Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 04

Memuat...

Suara ribut-ribut ini terdengar oleh para pelayan dan beberapa orang penjaga segera menyerbu dengan senjata di tangan, mengeroyok Khu Tiong dan Ma Gi. Sebagian pula lalu lari melaporkan kepada markas besar penjaga di kota raja.

Biarpun Keng Siu dan Leng Siu suka akan ilmu silat, akan tetapi mereka hanya belajar dari guru-guru silat biasa saja, maka mana mereka dapat melawan Khu Tiong dan Ma Gi yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi ? Juga keroyokan beberapa orang pelayan itu tidak ada artinya bagi kedua orang pemuda yang gagah itu hingga beberapa belas jurus saja, Keng Siu telah tertusuk oleh pedang Khu Tiong sehingga roboh binasa sedangkan Leng Siu telah terbacok lehernya oleh pedang Ma Gi sehingga hampir putus. Tiba-tiba dari luar gedung pangeran Gu ini terdengar suara orang berseru-seru keras. Ternyata para perwira yang mendapat kabar bahwa dua orang putera sastrawan yang ditangkap itu mengamuk di gedung pangeran Gu Mo Tek, segera datang mengurung gedung itu.

“Sute, mari kita pergi !” kata Khu Tiong yang mendahului adik seperguruannya melompat keluar dari kamar itu dan berlari melalui pintu belakang. Beberapa orang perwira yang sudah menjaga lalu menyerbu mereka, akan tetapi dengan mudah Khu Tiong dan Ma Gi merobohkan dua orang dan mereka segera melompat naik ke atas genteng. Di antara perwira-perwira itu, banyak yang memiliki ilmu silat tinggi, sehingga ketika melihat bahwa dua orang muda yang mereka kejar-kejar telah melompat ke atas genteng, mereka ini lalu melompat pula menyusul.

Terjadilah pertempuran hebat lagi di atas genteng, di mana Khu Tiong dan Ma Gi dikeroyok oleh beberapa orang perwira. Kedua orang muda ini mengamuk hebat hingga tak sedikit yang roboh diujung pedang mereka, akan tetapi jumlah pengeroyok amat banyak dan boleh dibilang jatuh satu datang dua dan roboh dua datang empat, hingga akhirnya kedua orang muda itupun mendapat luka-luka di tubuh dan mengeluarkan banyak darah. Akan tetapi, dengan pedang yang dimainkan secara kuat dan hebat dalam ilmu pedang asli dari Kun-lun-pai, kedua anak murid Kun-lun-san ini masih dapat mempertahankan diri. Namun, mereka menjadi lelah menghadapi banyak lawan itu dan terpaksa mereka lalu membuka jalan darah dan melarikan diri dari situ dengan cepat.

Para anggota penjaga yang dipimpin oleh perwira-perwira kerajaan segera melakukan pengejaran, akan tetapi oleh karena malam masih gelap, Khu Tiong dan Ma Gi dapat menyelamatkan diri, walaupun musuh masih terus mengejar dan mencari-cari.

Menjelang fajar, ketika kedua orang muda ini berlari dan tidak berani menuju ke rumah Un Kong Sian, kuatir kalau-kalau akan merembet pemuda yang baik hati itu. Tak disangkanya, tiba-tiba pemuda itu muncul dan memberi isyarat dengan tangan agar mereka berdua suka ikut dengannya. Tanpa bertanya, Khu Tiong dan Ma Gi lalu berlari mengikuti Un Kong Sian yang membawa mereka keluar kota raja melalui tempat yang penjagaannya tidak begitu keras.

Setelah berlari cepat kira-kira sepuluh li jauhnya dari kota raja, Un Kong Sian membelok ke dalam sebuah hutan kecil dan di situ ternyata telah menanti Ong Lin Hwa, isteri Khu Tiong, di atas seekor kuda dan telah disediakan dua ekor kuda lain untuk mereka.

“Cepat ! Larilah kalian, jiwi suheng, aku telah mendengar semua tentang pembalasan dendammu !” “Sute, kau baik sekali. Terima kasih banyak” berkata Khu Tiong.

“Cepat, mereka telah datang !” kata Un Kong Sian kuatir dan benar saja, dari arah kota raja telah mendatangi banyak sekali kuda yang mengejar mereka. Agaknya para penjaga telah tahu bahwa orang- orang buruan mereka telah dapat melarikan diri keluar dari kota, maka mereka lalu mengejar cepat.

