Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 05

Memuat...

bangun duduk dengan bingung.

Wanita tua itu dengan lemah lembut lalu menyuruhnya berbaring kembali dan berkata dengan halus,

“Kau tidurlah saja, nak dan jangan banyak bergerak. Kau berada di rumahku, di rumah anakku dan jangan kau kuatirkan sesuatu”

Kwei Lan teringat akan semua yang telah terjadi dan ia menangis tersedu-sedu sambil menjatuhkan diri di atas bantal yang empuk.

“Siapakah kau ? Dan siapakah anakmu itu ? Ke mana perginya komandan keparat tadi ?”

“Tenanglah, nak. Dan jangan kau salah paham. Komandan itu adalah putera tunggalku dan aku adalah ibunya. Ia merasa kasihan kepadamu dan sengaja menolongmu dari bahaya maut.”

“Apa ? Ia menolongku ? Bangsat rendah ! Dialah yang mengepalai setan-setan itu membinasakan keluargaku,” teriak Kwei Lan dengan marah dan bangkit duduk lagi.

Nyonya itu tersenyum sabar. “Kau masih bingung dan sedih. Sudahlah, jangan kau bersedih dan ingat kepada kandunganmu. Puteraku hanya menjalankan tugas kewajibannya saja dan betul-betul karena kasihan kepadamu maka kau dapat dibawa ke sini dan terlepas dari bahaya maut.”

Kemudian dengan suara halus nyonya janda Gak ini menuturkan betapa puteranya merasa kasihan kepada Kwei Lan dan menawannya agar jangan sampai terjatuh dalam tangan para anak buahnya yang tentu akan membunuhnya pula. Dengan tangis memilukan, Kwei Lan mendengarkan ini semua dan ia menaruh kepercayaan, sungguhpun kesedihannya tidak berkurang karenanya. Ia hanya mengharapkan untuk berjumpa kembali dengan suaminya selekasnya.

Ketika Gak Song Ki datang, pemuda ini disertai ibunya menengok keadaan Kwei Lan dan sikapnya yang sopan dan halus membuat Kwei Lan tidak ragu-ragu lagi akan maksud baik perwira ini. Akan tetapi, melihat pandangan mata pemuda tampan itu mengandung perasaan hati yang mesra dan menyayang, timbul rasa malu yang besar dalam hati nyonya muda itu dan hal ini memperbesar pengharapannya untuk dapat segera bertemu kembali dengan suaminya dan selekasnya meninggalkan rumah gedung mewah dan indah ini.

“Toanio, harap kau tenang-tenang saja tinggal di rumah kami ini dan anggaplah rumah ini seperti rumahmu sendiri. Kami takkan mengganggumu, dan kalau boleh anggap saja kami sebagai keluarga sendiri,” kata Gak Song Ki dengan ramah tamah hingga tentu saja Kwei Lan merasa makin malu dan sungkan, karena di dalam keramahan ini terkandung suara hati yang lebih mesra daripada keramahan biasa.

“Ciangkun, di manakah suamiku ? Kalau kau memang menaruh kasihan kepadaku dan bermaksud

menolongku, tak ada pertolongan yang lebih besar bagiku selain apabila kau dapat mempertemukan kami kembali.”

“Toanio, untuk apa kau memikirkan hal itu ? Suamimu terbawa-bawa oleh urusan mertuamu yang memberontak terhadap pemerintah, bahkan suamimu telah membunuh banyak sekali perwira-perwira kerajaan. Kau sebagai seorang wanita janganlah ikut-ikut memikirkan dan berdiamlah saja di sini dengan hati tentram.”

Wajah Kwei Lan yang cantik jelita dan pucat itu makin memucat mendengar ucapan ini dan hatinya berdebar-debar penuh kecemasan.

“Gak-ciangkun, katakanlah sebenarnya, bagaimana dengan suamiku ? Bagaimana nasibnya dan dimanakah dia berada ?”

