Halo!

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Chapter 02

Memuat...

datang hendak menangkap dan Ma siauwya melawan sehingga banyak terjadi pembunuhan. Semua...... semua ....... terbunuh atau tertangkap ”

Baru saja berkata sampai di sini, Khu Tiong sudah mencabut pedangnya dan menyerang rombongan perwira itu. Khu Liok tidak melarang puteranya oleh karena ia maklum bahwa tentu rahasianya dan rahasia Ma Eng telah bocor dan Kaisar telah mengetahui bahwa dia dan Ma Eng yang menjadi penulis kitab pemberontakan itu. Ia lalu melarikan diri ke dalam dan memanggil mantunya, yakni nyonya Khu yang bernama Ong Lin Hwa, puteri tukang obat yang pandai ilmu silat itu. Nyonya Khu telah mendengar bahwa suaminya bertempur dengan perwira-perwira di ruang depan, maka ketika mertuanya memanggilnya, nyonya muda itu telah keluar dengan pedang di tangan.

“Jangan. jangan kau ikut bertempur. Kau sudah mengandung tua, tubuhmu lemah. Dengar baik-

baik, kau harus melarikan diri dari pintu belakang ! Tinggalkan kami karena kalau kau berada di sini, tentu kau akan ditangkap pula !”

Kedua mata Ong Lin Hwa menyinarkan cahaya berapi. “Tidak, gakhu (ayah mertua) !” katanya nyaring dan tetap. “Mana bisa saja harus meninggalkan suamiku dikeroyok orang ? Maaf, kali ini saya terpaksa membandel !” Setelah berkata demikian, Lin Hwa melompat keluar dengan pedang ditangannya.

Khu Liok menggelengkan kepala dan dengan bersedih ia menjatuhkan diri di atas kursinya. “Thian (Tuhan) ....... lindungilah mereka dan biarkanlah hamba menanggung semua akibat dari semua ini ” Isterinya lalu menubruknya sambil menangis. Semua pelayan juga menangis dan lari ke sana ke mari dengan wajah pucat.

“Tiong-ji, larilah kau dengan isterimu, lekas.........! Larilah sebelum terlambat. !”

Akan tetapi Khu Tiong dan isterinya mengamuk terus hingga akhirnya empat orang perwira yang lain juga roboh dengan tubuh berlumur darah. Khu Tiong dan isterinya yang gagah perkasa itu sebentar saja telah merobohkan ketujuh orang pengeroyoknya. Khu Liok melangkah maju dan memegang tangan anaknya yang masih berdiri memandang ke luar dengan pedang di tangan, seakan-akan hendak menanti datangnya musuh-musuh baru.

“Khu Tiong ! Apakah kau tidak mau menurut perintah ayahmu ?” Khu Liok membentak dengan suara keras dan marah.

Khu Tiong membalikkan tubuh dan segera menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya, “Ayah .....

bagaimana anak bisa pergi meninggalkan ayah menjadi kurban mereka ?”

“Anak bodoh ! Ayahmu sudah tua dan selain itu, aku mempunyai banyak sahabat di kalangan atas. Namun, betapapun juga, kau lebih baik pergi menyelamatkan isteri dan...... dan anakmu. ” Menyebut

tentang calon cucunya ini, hati Khu Liok merasa terharu sekali. Telah berbulan-bulan ia mengharap- harapkan kehadiran cucunya, telah rindu hatinya untuk merasai kehalusan kulit tubuh bayi yang menjadi cucunya dan untuk menimang-nimang tubuh kecil munggil, menikmati tawanya yang bersih. Akan tetapi, malapetaka datang menimpa dan agaknya tak mungkin ia akan dapat melihat wajah cucunya.

“Ayah...... tapi. “ Khu Tiong masih membantah.

“Cukup ! Lekas kau siapkan kuda dan bawa pergi isterimu, atau kau tunggu sampai aku menjadi marah

?” bentak Khu Liok.

Dengan hati sedih, terpaksa Khu Tiong lalu menyiapkan dua ekor kuda. Kemudian ia dan isterinya menjatuhkan diri berlutut di depan Khu Liok suami isteri dan menangis tersedu-sedu. Nyonya Khu Liok memeluk dan menciumi puteranya, sedangkan Khu Liok hanya duduk sambil menghela napas. “Sudahlah, kau pergilah, lekas !” katanya.