“Baiklah, sute, selamat tinggal” kata Ma Gi. Akan tetapi, ketika mereka hendak berangkat, tiba-tiba dari arah depan datang pula serombongan tentara negeri yang mengurung mereka.

“Celaka, kita terkurung” bisik Un Kong Sian dengan pucat. “Khu-suheng, lekas kau bawa soso lari, biar aku dan Ma-suheng mempertahankan diri di sini !”

“Tidak, sute !” kata Khu Tiong dengan tetap. “Kami tak dapat membiarkan kau terbawa-bawa dalam urusan kami. Kau saja pergilah cepat-cepat !”

“Khu-suheng, dalam keadaan dan waktu seperti ini, mengapa kita harus berlaku sungkan-sungkan? Pergilah kau bersama soso !” Kong Sian mendesak dan pada saat itu, berpuluh batang anak panah menyambar ke arah mereka hingga mereka bertiga, juga Lin Hwa yang memegang pedang, memutar senjata untuk menyampok semua anak panah yang menyambar ke arah mereka.

“Kau saja yang pergi, sosomu juga dapat menjaga diri, dan biarkan kami bertiga mempertahankan diri !” Khu Tiong berkeras dan Ma Gi juga mendesaknya,

“Un-sute, kau telah menolong kami dan tidak seharusnya kau berkorban jiwa pula. Kau masih muda dan kau tidak mempunyai hubungan dengan urusan kami ini. Kau pergilah dan tinggalkan kami bertiga mempertahankan diri dan biarlah kami bertiga mati secara orang-orang gagah !” Un Kong Sian membanting kakinya dengan gemas dan pemuda yang tampan dan gagah ini merasa bingung sekali.

“Ah, jiwi suheng benar-benar kepala batu dan keras hati” katanya gemas. “Apakah artinya mati bagiku ? Apakah artinya mati membela saudara ? Lebih baik kalian mengingat akan nasib soso ini, terutama nasib anak yang dikandungnya ! Kalau kita semua mati, habis siapakah yang akan membalaskan dendam kelak ?”

Pucatlah wajah Khu Tiong dan Ma Gi karena ucapan ini menikam betul hati dan perasaan mereka.

“Dia betul suheng !” kata Ma Gi. “Kau lekaslah lari bersama soso !” Khu Tiong terpaksa lalu melompat naik ke atas kuda, lalu ia berpaling memandang Kong Sian dan Ma Gi dengan kedua mata basah air mata.

“Sampai mati aku takkan melupakan kalian” Ong Lin Hwa telah mendahului dan melarikan kudanya, akan tetapi Khu Tiong masih ragu-ragu dan beberapa kali ia berpaling memandang kedua saudara seperguruan itu. Keraguannya inilah yang mencelakakannya, karena tiba-tiba ia menjerit keras dan roboh dari kudanya. Lin Hwa mendengar jerit suaminya lalu melompat turun dari kuda dan berlari menghampiri. Ia memeluk suaminya yang ternyata terkena anak panah pada dada kanannya.

Kong Sian dan Ma Gi juga berlari menghampiri dan pada saat itu kurungan para tentara kerajaan telah makin merapat dan mendekat. Ma Gi tidak mau membuang waktu lagi.

“Khu-soso, lekaslah kau pergi, tinggalkan kami di sini. Sekarang bukan waktunya ragu-ragu dan berlaku lambat. Musuh telah dekat !”

Akan tetapi, sambil mengeluh sedih nyonya Khu bahkan lalu menjadi lemas dan roboh pingsan di samping suaminya.

“Celaka !” kata Ma Gi dengan bingung. “Sute, lekas kau pondong tubuh sosomu dan bawa dia lari cepat keluar dari kepungan ini !”

Un Kong Sian adalah seorang pemuda yang dapat berpikir cepat dan mengambil tindakan tepat pada waktunya. “Baik, Ma suheng, dan mudah-mudahan kau dan Khu suheng dapat keluar dari sini

dengan selamat !” Pemuda itu lalu memondong tubuh Lin Hwa yang pingsan dan secepatnya ia melompat ke atas kuda yang terbaik, lalu melarikan kuda itu bagaikan terbang cepatnya dari hutan itu. Beberapa batang anak panah menyambarnya, akan tetapi dengan pedang di tangan kanan, Kong Sian dapat memukul jatuh semua anak panah itu dan melarikan kudanya makin cepat lagi.

