Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 06

Memuat...

Ia tidak merasa kuatir akan keadaan ibunya sekarang, oleh karena ketika ayahnya masih hidup, Un Congtok adalah seorang panglima yang disegani karena gagah berani dan berjasa, sedangkan selain mempunyai rumah gedung sendiri, juga keadaan nyonya janda Un cukup kaya.

Setelah melarikan kuda belasan li jauhnya, tiupan angin membuat Ong Lin Hwa siuman kembali dari pingsannya, nyonya muda ini ketika merasa bahwa ia sedang berada di atas kuda yang dilarikan keras, dipeluk oleh Un Kong sian segera berseru,

“Berhenti dulu !” Un Kong Sian girang mendengar ini karena kalau nyonya ini tetap pingsan saja maka sukar baginya untuk dapat bergerak leluasa dalam menghadapi musuh. Segera ia menghentikan kudanya dan melompat turun. Juga Ong Lin Hwa melompat turun dengan air mata membasahi kedua pipinya. “Un-te, bagaimana dengan suamiku ?” tanya nyonya ini dengan suara tetap, oleh karena sebagai seorang berkepandaian tinggi dan bersemangat gagah, nyonya muda ini tidak lemah hatinya.

“Khu-soso, ketika siauwte membawa lari soso, Khu suheng kulihat berdiri lagi dan mengamuk dengan pedang di tangan, bersama Ma suheng. Mereka berdua itu gagah sekali, soso. Sebetulnya siauwte merasa iri kepada mereka dan menghendaki agar kau dapat pergi berdua dengan suamimu biar aku dan Ma suheng yang melayani musuh. Akan tetapi, apa mau dikata ”

Ong Lin Hwa menghela napas panjang, “Tuhan menghendaki demikian, Un-te (adik Un), dan aku tahu akan kebaikan hatimu. Namun, biar pun bagaimana juga, kegagahan suamiku dan Ma-te yang gugur dengan pedang di tangan dan anak panah di tubuh, banyak mengurangi kedukaanku. Kalau sampai suamiku tewas, biar kudidik calon anak yang masih kukandung ini untuk menjadi seorang gagah perkasa agar ia dapat membalaskan dendam ayahnya dan membunuh semua perwira kerajaan yang berhati buruk dan kejam.” Sambil berkata demikian, nyonya yang gagah itu berdiri sambil mengepalkan tinjunya dan kedua matanya yang jeli dan bagus itu berapi-api.

Di dalam hatinya, Un Kong Sian tidak setuju dengan maksud Lin Hwa yang hendak memusuhi semua perwira kerajaaan, karena ia maklum bahwa tidak semua perwira kerajaan berhati kejam dan jahat belaka, akan tetapi oleh karena ia tahu pula akan kedukaan wanita muda ini, maka tak baik untuk membantahnya disaat itu.

“Khu-soso, lebih baik kita cepat melakukan perjalanan karena aku kuatir kalau-kalau mereka akan mengejar ke sini. Biarpun mereka tertinggal jauh, namun kuda mereka lebih cepat larinya dan di antara mereka banyak terdapat orang-orang gagah yang sukar dilawan!”

“Aku tidak takut ! Biar aku mati diujung senjata mereka, aku tidak takut dan akan membasmi sebanyak mungkin perajurit kerajaan yang keparat itu !”

“Aku tahu, soso, tentu saja kau atau aku tidak takut mati di ujung senjata mereka, akan tetapi kalau kita melawan begitu saja hingga akhirnya kita berdua mati, bagaimana dengan cita-citamu yang tadi kau ucapkan ? Apakah anak dikandunganmu itupun tidak akan ikut binasa ?”

Pucatlah wajah Ong Lin Hwa mendengar ini, ia memandang ke arah kuda mereka dan berkata, “Kau benar, Un-te. Mari kita pergi cepat-cepat. Akan tetapi, kuda hanya ada seekor saja.”

