Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 07

Memuat...

“Hal itu tak perlu diherankan. Sekarang yang penting kita dapat tidur nyenyak agar besok pagi dapat melanjutkan perjalanan.”

Perjalanan ? Kemana ? Demikan Un Kong Sian berpikir bingung, walaupun mulutnya tidak berkata apa- apa. Ia merasa bahwa kini nyonya ini tentu telah menjadi janda dan sebatangkara karena ia tidak dapat meragukan akan nasib kedua suhengnya itu. Ia harus melindungi dan membela nyonya Khu ini karena selain dia sendiri, siapa lagi yang akan melindunginya ? Akan tetapi, kemana ia harus membawa Lin Hwa ? Pulang ke rumahnya tidak mungkin karena tentu para kaki tangan kaisar akan dapat mengetahuinya dan hal ini amat berbahaya. Tiba-tiba ia teringat kepada suhunya di Kunlun-san.

Membawa Lin Hwa ke pegunungan Kunlun ? Lebih tak mungkin lagi, karena perjalanan ke Kunlun-san sedikitnya makan waktu berbulan-bulan, sedangkan kandungan Lin Hwa telah mendekati kelahiran.

Habis, apa dayanya ? Un Kong Sian merasa bingung sekali dan selagi ia hendak membuka mulut mengajak Lin Hwa berunding, ia mendengar tarikan napas yang halus dan lambat, tanda bahwa wanita itu telah tidur. Maka ia urungkan maksudnya dan menyandarkan tubuh pada sebatang pohon. Dengan lindungan obat istimewa yang membuatnya kebal terhadap gangguan nyamuk, tak lama kemudian Kong Sian juga tertidur karena ia memang telah lelah sekali.

Pada keesokan harinya, baru saja mereka berdua terjaga dari tidur, mereka telah mendengar suara orang-orang di dalam hutan itu. Mereka serentak berdiri dan Un Kong Sian lalu berkata,

“Ah, mereka itu agaknya tidak tidur semalam karena gangguan nyamuk sehingga pagi-pagi benar telah mengejar kita.”

Keduanya lalu lari terus menuju ke barat dan tak lama kemudian mereka mendengar suara yang amat keras, “Hai, pemberontak-pemberontak. Menyerahlah dengan baik-baik agar kami tak usah mempergunakan tangan kejam!”

Kong Sian dan Lin Hwa terkejut karena thu bahwa suara ini digerakkan oleh tenaga khi-kang sehingga dapat terdengar jauh dan gemanya memenuhi hutan.

“Itu suara Can Kok lagi yang mengejar,” kata Kong Sian sambil mengajak kawannya berlari lebih cepat lagi. Tak lama kemudian mereka telah keluar dari rimba itu dan kini mereka berlari cepat di sepanjang sawah ladang tanda bahwa di dekat situ terdapat desa-desa tempat tinggal kaum tani yang mengerjakan sawah ladang itu. “Cepat, soso, ditempat terbuka ini kita mudah sekali kelihatan oleh musuh !”

Benar saja, setelah mereka berlari agak jauh dan telah mendekati sebuah dusun, dari dalam rimba keluarlah Can Kok diikuti oleh beberapa orang perwira yang berlari cepat sekali.

“Cepat masuk ke dusun ini !”, kata Kong Sian dengan khawatir karena ia maklum bahwa Lin Hwa tidak begitu tinggi ilmu lari cepatnya, apalagi karena kandungannya yang telah tua itu tidak memungkinkan ia berlari cepat.

Jarak antara mereka dengan para pengejar tidak jauh lagi dan ketika melihat sebuah kuil besar ditengah dusun itu, tanpa ragu-ragu lagi Kong Sian lalu memegang tangan Lin Hwa dan mengajak nyonya muda itu masuk ke dalam kelenteng.

Kelenteng ini adalah sebuash kelenteng besar yang bernama Kuil Thian-Lok-Si atau Kuil Kebahagiaan Surga. Kuil ini selain besar dan megah, juga didiami puluhan orang Hwesio (pendeta agama Buddha berkepala gundul). Ketika Kong Sian dan Lin Hwa memasuki kuil itu, para pendeta sedang berkumpul di ruang sembahyang dan sedang melakukan ibadat pagi, berkumpul dan bersembahyang bersama, kecuali beberapa orang hwesio yang bertugas, seperti mereka yang bertugas membersihkan halaman, masak, dan pekerjaan-pekerjaan lain lagi.