Ma Gi membungkuk dan memeriksa keadaan Khu Tiong. Orang gagah itu mengeluh dan bergerak, membuka matanya, lalu bangun duduk.

“Isterimu telah pingsan dan ditolong oleh Un sute, sudah melarikan diri” bisik Ma Gi. Dan pada saat itu terdengar sorakan riuh. Beberapa orang perwira telah datang menyerbu dengan senjata di tangan.

Terpaksa Ma Gi meninggalkan Khu Tiong untuk melompat dan menyambut musuh-musuh itu dengan pedangnya. Khu Tiong biarpun telah mendapat luka parah dan anak panah masih menancap di dadanya, lalu mencabut pedang pula dan melompat dengan garangnya. Ma Gi sendiri merasa kagum melihat sepak terjang Khu Tiong yang mengamuk hebat dan tiap lawan yang menghadapinya tentu roboh kena tusuk atau sabetan pedangnya. Kedua orang ini mengamuk hebat sekali hingga mayat musuh bergelimpangan di atas tanah, akan tetapi oleh karena malam tadi mereka telah mengalami pertempuran dan dikeroyok hingga mendapat luka dan telah lelah sekali, apalagi karena Khu Tiong telah menderita luka parah, maka mereka tak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi dan beberapa buah senjata menghancurkan tubuh Khu Tiong dan Ma Gi yang gagah perkasa itu, Mereka telah melakukan perlawanan sebagai orang-orang gagah dan mati di bawah tikaman belasan buah senjata tajam hingga tubuh mereka menjadi tidak karuan lagi rupanya.

Setelah puas membalas sakit hati atas kematian kawan-kawannya dn menghujani tubuh kedua orang muda yang gagah itu dengan senjata mereka, para perwira dan tentara kerajaaan lalu mengejar terus karena mereka tadi juga melihat bahwa isteri Khu Tiong telah dapat melarikan diri. Beberapa orang di antara mereka lalu mengangkut pergi mayat kawan-kawannya dan menolong yang terluka, sedangkan mayat Khu Tiong dan Ma Gi yang sudah tidak karuan macamnya itu dibiarkan menggeletak begitu saja di dalam hutan itu. Tak seorang pun tahu betapa pada senja hari itu, dua orang penggembala kerbau yang menghalau kerbau mereka dan lewat di tempat itu, merasa terkejut sekali melihat mayat dua orang yang tak dikenalnya, akan tetapi dengan penuh hormat kedua anak penggembala itu lalu menggunakan golok pembabat rumput untuk menggali dua buah lobang di tanah dan mengubur kedua jenazah tadi.

******

Kita mengikuti pengalaman Yo Kwei Lan, nyonya Ma Gi yang dibawa pergi oleh komandan perwira ketika terjadi penyerbuan di rumah sastrawan Ma Eng.

Komandan itu adalah seorang muda bernama Gak Song Ki, seorang gagah perkasa yang memiliki ilmu silat tinggi, karena dia adalah murid Cin Sam Cu, tokoh besar dari Gobi-san. Ketika memimpin penyerbuan di rumah sastrawan Ma Eng dan melihat nyonya Ma Gi yang cantik jelita dan sedang hamil tua itu, timbul hati kasihan padanya dan sebelum nyonya itu menjadi korban senjata anak buahnya, ia lalu menyeret Yo Kwei Lan. Ketika nyonya Ma Eng yang hendak menolong mantunya itu dengan nekad menyerbu, ia lalu menendang nyonya tua itu yang akhirnya mati di bawah pukulan senjata para tentara yang kejam. Kwei Lan menjerit-jerit, akan tetapi dengan totokan pada jalan darah di lehernya, Gak Song Ki berhasil membuat Kwei Lan diam tak dapat mengeluarkan suara pula. Kemudian komandan itu lalu menaikkan Kwei Lan ke atas kudanya dan membawanya lari dari situ.

Kwei Lan merasa sedih dan bingung sehingga akhirnya ia jatuh pingsan di atas kuda, tidak tahu dibawa kemana oleh komandan itu. Ketika Kwei Lan membuka matanya, ia mendapatkan dirinya berada dalam sebuah kamar yang indah sekali dan seorang wanita tua sedang duduk menjaganya.

“Di mana aku.......... ? Mana suamiku.......? Mana ayah ibu. ?” Kwei Lan berbisik perlahan dan ia

Post a Comment