Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 03

Memuat...

“Keparat-keparat kejam ! Tunggulah pembalasanku” kata Khu Tiong sambil mengacung-acungkan tinjunya.

“Akan kubasmi perwira-perwira itu!” berkata Ma Gi. “Akan kupenggal leher komandan bangsat itu!!” Kedua orang muda itu hendak segera pergi melakukan ancaman-ancaman mereka, akan tetapi Kong Sian yang lebih sabar karena biarpun ikut berduka akan tetapi tidak terkena langsung oleh malapetaka itu, berkata menghibur,

“Suheng berdua harap suka berpikir tenang. Soal pembalasan dendam ini mudah dilakukan kelak, akan tetapi yang terpenting sekarang adalah usaha untuk menolong orang tua jiwi suheng dan juga isteri Ma suheng”

Mendengar kata-kata ini, Khu Tiong dan Ma Gi tersadar dari keadaan mereka yang dipengaruhi rasa marah luar biasa itu.

Malam itu gelap sekali dan di sekeliling tempat tahanan di mana Khu Liok, isterinya, dan Ma Eng dikeram, dijaga keras oleh para perwira. Akan tetapi, dua sosok bayangan hitam yang gerakannya gesit sekali, berhasil melewati penjagaan dan melompat ke atas tembok tinggi yang mengelilingi tempat tahanan. Kemudian dengan gerakan Naga Sakti Naik Mega, kedua sosok bayangan itu melayang naik ke atas genteng rumah tahanan itu. Mereka ini adalah Khu Tiong dan Ma Gi yang mendatangi tempat tahanan dan mencoba menolong orang tua mereka.

Setelah membongkar genteng, kedua orang muda itu melompat ke dalam rumah. Seorang penjaga yang kebetulan masuk ke dalam ruang belakang hendak memeriksa tawanan, tiba-tiba melihat mereka, akan tetapi sebelum ia sempat bergerak atau berteriak, ujung pedang Ma Gi telah membungkam mulutnya dan ia mandi darah tanpa dapat berkutik lagi.

Khu Tiong dan Ma Gi lalu membongkar pintu dan masuk ke dalam kamar tahanan. Akan tetapi, keduanya berdiri tak bergerak di ambang pintu ketika melihat pemandangan yang berada di dalam kamar itu. Kedua orang tua Khu Tiong dan ayah Ma Gi nampak duduk di dalam kamar itu, di atas lantai yang kotor dan menyandarkan tubuh di dinding yang dingin, dan jelas sekali kelihatan betapa tubuh mereka telah menjadi korban siksaan kejam.

Kedua orang muda itu menubruk maju sambil menangis, memeluk tubuh orang tua mereka. Dan alangkah kagetnya ketika Khu Tiong melihat bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam keadaan duduk bersandar di dinding. Sedangkan ayahnya pun pingsan tak sadarkan diri. Keadaaan Khu Liok sungguh mengerikan, kepalanya bengkak-bengkak dan tubuhnya mendapat luka bekas cambukan sedemikan rupa sehingga agaknya tak ada sepotong kulit tubuhnya yang masih utuh, napasnya empas- empis hampir putus. Keadaan Ma Eng juga amat mengenaskan dan hampir sama dengan keadaan Khu Liok, akan tetapi orang tua ini masih sadar dan ketika melihat kedatangan Ma Gi dan Khu Tiong, ia lalu menggerakkan kedua tangannya.

“Ayah, mengapa kau sampai menjadi begini ?” tanya Ma Gi dengan air mata bercucuran, “dan bagaimana pula dengan Kwei Lan ?”

“Isterimu....... ia dibawa oleh komandan keparat...... aku...... aku dan Khu Liok....... disiksa hebat.......

takkan tahan hidup lebih lama lagi. ” “Ayah. ”

“Ma-pekhu. “ kata Khu Tiong dan mendekati orang tua itu. “Siapakah yang mengkhianati kita ?