Seorang hwesio tukang sapu di ruang depan melihat dan menyambut kedatangan mereka dengan heran,

“Apakah jiwi (kalian berdua) hendak bersembahyang ? Masih terlalu pagi,” katanya.

“Suhu (anggilan untuk pendeta), tolonglah kami berdua yang dikejar-kejar oleh para perwira kerajaan . Demi nama Buddha yang mulia dan demi prikemanusiaan, biarkan kami bersembunyi di kuil ini,” kata Kong Sian.

Hwesio yang belum tua benar usianya itu memandang dengan ragu-ragu, akan tetapi ketika melihat perut Lin Hwa yang besar, ia lalu menyebut nama Buddha dan segera membawa mereka ke ruang belakang.

“Kalian harus menyamar sebagai hwesio,” katanya tergesa-gesa. “Telah pinceng dengar tentang kekejaman para perwira kerajaan. Akan tetapi sayang sekali, bagaimana dengan rambut jiwi ?” Kong Sian berpikir cepat, lalu mencabut pedangnya sambil memandang kepada Lin Hwa, “Soso,

beranikah kau mengorbankan rambutmu yang indah itu ?” Ia terlanjur mengucapkan kata-kata “indah” itu yang tak disengaja terloncat keluar dari mulutnya.

Untuk sejenak Lin Hwa memandang dengan muka pucat, akan tetapi dengan gagah ia lalu berkata, “Un-te jangan ragu-ragu, potonglah rambutku !” Dengan hati terharu Un Kong Sian lalu menggunakan pedangnya yang tajam untuk mencukur rambut kepala Lin Hwa yang meramkan matanya karena tidak tahan melihat betapa rambutnya yang hitam dan panjang itu tercukur habis dan jatuh ke atas lantai.

Hwesio itupun dengan cepat lalu mencukur gundul kepala Un Kong Sian. Setelah kedua orang muda itu kepalanya menjadi gundul dan bersih, hwesio tadi cepat membawa pergi rambut yang memenuhi lantai, dan mengeluarkan dua stel pakaian hwesio.

Untung sekali bahwa pakaian hwesio memang biasanya longgar dan besar hingga ketika Lin Hwa mengenakan pakaian ini, perutnya yang besar tertutup dan ia nampak sebagai seorang hwesio muda yang tampan sekali. Juga Kong Sian berubah menjadi seorang hwesio tulen hingga tanpa dapat tertahan pula, Lin Hwa memandangnya sambil tertawa geli.

“Mukamu terlalu halus dan merah,’ kata Kong Sian yang menatap wajah Lin Hwa dengan penuh perhatian. Wajah Lin Hwa memerah karena kata-kata ini walaupun sesungguhnya diucapkan karena kuatir hal ini menimbulkan kecurigaan para pengejar, akan tetapi juga dapat diartikan sebagai pujian akan kecantikannya. Nyonya muda ini memang pandai sekali dalam hal pengobatan dan penyamaran. Ia lalu minta arang dan setelah mencampur arang itu dengan tanah, ia membuat semacam bedak dan menggosok-gosok dengan bedak istimewa ini. Dan benar-benar hebat, karena kini mukanya berubah sama sekali dan kulit muka yang tadinya halus dan putih kemerahan serta tampak segar itu, kini menjadi gelap kehitam-hitaman dan kasar.

Kemudian, kedua hwesio istimewa ini lalu diantar oleh hwesio yang menyapu dan menolong mereka tadi ke ruang sembahyang di mana mereka ikut berlutut dan meniru-niru gerakan bibir hwesio lain yang sedang berkomat-kamit membaca doa.

Dan pada saat itu, setelah mencari di seluruh dusun dan tidak menemukan dua orang buruan mereka, para pengejar yang dikepalai oleh Can Kok, panglima yang kosen itu, masuk ke dalam kuil Thian-Lok- Si. Tadinya memang mereka tidak menduga bahwa kedua orang buruan itu berani memasuki kuil, akan tetapi oleh karena di seluruh dusun tidak tidak terdapat orang-orang yang mereka cari, akhirnya mereka lalu masuk ke dalam kuil. Kedatangan mereka ini disertai kutuk dan caci maki, dan sikap mereka yang kasar ini dan tidak mengindahkan kesucian kuil, membuat para pendeta menjadi marah dan mendongkol. Akan tetapi, mereka bersabar dan tidak mencari penyakit dengan memusuhi perwira=perwira yang terkenal sewenang-wenang dan kejam itu.