“Tidak apa-apa, soso. Kau sajalah naik kuda, aku akan mengejar dari belakang!”

Ong Lin Hwa belum tahu betul sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian pemuda ini yang sebetulnya tidak kalah dari suaminya sendiri, maka wanita muda ini meragukannya. Biarpun ia sendiri memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, namun apabila dibandingkan dengan suaminya atau dengan Un Kong Sian, ia masih kalah jauh.

Lin Hwa lalu naik di punggung kudanya dan melarikan kuda itu. Un Kong Sian lalu mengeluarkan ilmu kepandaian berlari cepat, sehingga cepat sekali ia melompat ke depan dan mengejar larinya kuda.

Ketika sudah melarikan kudanya untuk beberapa lama, Lin Hwa menengok dan alangkah heran dan kagumnya ketika melihat bahwa pemuda itu berlari cepat sekali di belakang kuda, nampaknya tidak sangat sukar untuk membarengi larinya kuda yang ditungganginya.

Beberapa lama mereka berlari dan tiba-tiba mereka mendengar suara banyak kaki kuda mengejar dari belakang.

“Benar saja, soso, mereka telah mengejar dari belakang, agaknya mereka telah mendapatkan jejak kita,” kata Un Kong Sian yang mempercepat larinya sehingga dapat berlari di samping kuda itu. “Habis, bagaimana baiknya, Un-te ?” jawab Lin Hwa dengan khawatir.

“Mari kita menuju kesana, soso, ke rimba itu !” Mereka lalu melarikan diri ke dalam hutan di sebelah kira jalan, Un Kong Sian minta supaya Lin Hwa turun dari kuda, kemudian mencambuk kuda itu sehingga berlari terus dengan cepat karena merasa sakit punggungnya dicambuk oleh pemuda itu. Sementara itu, Kong Sian lalu mengajak Lin Hwa berlari cepat dan bersembunyi di dalam rimba.

Tak lama kemudian, serombongan tentara pengejar yang dikepalai oleh seorang perwira tua mendatangi dari belakang.

“Hm, Can-ciangkun sendiri yang melakukan pengejaran,” kata Un Kong Sian terkejut. Juga Lin Hwa terkejut karena pernah mendengar nama ini sebagai seorang perwira yang berilmu tinggi dan gagah sekali. Can-ciangkun yang mengejar ini adalah seorang perwira berpangkat congtok dan yang telah menjadi panglima perang karena kegagahannya. Ia ahli bermain silat dengan tombak bercagak dan biarpun usianya telah lebih dari empat puluh tahun, namun tenaganya masih besar dan lihai.

Ketika rombongan itu lewat di dekat rimba, mereka tidak berhenti dan mengejar terus, karena kuda yang tadi ditunggangi Lin Hwa masih berlari terus dan terdengar suara kakinya dari situ. Un Kong Sian dan Lin Hwa yang bersembunyi di dalam rumpun alang-alang dan mengintai keluar, merasa lega melihat rombongan yang terdiri lebih dari dua puluh orang itu melewat dengan cepat tanpa menyangka bahwa orang-orang yang mereka kejar berada di dalam rimba itu.

“Mari, soso, kalau kuda kita tersusul, mereka mungkin akan kembali dan mencari di sini !” kata Un Kong Sian yang biarpun masih muda, namun pemandangannya luas dan pikirannya cerdas. Lin Hwa menurut saja, karena selain kalah pengalaman, nyonya muda inipun lebih muda usianya dari pada Un Kong Sian hingga biarpun pemuda ini menjadi adik seperguruan suaminya dan ia menyebutnya Un-te (adik Un), namun ia tidak merasa lebih tua atau lebih pandai. Apalagi ketika tadi ia menyaksikan betapa cepat lari pemuda ini hingga dapat diduga bahwa ilmu kepandaian pemuda inipun tentu jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.

