu hingga terpaksa ia tidak dapat menjamah tirai itu. Tentu saja perwira ini marah sekali dan sambil bertolak pinggang dengan tangan kiri ia membentak,

“Kau ini hwesio kurang ajar ! Tidak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa ?”

Hwesio yang bermuka bopeng dan hitam itu tertawa bergelak dan berkata dengan suaranya yang parau, “Dengan siapa ? Ha, ha, ha ! Pinceng tidak tahu akan perbedaan pangkat dan pakaian, akan tetapi yang sudah terang bahwa pinceng berhadapan dengan seorang yang kasar, dan terutama sekali membanggakan sedikit kepandaian yang dimilikinya.”

“Hwesio bangsat ! Buka matamu lebar-lebar. Aku adalah seorang panglima kerajaan berpangkat congtok, dan aku si Tombak Dewa Can Kok bukanlah seorang yang biasa suka menerima hinaan dari seorang hwesio hina dina macam kau !” Can Kok marah sekali hingga seluruh mukannya menjadi merah karena ia telah dihina oleh seorang hwesio biasa di depan semua anak buahnya yang telah melakukan pemeriksaan tanpa berhasil lalu mengelilingi komandannya yang hendak memberi hajaran kepada hwesio kurang ajar itu. Mereka merasa tertarik karena tadinya mereka ini merasa jengkel dan penasaran karena usaha mereka untuk menangkap kedua orang buruan itu gagal, dan mereka telah dapat membayangkan betapa Can Kok pasti akan menghajar hwesio buruk itu sampai berteriak-teriak minta ampun.

Akan tetapi, melihat kemarahan Can Kok, hwesio bermuka hitam itu tidak merasa gentar sedikitpun, bahkan lalu menjawab sambil tertawa. “Bukan kami yang menghina, akan tetapi kaulah yang mulai mencari perkara. Kalian ini datang mencari orang, setelah tak bertemu, seharusnya segera pergi agar jangan mengganggu kami dan jangan mengotori tempat suci ini dengan kekasaran-kekasaran. Akan tetapi kalian bahkan hendak menodai tempat suci. Ketahuilah, orang sombong, jangankan baru kau yang hanya berpangkat congtok saja, bahkan kaisar sendiri tak boleh menghina tempat suci.” “Bangsat sombong, rasai kepalanku !” bentak Can Kok yang segera menyerang dengan gerakan istimewa, yakni tangan kanan memukul kepala dengan tipu Thai-san-ap-teng atau Gunung Besar Menimpa Kepala sedangkan tangan kiri menggunakan gerakan Eng-jiauw-kang atau Cengkeraman Kuku Garuda yang menyerang ke arah lambung hwesio itu. Jangankan kedua serangan ini mengenai sasaran, baru salah satu saja kalau mengenai sasaran dengan tepat, cukup membuat orang yang diserang mati seketika.

Melihat serangan yang berbahaya dan disertai tenaga iweekang yang kuat ini, baik Un Kong Sian maupun Lin Hwa yang berdiri di antara puluhan orang hwesio yang berada di sekitar tempat itu menonton, menjadi terkejut dan cemas sekali. Akan tetapi, Pek Seng Hwesio bahkan tersenyum dan berkata,

“Lo-koai (setan tua), jangan kau celakakan dia !”

Hwesio muka hitam itu dengan tertawa geli lalu mengulurkan tangan ke arah cengkeraman lawannya, sedangkan pukulan yang mengarah kepalanya yang gundul pelontos itu tidak dihiraukannya sama sekali. Dua hal yang aneh sekali terjadi pada saat bersamaan. Ketika pukulan Can Kok tiba di kepala yang licin itu, tiba-tiba kepalan tangannya meleset, seakan-akan kepala itu terbuat dari pada baja yang dilumuri minyak, demikian keras dan licinnya. Sedangkan tangan Can Kok yang mencengkeram lambung, begitu kena ditangkap, lalu hwesio itu berseru keras dan tahu-tahu tubuh Can Kok telah dilempar ke atas dan jatuh bergedebukan di atas tanah, kira-kira tiga tombak jauhnya dari tempat itu. Tentu saja hal ini mengejutkan para perwira itu, juga mendatangkan rasa terkejut dan heran pada kedua orang muda yang menyamar menjadi hwesio. Sedangkan Can Kok yang biarpun tidak menderita luka berat, hanya merasa pusing saja, menjadi marah dan malu. Dia tidak tahu ilmu apa yang membuat kepala hwesio itu demikian keras dan licin dan tidak tahu pula gerak tipu apa yang digunakan oleh hwesio itu untuk melemparkannya ke udara. Dengan mengeluarkan seruan keras, Can Kok lalu menyambar tombak cagaknya yang dibawa oleh seorang pembantunya. Ia putar-putar tombak yang telah memberi julukan si Tombak Dewa kepadanyaitu, sambil berkata, “Hendak kulihat apakah kepalamu yang gundul itu cukup keras untuk menahan tombakku.” Lalu ia menyerang dengan hebatnya.

Can Kok memang lihai sekali bermain tombak bercagak yang disebut kong-ce. Permainannya berdasarkan ilmu tombak dari Butong-pai yang sudah banyak dirobah dan disesuaikan dengan keadaan kong-ce itu dan ujung kong-ce itu mempunyai ujung tiga bergerak-gerak menjadi puluhan ketika ia memutar-mutar dan menyerang dengan ganasnya ke arah hwesio muka hitam yang masih berdiri dan tertawa ha, ha, hi, hi itu.