Tiba-tiba pelayan di luar berseru, “Celaka, Thai-ya. , sejumlah besar perwira mendatangi lagi !”

Khu Liok cepat berdiri dan mendorong puteranya, Khu Tiong, lekas pergi dengan isterimu, mau tunggu kapan lagi ?”

Khu Tiong dengan masih ragu-ragu dan sedih, terpaksa lalu memegang tangan isterinya, keluar dari pintu belakang dan kemudian cepat naik dipunggung kuda dan melarikan kuda itu cepat melalui jalan belakang.

Ketika mereka tiba di sebuah hutan yang berada di luar Kota raja sebelah utara, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil keras.

“Khu Tiong!!”

Khu Tiong dan isterinya mengenali suara ini dan dengan girang mereka lalu membelokkan kuda ke kiri dan menuju ke arah suara itu. Di bawah sekelompok pohon, ternyata telah berdiri Ma Gi dengan tubuh penuh peluh dan muka pucat sekali. Khu Tiong melompat turun dari kuda dan kedua orang sahabat itu segera berpelukan dan Ma Gi bahkan mengalirkan air mata.

“Bagaimana keadaan keluargamu Ma Gi ?” tanya Khu Tiong penuh kekhawatiran, sedangkan nyonya Khu melihat betapa sahabat suaminya itu mengucurkan air mata, tak tertahan lagi ia pun ikut menangis.

“Celaka sekali, Khu Tiong....... celaka sekali. “ Kemudian ia lalu menceritakan peristiwa yang

terjadi di rumah ayahnya.

Ternyata bahwa pada waktu yang sama, serombongan perwira lain telah menyerbu rumah Ma Eng dengan maksud menangkap keluarga Ma. Seperti juga Khu Tiong, Ma Gi yang gagah perkasa lalu mengadakan perlawanan, akan tetapi oleh karena kebetulan sekali pada waktu pertempuran terjadi, di depan rumahnya lewat pula serombongan perwira lain, maka ia lalu dikeroyok oleh belasan orang perwira yang berkepandaian cukup tinggi. Ma Gi mengamuk seperti harimau kelaparan dan berhasil merobohkan lima orang perwira. Akan tetapi, jumlah pengeroyoknya banyak sekali dan beberapa orang pelayan telah roboh di bawah tikaman pedang para perwira yang kejam itu. Ma Eng berteriak-teriak minta supaya anaknya yang telah membunuh perwira-perwira itu segera melarikan diri. Akhirnya Ma Gi tidak tahan lagi dan terpaksa melarikan diri meninggalkan ayah, ibu, serta isterinya.

Bukan main kaget dan sedihnya hati Khu Tiong mendengar ini dan ketika ia menceritakan kepada Ma Gi tentang malapetaka yang menimpa keluarganya pula, Ma Gi berulang-ulang menghela napas.

“Ini tentu ada hubungannya dengan tulisan ayah kita. Akan tetapi, siapa gerangan yang membocorkan rahasia ini hingga Kaisar mendapat tahu”

Khu Tiong menggeleng kepala karena iapun merasa heran. Di antara semua orang, yang tahu akan rahasia itu hanyalah Khu Liok, dan Ma Eng sendiri dan dia serta Ma Gi.

“Hanya kita berempat yang mengetahui hal ini, bahkan isteri-isteri kitapun tidak tahu” katanya. “Boleh kau tanya isteriku ini, dia belum pernah kuberitahu tentang hal itu”

“Kau lupa !” kata Ma Gi. “Bukankah Pangeran Gu Mo Tek juga mengetahuinya ?”

Khu Tiong terkejut, akan tetapi ia lalu berkata dengan suara tetap, “Tak mungkin dia mau membocorkan rahasia. Bukankah ia telah menjadi saudara angkat kedua ayah kita ?”

“Aku juga merasa ragu-ragu untuk menuduhnya, akan tetapi bagaimana mereka bisa tahu ?”