Melihat bahwa yang datang adalah serombongan perwira dari kota raja, maka kepala hwesio sendiri maju untuk menyambut setelah upacara sembahyang selesai. Kepala hwesio di kuil Thian-Lok-Si ini adalah seorang hwesio tua bernama Pek Seng Hwesio. Biarpun usianya telah lima puluh tahun lebih, akan tetapi wajahnya masih segar dan kemerah-merahan. Kepalanya gundul dan licin seakan-akan selama hidupnya tak pernah ditumbuhi rambut. Tubuhnya tinggi kurus dan sepasang matanya yang sipit itu nampak lemah lembut akan tetapi bersinar tajam sekali. Dengan sikap tenang, Pek Seng Hwesio menyambut kedatangan para perwira yang bersikap kasar itu dengan tubuh membungkuk sedikit dan kedua tangan terangkat ke dada sebagai penghormatan yang dilakukan kepada siapa saja yang bertemu dengannya.

“Cuwi ciangkun, selamat datang dan bolehkah pinceng ketahui maksud kunjungan yang terhormat ini ?” Can Kok yang lebih halus sikapnya dari pada semua anak buahnya, lalu melangkah maju dan membalas penghormatan kepala hwesio itu.

“Losuhu, tadi ada dua orang buruan yang berlari masuk ke dalam kuil ini. Kami datang hendak menangkap dua orang itu dan hendaknya diketahui bahwa ini adalah perintah dari kaisar sendiri yang tak boleh dilanggar oleh siapa juga.”

“Dua orang buruan ?” tanya Pek Seng Hwesio dengan muka heran, “Pinceng tidak tahu sama sekali. Siapakah orang-orang buruan itu ?”

“Mereka adalah seorang wanita muda dan seorang laki-laki kawannya. Mereka itu adalah pemberontak- pemberontak keluarga pemberontak Khu Liok yang telah dihukum. Kalau Losuhu membantu kami menangkap dua orang pemberontak besar itu, tentu kuil ini akan mendapat anugerah dari kaisar.” “Pinceng tidak melihat mereka,” kata Pek Seng Hwesio dengan suara bersungguh-sungguh, karena ia memang benar-benar tidak pernah melihat Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa karena ketika kedua orang muda itu tadi masuk, ia sedang memimpin persembahyangan di ruang sembahyang.

Can Kok memandang tajam dan agaknya ia tidak percaya ucapan itu. “Benar-benarkah losuhu tidak melihatnya ?”

Pek Seng Hwesio hanya menggelengkan kepala dengan perasaan tidak puas melihat bahwa ada orang yang meragukan kata-katanya.

“Kami akan memeriksa kuil ini !” tiba-tiba Can kok berkata keras. Pek Seng Hwesio tersenyum, “silahkan, ciangkun.”

Can Kok menyebar anak buahnya dan pemeriksaan dimulai dengan kasar oleh para anak buah panglima itu. Mereka memeriksa dan mencari dengan teliti sekali hingga semua kamar dimasukinya, akan tetapi bayangan kedua orang yang dicarinya itu tidak kelihatan. Dengan penasaran sekali Can Kok mengulur tangan hendak menarik tirai sutera yang menutup meja toapekong yang besar. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara keras dan nyaring,

“Jangan lakukan kelancangan itu !” Ini adalah suara Pek Seng Hwesio dan terdengar demikian berpengaruh hingga Can Kok menarik kembali tangannya.

“Mengapa losuhu ? Bagaimana kalau dua orang buruan itu bersembunyi di situ ?”

“Tak mungkin, pinceng yang menanggung bahwa tidak ada orang dapat bersembunyi di tempat itu. Janganlah ciangkun mengotori tempat yang suci ini.”

“Apa ? Tanganku kotor ? Ha, ha, ha ! Tidak lebih kotor daripada meja yang penuh debu dupa ini,” katanya dan ia mengulur tangan lagi hendak menarik tirai itu. Akan tetapi, tiba-tiba seorang hwesio yang berwajah bopeng dan bertubuh bongkok, melompat dan menarik tangannya.

Post a Comment