Gak Song Ki menghela napas panjang berulang-ulang, dan ia nampak sukar sekali untuk membuka mulutnya. Akhirnya, sambil memandang tajam dan dengan suara lirih ia berkata, “Toanio, apakah yang harus ku katakan kepadamu ? Suamimu bersama Khu Tiong yang memberontak dan membunuh banyak sekali perwira itu telah terkurung di hutan dan akhirnya mati terbunuh.”

“Mati. ?” lemaslah seluruh tubuh Kwei Lan. Pandangan matanya menjadi suram dan tiba-tiba seluruh

isi kamar itu seakan-akan berputaran di depan matanya. Kemudian, dengan keluhan perlahan, nyonya muda ini terguling dari dari tempat tempat duduknya tak sadarkan diri. Untung sekali Gak Song Ki berlaku cepat dan memeluk tubuh itu sebelum Kwei Lan roboh dan kalau hal itu terjadi, akan membahayakan keselamatan kandungannya. Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, Gak Song Ki lalu membaringkan tubuh yang lemas itu ke atas tempat tidur.

Ketika Kwei Lan siuman kembali, ia mendapatkan dirinya sudah terbaring di atas tempat tidur dan melihat bahwa pemuda perwira itu masih duduk di situ bersama ibunya, menjaganya dengan wajah nampak beriba hati. Nyonya muda itu lalu menangis sedih dan berkata dalam ratap hatinya,

“Suamiku telah binasa, demikian pula seluruh keluarga......apa artinya hidupku lagi. ? Lebih baik aku

mati saja ”

Setelah berkata demikian dan teringat akan keadaannya yang ditinggal seorang diri oleh orang-orang yang dicintainya, tiba-tiba sinar mata Kwei Lan menjadi beringas. Ia memandang kepada Gak Song Ki dan ibunya, lalu berkata dengan suara ketus,

“Kalian keluarlah dari kamar ini. Keluar !”

Nyonya tua ibu perwira itu, berdiri dan menhampiri serta membujuk, “Sabarlah, nak dan jangan kau bersedih. Tak baik bagi kesehatanmu, terutama bagi kandunganmu.”

“Sudahlah, tiada gunanya semua hiburan dan nasehat bagiku pada saat ini. Pergilah, pergilah kalian berdua dan biarkan aku seorang diri dalam kamar ini !” Kemudian ia menangis lagi terisak-isak.

Nyonya janda she Gak memandang kepada puteranya dan Gak Song Ki memberi tanda dan mengajak ibunya keluar dari kamar itu. Setelah kedua orang itu pergi, Kwei Lan lalu bergerak turun dari pembaringan dengan cepat dan matanya memandang ke seluruh kamar, mencari-cari. Ia hendak mencari benda tajam, pisau atau gunting untuk membunuh dirinya, akan tetapi di situ tidak terdapat sebuah pun benda tajam. Ia lalu memandang ke atas, juga mencari-cari dengan maksud menggantung diri. Akan tetapi, kembali ia kecewa karena rumah gedung itu mempunyai langit-langit yang tinggi sekali dan di situ tidak terlihat balok melintang yang cukup rendah untuk digunakan sebagai tempat sabuknya mengikat lehernya bergantung. Juga tempat tidur yang ditidurinya tadi mempunyai bentuk istimewa hingga tempat kelambunya pun kecil dan tidak cukup kuat untuk menahan gantungan tubuhnya. Hal ini membuat Kwei Lan menjadi bingung sekali dan akhirnya sambil memejamkan matanya, nyonya muda yang sudah berputus asa dan nekad ini lalu mengayun tubuh dan maju membenturkan kepalanya yang indah bentuknya itu kepada dinding di depannya. Akan tetapi, kembali maksudnya gagal, Sebelum kepalanya pecah membentur dinding, tubuhnya telah ditangkap dan dipeluk oleh Gak Song Ki yang sengaja berdiri dibalik daun pintu. Karena pemuda ini telah merasa curiga dan sengaja mengintai di situ. Kwei Lan meronta-ronta, akan tetapi ia tidak berdaya melepaskan diri dari pelukan kedua lengan yang amat kuat itu, akhirnya ia menjadi lemas dan menangis tersedu-sedu.