“Nanti saja kita selidiki hal ini. Paling perlu sekarang kita mencari tempat persembunyian dulu” kata Khu Tiong.

“Lebih baik kita pergi bersembunyi di gedung keluarga Un di sebelah barat”

“Un Kong Sian ?” Khu Tiong berpikir sebentar. Memang Un Kong Sian adalah seorang putera bangsawan yang telah menjadi sahabat karib mereka. Pemuda itu selain menjadi sute (adik seperguruan) mereka dalam ilmu silat, juga terkenal baik dan jujur. “Baiklah, selain Kong Sian sute, kurasa memang tidak ada lagi yang boleh kita minta pertolongan”

Mereka lalu kembali ke kota dengan jalan memutar dan setelah hari menjadi gelap, barulah mereka berani masuk kota raja dan menuju ke rumah Un Kong Sian.

Un Kong Sian adalah putera seorang congtok yang telah meninggal dunia dan hanya hidup berdua dengan ibunya yang telah tua di dalam gedungnya yang besar. Ia masih belum kawin walaupun telah ditunangkan dengan seorang puteri hartawan. Ilmu silatnya lihai juga karena ia adalah murid seperguruan dengan Khu Tiong dan Ma Gi, bahkan dalam hal ilmu menyambit dengan piauw, Kong Sian lihai sekali hingga mendapat julukan Bu-eng-piauw atau piauw tanpa bayangan.

Ketika pemuda ini melihat kedatangan Khu Tiong, Lin Hwa, dan Ma Gi yang datang-datang memeluk dengan wajah pucat, ia menggeleng-geleng kepala.

“Jiwi suheng dan kau juga so-so (sebutan untuk isteri kakak), mari masuk saja ke dalam” Setelah mereka berada di dalam kamar, Kong Sian lalu berkata dengan suara perlahan, “Aku telah mendengar semua tentang malapetaka yang menimpa keluarga kalian. Tadi, akupun telah mencari-carimu dan kebetulan sekali kalian datang ke sini. Kalian dicari-cari oleh banyak sekali perwira dan kurasa hanya di sinilah tempat yang sementara ini aman bagimu bertiga”

Khu Tiong dan Ma Gi mengucapkan terima kasihnya, kemudian setelah mereka menuturkan pengalaman mereka yang membuat Un Kong Sian menghela napas berulang-ulang, pemuda itu lalu berkata,

“Jiwi suheng (kedua kakak seperguruan), kalian adalah orang-orang gagah yang bersemangat dan berhati kuat. Maka sekarang kuatkanlah hatimu untuk mendengar penuturanku” Kemudian pemuda itu dengan suara perlahan dan hati-hati sekali menuturkan apa yang didengarnya semenjak ketiga orang itu melarikan diri dari rumah. Ternyata bahwa karena marah sekali melihat ketujuh orang perwira yang roboh ditangan Khu Tiong dan isterinya, perwira-perwira yang baru datang lalu mengamuk, membunuh semua pelayan dan hanya menangkap Khu Liok berdua isterinya. Sedangkan di rumah Ma Gi, juga terjadi hal yang sama, bahkan lebih hebat lagi, karena nyonya Ma Eng sendiri juga ikut binasa diujung senjata perwira-perwira kejam itu. Nyonya ini ketika melihat betapa komandan perwira menarik-narik tangan nyonya Ma Gi mantu perempuannya, dengan nekad lalu menubruk dan memukuli tangan komandan itu sehingga komandan itu menjadi marah dan menendang dengan keras. Nyonya tua itu roboh bergulingan dan kemudian ujung senjata perwira-perwira lain menamatkan riwayatnya.

Kemudian, setelah semua isi rumah habis binasa dan tidak ketinggalan pula barang-barang berharga juga ikut lenyap, Ma Eng lalu ditawan dan nyonya Ma Gi diseret pergi oleh komandan itu.

Khu Tiong dan Ma Gi berdiri dengan tubuh lurus dan urat-urat menegang, sepasang mata bersinar bagaikan mengeluarkan api dan dari pelupuk mata mengalir dua butir air mata, kedua tangan dikepalkan. Ong lin Hwa atau nyonya Khu Tiong, menangis terisak-isak.

Post a Comment