Siapa. ??”

Dengan kuatkan tubuhdan mengumpulkan seluruh tenaga terakhir, Ma Eng menjawab, “Gu. Gu

Mo.... Tek. !” Kemudian kepalanya lemas dan napasnya berhenti.

“Ayah. !” Ma Gi berseru sambil memeluk tubuh yang lemas dan tak bernyawa pula itu.

“Gu Mo Tek ! Bangsat Pengkhianat rendah !” Khu Tiong menggertak gigi dengan marah sekali. Dan ketika ia mendekati ayahnya, ternyata bahwa ayahnya pun telah melepaskan napas terakhir.

Kedua orang muda itu saling pandang, kemudian saling pelukan dengan tangisan menyesak di dada. “Ma Gi kita harus membalas dendam sekarang juga !”

“Baik suheng, akupun rela mengorbankan jiwa untuk membuat pembalasan dendam kepada keparat Gu Mo Tek itu !” jawab Ma Gi dengan mata berapi-api. Setelah beberapa lama memeluki dan menangisi mayat-mayat orang tua mereka, kedua orang muda ini lalu melompat ke atas genteng lagi. Hati mereka panas dan penuh dengan rasa sakit hati. Dari tempat itu, mereka menempuh malam gelap dan mendatangi gedung keluarga pangeran Gu Mo Tek. Setelah mereka pergi, barulah para penjaga mendapatkan mayat penjaga yang tewas oleh pedang Ma Gi sehingga mereka menjadi ribut. Beberapa orang perwira melakukan pengejaran dan beberapa orang lagi memberi laporan kepada markas besar.

Memang benar sebagaimana dikatakan oleh Ma Eng sebelum orang tua ini menghembuskan napas terakhir. Kedua orang sastrawan ini telah dikhianati oleh pangeran Gu Mo Tek yang melakukan hal ini terdorong oleh keinginannya menempatkan putera-puteranya ke dalam kedudukan tinggi. Ia melihat betapa kedua orang puteranya, yakni Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu, tak dapat merebut kedudukan tinggi oleh karena kedua anak muda ini biarpun semenjak kecil telah dilatih dengan ilmu kepandaian sastra, akan tetapi ternyata tidak bisa maju dan lebih senang belajar silat. Maka ketika ia melihat betapa Kaisar dan para pembesar tinggi menjadi gempar karena hasil tulisan kedua saudara angkatnya, ia lalu menggunakan kesempatan ini untuk mencarikan kedudukan tinggi bagi kedua puteranya dengan mengkhianati Khu Liok dan Ma Eng, kedua saudara angkatnya yang amat dikaguminya itu. Sebetulnya ia mengagumi Khu Liok dan Ma Eng hanya dalam bidang kesusastraan dan ketika kedua orang saudara angkat itu menulis karangan yang menyinggung dan memburukkan pemerintah, ia tidak setuju, karena betapa pun juga, darah bangsawan masih mengalir tebal dalam tubuhnya.

Akan tetapi, setelah ia melakukan pengkhianatan dan mendengar betapa kedua saudara angkatnya itu ditawan dan keluarganya dibasmi, ia merasa berduka dan menyesal sekali. Semenjak siang hari tadi ia duduk saja di dalam kamarnya sambil menyesali akibat perbuatannya sendiri. Ia diam-diam merasa menyesal sekali mengapa para perwira itu melakukan penumpasan yang demikian kejamnya.

Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu yang berdiam di kamar masing-masing beserta isteri masing-masing, hanya menganggap bahwa ayah mereka berduka mendengar berita tentang malapetaka yang menimpa keluarga Khu Liok dan Ma Eng dan mereka inipun bersama semua keluarga merasa sedih. Tak seorang pun di antara mereka ini tahu bahwa Gu Mo Tek telah melakukan pengkhianatan dan menjadi biang keladi dari pada semua malapetaka itu.