“Toanio, mengapa kau mengambil keputusan pendek ? Berdosa besar untuk membunuh diri sendiri, seakan-akan kau tidak percaya kepada keadilan Thian lagi,” pemuda itu menghibur setelah meletakkan tubuh Kwei Lan dengan hati-hati di atas pembaringan pula.

“Keadilan Thian ? Ah, kalau Thian adil tidak nanti menjatuhkan malapetaka atas keluargaku mana

keadilan Thian ?” Suaranya amat memilukan.

“Jangan berkata demikian, toanio. Keluargamu tertimpa malapetaka bukan tidak ada sebabnya. Semua itu diakibatkan oleh kesalahan dan perbuatan mertuamu dan sahabatnya orang she Khu itu. Sudahlah, toanio, kau ingatlah. Kalau kau membunuh diri, bukankah berarti kau menjadi pembunuh anak yang kau kandung sendiri ? Dosamu makin besar lagi !”

Diingatkan akan hal ini, tangis Kwei Lan menjadi-jadi karena ia merasa terharu dan sedih sekali. Gak Song Ki yang cerdik itu maklum bahwa kata-katanya mengenai sasaran tepat, maka ia lalu menyambung pula,

“Apalagi membunuh diri, baru berduka saja kau telah mempengaruhi keadaan kandunganmu dan kau telah berdosa terhadap calon anakmu. Karena Thian menghendakinya dan kau telah berada seorang diri, hidup sebatang kara, maka janganlah kau menampik uluran tangan kami yang bermaksud baik. Anakmu yang akan terlahir di sini akan menjadi penghiburmu, maka jagalah dirimu baik-baik, toanio. Kalau kau tidak kasihan kepada diri sendiri, sedikitnya, taruhlah hati kasihan kepada anak yang kau kandung itu.”

Sambil mengguguk-guguk menangis, Kwei Lan memandang wajah pemuda she Gak itu dengan teraruh dan penuh pernyataan terima kasih, lalu ia berkata perlahan, “Terima kasih ciangkun terima kasih.

Hanya Thian yang akan membalas kebaikan budimu ini ”

“Tak usah berterima kasih, toanio. Jaga dirimu baik-baik dan berlakulah seperti keluarga kami sendiri. Rumah ini rumahmu juga dan segala macam keperluanmu, katakan saja kepada pelayan atau kepada ibu, jangan kau berlaku sungkan-sungkan !” Dengan gembira dan hati tetap Gak Song Ki mengundurkan diri, keluar dari kamar itu. Ia merasa lebih gembira dari pada kalau pulang membawa kemenangan berperang. Kemenangan kali ini membuat hatinya berdebar girang dan ia merasa bahagia sekali. Demikianlah pengaruh hati yang terserang asmara.

Semenjak saat itu, benar saja Kwei Lan menghibur-hibur dirinya sendiri dan tiap kali ia teringat akan kedukaan besar yang menimpa dirinya, ia lalu mengingat kepada anak yang dikandungnya dan yang merupakan sumber kekuatan bagi jiwa raganya. Apalagi sikap Gak Song Ki dan ibunya merupakan hiburan yang besar pula hingga tak lama kemudian ia dapat tersenyum kembali hingga ibu Gak Song Ki seringkali memandang wajah yang tersenyum itu dengan amat kagumnya karena memang jarang ia melihat orang secantik Kwei Lan.

Un Kong Sian melarikan kudanya cepat sekali oleh karena ia maklum bahwa tak lama lagi para perwira kerajaan tentu akan mengejar dan tak membiarkan seorang keluarga dari Khu Liok yang dianggap pemberontak itu melarikan diri. Baiknya semua pengejar belum melihat mukanya, karena kalau hal ini terjadi maka ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan ibunya yang berada di rumah seorang diri pula.

Post a Comment