“Nanti dulu, Un-te. Kita telan ini dulu agar kelelahan kita berkurang,” kata Lin Hwa sambil mengeluarkan beberapa butir pel merah dari saku bajunya.

Kong Sian maklum bahwa nyonya ini adalah seorang puteri tukang obat yang ternama sekali ketika masih hidup, maka tentu saja Lin Hwa juga ahli dalam hal pengobatan. Akan tetapi karena melihat bahwa pel yang dibawa oleh Lin Hwa itu tidak banyak, maka ia berkata, “Perlu sekali bagimu, soso, akan tetapi aku sendiri belum lelah. Jangan kita pergunakan benda berharga ini dengan sia-sia.” Lin Hwa mengangguk, dan setelah menelan dua butir pel merah itu yang amat perlu bagi tubuhnya,

mereka berdua lalu berlari cepat ke dalam hutan. Dapat dibayangkan betapa sengsara keadaan mereka berdua ini, apalagi karena kandungan Lin Hwa sudah delapan bulan sehingga tak dapat diduga berapa hari atau berapa pekan lagi ia akan melahirkan. Hutan itu liar dan penuh jurang-jurang curam sehingga perjalanan itu sungguh-sungguh sukar dan melelahkan. Terpaksa Kong Sian mengajak Lin Hwa berkali- kali mengaso untuk menjaga agar supaya nyonya muda itu tidak terlampau lelah. Lin Hwa maklum akan hal ini dan ia makin berterima kasih kepada pemuda yang selain gagah, juga baik hati dan bijaksana sekali itu.

Malam itu mereka terpaksa bermalam di dalam hutan yang gelap dan dengan cekatan sekali Kong Sian melompat kepohon-pohon untuk mencari buah-buahan yang enak dimakan. Mereka tidak berani menyalakan api karena takut kalau-kalau ada pengejar yang berada di dalam hutan itu, sehingga mereka harus menderita dari serangan beratus nyamuk yang kecil-kecil akan tetapi amat jahat dan gigitannya panas. Kong Sian mempergunakan mantelnya untuk diobat-abitkan mengusir nyamuk- nyamuk itu.

“Un-te, percuma saja kalau diusir dengan cara demikian. Kau carilah air sebelum keadaan terlalu gelap, kata Lin Hwa. Un Kong Sian lalu pergi mencari air dan akhirnya ia mendapatkan anak sungai mengalir di dalam rimba itu. Ia mempergunakan daun-daun yang lebar untuk membawa air itu dan memberikannya kepada Lin Hwa yang mengeluarkan sebungkus bubuk obat putih.

“Ini adalah bubuk penolak racun dan selalu kubawa untuk menjaga senjata beracun atau gigitan binatang berbisa,” katanya.

Kemudian Lin Hwa mencampur obat bubuk itu dengan air lalu membalurkan obat itu keseluruh kulit tubuh yang tidak tertutup pakaian seperti muka, tangan dan kaki. Kong Sian tidak berani melukai perasaan Lin Hwa, juga meniru perbuatan nyonya muda itu dengan merasa tidak enak sekali karena pada pikirnya sungguh gila harus memarami tubuh dengan air pada saat hawa udara sedingin itu.

Akan tetapi setelah air yang menempel kulit menjadi kering dan ketika ia diamkan saja nyamuk-nyamuk yang menempel pada kulit muka dan tangannya, dengan heran sekali ia melihat dan mendengar betapa nyamuk-nyamuk itu terbang pergi dan bahkan ada yang jatuh seperti mati pada saat menempel dikulit muka atau tangannya.

“Aduh, hebat sekali obatmu ini, soso. Nyamuk-nyamuk pada mampus begitu menempel pada kulitku, seakan-akan kulitku menjadi berbisa,” katanya memuji.

Di dalam gelap ia tidak melihat betapa wajah wanita itu berseri mendengar pujiannya, akan tetapi lin Hwa hanya berkata sederhana,

Post a Comment