Pada malam hari itu, ketika Gu Mo Tek sedang duduk seorang diri di dalam kamar buku, tiba-tiba dari jendela menyambar masuk dua orang muda dengan pedang di tangan. Gu Mo Tek terkejut dan berdiri dari tempat duduknya dan ketika melihat bahwa yang datang itu adalah Ma Gi dan Khu Tiong yang memandangnya dengan sinar mata menyatakan kemarahan dan kebencian besar, ia menjadi ketakutan dan merasa ngeri. “Eh, Khu Tiong dan Ma Gi, kalian dari manakah dan. dan mengapa datang ke sini dalam keadaan

demikian ini ?”

“Bangsat tua berhati busuk !” Khu Tiong memaki marah.

“Keparat besar, kau telah mengkhianati orang-orang tua kami dan masih berpura-pura bertanya lagi ?” berkata Ma Gi sambil melangkah maju dengan pedang ditangan.

Gu Mo Tek mundur ketakutan dan dengan wajah pucat ia bertanya, “Apa...... apa maksudmu ?”

“Anjing rendah ! Kau telah mengkhianati orang tua kami sehingga seluruh keluarga kami mati dalam tanganmu yang berdarah !” kata Khu Tiong sambil melangkah maju juga.

“Mati....... mereka telah mati. ?” Gu Mo Tek menggunakan kedua tangannya menutup muka dengan

perasaan ngeri dan menyesal.

“Dan kau harus mampus juga agar kau dapat menghadapi orang-orang tua kami di alam baka untuk minta ampun !” kata Ma Gi. Secepat kilat pedang ditangan Ma Gi dan Khu Tiong bekerja dalam saat yang sama sehingga dua batang pedang menembus dada pangeran tua itu di kanan kiri. Ketika kedua orang muda itu mencabut senjata, tubuh Gu Mo Tek terhuyung-huyung dan roboh mandi darah.

“Apa yang telah terjadi ?” tiba-tiba terdengar suara orang membentak dan pintu kamar itu terbuka keras. Gu Seng Kiu dan Gu Leng Siu melompat masuk dengan senjata golok di tangan. Melihat Khu Tiong dan Ma Gi berdiri disitu dengan pedang berlumur darah dan ayah mereka rebah mandi darah di atas lantai, kedua putera pangeran ini menjadi terkejut sekali.

“Khu Tiong dan Ma Gi ! Apakah kalian telah menjadi gila ? Kalian apakan ayah kami ?” teriak mereka.

“Keng Siu dan Leng Siu ! Mungkin sekali kalian berdua tidak tahu apa yang telah terjadi. Ayahmu telah mengkhianati ayah kami hingga kebinasaan kami boleh dikata adalah hasil perbuatan ayahmu yang durhaka !”

“Gila !” teriak Keng Siu dengan suara gemetar. “Semenjak siang tadi ayah menyedihkan malapetaka yang menimpa keluarga kalian, dan sekarang kalian datang membunuhnya”

“Menyedihi kami ? Ha, ha, ha ! Bahkan terhadap putera-putera sendiri keparat ini masih main rahasia. Ayahmu telah melaporkan kepada yang berwajib tentang tulisan ayah kami itu. Dia telah membunuh keluarga kami, maka sekarang kami datang membalas dendam. Kalau kalian merasa penasaran, kalian boleh berbuat sesukamu !” kata Khu Tiong menahan marahnya.

“Bangsat berhati kejam ! Kami tidak tahu tentang urusan yang kau sebutkan tadi, akan tetapi, jangan mengagulkan kepandaian sendiri ! Hutang jiwa harus dibayar jiwa !” teriak Keng Siu sambil melompat maju dan memutar goloknya.

“Majulah !” Ma Gi menantang dan di dalam kamar buku di mana mayat pangeran Gu Mo Tek masih rebah itu, terjadilah pertempuran sengit antara Keng Siu melawan Khu Tiong dan Leng Siu melawan Ma Gi.

Post a Comment