Ketika kong-ce itu menusuk ke arah perutnya yang gendut, hwesio itu tiba-tiba saja menarik perutnya sehingga mengempis, bahkan seakan-akan perut itu pindah ke belakang tubuhnya hingga ujung kong- ce tidak mengenai sasaran.Dipermainkan secara menghina ini, Can Kok lalu mengamuk hebat dan tujuan semua serangannya ialah membunuh lawan ini.

Sekali lagi terdengar suara Pek Seng Hwesio, “Lo-koai, jangan kau celakai dia !”

“Tidak suhu, jangan kuatir. Untuk merobohkan cacing tanah ini, tak perlu membunuhnya,” jawab si hweaio muka hitam sambil mengelak ke sana ke mari dengan cepatnya hingga diam-diam Un Kong Sian kagum sekali melihat kehebatan ilmu ginkang ini. Gerak-gerik hwesio ini mengingatkan dia akan seorang tosu sahabat baik suhunya yang dalam pengembaraannya seringkali mampir di Kunlun-san, karena tosu itu pernah mendemonstrasikan ilmu silatnya atas permintaan suhunya untuk menambah pengertian anak murid Kunlun-pai dan gerakan-gerakan serta kegesitan tosu itu hampir sama dengan hwesio muka hitam ini.

Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Can Kok dengan kong-cenya, hanya diganda ketawa sambil bergerak ke sana ke mari oleh hwesio itu. Setelah Can Kok menyerang lebih dari empat puluh jurus dan mulai merasa pening karena dipermainkan, tiba-tiba hwesio itu berseru keras dan sekali ia menangkap dan membetot, tubuh Can Kok terpelanting ke kiri dan roboh mencium tanah sedangkan kong-ce itu telah pindah tangan. Sambil menjura dengan penuh hormat, hwesio muka hitam itu lalu menyerahkan kong-ce tadi kepada Pek seng Hwesio yang menerima sambil memuji, “Bagus, lo-koai!” Can Kok merayap bangun dan semua anak buahnya yang berjumlah seluruhnya dua puluh tiga orang itu, dengan senjata di tangan segera maju dan hendak menyerang. Akan tetapi, tiba-tiba mereka mendengar suara senjata di belakang mereka dan ketika mereka menengok, ternyata lebih dari empat puluh orang hwesio telah berbaris rapi dengan senjata golok besar di tangan dan sikap mereka yang tenang itu mendirikan bulu tengkuk para anak buah Can Kok.

“Cuwi, janganlah menggunakan kekerasan !” kata Pek Seng Hwesio dengan suara tenang akan tetapi berpengaruh. “Apakah salah kami maka cuwi hendak memusuhi kami ? Cuwi sedang bertugas mencari dua orang buruan, akan tetapi buruan tidak tertangkap bahkan sebaliknya mengotori tempat suci. Kalau hal ini terdengar oleh kaisar, bukankah cuwi akan mengalami hal yang tidak enak sekali ? Ciangkun, terimalah kembali senjatamu ini dan bawalah kawan-kawanmu pergi dari sini !”

Sambil berkata demikian, Pek Seng Hwesio menyerahkan kembali kong-ce itu kepada Can Kok dan ketika ia menyerahkan senjata itu ia angsurkan gagangnya kepada Can-ciangkun sedangkan ia sendiri memegang ujung kong-ce yang runcing. Terpaksa Can Kok menerima senjatanya dan tanpa banyak cakaplagi ia lalu memimpin anak buahnya keluar dari kuil Thian-lok-si yang besar itu. Ketika ia telah tiba di luar dusun, barulah dengan terkejut sekali ia melihat betapa ketiga ujung kong-cenya yang tajam itu telah patah-patah semua. Ia teringat bahwa tadi ketika memberikan senjata ini, kepala hwesio yang alim dan lemah lembut itu memegang ujung kong-ce, maka mengingat betapa hebatnya tenaga hwesio tua yang baru memegang saja sudah dapat mematahkan ketiga ujung senjatanya yang kuat dan tajam, maka dapat diukur betapa tinggi pula ilmu kepandaiannya. Diam-diam Can Kok merasa untung bahwa hwesio-hwesio itu tidak bermaksud mencelakakannya, maka ia mengambil keputusan untuk berdiam dan tidak menceritakan hal memalukan itu kepada orang lain.

Sementara itu, setelah para pengejar itu pergi jauh, serta merta Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Seng Hwesio.

Bukan main herannya pendeta tua ini melihat dua orang “hwesio” muda tiba-tiba berlutut di depannya, bahkan “hwesio” yang seorang lagi menangis dengan suara wanita. Ia mengangguk maklum dan tahu bahwa inilah dua orang buruan yang dikejar-kejar oleh Can Kok dan anak buahnya.

“Siapa yang menolong mereka ini ?” tanya Pek Seng Hwesio sambil memandang ke arah semua hwesio yang berdiri di situ dengan sikap tenang.

Hwesio tukang sapu yang tadi menolong mereka, lalu maju dan menjatuhkan diri berlutut di belakang Kong Sian. “Teecu yang menolong mereka karena teecu tidak tega melihat keadaan toanio yang sedang mengandung ini.”

Pek Seng Hwesio menghela napas panjang dan mengangguk-angguk ketika mendengar bahwa wanita yang telah berubah menjadi hwesio gundul itu sedang mengandung.

Post a Comment